Catut Nama 
02 September 2019
Oleh : Wirahadikusumah
Kali ini yang jadi buah bibir di media sosial (medsos) adalah bos saya sendiri: Dahlan Iskan (DIS). 
 
Penyebabnya karena artikel itu. Yang berjudul: ”Menyembah Tuhan, Mengabaikan Kemanusiaan”.
 
Namanya dicatut sebagai penulis artikel tersebut.
 
Saya sempat membaca artikel itu. Naskah aslinya ada di Atorcator.com.
 
Penulisnya: Iyyas Subiakto. 
 
Sebagai murid Pak DIS, eh anak buahnya, saya bisa langsung mengenali jika artikel itu bukan karyanya. 
 
Sebab, struktur kalimat dan gaya bahasa Pak DIS tidak seperti itu. 
 
Keyakinan saya kian kuat lantaran ada kalimat yang tertulis dalam artikel itu seperti ini: ”Djarum, identik dengan Hartono sang pendiri, yang sekarang juga memiliki BCA group, dia adalah orang terkaya di Indonesia”.
 
Jika Pak DIS yang menulis artikel itu, ia tidak akan memakai kata ”dia” sebagai pengganti Hartono yang berjenis kelamin laki-laki. 
 
Sebab, beberapa hari yang lalu,  Pak DIS pernah mengirimkan pesan melalui WhatsApp kepada saya. Ia menginstruksikan untuk memperhatikan kata ”Dia” dan ”Ia” setiap menulis artikel.
 
Begini bunyi pesan Pak DIS tersebut. ”Wira, kita mulai kampanyekan untuk wanita (she) adalah ’dia’. Untuk laki2 (he) adalah ’ia’. Kita ingin konsisten memulai perubahan ini. Tinggal ’nya’ yang belum ketemu. Mungkin kelak ’katanya’ untuk laki2 dan ’katanyi’ untuk perempuan,” tulisnya.
 
Pak DIS juga pada Sabtu (31/8), pukul 10.43 WIB, telah mengirimkan pesan melalui WhatsApp kepada saya terkait artikel tersebut.  
 
Bunyi pesannya seperti ini: ”Beredar tulisan seolah-olah Dahlan Iskan dengan judul ’Menyembah Tuhan...’ yang menyinggung soal Djarum. Itu bukan tulisan saya. Untuk mengecek tulisan saya atau bukan bisa dilihat: terbit di DisWay.id atau tidak. Yang terbit di DisWay.id (tiap hari jam 5 pagi) berarti tulisan saya. Yang tidak ada di disway.id belum tentu tulisan saya. Trims,” tulisnya.
 
Sampai saya menulis artikel ini, saya tidak tahu, apakah Pak DIS akan memperkarakan peristiwa pencatutan namanya itu.
 
Saya juga tidak tahu ada urusan apa ia ke Inggris. 
 
Saya yakin bukan untuk melarikan diri. 
 
Sebab, pada Kamis (29/8), ia juga jadi bahan rumpian di media massa. Gara-garanya artikel juga. Tapi yang ini asli memang karyanya. Yang judulnya ”Ibu Kota Kilat” itu.
 
Kala itu, sebagian orang menilai, Pak DIS sedang menyampaikan kritikan melalui artikelnya itu. Terkait pemindahan ibu kota yang serba cepat itu. 
Namun, bagi yang sudah mengenalnya, saya yakin artikel itu bukan kritikan. Tetapi murni pujian. Yang disampaikannya dalam bentuk tulisan.
 
Artikel Pak DIS itu memang menyedot perhatian. Tidak hanya di-share di Facebook, banyak juga dibagikan di WhatsApp Group.
 
Di handphone saya saja, ada sepuluh WhatsApp Group yang membahas artikel Pak DIS tersebut. 
 
Memang kebanyakan pembaca menerka arah artikel tersebut sebagai kritikan. Bukan pujian dari Pak DIS kepada pemerintah. 
 
Pastinya, pada hari itu, artikel Pak DIS juga menjadi bahan perbincangan saya dengan Pak Ardiansyah. Bos saya juga. Ketika bekerja di SKH Radar Lampung.
 
Melalui pesan WhatsApp, kami membahas terkaan sebagian orang yang menganggap artikel Pak DIS itu adalah kritikan.
 
