Turki dan Teman yang Berseberangan
Catatan Harian, Internasional, Terbaru

Turki dan Teman yang Berseberangan

Oleh: Dahlan Iskan

Mata dunia masih terus ke Turki. Biarpun ada pelantikan perdana menteri baru. Di Pakistan Jumat lalu: Imran Khan.

Biar pun perang dagang Amerika-Tiongkok masih seru. Biar pun Mahathir akhirnya ke Tiongkok. Di hari Imran Khan jadi perdana menteri itu.

Mahathir yang selama ini terkesan anti Tiongkok.  Ke Tiongkok. Ditemani isterinya. Bertemu Jack Ma. Di pusat Alibaba di Hangzhou. Juga bersama perdana menteri Li Kejiang. Menghadiri penandatanganan banyak kerjasama.

Termasuk memproduksi Proton di Tiongkok. Mobil nasional Malaysia itu menggandeng Geely. Salah satu produsen mobil utama di sana.

Di sana Mahathir juga menawarkan durian yang dibekukan. Dalam jumlah besar.

Tapi Turki masih bikin was-was.  Kejatuhan mata uang Turki  bisa menular ke mana-mana.

Apalagi ada kejadian Jumat lalu. Lembaga rating Standard&Poors ikut bikin was-was. Menurunkan rating Turki. Dari B ke B-minus. Dengan tambahan: prospeknya negatip.

Dengan rating seperti itu sama artinya mendekati junk bond: bond yang dikeluarkan Turki bernilai sampah. Tidak laku. Artinya, Turki kian sulit cari sumber dana. Dari pasar uang. Kalau pun ada bunganya tinggi.

Mata yang lira ikut merosot lagi. Di hari Sabtu. Lima persen. Setelah tiga hari sebelumnya menguat 17 persen. Yakni setelah bantuan 15 miliar dolar diumumkan. Dari Qatar itu.

Turki masih gonjang-ganjing.

”Ini kudeta ekonomi,” ujar Presiden Erdogan. Di depan lebih lima ribu pendukungnya. Sabtu malam kemarin. Erdogan selalu punya istilah baru. Untuk yang mengancam kedudukannya.

Ada kudeta militer: tahun 2016. Ia menegaskan Kyai Fetullah Gulen di balik kudeta itu.

Ada kudeta hukum: tahun 2013. Ia mensinyalir Kyai Fetullah Gulen ada di baliknya.

Ada kudeta ekonomi: tahun 2018. Ia menuduh Kyai Fethullah Gulen di baliknya.
Tiga kudeta. Satu Gulen.

Semua kudeta itu ingin: Erdogan jatuh. Kalah. Mundur. Itulah kesimpulan Erdogan. Orang kuat Turki zaman ini. Kudeta militer itu ia gagalkan. Kudeta hukum itu ia kalahkan. Kudeta ekonomi kali ini ia lawan.

Masih belum tahu apakah Erdogan akan berhasil. Kali ini. Setidaknya Erdogan belum bisa menangkap Gulen. Erdogan dan Gulen itu sebenarnya satu kubu. Satu ideologi. Satu perjuangan. Sama-sama menentang sekulerisme. Sama-sama ingin Islam menjadi way of life.

Dalam kehidupan sehari-hari. Sama-sama anti komunis pula. Pernah saling kerjasama. Lalu berbeda jalan.

Berseberangan.
Bermusuhan.

Di dunia komunis pun ada yang mirip Erdogan-Gulen ini. Sama-sama ideolog. Sama-sama seperjuangan. Sama-sama mendirikan partai komunis. Tapi kemudian berbeda jalan: Leon Trosky dan Joseph Stalin.

Saling berjauhan.
Saling jatuh-menjatuhkan.

Tapi ini di Turki. Saat kudeta itu terjadi Kyai Gulen tidak lagi di Turki. Ia tinggal di pengasingan. Sejak 1999. Di Amerika. Di negara bagian Pennsylvania. Sejak sebelum Erdogan jadi perdana menteri.

Di Amerika Kyai Gulen tinggal di satu padepokan luas. Di pintu gerbangnya tertulis: Chesnut Camp.

Di Amerika kata chesnut sering diberikan kepada kuda. Kuda pilihan. Yang berwarna chesnut. Kacang chesnut. Ada 30 orang yang tinggal di padepokan itu. Mereka adalah para Gulenis.

Kyai Gulen sendiri tinggal di satu kamar sempit. Tidak ada tempat tidur. Kasurnya ditaruh di lantai. Di dekat sajadah. Yang selalu terhampar. Untuk salat.

Chesnut Camp ini memiliki aula. Bisa untuk salat  berjamaah. Bisa juga untuk tempat ceramah.

Kyai Gulen terus mengajar. Menulis. Menciptakan puisi. Juga merekam pidato-pidatonya. Videonya viral.
Pengikutnya kian berjuta.

Sejak masih di Turki Kyai Gulen sudah digelari kyai berjuta umat. Pengikutnya luar biasa. Ada yang menduga sampai 6 juta orang.

Mereka menyebut dirinya Gulenis. Lalu menyatukan diri dalam gerakan sosial.

Ekonomi. Keagamaan. Demokrasi.

Lahirlah: Hizmet. Gerakan pelayanan untuk rakyat di segala bidang.

Hizmet lantas memiliki ribuan sekolah, poliklinik, koran (harian Zaman), stasiun tv (Jamanyolu tv) dan bank (bank Asya). Jemaatnya yang dari kalangan pengusaha juga besar: mendirikan semacam Kadin.

Ideologinya: rahmatan lil alamin. Kerukunan. Toleransi. Dialog antar-iman. Islam harus menjadi jalan hidup.

Dari jutaan pengikut Kyai Gulen banyak juga yang di militer. Di parlemen. Di kalangan penegak hukum. Hakim. Jaksa. Polisi. Bahkan di dalam partainya Erdogan sendiri.

Kyai Gulen punya doktrin “People of the Book” harus rukun. Islam-Kristen-Yahudi. Tidak boleh bermusuhan. Mereka itu sesama “People of the Book”. Ahli kitab.

Saya jadi ingat: tahun lalu. Membeli satu novel. Judulnya: People of the Book. Betapa mengharukan: yang menyelamatkan kepunahan  kitab suci Yahudi itu ternyata orang Islam.

Novel itu begitu enak dibaca. Sastranya tinggi. Missinya mulia. Saya sampai bilang. Ke teman-teman saya: novel “People of the Book” layak mendapat Nobel. Bidang sastra. Tidak perlu menunggu penulisnya meninggal dunia: Geraldine Brooks. Wartawan Amerika yang luar biasa. Pemenang piala oscarnya jurnalistik: hadiah Pulitzer.

Kyai Gulen kerasan tinggal di negerinya Geraldine Brooks. Menyandang predikat baru: teroris. Yang menuduh begitu adalah Erdogan. Stalin menuduh Trosky.

Hizmet dituduh sebagai organisasi teroris. Semua usaha Hizmet dibubarkan. Secara paksa. Harian Zaman dibredel. Tv-nya diberangus. Banknya ditutup. Wartawan spesialis investigasi ditangkap. Tiga wartawan dihukum seumur hidup. Ada 73 wartawan lagi masih di penjara.

Seorang pastor ditahan. Namanya kini terkenal: Andrew Brunson. Dianggap terlibat dalam kudeta. Jadi mata-mata.

Brunson kini jadi tokoh dunia. Pastor biasa. Dibela Amerika. Sampai Presidennya sendiri turun tangan. Juga wakil presidennya: Mike Pence.

Trump menggunakan kekuasaan sepenuh-penuhnya. Termasuk sampai memberi sanksi ekonomi. Yang membuat lira kelimpungan.

Bukan tidak ada pembicaraan. Tahun lalu Erdogan mengirim utusan resmi. Dua menteri.  Menlunya. Dan menantunya. Yang sudah menjadi menteri energi.

