Rahasia Hape Imam Tarawih
Catatan Harian, Humaniora

Rahasia Hape Imam Tarawih

Pokoknya beres. Setelah tahu rumah itu adalah masjid, saya merasa bebas: bisa datang kapan saja. Tidak dikunci: pagarnya maupun pintu masjidnya.

Saya juga sudah hafal bahwa yang seperti pintu itu adalah satu-satunya pintu. Saya juga sudah hafal. Jadwal maghribnya pukul 9 malam. Dan Isyanya pukul 11 malam. Saya sudah hafal tidak ada subuh, dhuhur dan ashar di situ.

Saya juga tahu ada dua aliran di kalangan Islam di Amerika. Khususnya tentang kapan mulai puasanya. Ada yang Rabu. Ada yang Kamis. Saya ikut yang Kamis. Berarti tarawih pertama Rabu malam.

Saya orang pertama yang tiba di tarawih pertama itu: menyalakan lampu dan merapikan yang berantakan. Lalu datanglah anak muda vacuum cleaner itu. Saya sudah hafal namanya: Faris. Lagi menyelesaikan S2 geologi. Di Fort Hays State University. Asal Riyadh.

Saya langsung sergap Faris dengan pertanyaan: Anda tadi sudah mulai puasa? ”Belum”, jawabnya. ”Kan baru mulai besok…,” tambahnya.

Lalu Faris buka HP. Mencari foto. Menunjukkannya ke saya. Katanya: ini baru saya foto. Hilalnya baru kelihatan sedikit sore ini. Masih sangat rendah. Berarti kita betul. Baru puasa besok.

Katanya lagi: kemarin sore tidak ada yang bisa melihat hilal. Belum tampak. Atau mendung. Saya bilang padanya: saya juga belum puasa tadi. Tapi saya tidak tahu kenapa. Mungkin masih terpengaruh waktu Indonesia.

Waktu isya pun tiba. Saya azan. Sudah ada enam orang. Pak Tua yang khotbah Jumat lalu itu tidak tampak. Sudah pulang ke Saudi. Bersama putrinya yang kuliah biologi.

Faris maju jadi imam. Kami berlima berjajar di belakangnya. Setelah imam tabiratul ikram tangannya masih sibuk banget. Ada saja yang dia benahi: rambutnya, posisi belakang kausnya, menaikkan celananya, mengusap wajahnya….

Demikian juga saat imam membaca al-Fatihah. Begitu juga saat rukuk maupun sujud. Ada saja kehebohan tangannya. Saya di belakangnya persis. Melihatnya. Faris juga pernah jadi imam saya sebelumnya. Atas permintaan saya. Imam salat maghrib. Yang hadir hanya kami berdua.

Saya sudah hafal gaya salatnya yang sibuk itu. Saya pun azan. Lalu langsung qomat. Saya minta ia maju jadi imam. Ia tidak mau maju. Saya pikir ia tidak mau.

Maka saya yang mundur dua langkah. Melihat saya mundur Faris justru pegang pundak saya: minta saya maju. Saya tidak mau. Bacaan Faris kan lebih fasih: lidah Arab.

Faris ngotot minta saya maju. Ternyata, maksudnya, agar posisi saya sejajar dengan ia. Bukan minta saya jadi imam. Tiwas saya sedikit ge-er.

Begitulah. Itulah pertama kali dalam sejarah saya: salat berjamaah dengan posisi sejajar dengan imam. Waktu saya ngotot tidak mau maju tadi ia bilang: kita kan hanya berdua. Posisi harus sejajar.

Saya masih berusaha mundur satu tapak. Saya risi sendiri: makmum kan harus di belakang. Faris ngotot mendorong tubuh saya. Sampai posisi kaki saya benar-benar sejajar dengan kakinya. Ya sudah. Faris kan lebih Arab.

Selesai maghrib mulailah satu-dua jemaah berdatangan. Semua Arab. Saling bersalaman. Cipika-cipiki-cipika lagi. Saling ngobrol dalam bahasa ibu. Sampai waktunya isya. Faris yang jadi imam isya. Dengan tangannya yang terus heboh itu.