Menurut Bos Aca -sapaan akrab saya kepada Pak Ardiansyah- artikel itu bukan kritikan halus kepada pemerintah. Sebab, Pak DIS bukan orang yang bertipe abu-abu. 
 
”Kalau memuji, maka itulah pujiannya. Kalau pun ada sesuatu yang dinilainya kurang, maka beliau akan menggunakan kalimat-kalimat masukan. Bukan kritikan,” kata Bos Aca.
 
Meskipun memang, dalam hal memuji, Pak DIS suka melebih-lebihkan. Itu karena memang dasarnya Pak DIS suka memuji. Juga sukar untuk marah.
 
Chairman Radar Lampung Group ini juga menilai kalimat ”perusahaan keluarga” yang tertulis dalam artikel tersebut bukanlah bermaksud mengkritik. Tapi lebih pada pujian tulus dari seorang Dahlan Iskan. 
 
”Soal memuji dan marah ini Pak DIS pernah ajarkan ke kita: seandainya kebanyakan orang baru keluar pujian setelah mencapai angka 8, maka Pak DIS sudah akan melontarkan pujian di angka 7, bahkan bisa jadi 6,” tulis Bos Aca.
 
Demikian sebaliknya. 
 
Ketika Pak DIS marah. 
 
”Jika standar umum orang marah berada di level 7, Pak DIS tidak akan marah di level tersebut. Ia baru marah setelah menyentuh level 8. Bahkan bisa jadi sampai level 9,” ujar Bos Aca.
 
Saya sepakat dengan yang dikatakan Bos Aca itu. 
 
Saya pun menilai artikel yang ditulis Pak DIS itu murni pujiannya kepada pemerintah. Karena itu, saya pun heran, ketika sebagian orang menerkanya sebagai kritikan.
 
Saya memang tidak mengenal Pak DIS sedekat Bos Aca. Tetapi, saya merasakan langsung apa yang dikatakan Bos Aca itu. 
 
Sebab, di bulan ini, intensitas komunikasi saya dengan Pak DIS cukup tinggi.
 
Pada Agustus ini, ia sudah empat kali menelepon saya. Dua panggilan terjawab. Sisanya tidak terangkat. Sementara, melalui WhatsApp, hampir setiap hari kami berbalas pesan.
 
Selama berkomunikasi dengannya, sekalipun saya belum pernah ”disemprot” Pak DIS. Ia lebih banyak memberikan masukan. Juga pujian. 
 
Jika memberi saran, kalimatnya elok di mata. Juga enak di telinga. Termasuk saat menyampaikan instruksi. 
 
Sudah banyak sekali saran dan masukan yang disampaikannya kepada saya. Termasuk cara menulis deskripsi yang menarik pada suatu artikel. 
 
Karena itulah, saya sepakat dengan Bos Aca. 
 
Sebab, Pak DIS memang bukan orang yang suka mengkamuflasekan pujian untuk sindiran. Bahkan kritikan. 
 
Jika ia mengkritik, pasti kalimat berisi saran atau masukan yang disampaikannya.
 
Bukan cacian. 
 
Atau makian. 
 
Juga pujian.
 
Pastinya, terkait pencatutan nama Pak DIS, saya menilai yang melakukannya sama seperti seorang banci. Buktinya, penulisnya tidak berani tampil di publik dengan menggunakan namanya sendiri. 
 
Karena itulah, saat ini saya sedang menunggu kepulangan Pak DIS ke tanah air. Sebab, jika saya bertemu dengannya nanti, ada pertanyaan yang ingin saya sampaikan kepadanya. Tidak melalui pesan WhatsApp atau menghubunginya melalui telepon.
 
Mau tahu apa yang akan saya tanyakan?
 
Saya akan beritahu. 
 
Tapi, tolong jangan beritahu Pak DIS dulu ya.
 
Ini pertanyaannya: ”Jika ’dia’ digunakan untuk kata pengganti perempuan, dan ’ia’ untuk laki-laki, lalu apa kata pengganti untuk banci?” (Wirahadikusumah)
Baca Juga
Azrul Ananda
happywednesday.id

Azrul Ananda
happywednesday.id

About Author
Wirahadikusumah
Comments (40)