Secara resmi Erdogan minta agar Kyai Gulen dikirim pulang ke Turki. Sebagai gantinya pastor Brunson dipulangkan ke Amerika.

Amerika menolak. Kyai Gulen sudah memegang KTP Amerika. Jenis green card. Permanen residen. Amerika juga berpendapat tuduhan kepada Kyai Gulen itu mengada-ada. Tidak ada bukti.

Sebaliknya Turki juga menolak memulangkan pastor Brunson. Yang keterlibatannya di kudeta jelas. ”Sejernih kristal,” kata Erdogan berkali-kali.

Setidaknya nama Brunson kini top sekali. Ia sendiri mungkin tidak mau pulang. Sudah sangat krasan di Turki. Sudah 23 tahun di sana. Di sebuah kampung kecil. Di kota Izmir.  Dengan jemaat sekitar 30 orang.

Istri Brunson yang sangat gigih. Norine Brunson. Mengadukan kasus suaminya itu ke mana-mana. Termasuk ke presiden Amerika. Dan ke presiden Turki sendiri.

Semula tidak banyak yang peduli: Brunson berasal dari negara bagian North Carolina. Tepatnya dari kota Black Mountain. Tidak jauh dari kantor saya. Di Mount Holly.

Usaha Norine berhasil. Sebagian. Suaminya dikeluarkan dari penjara. Setelah dua tahun di dalamnya. Kini status Brunson tahanan rumah. Menunggu proses peradilan.

Erdogan memang melakukan pembersihan total. Setelah kudeta militer yang digagalkannya itu. Di tahun 2016 itu. Saat ia lagi melakukan perjalanan week end.

Pembersihan itu akan mengarah ke Kyai Gulen juga. Erdogan minta dengan keras. Kepada Amerika. Agar Kyai Gulen diekstradisi. Dipulangkan ke Turki. Untuk diadili.

Yang didapat Turki adalah sanksi. Produk bajanya dikenakan tarip ampun-ampun: 50 persen. Kalau diekspor ke Amerika.
Erdogan terus melawan. Ia seorang fighter yang luar biasa.

Tapi musuh Turki saat ini tidak kasat mata: mata uang.
Beda dengan tahun 2013. Saat terjadi –istilah Erdogan– kudeta hukum. ‘Kudeta’  pertama yang ia alami. Jauh sebelum kudeta militer dan kudeta ekonomi ini.

Itu tahun 2013. Ekonomi Turki lagi baik-baiknya. Nama Turki top. Bintangnya negara berkembang. Mega bintangnya negara Islam.

Di Indonesia nama Turki juga sangat harum. Jadi panutan. Untuk memajukan ekonomi. Dan memajukan masyarakat.

Sampai-sampai di PKS muncul aliran ‘Turki’. Di samping aliran yang sudah ada: aliran Saudi dan aliran Mesir.

Sampai-sampai kebab pun kini mengalahkan martabak.

Erdogan menjadi pahlawan. Buah bibir. Idola.

Banyak yang ingin terinspirasi: apa kunci memajukan Turki.
Di sinilah orang bisa salah menilai Erdogan. Tidak semua kunci itu bisa dibuka. Banyak  kuncinya yang rahasia.

Erdogan tokoh yang berani viveri vere coloso. Nyerempet-nyerempet bahaya. Menorobos sana menorobos sini.

Karakter pemimpin belum tentu bisa ditiru. Karakter Erdogan amat kuat. Penirunya bisa-bisa akan ketahuan: palsu.

Salah satu terobosannya itu… adalah… rahasia.

Ups…. perlukah saya ungkapkan di sini?

Erdogan sangat nasionalis. Agamis. Untuk berambisi memajukan Turki. Apa pun akan ia lakukan. Termasuk melakukan terobosan yang beresiko ini: Pasar gelap.

Pasarnya gelap. Tapi hasilnya terang. Bisa memajukan ekonomi Turki.

Erdogan harus menanggung resiko.

Dicurigai. Kanan kiri. Luar dalam.

