30 April 2018
Baterai Lithium Tanpa Ember
Oleh : Dahlan Iskan



Saya bangun tengah malam. Ingat ITS. Khususnya acara BEM Elektro. Yang istimewa. Yang ingin saya tulis saat itu. Tapi keburu ke Tiongkok. Lalu ke Amerika ini.

Saya terbangun tengah malam. Tidak bisa tidur lagi. Masih jetlag. Padahal sudah 10 hari di Amerika. Perbedaan waktu membuat ritme tidur kacau.

Maka saya tulislah naskah untuk Disway ini. Dari pada mata hanya menatap langit-langit tanpa cicak.

Udara tengah malam ini sangat dingin. Tapi pikiran saya bergairah. Harus memuji orang ini: Kristian Sutikno. Alumni fakultas tehnik elektro Institut 10 November ITS Surabaya. Bahkan saya harus minta maaf padanya. Saya telat mengetahui kiprahnya. Di bidang produksi baterai lithium di dalam negeri. Ini karena Kristian terlalu low profile.

Padahal kami sama-sama Arek Suroboyo. Rumahnya pernah pula di dekat rumah saya. Tapi baru hari itu saya kenal dia. Dan kiprahnya. Terlaaaluuuu!

Kalau saja BEM ITS, khususnya himpunan mahasiswa elektro, tidak mengadakan acara itu saya tidak bertemu dia. Hari itu saya diminta bicara mobil listrik lagi. Bersama si penari langit Ricky Elson. Dan Prof Nur pembina kendaraan listrik. Sebenarnya Pak Nur belum guru besar. Tapi saya sudah minta ijin memanggilnya profesor. Ini karena saya tahu kualifikasi Pak Nur. Sudah guru besar. Hanya dia tidak punya waktu mengurus administrasinya. Terlalu sibuk membina mahasiswa ITS. Yang gila kreasi di kendaraan listrik.

Pak Nur sudah bertekad tidak akan jadi guru besar. Gak apa-apa, katanya. Gak sampai hati pada para aktivis kendaraan listriknya. Sampai-sampai tampilannya masih seperti mahasiswa. Pakai kaus, jean dan rambut panjang.

Selesai seminar, seseorang yang berbadan kurus mencegat saya. Menyalami. Dan menyerahkan kartu nama: Kristian Sutikno. Bicaranya pelan. Bajunya batik. Sikapnya sangat sopan. Saya kaget. Ternyata Kristian sudah memiliki pabrik baterai lithium. Di Jogja. Sudah delapan tahun pula. Terlaaluuu. Kok saya tidak tahu. Padahal, enam tahun lalu saya mencari-cari siapa pengusaha yang mau mendirikan pabrik baterai lithium. Agar Indonesia tidak impor lagi dari Tiongkok.

Waktu itu saya sampai merayu Nippres. Pabrik baterai terbesar di Indonesia. Yang sudah mampu ekspor ke 76 negara. Saya rayu pemiliknya untuk mau mendirikan unit baru. Khusus lithium. Saya tahu pasar lithium belum besar di Indonesia. Kebijakan mobil listrik saat itu belum ada. Ternyata sampai sekarang juga belum ada.

"Waktu itu saya tahu pak Dahlan lagi mendorong lahirnya mobil listrik," ujar Kristian. Alumni ITS. Kini umurnya 53 tahun. "Tapi saya memilih memulainya untuk baterai lampu solar cell jalan raya," tambahnya.

Pekerjaan mekanikal di baterai untuk kendaraan listrik, katanya, lebih rumit. Dia belum punya tim yang keahliannya di mekanikal. Saat memulai usaha baru itu Kristian tidak mau langsung besar. Yang mencakup banyak langkah sekaligus. Dia ingin satu tahap satu tahap. Saya memahami startegi Kristian seperti itu. Justru saya menilai Kristian sebagai pengusaha yang tidak gegabah. Orang begini, biasanya, keberlangsungan usahanya lebih panjang. Dan perusahaannya akan lebih kokoh.

Hari itu pembicaraan saya dengan Kristian kurang fokus. Terlalu banyak mahasiswa yang juga ingin mengerubung. Dengan pertanyaan masing-masing. Kami berjanji akan meneruskan pembicaraan di lain waktu.

Saat masuk mobil saya langsung mengeluarkan kartu namanya dari saku. Menyalin nomor HP-nya ke HP saya. Lalu mengiriminya WA. Agar dia juga mencatat nomor saya.

Sejak itu saya sering bertanya lewat WA. Lain waktu saya coba kirim WA jam 04.30. Sebelum saya berangkat olahraga. Gak segera dibalas juga gak apa-apa. Eh, WA itu langsung bersambut.

Lain waktu lagi saya kirimi dia WA dalam huruf mandarin. Langsung dia jawab begini: saya ini produk jadul pak. Gak bisa baca dan gak tahu artinya. Kristian memang sudah menyatu dengan masyarakat Surabaya. Sekolahnya pun selalu di sekolah negeri. Sejak SD. Dan SMA-nya di SMAN 7 Surabaya. Dan kuliahnya di ITS pula.

Mengapa pabriknya di Jogja? Ternyata dua orang pemodalnya dari Jogja. Yuniornya saat kuliah di ITS. Dan Kristian mengendalikannya dari Jakarta.

Awalnya Kristian adalah pegawai di perusahaan Taiwan. Yang bergerak di bisnis panel dan kabel tray. Perusahaan itu ingin mengembangkan usaha. Kristian diminta mengajukan usulan. Dia usulkan untuk memproduksi lampu LED. Disetujui. Berkembang pesat.

Delapan tahun di perusahaan itu Kristian keluar. Gabung ke perusahaan yang ingin mengembangkan baterai lithium. Tapi Kristian tidak lama di sini. Perusahaan maunya hanya dagang. Tidak serius memikirkan perlunya memproduksi sendiri. Inilah yang membuat Kristian terdorong untuk mencari partner. Untuk bikin pabrik sendiri.

Kristian telah mulai melangkah. Nyata. Sekecil apa pun. Tidak sekedar bicara. Bahkan tidak pernah bicara. Langsung jadi.

Dia bukan type tong kosong yang ember bunyinya.(dis)

Untuk membaca silakan mendaftar. GRATIS
DISWAY TERBARU
Gaging Faris
Oleh : Dahlan Iskan

Padahal, istri Faris, Yenny Wahid, tidak pernah melarang sang suami untuk aktif di politik. Faris sendiri yang insaf.

22 Oct 2021
Garuda Menyenangkan
Oleh : Dahlan Iskan

SOSOK Direktur Utama Garuda Indonesia itu begitu menyenangkan: tinggi, besar, kalem, dan sangat tenang. Pun di saat Garuda Indonesia mestinya berada di puncak kesulitan terbesarnya sekarang ini.

21 Oct 2021
Hari Bangkit
Oleh : Dahlan Iskan

Saudi Arabia sudah memperbolehkan salat di dekat Kakbah tanpa harus jaga jarak. Sejak Minggu Subuh lalu.

20 Oct 2021
HARIAN DISWAY
Kim Seon-ho Tinggalkan 2 Days & 1 Night  
Oleh : Retna Christa

Fans Kim Seon-ho tak bisa lagi menyaksikan kekonyolannya tiap pekan. Ia meninggalkan acara ragam populer 2 Days & 1 Night. Ah.. sedih!

21 Oct 2021
Pernyataan Kim Seon-ho Tentang Skandal Aktor K
Oleh : Retna Christa

SETELAH isu berkembang selama dua hari, Kim Seon-ho akhirnya mengeluarkan pernyataan melalui SALT Entertainment. Berikut isinya.

20 Oct 2021
Angelina Jolie, Gemma Chan, Salma Hayek Memukau di Premiere Eternals
Oleh : Retna Christa

SIAPA sudah tidak sabar nonton Eternals? Film terbaru Marvel Studios menggelar premiere kemarin pagi WIB. Para bintangnya hadir lengkap.

20 Oct 2021
HAPPY WEDNESDAY
Batman Produk Korupsi
Oleh : Azrul Ananda

Dunia terus berputar. Bintang musik baru akan lahir. Presiden baru akan hadir. Juga, Batman baru akan muncul. Batman dengan aktor berbeda, sutradara berbeda, sisi hidup berbeda, dengan musuh yang sama tapi dengan angle berbeda. Selamat datang di dekade baru ini.

19 Oct 2021
Vaksin atau Hilang Gaji
Oleh : Azrul Ananda

Liga basket paling bergengsi di dunia, NBA, sedang menghadapi tantangan urutan kepentingan tersebut. Tepat menjelang berlangsungnya musim 2021-2022 ini. Kasusnya terjadi pada dua tim, Philadelphia 76ers dan Brooklyn Nets. Kebetulan, dua-duanya tim dengan sejumlah bintang, sama-sama kandidat juara di akhir musim.

12 Oct 2021
DBL Effect di PON Papua
Oleh : Azrul Ananda

DBL Indonesia punya andil besar di cabor basket di PON Papua. Menurut statistik yang dikumpulkan teman-teman, sebanyak 63 persen pemain basket yang tampil di PON Papua adalah alumnus DBL.

05 Oct 2021

HARIAN DISWAY
MAIN MEDIA
VIDEO
Redaksi About Us Pedoman Media Siber Berlangganan