05 September 2019
Pokoknya Teknologi
Oleh : Dahlan Iskan
 
Saya harus ke Irlandia. Kalau bisa. 
 
Saya harus ke perbatasannya. Kalau ada waktu. 
 
Agak jauh memang. Harus menyeberang laut. Tapi di situlah problem utama Brexit. Yang kini lagi ribut itu.
 
Mungkin saya akan menyeberang laut dari pelabuhan Liverpool. Setelah menonton Liverpool vs Newcastle. Minggu depan.
 
Atau sebelumnya saja.
 
Tapi saya masih harus ke Oxford. Kota sebesar Singkawang (jumlah penduduknya) tapi memiliki 36 universitas. Salah satunya Anda sudah tahu: Oxford University. Yang hampir semua perdana menteri Inggris adalah lulusan universitas itu.
 
Saya juga masih ada jadwal ke Birmingham. Kota terbesar kedua di Inggris. Lalu ke Leicester. Dari sini entah ke Edinburgh dulu atau menyeberang ke Irlandia Utara dulu.
 
Mungkin saya harus membatalkan acara ke Manchester. 
 
Kalau ternyata ke Edinburgh dulu berarti saya harus ke Glasgow. Sudah dekat. Lalu menyeberang ke Irlandia dari pelabuhan dekat Glasgow. Ferry-nya bisa lebih cepat: hanya dua jam. 
 
Daripada lewat pelabuhan Liverpool. Yang ferry-nya 8 jam.
 
Lewat mana pun saya harus ke perbatasan Irlandia. 
 
Soalnya, sampai kemarin belum juga ketemu jalan keluar: harus diapakan perbatasan itu. Antara Irlandia Utara (Inggris) dan Irlandia (Republik Irlandia) itu.
 
Padahal Inggris harus cerai dari Uni Eropa. Tanggal cerainya sudah ditetapkan: 31 Oktober depan. 
 
Berarti harus segera dibangun pembatas negara. Lengkap dengan pemeriksaan imigrasinya. Juga bea cukainya.
 
Itulah yang sudah disepakati oleh Perdana Menteri Inggris Theresa May. Saat dia berunding dengan Uni Eropa. Sebelum dia terpaksa mengundurkan diri. Tanggal 24 Juli 2019.
 
Theresa May digantikan Boris Johnson. Perdana menteri sekarang ini.
 
Anda pun tahu mengapa May mengundurkan diri. DPR menganggap keputusannya itu salah. Kok dia menyetujui pembangunan perbatasan di Irlandia itu.
 
Boris Johnson punya mau sendiri: jangan ada perbatasan di situ. 
 
Johnson memutuskan, biar saja tanpa perbatasan. Tetap saja seperti selama ini. Seperti Inggris belum keluar dari Uni Eropa. 
 
Biar lalu-lintas tetap bebas berlalu-lalang. Mobil Irlandia Utara bisa ke Irlandia. Pun sebaliknya. Tanpa pemeriksaan apa-apa.
 
Hah? Begitu sederhananya? 
 
“Kan bisa menggunakan teknologi," ujar Boris Johnson.
 
Teknologi seperti apa?
 
Itulah. 
 
Johnson tidak pernah merincinya. Ia hanya bicara teknologi tanpa rincian apa-apa. 
 
Teknologi. Teknologi. Teknologi.
 
Kelihatannya ide sangat modern. Tapi teknologi seperti apa?
 
Apakah kamera? Yang bisa mendata semua mobil Irlandia Utara yang melintas ke Republik Irlandia? Dan sebaliknya? 
 
Uni Eropa juga bingung.
 
Johnson terus mendesak Jerman dan Perancis --dua jagoan Eropa-- untuk mengintensifkan perundingan.
 
Pun Eropa setuju. 
 
Kini perundingan, itu dua kali seminggu: Rabu dan Jumat.
 
Eropa mengeluh. 
 
Sudah sekian kali Rabu dan sekian kali Jumat. Tim Johnson belum juga mengajukan proposal: teknologi seperti apa.
 
"Teknologi seperti apa sih yang diusulkan Mr Boris Johnson?" tanya saya pada pimpinan demo di depan Downing Street 10 Sabtu lalu.
 
"Itulah yang bikin bingung kita semua. Boris Johnson itu tukang kibul. Suka omong besar saja," jawabnya.
 
Minggu ini isu perbatasan itu kalah viral. Tenggelam oleh isu dadakan yang dilancarkan Johnson: pembekuan parlemen. Boris Johnson membekukan DPR. Pinjam tangan Ratu Elizabeth II (Lihat DI's Way: Celah Sempit). 
 
Lawan Johnson menganggap, pembekuan parlemen itu sebagai kudeta. Atau pembunuhan demokrasi di negara perintis demokrasi.
 
Mereka menggugat Johnson ke pengadilan. Sidangnya berlangsung hari ini. 
 
Johnson balik mengancam: kita selesaikan lewat Pemilu saja. Pemilu dadakan. Tanggal 15 Oktober bulan depan. Hanya dua minggu sebelum Brexit.
 
Di Pemilu itu Johnson yakin menang. 
 
Saya pun hampir gembira. Ketika Boris Johnson lewat di depan saya. Di dekat Downing Street. Ternyata ia hanya mirip Boris Johnson: wajahnya, warna rambutnya, potongannya, postur tubuhnya --semua mirip Boris Johnson.
 
Hanya saja ia naik sepeda. Saya pun naik ke boncengan sepedanya. Di tengah puluhan ribu pendemo. Ternyata Boris Johnson yang bersama saya ini masuk golongan anti Boris Johnson.(Dahlan Iskan)
 
 
Untuk membaca silakan mendaftar. GRATIS
DISWAY TERBARU
Butet Nyanyi
Oleh : Dahlan Iskan

Saya memang ke Jogja untuk itu: menengok Butet yang lagi sakit.

23 Oct 2021
Gaging Faris
Oleh : Dahlan Iskan

Padahal, istri Faris, Yenny Wahid, tidak pernah melarang sang suami untuk aktif di politik. Faris sendiri yang insaf.

22 Oct 2021
Garuda Menyenangkan
Oleh : Dahlan Iskan

SOSOK Direktur Utama Garuda Indonesia itu begitu menyenangkan: tinggi, besar, kalem, dan sangat tenang. Pun di saat Garuda Indonesia mestinya berada di puncak kesulitan terbesarnya sekarang ini.

21 Oct 2021
HARIAN DISWAY
Bodoh
Oleh : Dhimam Abror Djuraid

GANJAR Pranowo boleh saja menjadi pemuncak dalam survei terbaru bakal calon presiden 2024. Namun, di mata sebagian pemilih milenial, Ganjar Pranowo dianggap bodoh karena tidak pernah berbicara mengenai narasi-narasi mutakhir seperti gender equality, society 5.0, atau human rights.

23 Oct 2021
Kim Seon-ho Tinggalkan 2 Days & 1 Night  
Oleh : Retna Christa

Fans Kim Seon-ho tak bisa lagi menyaksikan kekonyolannya tiap pekan. Ia meninggalkan acara ragam populer 2 Days & 1 Night. Ah.. sedih!

21 Oct 2021
Pernyataan Kim Seon-ho Tentang Skandal Aktor K
Oleh : Retna Christa

SETELAH isu berkembang selama dua hari, Kim Seon-ho akhirnya mengeluarkan pernyataan melalui SALT Entertainment. Berikut isinya.

20 Oct 2021
HAPPY WEDNESDAY
Batman Produk Korupsi
Oleh : Azrul Ananda

Dunia terus berputar. Bintang musik baru akan lahir. Presiden baru akan hadir. Juga, Batman baru akan muncul. Batman dengan aktor berbeda, sutradara berbeda, sisi hidup berbeda, dengan musuh yang sama tapi dengan angle berbeda. Selamat datang di dekade baru ini.

19 Oct 2021
Vaksin atau Hilang Gaji
Oleh : Azrul Ananda

Liga basket paling bergengsi di dunia, NBA, sedang menghadapi tantangan urutan kepentingan tersebut. Tepat menjelang berlangsungnya musim 2021-2022 ini. Kasusnya terjadi pada dua tim, Philadelphia 76ers dan Brooklyn Nets. Kebetulan, dua-duanya tim dengan sejumlah bintang, sama-sama kandidat juara di akhir musim.

12 Oct 2021
DBL Effect di PON Papua
Oleh : Azrul Ananda

DBL Indonesia punya andil besar di cabor basket di PON Papua. Menurut statistik yang dikumpulkan teman-teman, sebanyak 63 persen pemain basket yang tampil di PON Papua adalah alumnus DBL.

05 Oct 2021

HARIAN DISWAY
MAIN MEDIA
VIDEO
Redaksi About Us Pedoman Media Siber Berlangganan