Solusi Pencitraan
30 May 2020
Oleh : Azrul Ananda

Seorang anak kecil berlari tanpa arah. Menyenggol meja, menjatuhkan gelas. Air dan pecahannya ambyar ke mana-mana. Itu anak Indonesia. Anak orang Jawa. Dia pun bilang: "Lho, gelasnya jatuh."

Ayah kedua saya, John R. Mohn, menjadi saksi itu saat di Indonesia. Kebetulan, karena dia master jurnalistik, dia dulu belasan kali datang ke Indonesia, keliling dari Aceh sampai Papua, untuk membantu ayah beneran saya. Bisa setahun dua kali. Kebetulan dia juga pengusaha media kecil di Amerika, sekaligus akademisi.

Rupanya, ucapan sederhana anak kecil itu begitu menggelitik buatnya. Dia pun langsung mengajak saya --waktu itu masih belum usia 20 tahun-- untuk diskusi.

"Rully (panggilan dia untuk saya waktu itu), itu beda sekali dengan keluarga dan anak-anak di Amerika. Kalau di sana, kalau menjatuhkan gelas, sang anak akan bilang, 'Ups, saya menjatuhkan gelas.' Dan orang tua pada umumnya akan mengajarkan anak-anaknya bicara seperti itu," ucap John, yang awalnya menampung saya sebagai siswa pertukaran SMA di Kansas.

John minta saya merenungi dua respons itu.

"Lho, gelasnya jatuh."

"Ups, saya menjatuhkan gelas."

Yang pertama seolah itu kejadian alam. Tidak ada yang salah. Habis itu gimana, ya terserah. Mungkin akan ada yang membantu membereskan.

Yang kedua langsung tegas menyatakan kalau dia yang salah. Bukan orang lain. Seolah setelah itu siap dimarahi atau disuruh bertanggungjawab.

Sampai hari ini, cerita John itu begitu menancap di kepala. Menjadi bahan acuan ketika melihat tingkah/atau kelakuan anak sendiri, anak orang lain, anak buah, atau orang-orang lain di sekeliling. Karena dari reaksi respon pertama itu, kita bisa menilai pola pikir seseorang.

Itu dari ayah kedua.

Pelajaran dari ayah beneran lebih ekstrem.

Bukan rahasia, saya sebenarnya tipe yang gampang "naik." Apalagi kalau di kantor. Paling tidak tahan kalau ada kesalahan fundamental/sederhana, yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Dulu juga sangat tidak sabaran. Paling sebal kalau sesuatu bisa dilakukan dengan cepat, tapi tidak bisa terjadi karena terbentur orang lain.

Saya sering mengomel ke Abah. Kadang marah-marah ke Abah. Pernah banting barang di depannya. Tidak tahan, kenapa seseorang yang punya jabatan tinggi itu tidak segera diganti. Apalagi kalau kemudian terbukti apa yang saya omelkan itu benar.

Tapi Abah itu orangnya dahsyat. Dia justru membiarkan saya membentur-bentur dinding atau atap. Toh kadang mungkin saya tidak benar, atau belum benar. Dan kalau dibiarkan, dia pasti tahu kalau mau tidak mau saya pasti harus mencari cara atau siasat untuk mendapatkan apa yang saya mau. Termasuk dengan cara harus berkolaborasi dengan orang yang saya omeli.

Mungkin itu sebabnya saya baru diangkat jadi direktur setelah 12 tahun nabyak-nabyak di kantor. Tidak langsung jadi direktur seperti anak orang lain. Wkwkwkwk...

Dan kayaknya pelajaran seperti itu yang membuat orang-orang binaan Abah banyak yang sukses. Kalau saya? Walau saya merasakan manfaatnya, saya sendiri rasanya masih work in progress. Wkwkwk...

Untungnya. Waktu saya sering marah-marah itu, belum ada media sosial dan kamera di handphone belumlah sesuatu yang umum. Wkwkwk lagi...

Sekarang kembali ke dunia sekarang.

Ketika kali pertama si virus mulai merepotkan Indonesia, terus terang saya waktu itu punya kekhawatiran yang sama dengan kebanyakan. Yaitu apakah negara kita mampu menghadapi dan menemukan jalan melewati krisis sebesar ini. Kalau negara besar dan maju saja kelabakan, kita bagaimana?

Kemudian saya punya kekhawatiran lebih jauh. Ini berkaitan dengan tren sosial politik belakangan, di mana segala keputusan dan tindakan seolah berdasarkan pencitraan. Bahwa dampak citra lebih baik dari dampak real. Bahwa kelihatan kerja itu lebih penting dari kerja beneran.

Saya khawatir, semua solusi krisis adalah solusi pencitraan.

Bukan solusi praktis cepat yang efektif, jelas, dan tegas.

Misalnya. Menyemprot disinfektan pakai drone itu keren sekali. Tapi apakah itu benar-benar efektif? Membuat robot membantu pekerja medis itu inovasi top, tapi apakah bisa dibuat dalam jumlah masal dalam waktu dekat dengan harga masuk akal sehingga bisa segera membantu sekarang juga?

Lalu urusan menutup sebuah wilayah. Beritanya heboh jalan utama diperiksa dan dijaga. Tapi sudah bukan rahasia, ada banyak jalan kecil lain yang terbuka menganga lowong bebas hambatan. Media tak pernah membahas, tapi semua orang sudah tahu sama tahu.

Masalahnya lagi, krisis seperti ini butuh kolaborasi semua pihak. Bukan hanya pejabat dan pemerintahnya. Apalagi kita bukan Tiongkok, yang bisa "main kayu" dalam membuat kebijakan. Atau negara maju lain, yang bisa "semprot uang" untuk meredam masalah teknis maupun sosial.

"Solusi pencitraan" ini bisa menyebar dilakukan semua elemen.

Seorang sosialita/budak media sosial posting memakai masker "gaya desainer," di saat banyak orang kesulitan beli masker biasa. Tidak praktis, tidak esensial, mungkin tidak sensitif terhadap keadaan secara umum.

Lalu, sebuah pusat keramaian pasang bilik disinfektan dan penjagaan rapi di pintu utama. Karena itu yang kelihatan. Pada kenyataannya, masuk lewat parkiran, atau pintu samping, atau pintu belakang, tidak ada prosedurnya. Bukan masalah, karena pintu-pintu itu tidak kelihatan.

Begitu dashyatnya hal-hal itu, sampai anak saya yang kelas 6 SD saja dengan mudah bisa bercanda menyebut "Indonesia Terserah" bersama teman-teman seusianya. Anak kelas 6 SD!

Kita semua tahu, virus ini akan selalu bersama kita, kemungkinan besar selamanya. Yang dibutuhkan adalah solusi ketegasan praktis untuk jangka pendek, lalu sikap jelas untuk jangka panjang. Pasti tidak ada yang enak. Pasti tidak ada yang mengenakkan semua pihak.

Tapi tidak enak itu tidak apa-apa asal pasti.

Orang akan beradaptasi, orang akan menyesuaikan diri.

Saya terus khawatir ini. Bagaimana menunggu kejelasan dan kepastian, kalau tidak ada kolaborasi. Apalagi kalau saling serang di sisi paling krusial dalam kondisi seperti ini (sisi pemerintahan).

Dan yang namanya kolaborasi itu tidak harus saling menguntungkan. Ada yang mengalah duluan, ada yang mengalah kemudian. Atau, kalau memang dasarnya saling tidak suka, ya mengalah dulu, lalu kerja supaya menang kemudian. Walau intinya dalam situasi seperti ini bukanlah kalah atau menang. Benar atau salah. Intinya kan mengatasi masalah masyarakat.

Terus terang, saya --dan tentunya banyak orang-- memperhatikan sekali bagaimana negara-negara lain menghadapi situasi yang begitu menyeluruh ini.

Apalagi negara tempat ayah kedua saya tinggal.

Negara bagian New York itu benar-benar terparah di dunia. Dari sisi kecepatan dan masifnya penyebaran, lalu dalam jumlah korban. Presidennya memang antik, di saat krisis ini lebih sibuk teriak-teriak menyalahkan orang lain. Tapi Gubernur New York Andrew Cuomo begitu tegas melangkah.

Gubernur yang satu ini dari Partai Demokrat. Berseberangan dengan partai presidennya, Partai Republik. Pada awalnya, dia juga membuat kesalahan yang sama dengan kebanyakan pemimpin lain, cenderung meremehkan ancaman virus ini. Hingga akhirnya "meletus" di New York. Bahkan adiknya sendiri, Chris Cuomo yang jurnalis CNN, ikut terinfeksi.

Setelah itu, dia mengambil langkah-langkah drastis. Shut down total. Keras. Tidak peduli omelan orang atau warga. Bagi Cuomo, lebih baik terlambat tegas daripada plin-plan dan hancur total. Dan dia mengaku secara gentleman kalau keputusan tegasnya bisa mengganggu masa depan politiknya.

"Saya yakin akan ada konsekuensi politis. Saya tahu orang-orang marah pada saya. Bahkan ada (penasihat) yang bilang kalau saya tidak mungkin akan dipilih kembali," ucap Cuomo. "Tapi terus terang, saya tidak peduli soal itu," tandasnya.

Cuomo tidak pernah merasa sok paling tahu. Lawrence J. Parnell, seorang dosen strategic public relations di George Washington University, menyebut gaya Cuomo sangat membuat orang bisa percaya.

"Dia akan mengakui kalau tidak tahu sesuatu. Dia akan memaksimalkan orang-orang yang lebih tahu. Orang tidak akan percaya kalau Anda mengaku tahu segalanya. Tapi orang berharap kalau Anda tidak tahu sesuatu, maka Anda akan berusaha mengetahuinya. Itu tugas Anda sebagai seorang pemimpin," katanya seperti dilansir The Wall Street Journal.

Cuomo juga sadar, dia tidak mungkin kerja sendirian. Bahwa pemerintah federal dikendalikan oleh presiden yang sulit diprediksi, dan dari partai berseberangan, Cuomo tidak menjadikan itu sebagai penghalang. Bagi dia, yang penting bagaimana New York segera keluar dari krisis, lalu menata lagi di era pasca-krisis.

Cuomo sudah bolak-balik menghujat kebijakan Trump. Sebaliknya, Trump juga bolak-balik mengkritisi Cuomo (dan gubernur-gubernur lain). Tapi, "musuhan"-nya tidak mengganggu tujuan akhir. Cuomo pada 21 April lalu mengunjungi White House untuk bertemu langsung dengan Trump. Membahas langkah-langkah konkret ke depan. Cuomo pernah bilang, bagaimana pun kolaborasi yang utama, dan New York pasti butuh support pemerintah federal.

"(Trump) tidak takut blakblakan kalau dia tidak setuju, dan dia akan bilang langsung kalau setuju. Saya sendiri tidak punya masalah bilang langsung ke dia kalau saya setuju atau tidak setuju," ucap Cuomo, seperti dilansir USA Today.

Komentar Trump di artikel yang sama? Trump senang sang gubernur mau memuji pihaknya. "Saya sangat mengapresiasi (kunjungan) itu karena ini semua bukanlah untuk saya. Karena ini semua adalah untuk masyarakat dan ribuan orang yang terlibat dalam penanganan masalah ini," tutur Trump.

Ya, karena pada ujungnya, pada intinya, pada pokoknya, ini adalah untuk kebaikan dan kelangsungan hidup semua umat manusia. (azrul ananda)

 

*Spesial hari ini, ada tulisan dari Azrul Ananda, penggemar DI’s Way yang kebetulan putra DI's Way

Baca Juga
About Author
Azrul Ananda
Comments (102)
Follow Us On Social Media

Managed by DBL Indonesia.
Copyright © 2018 - 2020 DI'S WAY .
All rights reserved.
Privacy Policy | Contact
English Indonesian