Satu Detik
23 June 2019
Oleh : Dahlan Iskan
"Berapa yang akan mati?“
 
"Sekitar 150 orang."
 
Lalu Presiden Amerika Serikat itu, Donald Trump itu, berpikir. Hanya satu detik. Untuk membuat putusan itu:  membatalkan serangan ke Iran.
 
Waktu itu, Jumat kemarin, tentara Amerika sudah siap berangkat. Persiapan sudah matang. Sudah ditentukan obyek vital pertahanan Iran mana saja yang akan diserang. Dengan cara Amerika. Dari jauh.
 
Saat keputusan 'batal' itu diambil waktunya tinggal 10 menit.
 
Kalau putusan itu tidak diambil dalam 30 menit itu 150 orang meninggal. Begitulah dialog antara Trump dan jenderal-jenderalnya. 
 
Saat serangan itu dilakukan tentu para jenderal masih di ruang operasi. Bersama presiden. Dan mereka akan langsung melihat kematian itu.
 
"Apakah proporsional?" tanya Trump di ruang itu. 
 
Yang mereka tembak jatuh hanya drone. Yang tidak berawak dan tidak dipersenjatai. Begitu kata Trump. Seperti diberitakan New York Times.
 
Drone yang dijatuhkan Iran memang bukan sembarang drone. Ukurannya mirip pesawat 737 Boeing. Sayapnya juga selebar itu. Beratnya 16 ton. Seberat 17 kontainer yang mengangkut terigu.
 
RQ-4 Global Hawk (Foto: thedrive.com)
 
Isi drone itu peralatan mata-mata. Ada infrared, thermal imaging, dan banyak lagi. Satu drone seisinya bernilai Rp 3 triliun.
 
Drone itu dibuat oleh perusahaan swasta Northrop Grumman. Pabriknya di Virginia. Yang omsetnya Rp 500 triliun. Labanya pada 2018 sebesar Rp 50 triliun. Itu perusahaan raksasa. Terbesar ke-118 di Amerika Serikat.
 
Kemampuan terbangnya bisa 36 jam terus-menerus. Dengan jarak tempuh 12.000 km. Sudah tidak ada bedanya dengan Boeing 737 --beberapa hal malah melebihi.
 
 
 
Dari gambaran di ruang operasi  itu Trump terlihat sosok yang 'in command'. Ia bisa tampil sebagai panglima tertinggi. Punya prinsip. Apa pun itu. Punya otoritas yang kuat --dan ia menggunakan otoritas itu. Punya bekal kemandiriannya yang otoritatif --tidak mudah dipengaruhi jenderal-jenderalnya. Atau penasihat politiknya. Dengan risiko lingkaran terdekatnya kecewa.
 
Di sekitar Trump memang ada pecandu perang.
 
Ada yang spesialis ingin perang dengan Iran (Baca DI's Way:Alasan Sabotase).
 
Ada yang spesialis Tiongkok (Baca DI's Way:Pengkhianatan Konglomerat).
 
Ada yang spesialis Korea Utara.
 
Kelompok ini tentu akan terus cari alasan agar Trump mau menyerang. Kalau perlu alasan itu dibuat.
 
Soal drone itu misalnya. Kemampuan terbangnya bisa 60.000 feet. Dua kali lebih tinggi dari Boeing 737. Setinggi kemampuan pesawat Concorde. Tapi drone Amerika hari itu terbang begitu rendah. Apa maksudnya?
 
Iran menafsirkan itu sebagai provokasi. Dan Iran menyiarkan secara terbuka koordinat posisi drone saat ditembak jatuh: di perairan pantai Iran. Amerika mengatakan drone itu masih di perairan internasional di selat Hormuz.
 
"Sebetulnya drone itu dikawal pesawat militer," ujar pejabat pertahanan Iran. "Namun kami hanya menembak jatuh dronenya," tambahnya. "Kami tidak mau perang, meski kami siap untuk mempertahankan diri. Kami sudah melayangkan protes ke Amerika lewat Swiss," tambahnya.
 
Memang Swiss-lah yang mendapat mandat dari Amerika. Untuk mewakili kepentingannya dengan Iran. Sampai hari ini Iran masih tidak mau melakukan kontak langsung dengan Amerika.
 
Adakah kini Iran sudah kebal provokasi? Tidak mudah lagi terpancing? Bahkan tidak perlu lagi demo-demo 'ganyang Amerika'?
 
Sebaliknya Trump. Ia terus mengulangi pernyataannya. Tidak ingin perang dengan Iran. Tapi Trump akan terus menekan Iran. Melalui sanksi ekonomi. Dan sanksi itu akan terus diperberat. Setiap bulan.
 
Di Washington memang ada juga aliran ini: fokus Amerika harus ke Tiongkok. Menyerang Iran hanya akan menguntungkan Tiongkok. Padahal kawasan timur Asia itu juga lagi 'mendidih'. Xi Jinping lagi sangat mesra dengan Vladimir Putin. Juga dengan Kim Jong-Un. Secara beruntun presiden Tiongkok itu ke Rusia dan Korea Utara. Dengan sangat mesranya. Bersamaan dengan itu kapal induk baru Tiongkok, Liaoning, meninggalkan pangkalannya di Dalian. Berlayar menuju ke selatan. Ke arah selatan Taiwan.
 
 
Demo di Hongkong juga masih terus berlangsung. Setidaknya akan sampai tanggal 28 Juni. Begitulah kehendak sebagian aktivis. Agar terlihat dari Osaka. Tempat berkumpulnya para pemimpin dunia. Dalam forum G-20. Meski aktivis lainnya menghendaki berhenti. Demo itu sudah mulai mengganggu kehidupan warga.
 
Ada baiknya kita tidak usah memikirkan semua itu. Jangan-jangan memang hanya saya sendiri yang tertipu. Agar tidak menulis sidang-sidang di Mahkamah Konstitusi.(Dahlan Iskan) 
 
Baca Juga
About Author
Dahlan Iskan
Comments (84)
Follow Us On Social Media

Managed by DBL Indonesia.
Copyright © 2018 - 2019 DI'S WAY .
All rights reserved.
English Indonesian