Trump Kecele Lagi
Catatan Harian, Internasional

Trump Kecele Lagi

Oleh: Dahlan Iskan

Ia sewot: tidak mau ber-summit dengan Presiden Trump. Padahal Trump sudah begitu gegap gempitanya.

Tempat summit-nya pun sudah ditentukan: Singapura. Bahkan Trump sudah seperti menitikkan air liur: bisa dapat hadiah Nobel perdamaian.

Ia memilih tiba-tiba: summit sendiri dengan Xi Jinping. Diam-diam. Di kota Dalian, Tiongkok. Yang begitu dekat dengan Pyongyang. Ibukota Korea Utara.

Hanya –meminjam istilah orang Jawa di pegunungan– seperokok-an jauhnya: rokok belum habis sudah tiba. Dengan pesawat kecil pakai baling-baling yang ia naiki.

Tumben ia berani naik pesawat. Inilah pertama kali ia naik pesawat. Sejak jadi presiden. Mungkin karena dijamin keamanannya oleh Tiongkok.

Trump menuduh: summit diam-diam itulah yang membuat summit gegap-gempita di Singapura itu batal. Atau mundur. Presiden Xi Jinping dianggap seperti membisikkan pada ia –Kim Jong-un– di summit rahasia itu.

Saya lantas banyak ditanya. Di beberapa kesempatan di Amerika ini: apakah prospek perdamaian di semenanjung Korea ini suram? Saya jawab dengan mantab –seperti saya ini ahli tentang Korea beneran: dengan atau tanpa Trump perdamaian akan jalan terus.

Sikap ‘mendadak ramah’-nya Kim Jong-un itu sebenarnya sudah terjadi sebelum tekanan Trump. Yakni setelah kunjungannya dengan kereta siluman ke Beijing itu.

Beijing seperti membisikinya: teruslah dengan komunismu, tapi jangan miskin begitu. Lihatlah kami: bisa kaya tetap dengan pakai komunis.

Bisikan itu tampaknya dilanjutkan lagi. Di summit di Dalian dua minggu lalu. Lihat: kami bisa membangun kapal induk sendiri. Tanpa Amerika. (Saat itu Xi Jinping memang lagi meresmikan kapal induk pertama buatan Tiongkok di galangan kapal kota Dalian. Pesawat-pesawat tempurnya turun-naik di geladak kapal itu).

Kebetulan Kim lagi punya alasan kuat. Untuk batalkan summit dengan Trump. Ini dia: Kim sudah menunjukkan kerelaannya berdamai. Kok tetap ada latihan perang bersama: militer Korsel dan Amerika.

Seperti sedang menekan Korut. Kim marah: kok pertanda-pertanda yang ia berikan tidak diimbangi dengan pertanda-pertanda baik dari Selatan. Bahkan kok justru pertanda-pertanda gelap yang datang.

Padahal Kim sudah berjanji akan mengakhiri proyek nuklirnya. Sudah mau bertemu Presiden Korea Selatan. Sudah mau memulangkan tiga tawanan Amerika. Dan jangan disepelekan pertanda satu ini: Kim sudah mau membongkar pengeras suara. Yang dipasang di sepanjang perbatasan.

Kim masih memberikan pertanda satu lagi: mengubah waktu di Korut. Agar jamnya sama dengan di Korsel. Selama ini waktu di Korut setengah jam lebih dulu dari Korsel –seperti pokoknya harus beda.

Begitu banyak pertanda-pertanda yang diberikan Kim. Tanpa merasa malu dan sedang kalah. Dan yang ia dapat: pertanda-pertanda arogansi dari Amerika.

Batal saja summitnya. Atau setidaknya ditunda. Untuk perlindungan keamanan: sudah ada Tiongkok. Untuk jaminan pembangunan: sudah ada Tiongkok. Untuk menekan Korsel: sudah ada Tiongkok.

Belum tentu Kim bisa mendapatkan semua itu dari Amerika –tetangga amat jauhnya.

Bagaimana prospek perdamaiannya? Tiongkok bisa atur. Mereka bertiga toh bertetangga dekat. Toh selama ini keperluan BBM Korut sepenuhnya ditanggung Tiongkok. Lewat pipa dari tetangga dekat. Perdamaian itu bisa diatur sendiri. Tanpa Amerika. Yang penting: jangan memusuhinya.

Memang selama ini ada yang lucu sekali. Di perbatasan dua negara itu. Masing-masing pihak memasang pengeras suara. Di sepanjang perbatasan. Berderet sejauh 250 km. Sejak puluhan tahun lalu.

Corongnya dihadapkan ke wilayah lawan. Itulah pengeras suara untuk saling promosi. Eh, saling menyerang. Atau saling membalas serangan.

Tapi ada baiknya juga pengeras suara itu. Setidaknya perangnya hanya perang suara. Tidak sampai seperti Julia Perez dan Dewi Persik.

Saya pernah ke perbatasan itu. Di Panmunjom. Dari arah selatan. Banyak yang saya anggap lucu di situ.

Perangnya tidak hanya dalam bentuk hallo-hallo. Tapi juga saling sebarkan pamlet. Kadang pakai balon-balon terbang. Disebarkan saat arah angin lagi menuju negara lawan.

Di perbatasan itu juga dibangun satu gedung. Separo memakai tanah Korea Utara. Separonya lagi di atas tanah Korea Selatan.

Di dalam gedung itu ada ruang pertemuan. Ada pula meja rapatnya. Letak meja itu harus di tengah persis. Separo meja ada di wilayah utara. Separonya lagi di wilayah Selatan.

Kalau dua pihak lagi baikan mereka bikin rapat. Delegasi Utara duduk di meja bagian utara. Begitu juga sebaliknya.

Saya pernah mengintip ke dalam ruang rapat ini. Saat lagi tidak ada kegiatan. Dan memang selalu tidak ada kegiatan.

Mereka gencatan senjata di tahun 1953. Sejak itu baru ada tiga atau empat kali rapat. Resminya, status kedua negara itu memang masih dalam perang. Hanya saja lagi genjatan senjata.

Inilah gencatan senjata terlama: 65 tahun. Perang tidak. Damai pun tak. Kalau keduanya lagi baikan gedung itu berguna. Tapi wawuhan itu biasanya hanya sebentar. Lalu jotakan lagi.

Wawuh terlama terjadi 10 tahun lalu. Sampai Korsel diijinkan bangun pabrik-pabrik di wilayah khusus di Korut di dekat perbatasan.

Tapi ternyata jotakan lagi. Pabrik-pabrik pun harus ditutup. Sampailah Korut tiba-tiba dipimpin anak muda tambun itu: Kim Jong-un. Yang istrinya cantik sekali itu. Dan kelihatan pinter itu. Dan modern modis itu.

Mula-mula si Tambun galak banget. Pamannya sendiri sampai dieksekusi mati. Kekuatan nuklirnya dibangun. Beberapa kali ujicoba: gagal. Bahkan gunung ujicobanya runtuh. Tamat. Menyerah.

Kebetulan ekonomi negaranya kian parah. Rakyatnya sangat miskin. Pekerjaan utamanya seperti hanya baris-berbaris. Atau kibar-kibarkan bendera. Atau menyeru: Hidup Kim Jong-un! Pemimpin Besar Kita!

Maka adegan di perbatasan 26 April lalu itu sangat mengharukan. Kim Jong-un bertemu langsung Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

Ia langkahi garis perbatasan dengan ekspresi damai. Ia salami Presiden Korsel, musuhnya itu. Ia berangkulan.

Presiden Korsel menepuk-nepukkan dua tangannya di bagian belakang pinggang lawannya. Kim Jong-un menepuk-nepukkan kedua tangannya di punggung atas lawannya itu. Lalu mengangkat tangan mereka dalam keadaan saling tergenggam.

Saat berjalan menuju ruang pertemuan pun mereka terus bergandengan tangan. Lalu membicarakan perdamaian abadi. Pembangunan jazirah Korea. Dan merencanakan masa depan yang cerah.

Kim Jong-un sekolah di Perancis. Atau Swiss. Dengan nama yang disamarkan. Ia tahu. Dia mengalami. Ia menghayati. Bertahun-tahun. Bagaimana seharusnya rakyat hidup. Bagaimana negara harus makmur. Gambaran kemakmuran Swiss ada di kepalanya.

Kim Jong-un tampil ke puncak karena terpaksa. Ayahnya meninggal saat umurnya belum 30 tahun. Keadaan negara sudah seperti itu: tahu sendirilah. Setidaknya kini ia sudah mencopoti pengeras suara itu.(dis)

May 24, 2018

About Author

dahlan iskan


20 COMMENTS ON THIS POST To “Trump Kecele Lagi”

  1. Nobel Perdamaian itu semu. Abu-abu.
    Tapi sejatinya jika kaum ia mau berubah, perdamaian akan terjadi.
    Karena Allah, Sang Pembolak-balik Hati.

  2. Pekerjaan rakyat korea utara, baris berbaris. He he he… ada ada saja Abah.
    Sekali kali kita di Indonesia, mungkin perlu baris berbaris. Sebagai refreshing, capek kerja terus, siang malam. Hw he he….

  3. Jd maksud abah, Kim sbnrnya tak segalak tampangnya?
    Dan upaya perdamaian ini krn langkah kedua pemimpin Korea ini sndri yg jg difasilitasi Tiongkok?

  4. Rakyatnya boleh miskin yang penting isterinya Kim masih cantik modis modern dan cerdas plus masih muda jua.

  5. sebagai calon pemimpin bangsa memang harus tahu geopolitik di sekitar kawasan minimal,
    maka dengan tulisan ini setidaknya jadi gambaran bahwa idola kita wawsan geopolitik, ekonomi nya kuat,
    cuman suka melengos kalo kena batuu ganjalan politik, bukan diterjang dan dilawan, hahahahaha

    salam hormat dari saya abah

    • Saya rasa Pak Dahlan Iskan sudah melakukan perlawa terhadap kasus2nya.Dan itu adalah perlawanan yang cerdas.elegant.terhormat dan sesuai prosedur yang dibenarkan.Hanya saja Pak Dahlan Iskan tidak mau aji mumpung mencari dukungan sana sini secara politik.Itulah hakikat perjuangan yang benar menurut saya.Walaupun awalnya saya sangat mengharapkan Pak Dahlan menyerang balik pemerintah yang dzholim ini

  6. Bah. Sy kog belum lihat pertanda pertanda maujawab undangan saya y. Smoga sbentar lagi ada pertanda pertanda.
    Tapi samar samar sy amati. mulai tampak. ya TOL Karanglo mulai dicor. jalan arteri utama mulai dipadangi. pintu masuk javanine dua dibetulkan pavingnya. Apakah ini pertanda ?

  7. “Sampailah Korut tiba-tiba dipimpin anak muda tambun itu: Kim Jong-un. Yang istrinya cantik sekali itu. Dan kelihatan pinter itu. Dan modern modis itu.”
    saya teramat sangat setuju sekali dng statement abah ini….cantik sekali, yes….jauh lebih cantik dari gadis mongolia yg di-C4-kan itu…..hehe…

  8. TRUMP;” aduh batal lagi, padahal saya mau kasih contoh di Singapura itu utk belajar dari temaseknya singapura agar nantinya jangan takut utk mendirikan bumn tanpa ketakutan hilangnya sebuah dinasty dan rakyatnya makmur.

