Membaca Anisa dengan Cinta
07 October 2019
Oleh : Admin DI's Way

Saya pilih Anisa atas usulan dosen TI, sahabat saya. Ia penggemar Anisa garis lurus. Ah, membaca Anisa akan menarik. Sungguh! Menulis judul itu memiliki syarat sah yaitu huruf kapital di tiap kata, selama tidak ada pengecualian Tutuplah aurat ❤ itu harusnya tertulis: Tutuplah Auratmu!

Saya setuju bahwa, “Berjilbab adalah sebuah kewajiban yang tertera dalam Al-Quran. Kewajiban ini mengenai siapa saja yang mengaku diri sebagai muslimah dan telah sampai pada akil baliqh.” Tetapi Dik Anisa, kitab suci umat Islam itu ditulis Alquran, bukan Al-Quran. Sementara untuk mereka yang sudah cukup umur itu akil balig (baku), bukan akil baligh (tidak baku).

“Dan jika ia meninggalkannya, maka ia akan mendapatkan dosa yang kelak berbuah siksa.” Sejujurnya pada paragraf ini, saya kagum pada kemampuanmu menafsir perintah, sekaligus keberanianmu untuk menjadi diri sendiri, menjadi wanita muslimah yang mengharap rida (bukan: ridla) Allah SWT.

Tetapi Dik Anisa, saran saya jelas, “Jangan letakkan ‘dan’ di awal kalimat. ‘Dan’ itu kata penghubung. Artinya, ia menghubungkan antara dua kata, frasa, klausa, atau kalimat yang memiliki makna setara. Sesungguhnya kesalahan ini sering terjadi. Salah kaprah! Ojo nesu ya, Dik!

Dik Anisa, saya mohon maaf sebelumnya. Saya yakin bacaan Alquran-mu tentu baik. Dalam kesempatan ini, saya ingin menekankan bahwa konsistensi itu segalanya dalam kepenulisan. Kau menulis Al-Quran, lalu berubah menjadi Al-Qur’an, berubah lagi menjadi Al Qur’an. Jangan diulangi ya, Dik.

Selanjutnya, saya ajak dirimu membahas penulisan Alquran dalam bahasa Indonesia yang sesuai. “Laa ikroha fi diin,” seharusnya ditulis, “Lā ikrāha fid-dīn.” Ini memang tidak memaksa, tetapi alangkah baiknya. Kau menurut dengan saya.

Nah, secara isi saya setuju dengan apa yang Dik Anisa tulis. Kali ini saya fokus pada penulisannya. ‘Dimana’ itu harusnya ditulis dipisah. ‘Di mana.” Selanjutnya, teman-teman itu yang baku, sementara temen-temen itu tidak baku.

Ini tak kalah penting. Jika ada (saudara, teman dan keluarga) itu hendaknya di kata ‘teman’ diberi koma juga. Nah, teman-teman! Ayo kita sama-sama mengingatkan saudara, teman, dan keluarga yang masih belum berhijab untuk segera berhijab. Jangan acuh pada mereka. Kata ‘disekitar’ harus dipisah: di sekitar.

Sementara ‘insya Allah’ sebaiknya ditulis ‘insyaallah.” Di akhir tulisan ini, saya mengapresiasi semangat Dik Anisa untuk menghiasai diri dengan hijab, taqwa, malu, dan giat mencari ilmu (thalabal ‘ilmi) baik ilmu dunia maupun akhirat dengan niat yang tertata, tentu saja. Barakallah! (Mahfud Aly)

Baca Juga
About Author
Admin DI's Way
Comments (22)
Follow Us On Social Media

Managed by DBL Indonesia.
Copyright © 2018 - 2019 DI'S WAY .
All rights reserved.
English Indonesian