Dan Erdogan tidak mungkin bisa menjelaskan dunia gelap itu. Itu rahasia negara. Juga keamanan anak buahnya. Yang bergerak di kegelapan itu. Tidak mungkin seorang Tommy Winata menjelaskan fungsi sebenarnya. Tentang dirinya. Mengapa ia terlibat di operasi Kalimantan utara. Atau di Timtim. Atau operasi-operasi yang lain. Yang semuanya penugasan rahasia. Demi negara.

Mustahil pula menyebut sumber dananya.

Yang dilakukan timnya Erdogan sangat-sangat rahasia: mengirim emas ke Iran.

Untuk apa?

Agar Turki mendapat gas. Dengan harga murah. Untuk kebangkitan ekonominya.
Gas itu dikirim lewat jalan memutar. Lewat perusahaan dagang tertentu.

Kalau ditotal, emas yang dikirim ke Iran itu senilai hampir Rp 200 triliun.

Semua melalui skema rahasia. Kalau ketahuan bisa celaka. Iran lagi dalam status diisolasi. Oleh negara-negara barat.
Siapa yang berdagang dengan Iran akan mendapatkan hukuman dari Amerika.

Seperti perusahaan telekomunikasi Tiongkok ZTE. Yang ketahuan rahasianya: jualan ke Iran. Lalu disanksi oleh Amerika. Bayar denda 40 triliun rupiah. Dan hampir saja tutup. Tidak boleh beli chip dari Amerika.

Turki lebih pintar dari ZTE. Tidak ketahuan. Setidaknya tidak ada bukti. Tidak ada aliran uang. Tidak ada transaksi bank.

Tapi asapnya sampai ke mana-mana. Asap yang bukan muncul dari api. Asap itu tidak bisa dipegang. Tapi baunya terhirup.

Entah siapa menggunakan siapa: tiba-tiba terjadi penangkapan besar-besaran. Di Turki. Oleh penegak hukum.
Mula-mula dirut sebuah BUMN yang ditangkap: Suleyman Aslan. Ditemukan uang 4,6 juta Dolar di rumahnya. Di dalam kardus sepatu.

Penangkapan merembet ke mana-mana. Sebanyak 51 orang pejabat diperiksa. Dengan tuduhan korupsi. Pedagang emas itu: didakwa melakukan penyelundupan.  Pejabat-pejabat partainya Erdogan pun kena. Lalu dua menteri.

Turki heboh besar. Pemerintahan Erdogan terpojokkan. Citranya: banyak melakukan korupsi.

Memberi aib. Beberapa anggota DPR mundur. Dari partai Erdogan sendiri. Malu.

Arah berikutnya kian jelas. Menyasar ke anak-anak Erdogan: Bilal dan Burak Erdogan.

Bahkan akhirnya akan sampai ke Erdogan sendiri.

Bumi Turki gonjang-ganjing.
Langitnya kelap-kelap.

Tapi Erdogan tidak kehilangan pegangan.

Ia genggam kekuasaannya.
Ia remaskan ke telapaknya.
Kuat-kuat.

Ia pecat jaksa agungnya.
Ia pecat kepala polisinya.
Hakim. Jaksa. Polisi. Tentara. Semua dirombak.

Dan Erdogan dapat dukungan publik.

Tapi juga begitu banyak yang sakit hati.

Erdogan lolos dari kejatuhan. Lantas ia ciptakan istilah itu: kudeta hukum. Upaya menggulingkan Erdogan melalui cara penegakan hukum: memberantas korupsi.

Tiga tahun kemudian terjadi kudeta militer. Tahun 2016. Tak lain sebagai buntut peristiwa 2013 itu.

Jumat sore itu Erdogan sedang liburan di luar kota. Malamnya sejumlah tank tentara terlihat di jalan-jalan raya. Yang di Ankara menuju istana. Yang di Istambul menuju jembatan Bosporus.

Istana dikepung. Lalu di bombardir. Jembatan Bosporus diblokade.