    Xie Jin Ping; eit..jangan mau kamu dengan teorinya trump…yg kamu lakukan sekarang hanya membangun etos kerja rakyatmu dan membangun sosial ekonominya yg lebih modern agar jika nanti anda sdh siap membuka diri kepada pasar anda tidak selalu ketakutan akan demokrasi yg bisa meruntuhkan dinasty anda..yg penting beri kesempatan rakyat utk kaya dan semakin naik standard kehidupannya dengan cara kerja keras…lihatlah kami yg dalam beberapa dekade sdh bisa menumbangkan teori easy money yg sellau dikembangkan oleh dunia barat, utk melwannya hanya dengan kerja keras…dan hasilnya? sangat mencengangkan mereka…dan lihatlah Jepang dan Korsel walaupun mereka sdh maju namun masih disibukkan oleh banyak waktu dengan masalah2 Politik…namaun sejatinya kekuatan politik dunia modern yg dikembangkan oleh sekutu2 mereka juga tidakl semuanya jelek utk merubah sistem kehidupan sosial di dunia ini..contohnya kami juga istilahnya nunut dengan segala kebijakan2 politiknya mereka yg sdh terbanung lebih dulu dengan cara kami sendiri yaitu ‘Kerja keras’ semua rakyat dan pemerintahnya.”

    Kim Jong Un; hmm…mau saya sebenarnya Korut akan saya buka ekonominya kepada pasar global namun jangan sampai dinasty kami hilang begitu saja ditelan hingar bingarnya politik dikarenakan kemajuan ekonominya rakyat…dan sementara ini yg bisa saya lakukan hanya seolah olah saling melawan dengan korsel dan us agar rakyat semakin memandang saya sebagai pemimpin yg sangat berani sebagai pahlawannya semua rakyat.

    Dan sejak 3 atau4 tahun yg lalu saya sdh memprediksi jika korsel,tiongkok,us masing2 sdh mengajukan berbagai studi tentang Kekuasaan dan tekanan kepada Korut agra membuka diri kepada Pasar.

    Jangan diresapi serius2 tulisan saya ini hanya Guyonan politik warung kopi saja…ha ha ha

  9. Memang antara Korut dan korsel diperlukan GoPekGo (tonggo ngepek tonggo) dalam jumlah massal koq Abah, biar wawuhannya lamaaa karena banyak pernikahan antara dua tetangga itu menghasilkan keturunan yg buanyaakkk pula.

  10. Pak DIS, kata eric x. li, china 10 tahun terakhir bukan komunis. lebih ke responsive authoritarianism. gmn ya menurut bapak?

  11. Thank you …pak Dahlan, sudah menyajikan hidangan semangkuk politik “Hangat” di atas meja kayu tanpa cat bertuliskan “PSY-War”
    …………. Semua masih hangat ……….

    Alhamdulillah….kita lahir di NKRI ini yang “nggak hobby” berperang, dan tetap dalam suasana penuh HUMILITY terhadap negara tetangga.

    Alhamdulillah juga UJI COBA rudal balistik Korea pada tahun 2007 dari Pyongyang menuju perairan jepang, … Kita nggak bisa bayangkan kalo rudal BALISTIK itu di arahkan ke perairan kita, pasti banyak toko sembako, stan pulsa, dan warteg banyak yang tutup karena khawatir di bom….( just kidding ).

    Kita saat ini hanya bisa menonton acara PSY War antara korea Vs Amerika yang mungkin berlangsung 12 ronde atau lebih …. Karena kedua negara ini sama sama mempunyai daya tempur dan endurance berperang yang bagus.

    Dan sambil menonton acara tersebut. Kita jangan terlalu dekat agar tidak kena rudal nyasar…. Juga kita jangan terlalu jauh agar kita dapat mengambil pelajaran dari acara PSY War ini.

    Salam sejahtera

    Andry Arfiantho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,181 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: