Beda Kelas Revolusi Sapto
13 November 2019
Oleh : Erizal

Seumur-umur, baru kali ini juga saya membaca tulisan tanggapan terhadap tulisan Dahlan Iskan. Biasanya dinikmati saja. Tulisan Dahlan berjudul, "Revolusi Fahri". Sedangkan tulisan tanggapannya berjudul, "PKS dan Revolusi Kopi". Penulisnya Sapto Waluyo dari Center for Indonesian Reform, tapi lebih tepat sebagai buzzer PKS saja. Jadi, kelasnya memang terasa beda jauh.

Sapto tak setuju dengan tulisan Dahlan yang cenderung membesar-besarkan Fahri Hamzah, padahal menurutnya, Fahri tak sebesar itu. Ya, sah-sah saja. Kira-kira, jangankan untuk sebuah revolusi besar, revolusi untuk dirinya saja tak bisa. Buktinya, tak ada pengaruhnya terhadap suara PKS, saat ia tak berada di PKS. Suara PKS, malah melejit.

Itulah yang ia maksud sebagai Revolusi Kopi, bukan Revolusi Fahri. Tapi, sayang, alasan-alasan yang dimunculkannya sangat sepele dan cenderung tekstual saja. Ia tak mendalami kontekstual atau gelora yang mengalir di dalam tulisan Dahlan. Ia buta sama sekali terhadap, kedekatan antara Dahlan dan seorang Fahri. Dan tulisan itu, sebetulnya dibuat karena faktor kedekatan itu.

Saya saja yang entah siapa-siapa, sudah dua kali dibawa Fahri ke rumah Dahlan di Surabaya. Saya menyaksikan, betapa dekat dan akrabnya obrolan antara keduanya. Sambil menyantap makanan yang sudah disediakan di atas meja, obrolan keduanya mengalir ke mana-mana. Kadang, Dahlan asyik membukakan kulit mangga dan Fahri menyantapnya saat disodorkan kepadanya. Geloranya terasa sekali.

Maka, tulisan Sapto yang sepele dan bersifat tekstual itu sudah terbantahkan, sejak awal. Tulisan Dahlan yang begitu kuat hanya dibantah soal pemakaian istilah Ketua Umum dan Presiden, Dewan Syuro dan Majelis Syuro, memveto dan cerita Anis Matta yang legowo, pernyataan Fahri bahwa PKS tak bakal lolos, sementara hasilnya melejit. Saat PKS menjadi partai Islam terbesar di Indonesia, saat itu malah Tifatul Sembiring yang menjadi Presiden PKS, bukan Anis Matta.

Jangan salah, lho ya. Cerita-cerita begini bukan lagi miliknya PKS semata. Semua sudah terbuka. Siapa yang berperan dan bagaimana perannya dalam sejarah, semua sudah diketahui publik. Apalagi sekaliber Dahlan Iskan, jurnalis senior, tentu ia lebih mengetahui apa yang ada di balik peristiwa. Siapa yang berperan apa dalam peristiwa. Bukan ia tak tahu soal angka-angka, termasuk siapa yang menjabat apa, pada masa itu. Dan tulisan Dahlan, jelas tak dimaksud untuk menjelek-jelekkan PKS.

Sapto saja yang baper dan tak terima, seorang Dahlan memberikan apresiasi yang lebih lewat sebuah tulisan tentang Fahri, yang nota bene sahabatnya sendiri. Sehingga, semuanya mau dijawab satu-satu yang dikira menaikkan level Fahri dan menjatuhkan PKS. Sampai-sampai, soal partai terbuka pun dijawab, yang tak berkaitan langsung. Ia ingin mengatakan PKS pun partai terbuka sama halnya dengan Gelora Indonesia. Masalahnya apa?

Terakhir, Sapto malah mengajak Dahlan untuk menemui Hidayat Nur Wahid atau Sohibul Iman. Entahlah, apa tujuannya? Apakah agar Dahlan mengetahui cerita yang sebenarnya soal Fahri dan Anis Matta? Ataukah, agar Dahlan juga membuat tulisan tentang Revolusi Hidayat atau Revolusi Sohibul? Apa tak sebaiknya Sapto mengajak Hidayat dan Sohibul menemui Dahlan seperti yang biasa dilakukan Fahri, tak hanya terhadap Dahlan, juga tokoh-tokoh yang lain. Kelasnya memang beda jauh.

Tulisan ini dibuat oleh Erizal melalui akun Facebooknya. DI's Way sudah meminta izin penulis untuk mengunggahnya di disway.id. Tulisan ini berkaitan dengan polemik sebelumnya terkait Revolusi Fahri. Tanggapan lainnya sebelumnya juga disampaikan oleh Sapto Waluyo.

 

 

 

Baca Juga
About Author
Erizal
Comments (25)
Follow Us On Social Media

Managed by DBL Indonesia.
Copyright © 2018 - 2019 DI'S WAY .
All rights reserved.
English Indonesian