16 April 2018
Ningbo Anbang yang Mengguncang
Oleh : Dahlan Iskan

Saya tiba di Ningbo. Tadi malam. Langsung ingat Sinar Mas. Juga ingat pola pemberantasan korupsi. Untuk kalangan pengusaha di Tiongkok.

Ningbo hanya kabupaten. Di propinsi Zhijiang. Tapi jumlah gedung pencakar langitnya mengalahkan Jakarta.

Sejak 35 tahun lalu sudah ada perusahaan Indonesia yang berkibar di sini: Sinar Mas. Milik konglomerat Eka Tjipta Wijaya.

Saya masih ingat saat pertama ke Ningbo. Logo Sinar Mas terpampang di pusat kota. Juga logo Bank Internasional Indonesia (BII). Yang satu grup dengan Sinar Mas. Saat itu.

Kehadiran logo Sinar Mas itu menonjol. Waktu itu. Ningbo masih terbelakang. Gedung-gedung sekitar Sinar Mas masih lusuh. Kampung-kampung besar sekitarnya masih kumuh.

Kini tidak lagi terlihat logo itu. Bahkan bangunan-bangunan di kawasan itu sudah tidak sama lagi. Sudah berubah jadi hutan gedung bertingkat tinggi.

Bendera Sinar Mas tidak hilang dari Tiongkok. Hanya pindah. Bahkan ke lokasi yang lebih bergengsi. Pula, berkibar lebih tinggi: di pusat kota Shanghai. Berupa gedung pencakar langit. Dengan puncaknya berwarna emas. Satu blok penuh. Tidak begitu jauh dari gedung pencakar langit milik grup Lippo.

Nama Ningbo sendiri belakangan lebih populer karena Anbang. Perusahaan milik anak muda. Bidang asuransi. Top. Namanya: Wu Xiaohui. Naik turunnya seperti roller coaster.

Saat saya di New York dua tahun lalu mata saya terbelalak. Lihat halaman depan harian The New York Times. Wu Xiaohui membeli hotel di New York. Bukan sembarang hotel: Waldorf Astoria. Salah satu iconnya kota New York. Dan karena itu jadi berita besar. Sekitar Rp 30 triliun.

Nama Wu Xiaohui terus berkibar di AS. Beli macam-macam hotel. Termasuk Westin di San Fransisco. Beli pula perusahaan asuransi. Bahkan juga di Jerman.

Yang tak kalah heboh adalah saat Wu Xiaohui terlihat mulai nego serius dengan menantu Donald Trump: Jared Kushner. Untuk membeli pencakar langit di aorta kota New York: Fifth Evenue. Milik Jared. Bersamaan pula dengan waktu kampanye pilpres. Berita nego ini jadi menarik. Tidak habis-habisnya. Hebat banget pemuda dari Ningbo ini.

Nego itu tidak berlanjut.

Tahun lalu roller coaster itu ambruk. Berantakan. Wu Xiaohui ditangkap. Dua tahun lalu itu, saat Wu Xiaohui berkibar di Amerika dan Eropa itu, di Tiongkok lagi terjadi bencana. Pasar modalnya ambruk. Harga saham terjun bebas. Jutaan orang menderita.

Bahkan ada yang mengira: inilah momentum ambruknya Tiongkok. Berkali-kali Tiongkok diramalkan akan ambruk. Karena bubble. Dan beratnya persoalan hutang macet di bank pemerintah. Berkali-kali pula ramalan itu meleset. Kali ini mungkin tidak meleset lagi. Kata pengamat itu.

Pemerintah pun marah besar. Cari biang keroknya: para penggoreng saham. Pemerintah sangat marah. Mereka dianggap merusak ekonomi negara.

Wu Xiaohui jadi incaran.

Anbang memang pernah mengeruk uang. Dari pasar modal. Sampai sekitar Rp 100 triliun.

Yang menarik adalah: di Tiongkok ada dua pola penanganan. Untuk mengatasi konglomerat 'cerdik'nya. Yang kooperatip dibedakan dengan yang tidak kooperatip.

Wu Xiaohui termasuk contoh kelompok pertama. Tidak kooperatip. Dia ditangkap. Akan segera diadili. Bulan-bulan ini. Bisa-bisa kena hukuman mati. Setidaknya seumur hidup.

Wu Xiaohui juga dianggap mengeruk uang dari nasabah. Dengan iming-iming imbalan tinggi. Melebihi batas. Padahal Anbang punya 25 juta nasabah. Yang kini harus diselamatkan.

Kepada otoritas keuangan Wu Xiaohui juga tidak terbuka: dari mana asal-usul uang triliunan itu. Khususnya yang untuk membeli perusahaan di Amerika dan Eropa itu.

Bahkan Wu Xiaohui dianggap merusak pejabat tinggi negara. Dengan membawa-bawa nama cucu Deng Xiaping. Sebagai orang dalam Anbang.

Wu Xiaohui. Ningbo. Tidak bisa diselamatkan lagi. Bahkan kini beredar rumor: siapa lagi konglomerat yang akan ‘’di-Anbang-kan’’ berikutnya? Maka dua konglomerat lainnya berikut ini ambil sikap berbeda. (Bersambung).

Untuk membaca silakan mendaftar. GRATIS
DISWAY TERBARU
Protokol Omicron
Oleh : Dahlan Iskan

Apakah arti kata Omicron –yang dipakai nama varian terbaru Covid-19?

30 Nov 2021
Nasib Bebas
Oleh : Dahlan Iskan

SEJAK umur 18 tahun ia sudah masuk penjara. Ia sial. Entah di mana letak ''sial'' itu dalam peta kehidupan manusia.

29 Nov 2021
Weekend
Oleh : Dahlan Iskan

Hampir saja saya tidak sempat menulis untuk edisi hari ini. Begitu sulit cari waktu menulis.

28 Nov 2021
HARIAN DISWAY
Presiden Pastikan Investasi Aman
Oleh : Tomy C. Gutomo

Tafsir pemerintah terhadap putusan MK terkait UU Cipta KErja ternyata berbeda dengan tafsir publik.

30 Nov 2021
Deep Purple Cover Lagu Bob Dylan dan Led Zeppelin di Turning to Crime
Oleh : Retna Christa

Deep Purple, kembali dengan album baru yang bertajuk Turning to Crime. Dirilis Jumat lalu (26/11). Album ini diterbitkan hanya 15 bulan setelah album Whoosh! keluar.

28 Nov 2021
Dua Orang Ganteng, Lee Dong-wook dan Wi Ha-joon, Bersatu dalam Bad and Crazy
Oleh : Retna Christa

YANG satu jahat. Yang satu lagi gila. Tapi, dua-duanya sama-sama ganteng . Gimana dong? Itulah yang ditawarkan Bad and Crazy, serial yang mempertemukan Lee Dong-wook dan Wi Ha-joon.

28 Nov 2021
HAPPY WEDNESDAY
Harapan Telaga Sarangan
Oleh : Azrul Ananda

Tahun ini, sudah tiga kali saya ke Telaga Sarangan. Sekali bersama keluarga, dua kali bersama teman-teman bersepeda.

23 Nov 2021
Taylor Swift Menang Telak
Oleh : Azrul Ananda

Ini adalah business decision. Ini industri. Ini bisnis. Taylor Swift di usia 30-an kini bisa menceritakan, dan mengenang, lebih luas tentang kehidupannya di usia remaja hingga 20-an. Sambil terus meraup penghasilan.

16 Nov 2021
Komedi Haiyaa Produk Pandemi
Oleh : Azrul Ananda

Lewat tulisan ini, saya ingin memperkenalkan satu lagi comedian favorit saya.

09 Nov 2021

HARIAN DISWAY
MAIN MEDIA
VIDEO
Redaksi About Us Pedoman Media Siber Berlangganan