Kendaraan dari arah Eropa tidak bisa melintas ke arah Asia. Selat Bospurus yang cantik itu menjadi tegang.
Bandara internasional Istambul ditutup. Dikuasai militer.

Rakyat bingung. Ada apa. Maunya menunggu kabar. Tidak ada penjelasan.
Media sosial heboh: di mana Erdogan. Tidak ada kabar.

Semua membuka hand phone. Saling komunikasi. Terbelah.
Lewat tengah malam baru jelas. Lima belas menit setelah pukul 00.00 Erdogan muncul di “Facebook”. Memberikan seruan: lawan!

Heboh!

Media sosial tidak tidur.

Erdogan menentukan bentuk oerlawanan itu: people power. Rakyat diminta keluar rumah. Turun ke jalan. Menenuhi semua jalur.

Bentrokan terjadi. Hampir 300 orang tewas. Ribuan luka-luka. Heroik sekali. Rakyat mengalahkan tank. Jalan-jalan padat manusia. Media sosial mengalahkan persenjataan berat.

Kudeta gagal.

Penangkapan pun dilakukan. Kepada yang terlibat kudeta. Kepada pendukungnya. Termasuk pastor itu. Dan Kyai Gulen.

Erdogan memberlakukan keadaan darurat. Media diberangkus. Oposisi dilibas.
Erdogan berjanji: akan mengembalikan demokrasi.

Hanya saja ia ingin melakukan perubahan mendasar. Tidak mau lagi sistem parlementer. Ia ingin pindah ke sistem presidensial. Yang lebih stabil.
Maka usulan perubahan pun  dirumuskan. Perubahan konstitusi. Untuk disetujui atau ditolak. Dalam sebuah referendum nasional. Yang dijadwalkan tahun 2017.

Usulan perubahan itu meliputi:
1. Dari parlementer ke presidensial.
2. Presiden lebih memiliki kekuasaan.
3. Presiden mengangkat hakim agung dan jaksa agung.
4. Anggota DPR dari 550 menjadi 600.

Dalam kartu suara hanya ada dua pilihan: evet atau hayir. Setuju atau menolak. Itulah referendum.

Rakyat diminta mencatatkan diri ke KPU. Ikut referendum. Yang mendaftar 58 juta orang. Dari total penduduk 80 juta. Hampir 100 persen penduduk dewasa ikut.

Hasilnya:
51 persen evet.
49 persen hayir.

Erdogan kian percaya diri. Ia janjikan pemilu. Di tahun 2018. Mengembalikan demokrasi.
Pemilu pun berlangsung.
Erdogan menang.

Partainya, AKP, mendapat 290 kursi. Belum cukup mayoritas. Tapi hanya kurang 11 kursi. Ia rangkul partai MHP. Yang punya 50 kursi.

Erdogan pun berhasil membentuk pemerintahan.  Yang sekarang ini. Dengan Erdogan menjadi presiden Turki pertama. Di bawah konstitusi baru.

Tapi ia belum berhasil membawa pulang Kyai Gulen. Yang kini sudah berumur 77 tahun. Dan masih tetap saja jomblo. Tidak pernah menikah.

Seperti juga Trosky dan Stalin hubungan Erdogan dan Gulen akan abadi. Dalam sejarah perjalanan dua ideolog.

Dan akan selalu begitu. Selalu terulang. Seperti antara Mao Zedong dengan Lin Piao. Ayatullah Khomeiny dengan Rafsanjani. Bung Karno dan Syahrir. Jokowi dan Mahfud MD…. (dahlan iskan)

August 20, 2018

About Author

dahlan iskan


54 COMMENTS ON THIS POST To “Turki dan Teman yang Berseberangan”

  1. Tetap renyah and kemripik bahasanya Abah….
    Yang ditunggu adalah point terakhir… Permisalan Jkw ama Mahfud MD…. Wkwkwkwk
    Salam saking Takeran …

    • Great job p Dahlan!komprehensif, analitis Dan argumentatif!. Jadi ngiri wawasan p Dahlan. Di mn ya bisa dapat buku people of the book?

  2. Masya Allah. Tabarakallah..
    Panjang, lengkap, dan menyeluruh.
    Terimakasih abah telah menulis ini.
    Saya belum pernah membaca ulasan tentang Turki sampai selengkap ini.
    Mohon kiranya berkenan menulis tentang gempa Lombok yang seperti tidak ada habisnya. Dan apa benar gempa bisa diprediksi sebelumnya seperti kata informasi yang berseliweran di medsos.
    Sehat2 selalu ya bah..

    • Gempa vulkanik bisa diprediksi dari trend nya. Gempa tektonik belum ada alat yg bisa deteksi. Yg bisa dilakukan hanya mengamati perilaku hewan.

  3. membaca tulisan abah sangat ampuh menghilangkan kantuk… enak dibacaanya.. karena kondisi kami dilombok harus tenang dan Waspada atau waspada dan tenang..
    gempa susul menyusul sepanjang malam.. pas lagi baca tadi juga ada terasa cukup dekat dr tempat kami… seperti harapannya mb ulvi… mnta tolong abah bisa menulis tentang gempa..
    sy baca statusx prof didik widjadja di fb cuman belum faham sekali… mngkin lewat tulisan abah bisa lebih terang..
    sehat dan berkah selalu mengiringi abah

  4. Padat betul pelajaran hari ini.
    Tks info terbaru soal Turki, China, Malaysia…
    Soal kisah Turki yg ruwet biar buat pelajaran bagi kita.

  5. Terjawab sudah rasa penasaran setahun belakangan ini.
    Saya:”Presiden anda bagus ya?Menjadi idola di negara kami”.
    Mr.M:”No”.
    Saya:”Why?”.
    Mr.M:”Semua orang dipenjarakannya.Dia menciptakan banyak musuh”.

    Baru hari ini terjawab lewat tulisan abah.
    Terima Kasih abah..

  6. ini sepertinya versi lengkap turkiyeee, sampai kebab kebawa bawa ..
    memang kebab menjadi idola mengalahkan martabak, dan hampir menumbangkan rotibakar,
    harganya setengah martabak rasanya yess ..

    memang endogan eeeh esdegan ini banyak rintangan epalagi di belahan euroasia,
    euro diacak2
    asia diacak2 ..
    jadilah makin acak2 turkiye ini,

    • Tulisan yang lebih oanjang dari biasanya. Bisa jadi butuh waktu lebih lama untuk menuliskannya. Tapi, tentu lebih lama lagi saat mengumpulkan dan membaca bahan-bahan yang diperlukan. Matur nuwun, kita jadi lebih mengerti apa yang sedang terjadi di Turki. Lebih lengkap. Lebih berimbang.

  7. Tulisan Abah kali ini lebih panjang dari biasanya. Bisa jadi lebih lama menuliskannya. Tapi, tentu lebih lama lagi saat harus mengumpulkan dan membaca bahan-bahan yang diperlukan. Matur nuwun, kita jadi lebih bisa melihat Turki lebih utuh. Lebih berimbang.

    • Iya nih sama-sama masih kurang nangkep variabel analognya 😆 apa karna sama² ideolog tapi beda jalan (partai-non partai)? Atau yg lebih ngeri lagi kalau karna ada potensi saling kudeta 😱

    • Iya nih sama, persamaannya jkw-mmd dengan erdogan-gulen dan stalin-trotsky dlm hal apa ya? Mungkin 2 org yg bertujuan sama tp berbeda jalan. Diluar itu, seperti biasa tulisannya renyah, enak dibaca. Penuh info. Saya heran pak Dis riset darimana sehingga bisa menulis artikel yang bernas seperti ini

  8. Artikel yang sangat menarik like always pak Dahlan Iskan. Love it …
    Cuman yang terakhir bikin daku bingung, what is happened between Jokowi dan Mahfud MD??
    Tolong diberi pencerahan…

  9. Kalau Turki ga berhasil keluar dari kudeta ekonomi ini, kira-kira nasib Qatar dengan mega-investasinya itu bakal gimana, Bah?

