01 April 2018
Nasionalisme Sayur Salju
Oleh : Dahlan Iskan

Sudah tidak terlihat lagi salju. Puncak musim dingin baru saja lewat. Saya naik kereta cepat dari kota Qingdao ke Tianjin. Kawasan timur Tiongkok. Selama 4 jam.

Di sepanjang perjalanan terlihat bangunan green house. Sambung-menyambung. Tidak henti-hentinya.

Saya diskusikan itu. Lautan green house itu. Dengan teman seperjalanan saya. Yang dulu juga amat miskin.

Apakah bangunan itu kuat menahan salju? Tidak roboh? Atap plastiknya tidak robek-robek? Apakah waktu dia kecil lahan pertaniannya juga seperti itu? Dan banyak pertanyaan lagi. Sambung-menyambung. Sampai tiba di Tianjin. Masuk rumah sakit di situ.

Teman saya pun bercerita. Robert Lai, yang di sebelah saya, ikut menikmati jawabnya.

Robert lahir di Hongkong. Besar di Singapura. Tidak pernah bersentuhan dengan lahan pertanian.

Di musim salju, kata teman Tiongkok saya itu, adalah musim penderitaan. Dulu. Tiap hari hanya makan kentang. Tidak ada orang jual sayur. Tidak ada petani yang menanam sayur. Semua wilayah tertutup salju.

Sebelum musim salju tiba memang diusahakan beli sayur banyak-banyak. Tapi hanya ada satu jenis sayur yang bisa disimpan selama tiga bulan: kubis panjang.

Tidak busuk. Maklum, udara di dapur lebih dingin dari kulkas.

Selama tiga bulan, makanan di rumah hanya kentang dan kubis panjang. Itu pun harus sedikit-sedikit. Agar cukup untuk tiga bulan.

Kini sayur apa pun melimpah sepanjang tahun. Di musim salju sekali pun. Panen sayur jalan terus. Bangunan green housenya dilengkapi pengatur suhu.

Kisah hanya ada kubis panjang sudah terlupakan.

Maka ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perang dagangnya, Tiongkok bergeming. Hari itu juga membalas: mengenakan bea masuk hasil pertanian Amerika sebesar 25 persen. Tiongkok begitu pede.

Minggu lalu perwakilan petani di Amerika sangat sibuk. Melakukan rapat-rapat koordinasi. Bagaimana menghadapi perlawanan Tiongkok itu.

Sepertiga hasil panen kedelai Amerika dibeli Tiongkok. Untuk 豆浆. Susu kedelai. Enak diminum. Panas-panas. Sebagai teman makan 油条. Di sini disebut cakue.

Itulah minuman yang lebih wajib di Tiongkok. Bukan kopi.

Kita belum tahu apa hasil perundingan petani di Amerika itu. Sementara ini masih ketutup berita kunjungan Kim Jong-un ke Beijing.

Tapi kehilangan pasar sepertiga produk nasional memang mengerikan.

Meningkatkan produksi pertanian memang tidak mudah. Tapi selalu bisa. Selalu ada jalan. Dalam keadaan sesulit apa pun.

Dalam kasus Tiongkok ini bukan lagi bagaimana meningkatkan. Lebih sulit dari itu: bagaimana menciptakan.

Tetap bisa tanam sayur di saat bumi dilapisi salju. Alangkah sulitnya. Tapi bisa. Dan berhasil. Bahkan berhasil menjadi senjata untuk menegakkan kedaulatan negara. Melawan adi kuasa sekali pun.(dis)

Untuk membaca silakan mendaftar. GRATIS
DISWAY TERBARU
Mustofa Ciputra
Oleh : Dahlan Iskan

"YANG tidak bisa dipakai semua janganlah dibuang semua".

01 Dec 2021
Protokol Omicron
Oleh : Dahlan Iskan

Apakah arti kata Omicron –yang dipakai nama varian terbaru Covid-19?

30 Nov 2021
Nasib Bebas
Oleh : Dahlan Iskan

SEJAK umur 18 tahun ia sudah masuk penjara. Ia sial. Entah di mana letak ''sial'' itu dalam peta kehidupan manusia.

29 Nov 2021
HARIAN DISWAY
Belum Ketemu Gubernur, Ribuan Buruh Demo Lagi
Oleh : Noor Arief Prasetyo

BEBERAPA ruas jalan di Surabaya lumpuh total sore kemarin (30/11). Titik macetnya bergantian di Jalan Ahmad Yani, Jalan Wonokromo, Jalan Raya Darmo, hingga Jalan Basuki Rahmat. Sebab, jalan-jalan itu dilewati massa buruh yang sedang demo menuntut kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK). Mereka menuju muka Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo.

01 Dec 2021
Surabaya Siapkan Aplikasi Medical Tourism
Oleh : Salman Muhiddin

Eri Cahyadi terus berupaya mewujudkan Surabaya Medical Tourism

01 Dec 2021
Presiden Pastikan Investasi Aman
Oleh : Tomy C. Gutomo

Tafsir pemerintah terhadap putusan MK terkait UU Cipta KErja ternyata berbeda dengan tafsir publik.

30 Nov 2021
HAPPY WEDNESDAY
Simon Mottram Sang Filsuf Jersey
Oleh : Azrul Ananda

Salah satu yang paling saya kagumi adalah Simon Mottram, founder merek apparel sepeda Rapha yang akhir November ini mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO. Saya merasa beruntung bisa mengenalnya.

27 Nov 2021
Harapan Telaga Sarangan
Oleh : Azrul Ananda

Tahun ini, sudah tiga kali saya ke Telaga Sarangan. Sekali bersama keluarga, dua kali bersama teman-teman bersepeda.

23 Nov 2021
Taylor Swift Menang Telak
Oleh : Azrul Ananda

Ini adalah business decision. Ini industri. Ini bisnis. Taylor Swift di usia 30-an kini bisa menceritakan, dan mengenang, lebih luas tentang kehidupannya di usia remaja hingga 20-an. Sambil terus meraup penghasilan.

16 Nov 2021

HARIAN DISWAY
MAIN MEDIA
VIDEO
Redaksi About Us Pedoman Media Siber Berlangganan