Ulang Tahun Vyanisty
01 October 2019
Oleh : Admin DI's Way

 

 

Happy Anniversary vyanistyku yang ke 9 tahun

Terimakasih buanyaaakkk atas support tulusnya selama iniii buat akuu

Maafin akuu yang masih banyak kekurangannyaaa

Sukses selalu dimanapun kalian berada dan semoga kalian nggak akan pernah jenuh untuk support akuu dalam bentuk apapun

(Dikirim oleh Via Vallen pada tanggal 24 September 2019 di Instagram)

Sebelum mulai membedah unsur kebahasaan kiriman Mba Via Vallen di atas, pertama, saya ingin memohon maaf kepada seluruh Vyanisty seluruh Indonesia. Tulisan ini hanya untuk pembelajaran, bukan untuk mencari gara-gara.

Motivasi saya menulis ini murni karena saya ingin mempunyai kaos oblong DI’s Way. Hehe. Latar belakang pemilihan kiriman Mba Via Vallen yang akan diulas ini adalah karena masukan dari teman saya, yang seorang Vyanisty.

Kedua, saya juga akan memohon maaf kepada seluruh pembaca DI’s Way. Saya bukan ahli bahasa. Jujur saja, dari lahir sampai sekarang saya tidak pernah mencicipi bangku sekolah.

Baiklah, tidak berpanjang lebar. Hal pertama yang akan disoroti adalah pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing (bahasa Inggris). Masyarakat Indonesia memiliki kemampuan menggunakan dua buah bahasa atau lebih, khususnya bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

Dalam hubungan lingkungan dengan sesama penutur bahasa, kedwibahasaan tersebut menyebabkan interferensi bahasa, integrasi bahasa, alih kode, campur kode, dll. Dalam konteks ini, fenomena yang terjadi adalah campur kode. Campur kode adalah penggunaan dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur bahasa. Campur kode disebabkan beberapa faktor, diantaranya keterbatasan kosa kata dan penggunaan istilah yang lebih populer.

Hal kedua adalah penulisan kata. Berikut ini penulisan yang perlu dikoreksi.

  1. Penggunaan huruf yang berlipat ganda

Buanyaaakkk, Iniii, Akuu, kekurangannyaaa

Yang membuat saya bingung adalah bagaimana membacanya? Jika huruf vokalnya banyak, mungkin tujuannya untuk mengekspresikan teriakan panjang. Nah, yang jadi masalah adalah huruf konsonan yang berlipat ganda. Bagaimana membacanya? “Buanyaaakakaka,hehe.

  1. Penulisan huruf kapital, tanda baca, dan pronomina
  2. Happy Anniversary menjadi Happy anniversary
  3. yang ke 9 tahun menjadi yang ke-9
  4. vyanistyku menjadi Vyanisty-ku
  5. Terimakasih buanyaaakkk atas support tulusnya ….menjadi Terima kasih banyak atas dukungan kalian

Bahasa yang digunakan Via Vallen sesuai dengan konteks penggunaannya, yaitu situasi informal. Yang menjadi perhatian saya adalah kebiasaan pencampuran bahasanya. Pencampuran bahasa lumrah terjadi di kalangan artis. Sebagai figur publik, yang menjadi pusat perhatian, kebiasaan itu sangat mungkin ditiru oleh orang banyak. Jika orang sudah merasa penggunaan bahasa asing lebih berprestise atau memiliki nilai lebih daripada bahasa Indonesia, itulah bel tanda bahaya terhadap keberadaan bahasa Indonesia.

Tiap bahasa sangat bergantung kepada penggunanya. Bahasa bisa bergeser, bisa berubah, bisa juga punah. Kepunahan bahasa bisa terjadi jika penggunanya sudah tidak ada atau penggunanya sebagai pemilik bahasa meninggalkan bahasanya dengan lebih memilih menggunakan bahasa yang lain.

Saat ini sudah banyak kosa kata bahasa asing yang mempunyai padanan dalam bahasa Indonesia. Bagi yang sudah terbiasa menggunakan istilah asing mungkin akan merasa aneh ketika menggunakan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Memang terasa aneh, karena belum terbiasa.

Mencintai Indonesia bukan hanya cinta terhadapnya, tetapi juga mencintai bahasanya. Jika cinta, pasti menjaga. Saya cinta Indonesia, saya juga cinta Bahasa Indonesia. Seperti slogan Badan bahasa: Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing.(*)

Baca Juga
About Author
Admin DI's Way
Comments (21)
Follow Us On Social Media

Managed by DBL Indonesia.
Copyright © 2018 - 2019 DI'S WAY .
All rights reserved.
English Indonesian