  10. Panjang asikk… penasaran , apa selanjutnya. Ternyata Erdegan lbh dari yg sy duga.
    Tp endingnya kaget , spt Jkw dan MMD😳😳
    By the way, buku “people of the book” sdh ada di gramed pak Bos?

  11. Selalu ada pilihan dalam politik. Yg satu semua oran boleh berpolitik, bahkan boleh bersuara ganti presiden. Kalau di Turki, gerakan ganti presiden pasti sudah ditangkap, tapi di indonesia yg menganut demokrasi penuh, tak ada seorangpun yg ditahan. Dalam demokrasi setiap orng boleh mengancam asal masih pake mulut manusia. Ditangkap kalau sudah pakai mulut senjata. Sebaliknya di Turki setiap orang yg berbeda dengan kebijakan kepala negara adalah musuh, mirip jaman Pak Harto. Kita tunggu nasib Turki, apakah memang pilihan Edorgan sudah tepat utk negara seperti Turki, atau pilihan Indomnesia yg hanya melawan musuh2nya dengan prestasi atau karya nyata. Bukan dengan senjata.

  12. Saya serasa nonton film dengan thema perjuangan saat membaca tulisan abah. Suka dengan tulisannya.

    kalimat ini buat saya support Erdogan:
    Erdogan sangat nasionalis. Agamis. Untuk berambisi memajukan Turki. Apa pun akan ia lakukan. Termasuk melakukan terobosan yang beresiko ini: Pasar gelap.

  13. Ideologi…??? he he he, Ideologi di seluruh dunia hampir memudar, dunia menganggap ideologi hanya dibutuhkan saat awal membangun sistem politik sosial. Sekarang di jaman modern semacam ideologi Kaptalisme,Sosialisme,Liberalisme dll hanya sebuah ilusi belaka.
    Kekuatan yg ada didunia ini hanya ada 2 yg tanpa disadarinya sdh berkembang begitu pesatnya yaitu: 1. Politik Industri. 2. Industri Politik.

    -Politik Industri dimainkan oleh negara2 maju penghasil dan pengeksport teknologi.
    -Industri Politik dimainkan oleh negara2 berkembang penghasil dan pengeksport bahan baku.
    Kedua duanya sama2 punya kegiatan Underground Ekonomi. Dan inilah yg sebenarnya yg menciptakan karakter sebuah bangsa yg susah utk dirubahnya, karakter masyarakat penghasil dan pengeksport teknologi dan karakter masyarakat penghasil dan pengeksport bahan baku sangat berbeda pola pikirnya sekalipun sama2 makmurnya kondisi masyarkatnya.

    Nah di Indonesia negara kita ini yg sdh berusia 73 tahun kemerdekaannya sdh mengalami perubahan yg lumayan kemajuan ekonominya.
    Cuma kalau ditilik dari semenjak kita Merdeka pada jaman ORLA dan awal ORBA pada masa perjalanannya RUTAN atau LAPAS banyak dihuni oleh Tahanan Politik.

    Pertengahan perjalanan ORBA banyak kriminalitas yg sampai2 diberangus oleh Petrus walaupun nurut saya waktu itu pelaku kriminalitas masih dalam tahap wajar didalam kehidupan pada suatu negara…namun walaupun penghuni Rutan atau Lapas sdh penuh oleh TAPOL masih juga masa orba muncul Sparatis2 disebagian wilayah Indonesia..entah mereka berjuang atas nama Ideologi atau atas nama Perut saya kurang jelas juga. YG jelas PKI memang bertentangan dengan ideologi negara yg sdh terbangun dengan berbagai kesepakatan kita.

    Awal dan perjalanana masa REFORMASI awal diramaikan kerusuhan2 antar etnis dan golongan antar warga negara saling curiga saling baku hantam saling membunuh…terus berjalan menuju arah yg lebih baik yaitu terciptanya kondisi masyarakat yg damai, kegiatan ekonomi tambah maju mereka saling hidup berdampingan lagi dengan rasa damai.

    Nah kembali lagi tentang meningkatnya penghuni Rutan dan Lapas sampai banyak yg mengalami over kapasitas huniannya, cuma penghuni 2 lembaga ini sdh sedikit sekali bahkan hampir2 tidak ada yg namanya tahanan politik, yg ada tahanan teroris.
    Dan setelah Tahanan Politik tidak menghuni atau memenuhi Rutan dan Lapas berarti negara dalam kondisi Aman dalam rongrongan ideologi yg berseberangan dengan negara hanya jaman ORBA saja yg suka mengankat istilah bahaya laten Komunis…namun mereka2 pengendali negara ini entah disengaja atau tidak disengaja selalu membawa tolok ukur pertentangan Ideologi yg sdh bisa diatasinya, tapi mereka lalai bahwa Sistem Bernegara ini semakin rusak…bukan dirusak karena ada perlawanan Ideologi tapi dirusak iblis2 pelaku dan penikmat underground ekonomi.

    Nah RUTAN dan LAPAS penghuni terbanyak kasus NARKOBA dan KORUPSI…pelaku kriminal murni sengaja tidak saya masukkan dalam membandingkan antara Penghuni Rutan dan Lapas jaman dulu yg sisinya banyak TAPOLNYA jaman NOW banyak Pengedar dan Pecandu Narkoba serta KORUPTOR…..eh saya hanya orang desa yg sangat naif mungkin kalau mengamati politik ini, karena nurut saya awal Politik itu dibangun tujuannya utk membangun Peradaban suatu Bangsa agar mencapai sebuah sistem bernegara yg baik bagi pemerintah dan rakyatnya.

  14. Hubungan Pak Jokowi dan Pak Mahmud MD tidak akan seperti Kyai Gulen dan Erdogan. Hubungan mereka satu visi dan satu misi demi kemajuan bangsa Indonesia.

  15. mantap tulisan yang ini cukup panjang, “Sampai-sampai kebab pun kini mengalahkan martabak.” kebabnya emang enak bah 🙂

  16. Begitu menyinggung TW, saya jadi penasaran, 2014-2019 ini siapa yg jadi ‘penggantinya’? Di infra dan laut nampaknya ga bisa isi pundi lagi.
    Rugi ratusan T loh itu, dari jembatan dan ikan doang. Belum lagi dari para panda dan binatang impor lainnya. Mampet itu dah arus informasi penting. Atau memang bener kata pak prof? Tak ada maen beliaunya? Mungkin. Akibatnya turun di tk I dan II itu ott nya.
    Ga mungkin Abah ga ada informasi ini, kasih clue dikit lah bah buat pembaca setia, siapa pengganti itu, makasih Bah

  17. Saya selalu senang setiap baca tulisan sampeyan…..gampang dan enak dibaca ….saya doakan semoga sampeyan sehat dan bahagia selalu

  18. Keren bah… Banyak pengetahuan baru yg di dapat. Saya pendatang baru disini,,, salam kenal buat semunya… Salam santun jg buat abah.

  19. tulisannya keren bangeett, klo “abah” nya para jurnalis turun gunung jadi kayak baca info kelas berat bin menyeluruh plus gampang dimengerti sama pembaca yang g mudengan seperti saya ini. Dari satu cerita bisa berkembang sampai ke ekonomi dengan mata uang lira-nya, hankam dengan proses kudetanya, di indonesia tidak lupa tommi winata dengan kisah rahasianya bahkan gelitikan yang terakhir jokowi-mahfud md yang bikin pembaca bertanya2. Andaikan para jurnalis masa kini di Indonesia bisa bikin tulisan secerah ini, pembaca tidak dibikin sibuk membaca berita tagar2an ma gosip kekinian….hmmm mudah2an bisa. Terus berkarya dan menginspirasi Abah, sehat selalu dan diridhoi-Nya.Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,536 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: