Gelang Karet Jawbone
16 September 2019
Oleh : Nanang Prianto
Penulis bersama Andra (kiri) buka bersama di rumah B.J Habibie

 

Kobaran api semangat yang menyala-nyala. Itulah yang saya tangkap saat berdiskusi dengan Bhacharuddin Jusuf Habibie. Dari matanya. Dari suaranya. Dari gerak-geriknya. 

Terlihat sangat muda. Untuk ukuran orang yang hendak menapak usia 80 tahun. Ketika itu, pada medio Juni 2016. Bersamaan dengan bulan puasa.

Setelah dua kali ikut ziarah di TMP Kalibata dan pemakaman Tanah Kusir, Eyang Habibie mengundang saya dan Andra, rekan kerja saya, untuk berbuka puasa di kediaman beliau, Wisma Habibie-Ainun.

Berada di kawasan Patra Kuningan, rumah bertembok putih itu terlihat begitu asri. Di kanan kiri rumah banyak pohon besar. Di dalam rumah rasanya adem. Ada taman dan kolam besar.

Juga ada perpustakaan yang wah. Koleksi bukunya ribuan. Yang sering digunakan Eyang sebagai ruangan, saat ada wawancara khusus dengan televisi atau media cetak. 

Sepeninggal istri tercinta Hasri Ainun Habibie, Eyang tinggal di sana bersama pembantu, ajudan, dan paspampres. Dua anaknya, Ilham Akbar dan Thareq Kemal, sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing.

Saat Pak Habibie meninggal, rumah di pojokan Patra Kuningan XIII itu pun ikut viral. Kata kunci tentang rumah Habibie sempat trending. Google Trend mencatat pada Kamis (12/9), ada 10 ribu pencarian soal rumah Eyang.

Netizen rupanya penasaran dengan rumah-rumah Habibie. Baik yang ditinggali saat ini maupun rumah masa kecil di Gorontalo. Tentu banyak kata kunci lain yang ikut trending seperti BJ Habibie Meninggal (2 juta lebih pencarian), Thareq Kemal Habibie (500 ribu lebih) maupun quotes BJ Habibie (100 ribu lebih).

Dengan luas lebih dari seribuan meter persegi, dan ditempati tidak lebih dari lima orang, Wisma Habibie-Ainun terasa sepi. Saya datang ke sana pada medio Juni 2016 menjelang magrib. Menyesuaikan undangan Eyang untuk buka puasa bersama. 

Paspampres yang berjaga di gerbang sudah kenal. Bertemu dua kali di makam. Karena itu, saya pun langsung dipersilahkan masuk ke ruang tunggu. Bertemu dengan Rubiyanto, semacam sekretaris pribadi Eyang. 

Rubiyanto-lah yang mengurusi jadwal Eyang, surat menyurat, dan keperluan lain. Sore itu, Rubiyanto mengungkapkan bahwa begitu banyak undangan untuk Eyang dalam sepekan ke depan. Baik dari kampus, instansi pemerintahan, maupun rumah produksi. 

Saat itu memang menjelang dirilisnya film Rudy Habibie. Film tentang kisah cinta Eyang dengan Ibu Ainun itu akan rilis pada 30 Juni. Saya sempat diundang Manoj Punjabi, bos MD Entertainment, yang memproduksi film tersebut. berdiskusi agar pesan dari film tersebut bisa lebih luas diterima masyarakat. 

”Kisah cinta Eyang dengan Ibu Ainun bagi kami lebih dari sekadar Romeo and Juliet. Beliau berdua adalah inspirasi untuk Indonesia,” kata Manoj di MD Place, yang lantai lift-nya berhias marmer itu.

Dengan usia Eyang yang sudah 80 tahun, Rubiyanto harus benar-benar selektif memilih undangan yang dipenuhi. Eyang sih maunya semua didatangi, namun ada pesan dari dokter bahwa kegiatan beliau harus dibatasi.

”Di situlah kadang sayang pusing, saya harus memastikan Eyang tidak kecapekan. Namun, Eyang sendiri kadang kalau sudah berbicara di depan audience, terlalu bersemangat, lupa kalau usia beliau 80 tahun,” jelas Rubiyanto.

Rubiyanto adalah salah seorang staf yang paling dekat dengan Eyang. Dia sudah mengabdi kepada Habibie sejak masih menjadi menteri era Soeharto. ”Sejak masih bujang sampai anak saya menikah, saya ikut Eyang,” ungkapnya.

Selain Rubiyanto, ada pembantu bernama Sigit yang begitu dekat dengan Eyang. Mengabdi sejak masih bujang. Bahkan, dia yang dinikahkan Eyang. 

Khusus Sigit ini, Eyang mengungkapkan kisah tersendiri.

Menurut Eyang, kamar adalah salah satu privacy. Karena itu tidak semua orang boleh masuk ke kamarnya. ”Dari dulu, yang boleh masuk kamar saya hanya Ainun dan pembantu yang akan bersih-bersih. "Ya Sigit ini,” kata Eyang menjelang buka puasa Ramadan pada 2016. 

Setelah ibu Ainun tiada, kebiasaan itu tetap dilakukan Eyang. Ilham dan Thareq pun tidak boleh masuk ke kamar Eyang. Hanya Sigit dan istrinya plus cucu-cucu Pak Habibie. 

”Kalau cucu saya tidak bisa melarang, bisa marah-marah mereka nanti kalau tidak boleh masuk. Ilham dan Thareq, tetap tidak boleh,” ungkap Eyang.

Undangan buka buasa bersama di Wisma Habibie-Ainun itu membuka mata saya, betapa Eyang seorang yang sangat bersahaja. Ambil makan, ambil lauk, ambil minum, dan semuanya dilakukan sendiri. Petang itu, kami buka dengan menu khas Makassar berbahan ikan laut. Tapi saya lupa namanya.

”Ini memang masakan khas Makassar, namun sudah dimodifikasi dengan cita rasa Jawa. Dulu Ainun yang memodifikasinya,” jelas Eyang. ”Sigit bersama istrinya tidak selezat Ainun kalau masak ini, tapi lumayanlah tetap enak,” imbuhnya. 

Saat buka puasa itu, saya melihat Eyang mengenakan gelang Jawbone. Gelang karet itu lumayan hits di Amerika Serikat tiga tahun lalu. Kristen Stewart, bintang film Twilight adalah salah satu yang rajin mengenakannya.

Dalam rekaman A Day With di Kompas Tv, Eyang juga mengenakan gelang itu. Jawbone berwarna hitam. 

Dulu, saya mengenali Jawbone Eyang karena saya juga punya gelang tersebut. Saya tidak beli. Namun, diberi oleh teman saya, Dhohir Farisi. Suami Yenny Wahid. Menantu Gus Dur.

”Dari gelang ini saya dan dokter bisa mendeteksi aktivitas saya, detak jantung, dan parameter lain,” ungkap Eyang.

Eyang meski sudah berusia 80 tahun merasa baik-baik saja untuk beraktivitas berat. Hobinya adalah berenang. Bahkan, kemampuan berenang Eyang membuat paspampres yang mengawalnya jiper

"Saya maunya renang nonstop selama dua jam. Namun, karena dokter hanya membatasi 45 menit, ya bagaimana lagi,” kata Eyang membanggakan kemampuannya berenang. 

Pencipta pesawat CN-235 itu mengungkapkan, banyak beraktivitas itu penting. Selain untuk menjaga kemampuan fisik, juga untuk menjaga kepercayaan diri. Makanya, semua hal yang bisa dilakukan sendiri, Eyang melakukannya sendiri.

Itulah yang membuat dia tidak mau dituntun di TMP Kalibata. Tidak mau pula Sigit mengambilkan makanan dan minuman saat buka puasa. Semua dilakukan sendiri.

”Kalau sering dilayani, nanti kepercayaan diri saya menurun," ucapnya.

Meski sehari-hari ditemani pembantu di rumah yang sangat besar itu, Eyang tidak merasa kesepian. Super-intelligent software Ainun sudah manunggal bersama dirinya. Kondisi yang membuat Eyang melewati hari demi hari dengan penuh semangat.

Bahkan, Eyang punya tekad untuk hidup sampai 90 tahun atau 100 tahun. Tekad itu beliau tunjukkan dengan menyebut bahwa ulang tahun saat itu adalah ulang tahun ke-90.

”Ini adalah ulang tahun ke-90 minus 10," tegasnya. ”Nanti kalau usia saya 90 tahun, maka menyebutnya ulang tahun ke-100 minus 10,” lanjutnya. 

Tuhan pada akhirnya berkehendak lain.

Selamat jalan Eyang…(Nanang Prianto - habis)

 

 

 

 

 

Baca Juga
Azrul Ananda
happywednesday.id

Azrul Ananda
happywednesday.id

About Author
Nanang Prianto
Comments (19)