Saat tarawih dimulai yang ikut baru empat orang. Deretan sebelah saya masih kosong. Sebelum mulai tarawih Faris tampak sibuk. Di tempat imamannya itu. Salatnya tidak kunjung dimulai. Faris membuka-buka Qur’an yang ada di rak di dekatnya. Agak lama. Baru kemudian ambil posisi imam. Dan melakukan takbiratul iqram. Dan sibuk.

Yang saya heran: kok sambil takbir itu terlihat tangannya menggenggam HP. Ikut terangkat tinggi. Juga ikut sedekap.

Saya baru tahu maksud HP itu setelah Faris seselai membaca al-Fatihah. Begitu kami menyahut al-Fatihah itu dengan kata ‘amiiiin’ jelaslah: sang imam sibuk dengan HP-nya. Ia membuka HP, mencari-cari sesuatu di layarnya.

Ketemu: bacaan surah al-Baqarah. Mulai ayat pertama. Yang kita umumnya hafal itu. Tanpa HP. Sang imam ternyata membaca surah itu di layar HP-nya. Sekitar 15 ayat. Lalu rukuk. HP-nya ikut rukuk. Sujud. HP-nya ikut. Begitu terus sampai salam di rakaat kedua. Begitu juga rakaat ketiga dan keempat.

Di sebelah saya mulai ada orang. Imam melihat kedatangan orang di sebelah saya itu. Setelah empat rakaat sang imam bicara-bicara. Dengan yang di sebelah saya itu. Yang baru datang itu.

Oh…rupanya Faris minta ia jadi imam. Yang di sebelah saya itu. Orang di sebelah saya itu pun maju. Lalu mencari Qur’an yang ada di rak. Membuka-bukanya. Lalu seperti diskusi lagi dengan Faris. Agak lama.

Rupanya mantan imam dan calon imam itu saling mencocokkan: sampai di mana tadi baca HP-nya, eh… baca surah al-Baqarah-nya. Setelah cocok, imam baru itu memulai dengan rakaat kelima. Tidak pakai HP.

Begitu selesai baca al-Fatihah imam baru itu melangkah ke rak. Ambil Qur’an. Membukanya. Membacanya. Juga sekitar 15 ayat. Lalu menggenggamnya. Qur’an itu ikut rukuk, sujud dan terus digenggamnya sampai 2 x 2 rakaat.

Total tarawihnya delapan rakaat. Disambung witir 2+1. Untuk witir bacaan surahnya terpendek. Rakaat terakhir: al-Ikhlas. Tanpa HP maupun membuka Qur’an.

Tarawih selesai. Dengan 12 orang jemaah. Saya lirik ‘cicak’ di dinding: Pukul 12 malam. Hanya kurang sedikit.(dis)

Masjid satu-satunya di kota Hays yang berbentuk rumah itu sekarang dipasangi plang.
May 25, 2018

About Author

dahlan iskan


39 COMMENTS ON THIS POST To “Rahasia Hape Imam Tarawih”

  1. Hehehehe………jadi sholatnya abah gimana ? Kata cak Nun .” Gusti Allah aja gak repot,awakmu kok repot . Mugi tansah pinaringan sehat. Salam saking bumi Majapahit .

  2. Masjid satu-satunya di kota Hays yang berbentuk rumah itu sekarang dipasangi plang.

    Saya kok jadi curiga yang bikin plang itu orang indonesia.. *Mosok arek suroboyo opo cah magetan yo..?* seingat saya waktu pelajaran bahasa inggris waktu saya SD dulu masjid tulisanya mosque.. Ataukah memang ada kebijakan tertentu?

    #semoga abah selalu dalam lindungan ALLAH SWT. Amiiiin…

  3. saya hanya bisa tertawa…. huuuaaahahaahahahahaaaa… disini bisa jadi masalah besar tuh…. hahahahaha

  4. Wkwkwkwk baru selesai sahur saya lapar lagi karena baca disway yg ini. Ngakak abis.

    Seperti yg pernah abah bilang, kita yg sejak kecil hidup di lingkungan NU bahkan posisi kaki saat duduk tahiyat aja diatur dg keras. Ternyata yg orang arab sholatnya begitu santainya.

    Sholat sambil utak atik hp itu sangat bid’ah wkwkwkwk

  5. Sepertinya pak Dahlan agak ragu dengan kata “takbiratul ihram”. Sekali di tulis dengan ‘takbiratul ikram’ satu lagi ditulis ‘takbiratul iqram’.

  6. Setau saya kl Madzab Imam Syafi’i membuat gerakan lebih dari 3x di luar gerakan sholat,batal shalat nya..

    Umumnya di Indonesia ikut Imam Syafi’i,ga tau kl di Arab sana..

  7. Tunggu. Imamnya setelah takbiratul ihram berjalan ke rak, cari Qur’an, lalu balik lagi jadi imam?
    Bisa gitu ya..

  8. kayaknya memang seperti itu orang arab, saya pernah melihat orang arab wudhu pakai sepatu tapi sepatunya tidak dibasuh begitu masuk masjid sepatu dilepas tinggal pakai kaoskaki terus Sholat

    • Ini yang aneh bagi saya. Saya pernah lihat orang shalat digurun pasir biasa saja, mereka (2 orang) berhenti dan turun dari mobil, lalu sholat. Seingat saya tidak pakai alas.

      Di Indonesia, teman kost saya dulu, kalau mau sholat magrib, mandi dulu. Selesai mandi, kemudian wudhu. Jujurnya, saya jengkel karena habis occupy kamar mandi, occupy tempat nyuci lagi.

      Yang jadi pertanyaan saya bahkan sampai saat ini: jika air yg digunakan dianggap tidak bersih sehingga perlu wudhu lagi, lha, apa shalatnya sah? Dia sendiri sdh mebyatakan keraguannya dengan kebersihan air mandinya sampai dia harus wudhu lagi.

  9. dunia oh dunia dipenuhi manusia dengan beragam tingkahnya. Saat membacanya kita begitu toleran. Coba kalau diprkatekan di Indonesia, apa kita jadi heboh atau malah m,enjadi lebih bijak dalam bersikap.

  10. Oh ya, tulisannya masjid, bukan mosque. Kalau yg nulis orang amerika, otomatis akan nulis mosque. Kalau yg nulis orang arab, mungkin juga mosque. Lalu siapa yg nulis masjid of hays? Tak kesulitan untuk menjawab. Pasti orang indonesia atau orang jawa. Siapa orang indonesia yg saat ini berada di hays, kansas? He he he….

  11. Alhamdulilah …
    saya yakin balas dendam abah tidak kan berhenti sampai bisa solat berjamaah saja.
    tapi bangunan itu akan megah menjadi mesjid yang standarad dan menjadi kebanggaaan kelak, amiin

    ketika manusia meninggal yang terus mengalir adalah amal kebaikan dan manfaat yang berkelanjutan
    abah …
    saya ingin rumah itu berubah menjadi sebuah mesjid yang standar orang magetan atau orang riau
    Saya yakin abah sanggup mewujudkannya
    jadikan ini sebagai misi yang harus suskses sebelum kembali ke Indonesia ..
    atau jangan pulang ke Indonesia sebelum rumah itu berubah menjadi mesjid kebanggan
    BISA asal Kerja Kerja Kerja !!!!!!!

  12. hp hp hp.. sulit dipisahkan. makan minum tidur.. ibadah… bawa hp. peradaban baru.
    makanya koran makin sulit laku. berita2 baru dan lama ada di hp. kitab suci di hp.

  13. Ceritanya hidup, kata perkatanya penuh makna. Yang tak kalah hidup dan penuh makna, PLANG-nya itu loh..! Magetan banget,,,, hehehe. Sehat selalu ya abah.

  14. oj y waktu haji. awalnya heran ran. di belakang makam ibrahim. habis tawaf. anak muda kulit hitam sholat. setelah takbir. baca al fatihah keluarkan qur an kecil. dibaca. panjang sekali. lalu dikesak lagi. nyantai. enak e rek. di langgar samping rumah. utek titik. batal. oh y. Bah di javanine meski ownernya china. ada mushollanya Bah. medki kecil.tapi bersih. bersih tapi kecil. kapan rek tak triktar.

  15. penasaran dengan cerita abah tentang masjid Hays. cari cari di Google map. ketemu. streetview 2013, di pagarnya masih ada kertas. bertulis “MASJID OF HAYS”. persis seperti foto Disway edisi gagal Jum’atan.

  16. Yang salah itu orang amerika, masjid kok ditulis mosque. Dari Isntambul , Kabul sampai Digul umat islam menyebut tempat ibadahnya masjid. Bahasa arab masjid, bahasa Indonesia juga masjid. Kalau lihat jamaahnya adalah orang arab dan asia, maka istilah masjid jauh lebih akrab ketimbang mosque. Atau itu sebagai perjuangan umat muslim yg minoritas di Hays agar dunia dan bahasanya menyebut seragam tempat ibadah umat muslim : Masjid!

  17. Wah berkat tulisan ini saya semakin meyakini kalau pedoman islam itu Al Quran dan sunnah, bukan Arab.

    • Waktu saya kecil, ada istilah ashar dhuwur dan ashar endhek; ini adalah kearifan (ulama) lokal, mengingat masyarakat petani, saat ashar masih di sawah; makanya difasilitasi dg waktu ashar yg lbh sore (matahari lbh rendah, endhek)agar bs shalat berjamaah.. Kearifan sprti ini semakin hilang…

  18. Mosque bahasanya orang barat yg menjelek2an islam, diambil dari kata “mosquito” nyamuk yg suka gigit dan ganggu. Makannya org islam yg paham gak terima kalo masjid diganti kata mosque.

  19. Sebetulnya ide pke hape unt baca surat itu terbersit jg wktu mau jdi imam taraweh pertama mengingat hafalan surat pendek sy pas2an. Cm tidak berani aja krn kuatir disawat kopiah oleh makmum klo kliatan utek2 terus. Bukan oleh masyarakat krn sholatnya dirumah tpi oleh anak sy yg lucu2 itu, hehehe…

  20. Makasih Abah jadi tau kegiatan muslim minoritas di negara maypritas non muslim
    Dari bbrp postingan abah jadi tau bbrp hal tentang muslim di hays khususnya
    1. Lebih baik sholat dimundurkan sehingga bisa jamaah daripada solat tepat waktu, berlaku untuk sholat wajib dan sholat jumat
    2. Yang membingungkan ini shlolat maghrib dan sholat isya kok jadi malam banget ya di jam 9 & 11 malam, apa karena memang matahari terbenam di wktu itu atau alasan seperti no 1 ?.
    3. Makan berbuka bisa jam 12 malam, lalu apa masih ada sahur ? Jam berapa sahur dan subuh di waktu hays
    4. Saya sedikit terperangah dengan tulisan berikut, sampai saya baca lagi berulang

    Begitu selesai baca al-Fatihah imam baru itu melangkah ke rak. Ambil Qur’an. Membukanya. Membacanya. Juga sekitar 15 ayat. Lalu menggenggamnya. Qur’an itu ikut rukuk, sujud dan terus digenggamnya sampai 2 x 2 rakaat.

    Saya gak bisa membayangkan kalau kejadian di sini, bisa2 disambit pake sandal. Rupanya mereka menganut prinsip lebih penting benar bacaannya sementara gerakan2 tidak dibatasi. Mirip seperti kisah perang di jaman nabi dimana para sahabat bisa sholat sambil berperang, berjalan maupun berkuda.

  21. Kalo kita shalat tarawih tidak disatu tempat saja, maka kita akan menemukan keberagaman cara shalat di tiap tempat, di kita pun ada bbrp mesjid yg bacaan tarawihnya panjang panjang akan tampak bbrp jamaah memegang mushaf atau hape untuk memandu bacaan agar bisa mengikuti bacaan imam, coba main ke mesjid Habiburakhman PTDI Bandung tuk sesekali ikut tarawih dan itikaf disana.
    Tulisan yg bagus abah dahlan, ringan tp inspiratif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,212 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: