Teknokrasi, Politisi, dan Penumpang Gelap
19 May 2020
Oleh : Admin DI's Way
(aspek.id)

Seorang kawan, memberikan tulisan Abah Dahlan Iskan tentang diskusi webinar hari Jum’at malam kemarin, yang menempatkan saya dan Abah sebagai narasumber pemantik diskusi.

Tampaknya, itu tulisan DI's Way yang baru aja, karena ditulis minggu 17 mei 2020. Izinkan, saya copas di komen status ini untuk tulisan Abah di DI's Way.

Ada beberapa hal menarik yang ingin saya tanggapi lagi sebagai sarana publik belajar bersama dari pemantik lanjutan tulisan DI's Way, tentu ini pendapat saya, boleh sepakat boleh tidak, #enjoyAja

1. Soal penumpang gelap, pada dasarnya saya setuju potensi seperti ini sangat mudah terjadi, memanfaatkan aturan Perpu yang disetujui DPR untuk menolong kaum 4L (Lu Lagi Lu Lagi)

Dalam video webinar Narasi, saya juga mengatakan Konglomerat sebagai pribadi siap berenang dalam ombak pasar keuangan, baik pengalamannya saat kena krismon 98 dan atau saran para Advisor nya dalam membaca arus pasar keuangan dari 2002 sampai hari ini ..

Bahwa, secara korporasinya bermasalah karena Covid-19 ya itu yang terjadi …

Lalu, memanfaatkan momentum agar hutang-hutang dan sebagainya di bail-out oleh printing money QE Pemerintah ya sangat mungkin terjadi, apalagi mereka juga bohir sekaligus ATM politisi. .

Di webinar, saya usul kalo mau relaksasi harus ada swap, dimana uang mereka dan juga aset portpolio di Bank Kustodi di Luar Negeri kita anggap uang diam yang akan ditarik oleh QE pemerintah ..

Usul saya di webinar, mereka masukan US Dolar saving dan konversi portpolio ke SUN US Dolar pemerintah dengan bunga rendah, karena mereka simpan di luar bunganya juga NOL persen..

Akan halnya, volatilitas USD-Rupiah melalui portpolio di instrumen pasar keuangan melalui Kustodian asing, dikompensasi dengan relaksasi kredit di usahanya. .

Kalo mau, dilakukan juga fine-tuning, dalam tax rate..

Jadi, kalo mereka mau “ditolong” sumber uang yang dicetak ya uang mereka sendiri sebagai pemegang saham korporatnya

Jadi, ada cara keras, konsensus politik bahwa kalaupun ada QE cetak uang tidak untuk bail out, dan atau boleh saja asal dasar uang beredar dari memutar uang para orang kaya itu sendiri…

Kuncinya, TRUST terhadap otoritas yang independen.

TRUST apa harus dibentuk dengan Kebal Hukum?

Saya setuju ama RR dalam soal ini (yang disinggung DIs di catatannya), kebal hukum yang disepakati pemerintah dan DPR adalah awal dari DISTRUST itu sendiri

Karena, di Amerika Serikat sekalipun saat QE the Fed dipilih sebagai pilihan keluar dari crash wall street 2008, konsensus politik kemana arah bujet Fiskal yang jadi underlying QE tetap menjadi objek transparansi pembahasan Pemerintah, Bank Sentral dan Parlemennya. .

Bahkan, kita ingat kan kerasnya perdebatan soal seperti itu sampai berkali-kali terjadi Government Shutdown

Jadi, hak bujet yang dilepas gitu aja dan kebal hukum, membuat ide teknokrasi hilang, dan yang ada kita berada dalam ketidakpercayaan itu sendiri…

Argumen lain, jalan hukum juga keras dilakukan US SEC atas setiap fraud di korporat dan juga pasar keuangan, salah satu yang bisa kita kenang adalah kasus Madoff…

Jadi, sinyal peran OJK yang keras dalam pendisiplinan pasar adalah keharusan, agar ada TRUST di masyarakat bahwa penumpang gelap ke laut aja…

Kesulitan kita tampaknya, maaf keamampuan narasi Elit Politik soal ini lemah…. sehingga, kita sibuk membalikan arah ke kebal hukum dan otoriter sebagai way out…

Lemahnya ide dan teknokrasi, menunjukan kita sulit melangkah ke modelan QE, tapi buka ide QE nya yang salah… yang salah, ya karena tujuan akhirnya gelap, padahal kata Bernanke waktu mengajukan QE ke Kongres di Amerika “begining from the end”….

Ya, ujung yang ingin dituju apa, maka kita bertarung di QE seperti apa dan untuk apa…

Di webinar, saya sudah usul untuk likuiditas baru ke pengungkit pertumbuhan masa depan untuk mengatasi inflasinya, bukan ke likuiditas barang off-side yang jadi akal-akalan penumpang gelap, yang tak ada daya ungkit ke masyarakat, maka jelas inflasi

Saya usul ya ke reform pertanian, karena disitu akan ke ekonomi desa, uang beredar ke masyarakat bawah terjadi…

Konsolidasi modal nasional, berpijak ke ujungnya kita mau apa sih, itu yang harusnya dibahas keras di parlemen…

2. Soal insolvensi, atau kegagalan.

Posisi saya di webinar jelas, bahwa matematis itungan CAR akan terjadi kalau penuruan riil di ekonomi turun lebih dalam dari resiko yang telah dicadangkan perbankan…

Maka, ahead the curve, kebijakan fiskal dan moneter harus mencegah ke faktor pemburukan yang melebihi cadangan resiko, terutama kredit berkualitas pendapatan rendah (subprime)

Jadi, daya beli dan daya tahan konsumsi kuncinya, langkah cepat intervensi fiskal dan moneter ke titik itulah kuncinya, bukan terus menyelesaikan tutup mata hapus buku kredit korporasi besar, tanpa ada hitungan pemetaan apa masalah kita hari ini…

3. Soal bunga global Bond

Pendapat saya, kita ini menjadi bagian dari proses cetak uang QE The Fed…

Faktanya seperti itu, riset saya dari tahun 2002 sampai 2014 mengkonfirmasi itu

Jadi, likuiditas QE the Fed adalah sumber likuiditas kita .

Kalau bank dan manajer investasi mendapatkan QE dari The Fed dan mereka lempar lagi ke global bond negara lain seperti Indonesia, jelas dia akan ambil untung dari biaya modal yang dia dapat dari QE The Fed

Apa BI tidak baca ini?

Menurut saya baca, makanya BI mengatakan mereka mendapat saluran RePO line ke The Fed, tapi sejauh saya membaca bukan dalam skema antar bank sentral (SWAP line)

Sehingga, kalau pemerintah menerbitkan ke Investor pasar, maka 4,5 persen adalah harganya…

QE the Fed di Repo rata-rata di 0,1 persen, maka jelas ngelabanya gede banget sampai 4,5 persen

Lalu, dibandingkan dengan BRI yang 2 persen… ya, 2 persen pun masih tebal marjinnya…

Kalau saya MENDUGA, BRI memanfaatkan pasar uang antar bank, karena menurut keterangannya dari sindikasi perbankan…

Jadi, BRI dapat dari 1st tier bank yang dalam sindikasi dealer RePO QE the Fed dan menyalurkan langsung ke antar bank, dasarnya ya kekuatan ballance sheet BRI memang besar.. .

Nah, kalau mau kita kritisi kenapa RePO line yang didapat BI tidak dipakai membeli Global Bond pemerintah, kalau ini terjadi mungkin akan berada di bawah 2 persen

Ungkitan lain, seperti saya kemukakan di webinar tarik deposito valas domestik dan swap dengan dana orang kaya Indonesia di luar Negeri di butir 1….

Gitu sih, poin di atas ya hanya pikiran saya, tak menjawab apa-apa, saya hanya memperluas diskusi #sekolahPublik dari sisi pikiran saya…

Kalau mesti gimana, ya sebagai rakyat biasa kita hanya bisa berpendapat, semoga ada manfaatnya

Salam #enjoyAja,
Yanuar Rizky
WNI biasa aja

Tulisan ini disadur dari blog Yanuar Rizky.

Baca Juga
About Author
Admin DI's Way
Comments (38)
Follow Us On Social Media

Managed by DBL Indonesia.
Copyright © 2018 - 2020 DI'S WAY .
All rights reserved.
English Indonesian