Transfer Caleg Jelang Final Piala Dunia
Catatan Harian, Terbaru

Transfer Caleg Jelang Final Piala Dunia

Oleh: Dahlan Iskan

Ini bukan sepakbola. Yang tiap menjelang musim kompetisi terjadi transfer pemain. Klub kuat mengincar-incar: di klub mana ada pemain jadi. Yang bisa dibeli.

Karena ini bukan sepakbola. Justru partai lemah yang mengincar caleg jadi. Dari partai lemah lainnya. Bahkan dari partai kuat sekali pun. Asal transaksi cocok.

Mula-mula saya tidak paham arah pembicaraan seperti itu. Seolah pengetahuan sepakbola saya begitu dangkalnya. Tapi, oh. Ini bukan pembicaraan sepakbola.

Pembicaraan itu terjadi di ruang tunggu. Yang bicara para tokoh politik muda. Dari banyak partai. Di acara perkawinan hari Minggu lalu. Tokoh Amal Alghozali yang mantu. Pengusaha pertanian yang sukses. Juga pengurus pusat partai Demokrat. Di Taman Mini Indonesia Indah.

Saya dan Ustadz Yusuf Mansyur hanya diam mendengarkan. Sekilas. Tidak lagi tinggi minat kami berdua di bidang itu. Bahkan saya lebih banyak di luar negeri. Belakangan ini. Dan yang akan datang.

Pembicaraan mereka itu penuh dengan humor. Sesekali kami berdua ikut tertawa. Agar tidak tampak ganjil. Tapi saya dan ustadz Yusuf Mansyur lebih sering berbisik untuk topik lain.

Seandainya masih ada minat politik, omongan mereka itu sungguh menarik. Ada satu partai yang jadi pusat pembicaraan mereka. Yang hasil surveinya selama ini jeblok. Di bawah 2 persen. Tidak akan lolos masuk parlemen. Hari itu baru saya tahu: ada batasan persentase 2 persen untuk bisa masuk parlemen. Khas Indonesia, rupanya.

Saya juga baru tahu: Minggu malam itu adalah hari-hari menegangkan. Batas waktu pendaftaran calon anggota legislatif tinggal tiga hari. Bisa terjadi saling geser posisi. Bisa saling tendang ke nomor sepatu –istilah untuk nomor urut terakhir. Tegang sekali, kata mereka. Saya sama sekali tidak tahu.

Saya pikir malam itu yang menegangkan hanya satu: final piala dunia.
Bagian yang paling seru dari pembicaraan para politisi itu: bukan geser-menggeser calon di dalam satu partai. Tapi justru antarpartai.

Partai yang oleh para surveyor dinyatakan jeblok itu punya jalan pintar –eh, jalan pintas. Mencalonkan tokoh-tokoh dari partai lain. Yang sudah jadi tokoh. Yang perolehan suaranya dulu tinggi. Diminta pindah jadi calon partai tersebut. Sekarang ini.

Ruang tunggu itu sebenarnya menarik untuk direkam. Tapi kalau saya keluarkan kamera bisa saja pembicaraan terhenti. Padahal omongan mereka lagi mencapai puncaknya: berapa miliar rupiah uang transfer mereka. Rp 2 miliar. Rp 3 miliar. Entah dari mana sumber datanya.

Bedanya dengan sepakbola: uang transfer itu tidak diterima partai tempat asalnya. Namanya pun bukan uang transfer: tapi bantuan biaya kampanye.

Mereka yang pindah itu tidak takut. Partai begitu lemahnya. KPU bukan seperti FIFA. Yang bisa memberi sanksi pada bintang sepakbola. Tidak ada juga VAR. Untuk mengecek kebenaran gerak-gerik politisi itu.

Mereka juga menyebut nama. Siapa dari partai di dapil mana: yang ditransfer ke partai itu. Saya belum bisa mengecek kebenarannya. Daftar calon sementara masih di KPU. Untuk diteliti. Bukan masalah transfernya. Tapi dokumen pencalonannya.

PDI Perjuangan, kata ruang tunggu itu, akan tergerus banyak. Partai Demokrat juga. Bahkan orang segarang Oso tidak bergigi: partai Hanura kabarnya kehilangan 14 caleg potensialnya. Lewat jalan pintas tadi.

Heran: menjelang final piala dunia hari itu tidak ada yang tertarik bicara bola. Politik memang menggiurkan –untuk yang belum insyaf. (dis)

July 19, 2018

About Author

dahlan iskan


40 COMMENTS ON THIS POST To “Transfer Caleg Jelang Final Piala Dunia”

  1. Ho ho ho…

    Akhirnya nulis politik dalam negeri juga. Awas lho Bah nanti dipanggil wasit jadi saksi transfer2an. Ha2…

    Sehat selalu abah (y)

  2. Wah..baru tahu neeh, yg ginian ada transferan jg. Makin gede tuch nanti “hutang” yg harus ditanggung pemilih…..kalo dia jd

  3. POLITIK MEMANG MENGGIURKAN—–UNTUK YANG BELUM INSYAF.
    (serius atau cuma sekedar penyedap rasa???)
    Saya sampai merasa alergi berat dengan kondisi kita saat ini. Apakah saya yg aneh atau saya yang tidak bisa beradaptasi?
    ?????

  4. Ini ni, tulisan langka pak DIS tentang situasi percaturan politik dalam negeri. Hati-hati kena semprit pak.

  5. Heran: menjelang final piala dunia hari itu tidak ada yang tertarik bicara bola. Politik memang menggiurkan –untuk yang belum insyaf. (dis)
    Ihdinassitholmustakim….

  6. Welcomeback abah… teruskan Bah,,,kritisi terus kondisi perpolitikan negerinya via Vallen.. oh ya Bah katanya perusahan minyak dan listrikn negerinya via vallen sedang gonjang ganjing ya… pasti Abah punya ceritanya..

  7. Wah wah wah akhirnya… Seru nih. Tapi lebih suka disway biasanya. lebih aman. Bukannya takut, tapi karena kita menyayanginya. Sia sia energi ngikuti kasus abah yang Kemaren, apalagi yg jalani, mending jalan jalan luar negeri, banyak inspirasi, hingga saatnya nanti beraksi. Bersama kita disway bisa.

  8. Kalau untuk memperoleh kemenangan harus engkau curangi saudaramu sendiri
    Kalau untuk memperoleh kejayaan harus engkau harus jegal saudaramu sendiri
    Kalau untuk memperoleh kekuasaan harus engkau singkirkan saudaramu sendiri
    Kalau untuk mendapatkan pengakuan harus engkau tiadakan saudaramu sendiri
    Kalau untuk memperoleh kemuliaan harus engkau hinakan saudaramu sendiri
    Dan kalau untuk menegakan hidupmu .. engkau mengharapkan kemaitan saudaramu sendiri

    Maka apa bedanya engkau dengan monster monster yang engkau kutuk kutuk itu??
    Dan katakana kepadaku apa yang engkau andalkan untuk merangsang cinta dan hubunganku atasmu?

    Kalau memang yang engkau pilih bukan kearifan untuk berbagi
    Melainkan nafsu untuk menang sendiri
    Maka terimalah kehancuran bagi yang kalah
    Dan terimalah kehinaan bagi yang menang
    Kalau memang yang mengendalikan langkahmu adalah rasa senang dan tidak senang
    Dan bukannya pandangan yang jujur terhadap kebenaran
    Maka buanglah mereka yang engkau benci
    Dan bersiaplah engkau sendiri akan memasuki jurang
    Jurang kenistaan…

    Caknun ……

  9. Tapi kl orang baik ga mau terjun ke politik,malah orang2 yg mungkin kurang baik itu yg terpilih dan bikin aturan/UU malah hasilnya pasti jg bukan demi kebaikan bersama…

    • Wadow jadi inget saat Abang diplekotho “diambil” suaranya saat jadi peserta konversi eh konvensi periode lalu….

  10. Menunggu tulisan lanjutannya, agar negeri ini nggak makin hancur karena para calegnya sudah punya mental perampok. Sistem pemilu yang cocok dan irit duit, menurut abah yang seperti apa?

  11. Itulah yang menyababkan sengsara rakyat, yang menyebabkan negara ini gagal maju gagal mempunyai akal sehat gagal insaf.. karena orang-orang insaf di negeri ini di atur dan ikut aturan main yang di buat oleh oknum yang tidak insaf…jadi terjawab sudah ya abah kenapa negara ini kondisinya begini-begini saja…si insaf tidak mau atau mungkin tidak bisa atau tidak mampu mengambil peranan di pusaran pusaran pembuat aturan main..apakah para orang insaf itu boleh dibilang pengecut karena takut tidak tahan godaan korupsi atau godaan yang lainya….saya pernah mendengar cerita bahwa ada seorang ulama hebat yang masuk di pemerintahan dan tidak berdaya di dalamnya…lalu kemudian dia keluar dari pemerintah dan mengharamkan kerja di pemerintahan….sebegitu kuatkah”godaan iblis” di sana sehingga lebih kuat dari pada iblis di tempat pertapaan.. sehingga seorang ulama hebat itu harus mundur…..

  12. wah kalo saya malah dengar langsung lho Bah, untuk nyaleg aja harus setor uang dulu 500 juta, belum lagi kalo minta No urut bagus harus setor 1 M lebih belum lagi dana untuk dia harus kampanye, yg setoran awal itu ntah masuk kemana yang jelas masuk ke kantong pribadi bukan ke partainya, ada lagi saya dengar seperti yg Abah ceritakan itu betul adanya, saling bajak caleg potensial dengan tawaran yg menggiurkan wes lah rusak sisan negara via vallen kalo hal seperti itu gak segera dihentikan… tidak akan mungkin habis masuk senayan nguras uang dengan cara cara menjijikkan..

    • bukannya kebalik? di daerah sy malah caleg2 d tawari dana untk nyaleg. gak sampe miliaran sih. palagi caleg wanita. uuuh… rebutan partenya

  13. Saya bacanya senyum2. Jangan2 ada yg tuker tambah juga kayak di pasar loak? Eh sori, kayak pemain bola.

  14. kalo bahas politik semua kalangan merasa punya kemampuan untuk itu. Pemikiran ini setidaknya yang berada di Indonesia. kita dibawah udah saling jontok2an karena merasa pertarungan ideologi. ternyata kalo diatas sana mereka beddasarkan pinangan dari partai alias fee biaya transfer. Salam pak

  15. Waw politik, penuh dengan gesekan pak, yang adem bisa jadi panas. Semoga saja yang menjadi pemimpin bisa dipertanggung jawabkan.

  16. Saya yakin partai “pembeli” caleg yang Pak Dahlan maksud adalah partai si brewok Surya Paloh.yang “jongosnya” si Prasetyo (jaksa agung begudul) yang kmrn mencoba menyeret2 Pak Dahlan ke kasus korupsi “jadi2an”.hehe……..

  17. Saya pribadi sangat berharap Pak Dahlan untuk bisa “menceburkan” diri lagi ke politik (kalo bisa buat partai sendiri atw mengajak ketua partai yang benar2 tulus Demi Indonesia lebih baik).saya sangat yakin untuk capres 2019 akan setali 3 uang lagi alias tetap capres2 SIMALAKAMA alias capres2 pepesan kosong lagi kualitasnya.Mohonlah Pak Dahlan berusaha.walaupun saya tahu untuk hal ini Pak Dahlan ingin “Menunggu Takdir” bukan “Membuat Takdir”.itu mungkin dkarenakan mayoritas rakyat indonesia memang tidak “kenal” Pak Dahlan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,721 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: