Suluk Pencuci Hati
Catatan Harian, Humaniora

Suluk Pencuci Hati

Tulisan hari ini tidak usah Anda baca. Tidak ada gunanya.

Ini bukan soal kondom. Juga bukan soal bulog desa.

Ini ‘hanya’ soal pedalaman. Pedalamannya seorang manusia. Mungkin jauh dari yang Anda perlukan.

Ratusan orang, minggu lalu menjalani suluk. Semacam retreat. Sepuluh hari. Tidak pulang. Puasa. Ibadah. Dzikir. Sholat. Hampir sepanjang hari dan malam.

Begitulah penganut tarekat sering melakukan. Setahun satu atau dua kali.

Seseorang, sebelum menganut tarekat, biasanya belajar dulu tasawuf. Untuk mengetahui makna hidup yang sebenarnya: hakekat hidup.

Untuk apa makan. Untuk apa minum. Untuk apa tidur. Untuk apa hidup. Untuk apa berdoa. Untuk apa sembahyang. Untuk apa perlu dekat dengan Tuhan.

Setelah tahu semua itu barulah: bagaimana caranya bisa dekat dengan Tuhan, di manakah jalan itu, dan lewat jalan yang mana.

Kalau sudah tertarik dengan semua itu barulah menjalaninya. Lewat jalan yang ditunjukkan si penunjuk jalan: sang mursyid. Beliau itulah yang menjadi panutan.

Tiap satu aliran tarikat selalu ada satu mursyid.

‘Tarekat’ artinya ‘jalan’. Jalan menuju Tuhan. Jalan yang mereka anggap benar. Yang pasti sampai tujuan. Bukan jalan yang kelihatannya lurus dan lapang, tapi jalan itu ternyata menuju pabrik kondom.

Selama 10 hari, penganut tarekat yang lagi menjalani suluk itu terputus dari dunia. Tidak ingat sawah, ladang, toko, kantor dan apalagi utang.

Tidak boleh ingat pesaing, musuh, juragan yang kejam, tetangga yang bawel dan apalagi ketua partai. Sepi. Lapar. Menerima apa adanya yang ada.

Dan hilanglah rasa kemrungsung dari dalam hati. Kemrungsung adalah rasa selalu ingin ini dan ingin itu dan keinginan itu harus dicapai secepatnya.

Godaan suluk tentu banyak. Itulah cara Tuhan menyeleksi umatnya. Apalagi di zaman ini. Ketika hp tetap di saku. Ketika semuanya dibeli dengan cara kredit. Semuanya.

Akibat rasa kemrungsung yang tak terkendali. Semua ingin cari uang. Untuk membayar cicilan.

Tekanan pekerjaan luar biasa. Untuk dapat uang bayar cicilan itu. Lalu berkembang ke rasa takut. Siang malam dirundung rasa takut. Cemas.

Takut tidak bisa bayar cicilan. Takut barangnya disita. Malu dengan tetangga. Dan kerabat.

Rasa takut dan cemas itu kadang ditutupi dengan ini: pergi ke karaoke. Teks lagu yang keluar di layar karaoke bisa terbaca lain: akeh utange…. angel bayare….

Dengan suluk setidaknya ada jeda. Ternyata tetap hidup. Baik-baik saja.

Pulang ke rumah, rumahnya masih ada. Semuanya masih ada. Hidup itu ternyata sederhana. Simple.
Tapi hutang juga tetap tidak hilang. Cicilan tetap harus dibayar…

Saat saya diminta mengisi salah satu acara di suluk itu saya ingat saat suluk dulu. Itulah cara untuk mencuci hati.

Kita tahu kalau baju kita kotor kita cuci dengan diterjen. Kalau badan kita kotor kita cuci dengan sabun.

Tapi bagaimana cara mencuci hati yang kotor? Pasti tidak dengan diterjen atau sabun. Padahal hati kita bisa jadi lebih kotor dari baju kita.

Tapi pertanyaan bertubi-tubi dari peserta suluk yang harus saya jawab hari itu bukan soal tehnik cuci hati. Melainkan bagaimana agar penganut tarekat tetap bisa kaya. Satu sifat yang kelihatannya bertentangan.

Maka forum tarekat Naqsabandiyah Mujaddadiyah Khalidiyah pimpinan KH Mohammad Nizam As-Shofa di pelosok Sidoarjo itu ramai dengan pertentangan antara zuhud dan duit. KH Nizam yang menjadi moderatornya. Beliau adalah alumni Al Azhar Mesir.

Dia inilah yang menciptakan nada sholawat ‘astaghfirullah…’ yang terkenal itu. Yang menjadi lebih terkenal karena banyak orang mengira itu suaranya Gus Dur.

Ah, sudahlah. Sampai di sini saja dulu. Kalau tulisan ini diteruskan bisa jadi orang akan takut mencari uang.(dis)

Foto: Dahlan Iskan bersama Kyai Nizam yang bersorban beserta jamaah lainnya.

March 29, 2018

About Author

dis


35 COMMENTS ON THIS POST To “Suluk Pencuci Hati”

  1. Tumben abah nulisnya datar, tak ada klimaks, tulisan terasa hambar. Saya masih belum bisa menemukan maksud dan tujuan tulisan, persis SEPERTI YG dibilang di depan, tidak perlu baca tulisan ini. Tapi apa mungkin bagi seorang pembaca
    Setia melewatkan tulisan abah. Jadi walo hambar tetap dibaca karena tulisan abah seperti sarapan pagi.

  2. saya merasakan tulisan ini dalam sekali, terutama tentang fitrah manusia, manusia yang harus memberikan manfaat buat orang lain, bukan kemerungsung untuk memperkaya diri sendiri.

    musryid memberikan manfaat penunjuk jalan bagi para pengantur tarekat , jalan yang lurus yaitu jalan yang penuh manfaat dan waktu yang lebih produktif,

    manusia yang memberi manfaat adalah manusia integrator yang anfauhum linnas,

    selebihnya adalah hak tuhan dan kewajiban mempertanggungjawabkan amanah yang dititipkan tuhan

    terimakasih

  3. dua sisi saya melihat tulisan ini. Saya lihat dari sisi bahwa Pak dahlan mencoba menyampaikan sisi religius tang ada di hati Pak Dahlan. Hebat nggak menggurui tetapi menyampaikan ini lho tarekat itu….. silahkan pilih tarekat yang menurut anda sesuai. Tujuannya sama TUHAN.
    Sisi yang kedua sudut pandang saya adalah = Pak dahlan masih galau (nyambung komen saya seminggu kemaren ya…?) galau terhadap para ketua partai dan juga hutang Indonesia. Penyampaian kegaluan bukan disampaikan dengan mengkritik apalagi menghujat, tetapi menyentil.
    Semoga Indonesia mendapat rahmadNya. Sehat terus pak ….

  4. Sayang kl di lewatkan…pengingat diri..

    Penasaran pertentangan antara zuhud dan kaya,bagaimana kah jawaban nya?

    Jadi inget..”kaya bermanfaat,miskin bermartabat ”

    Ah..sudahlah…

    • kalo meminjam jwban Mbah Abdul Jalil alm. tulung agung, mursyid tarekat Sazdiliyah. tentang Zuhud, diibaratkan seperti orang mandi. bak mandi yg kodong diisi penuh, tapi ketika mandi, air yg di bak mandi tdk kita habiskan, biarlah sisanya dipake irang lain, kita hanya secukupnya saja. begitulah sehatusnya dg harta. gunakan secukupnya, sisanya betikan kpd yg lain yg membutuhkan.

  5. Saya tidak bisa berhenti untuk terus membacanya. Walau sudah dilarang, bahkan oleh pak Dahlan sendiri. Entah mengapa? Bahkan ketika tulisannya disudahi, rasanya ada yg belum terpuaskan. Tulisan komentar pembaca lainnyapun dibaca semua, satu persatu, Hingga sampai kolom ‘post a comment’. Sampai disini barulah saya benar-benar berhenti. Karena hanya bisa ditulisi bukannya dibaca, bah.

    Maaf pak Dahlan, kali ini bapak salah, tulisannya bukannya tidak ada gunanya. Malah sangat berguna, terutama bagi saya. Bisa jadi pengingat hati, yg di pagi ini dipenuhi rasa kemrungsung. Kemrungsung cari duit, jg kemrungsung nunggu tulisan pak Dahlan muncul..hehe

  6. Wis talah, menungso nek dilarang pancen malah tambah nekat. Wis diwarah ojo diwoco yo malah diwoco bolak balik.
    Kapok kon, bingung.

  7. sEMOGA BSK DI LANJUT LAGI, JAWABAN ATAS PERTANYAAN ” bagaimana agar penganut tarekat tetap bisa kaya “???
    MEN

  8. Tulisan yg bagus, bahwa hidup ini akan mati, siapa ygvbisa hidup terus? Pasti di akhiri kematian. Untuk itu sekali sekali ikut sulut, melupakan dunia ini beberapa hari, untuk apa? Untuk sadar bahwa ada kehidupan yg lebih kekal sesudah kematian. Apa yg harus dilakukan? Cari bekal kehidupan di akherat, caranya salah satunya yaitu suluk. Mendekatkan pada allah yg maha suci dan maha tinggi. Terima kasih, saya diingatkan suluk, lewat tulisan ini, saya kira suluk lebih penting dari pada kondom. Itu hanya kesimpulan saya.

  9. Mohon ijin untuk berkomentar.

    (1) “Bukan jalan yang kelihatannya lurus dan lapang, tapi jalan itu ternyata menuju pabrik kondom”.

    Luar biasa Pak Dahlan. Ungkapan berbobot, tetapi disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan. Ungkapan tersebut dapat dimaknai secara harfiah (apa adanya). Juga dapat dimaknai dengan “sedikit berbeda”. Sebagian orang akan teringat dengan ungkapan

    “Bukan jalan yang kelihatannya lurus dan lapang, tapi jalan itu ternyata menuju neraka”.

    Secara tidak langsung, Pak dahlan mengingatkan pembaca (termasuk saya dan anda…) agar tidak keliru dalam menempuh (suluk) “jalan hidup”.

    (2) Secara bahasa “suluk” dapat bermakna “hal menempuh”. dalam Surat An-Nahl [16] ayat 69, terdapat firman Alloh: “Fasluki subula rabbiki zululan”, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu).

    (3) Pulang ke rumah, rumahnya masih ada. Semuanya masih ada. Hidup itu ternyata sederhana. Simple.
    Tapi hutang juga tetap tidak hilang. Cicilan tetap harus dibayar.

    Sekali lagi, Pak dahlan tetap mengingatkan pembaca bahwa urusan dunia tetap harus diselesaikan.

    Terima kasih, Pak dahlan.

  10. Inilah hebatnya abah dAHLAN, BUKAN CUMA PEMIKIRANNYA YANG BEGITU LUAS, NAMUN JUGA SPIRITUALITASNYA DIBUKTIKAN LEWAT TULISAN INI YANG BEGITU MENDALAM JUGA MENJALANI SULUK…. ADA BERAPA BANYAK PEJABAT/PENGUASA DI NEGERI INI YANG MENJALANKAN SULUK? KALO BANYAK MAKA ADA HARAPAN NEGERI KITA BEBAS KORUPSI

  11. Komentar Disway:

    ya sudahlah…lain kali saya tidak akan menulis soal tasawuf lagi…dan memang tasawuf itu tidak untuk ditulis melainkan untuk dijalankan…menulis tasawuf bisa jadi menjadi antitasawuf…yang harus serba tersembunyi, diam-diam, tidak menampakkan diri apalagi menonjolkannya. Semoga kelak ada teknologi yang bisa membuat hati boleh dikeluarkan sebentar untuk dicuci dengan sabun lalu dimasukkan badan lagi…

  12. Komentar Disway:

    ya sudahlah…lain kali saya tidak akan menulis soal tasawuf lagi…dan memang tasawuf itu tidak untuk ditulis melainkan untuk dijalankan…menulis tasawuf bisa jadi menjadi antitasawuf…yang harus serba tersembunyi, diam-diam, tidak menampakkan diri apalagi menonjolkannya. Semoga kelak ada teknologi yang bisa membuat hati boleh dikeluarkan sebentar untuk dicuci dengan sabun lalu dimasukkan badan lagi…

  13. Yes. Q akhire ngerti arti suluk di syi’ir tanpo waton itu, setelah 4 th mendengarnya. Q kira awalnya; kok mirif; “langit kelap2, bumi gunjang-ganjing”-nya ki narto sabdo. Eh, tibakno….

  14. Perlu keyakinan yang tinggi dan kekuatan penuh untuk melakukan
    “Selama 10 hari, penganut tarekat yang lagi menjalani suluk itu terputus dari dunia. Tidak ingat sawah, ladang, toko, kantor dan apalagi utang.
    Tidak boleh ingat pesaing, musuh, juragan yang kejam, tetangga yang bawel dan apalagi ketua partai. Sepi. Lapar. Menerima apa adanya yang ada.”

  15. Tolong tulisan ini dilanjutkan pak DIS. Karena pertanyaan BESARnya belum terjawab. Bagaimana agar penganut tarekat tetap bisa tetap kaya. Satu sifat yang kelihatannya bertentangan.
    Yang baca tulisan (lanjutan) pak DIS kemungkinan tidak akan takut mencari uang. Karena toh sudah dilarang baca tulisan hari ini. Yang tidak ada gunanya itu. Tetap saja dilanggar (dibaca).

  16. Tolong tulisa ini dilanjutkan pak DIS. Karena pertanyaan BESARnya belum terjawab. Bagaimana agar penganut tarekat tetap bias kaya. Satu sifat yang kelihatannya bertentangan.
    Yang baca tulisan (lanjutan) pak DIS kemungkinan tak akan takut mencari uang. Karena toh sudah dilarang baca tulisan hari ini. Yang tidak ada gunanya itu. Tetap saja dilanggar (dibaca).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,951 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: