22 March 2018
Trump
Oleh : Dahlan Iskan

Seperti juga Anda, saya tidak suka Trump. Tapi dalam hati kecil kadang saya bilang begini: coba saja, beri kesempatan berkuasa, seperti apa jadinya.

Jangan-jangan dia benar. Jangan-jangan Amerika lebih maju.

Misalnya soal penurunan pajak yang dramatis itu. Pajak perusahaan turun dari 35 persen ke 21 persen.
Akibatnya APBN Amerika akan kehilangan USD 1,5 triliun. Atau sekitar Rp 20 ribu triliun. Dua puluh kali APBN kita. Kehilangannya saja.

Padahal program infrastruktur dan militer Trump begitu agresif. Dia ngiler melihat pembangunan jalan tol, bandara, pelabuhan, kereta cepat dan apa saja yang begitu masif di Tiongkok.

Trump merasa fasilitas infrastruktur di AS sudah kalah dari negara dunia ketiga.

Tentu, seperti biasa, Trump bicara berlebihan. Orang Madura bilang wat-menggawat.

Memang sudah banyak bandara dan pelabuhan di Amerika yang kalah modern. Apalagi kereta apinya. Kuno sekali. Hanya sedikit lebih baik dari Indonesia. Tapi tetap saja Amerika masih negara paling hebat di dunia.

Siapa tahu Trump benar. Setelah lebih 25 tahun Amerika menganut teori ini: pajak tinggi memperkuat keuangan negara dan menjadi alat pemerataan ekonomi yang nyata. Trump ingin mencoba ideologi lain.

Presiden dari Partai Republik sebelumnya gagal menerapkan ideologi pajak rendah. Kebiasaan 'pajak tinggi' tidak bisa ditinggalkan. Termasuk saat George Bush berkuasa.

Padahal ideologi Partai Republik adalah pajak rendah. Agar perusahaan-perusahaan bergairah. Ekononi tumbuh.

Laba perusahaan yang besar tidak habis untuk membayar pajak. Akan dipakai membuka perusahaan baru. Lapangan kerja terbuka. Pengangguran menurun. Kemiskinan berkurang. Pada saatnya, ketika perusahaan tumbuh kian banyak dan besar, penghasilan pajak akan naik.

Tapi setiap kali Partai Republik berkuasa, selalu gamang untuk memotong pajak. Gamang akan kehilangan sumber APBN yang sangat besar itu. Seperti USD 1,5 triliun itu. Mau ditutup dari mana? Apalagi kalau Kongresnya dikuasai Partai Demokrat. Pasti diganjal di Kongres.

Kini Presiden dan Kongres dikuasai Partai Republik. Ide Trump bisa dilaksanakan.

Sejak 1 Januari lalu. Kekurangan USD 1,5 triliun akan terjadi. Sumber penggantinya belum tahu.

Dulu Trump menjanjikan ini: biaya pembangunan tembok perbatasan akan dibebankan pada Mexico. Janji kampanye yang tidak masuk akal tapi membuatnya terpilih.

Padahal tidak mungkin Mexico mau. Dan tidak logis.
 
Maka janji 'tahun pertama tembok sudah mulai dibangun' meleset. Kini, di tahun kedua, baru prototypenya yang jadi. Belum diputuskan pilih yang model apa. Juga dari anggaran yang mana.

Rupanya Trump memikirkan jalan pintas: mengenakan bea masuk. Atau menaikkannya. Ini bisa dapat uang tambahan dengan cepat. Hari itu juga.

Maka bea masuk mesin cuci dan alat elektronik dinaikkan drastis. Bahkan Jumat besok bea masuk baja dinaikkan sampai 30 persen dan alumunium 15 persen.

Dari sini Trump akan bisa menutup kekurangan USD 1,5 trilun tadi. Di pikirannya menari-nari angin surga ini: bea masuk barang-barang dari Tiongkok saja sudah akan dapat mengganti hampir separonya.

Langkah Trump ini tentu menggegerkan dunia. Negara pelopor pasar bebas ini menjadi pelopor anti pasar bebas. Dulu Amerika menekan Tiongkok habis-habisan. Agar mau masuk WTO. Maksudnya agar Tiongkok ikut sistem perdagangan dunia yang bebas dan fair. Kini Amerika terang-terangan mengabaikan WTO.

Dan yang ngamuk pertama ternyata bukan Tiongkok. Melainkan Kanada. Dan Eropa.

Bahkan minggu lalu reaksi paling keras dilancarkan oleh Eropa. Sampai mengancam akan membalasnya: mengenakan bea masuk bagi hasil pertanian Amerika.

Ini akan memukul jutaan petani di negara-negara bagian pendukung Trump. Seperti Kentucky dengan hasil bourbon-nya. Atau Wiscounsin dengan raspberry-nya. Atau Florida dengan jeruknya.

Tiongkok, seperti biasa, memilih jalan loby. Dikirim utusan tingkat tinggi ke Washington. Sampai dua kali. Salah satunya adalah Liu He, lulusan Harvard yang Senin lalu bintangnya terang: naik jadi wakil perdana menteri urusan ekonomi.

Berhasilkah loby itu? Jangankan membicarakan hasilnya. Tim loby itu bahkan tidak bisa ambil kesimpulan siapa saja yang harus diloby.

Di Washington ternyata tidak jelas siapa sebenarnya yang dipercaya Trump.

Dulu, dikira menantunya: Jared Kushner. Dunia sibuk meloby dia.

Belakangan bahkan Kushner tidak lulus test security untuk menjadi orang Gedung Putih.

Lalu, dikira Gary Cohn. Penasehat utama ekonomi Trump. Yang sebelumnya adalah Presiden Goldman Sachs.

Belakangan Cohn bahkan mengundurkan diri. Tidak cocok dengan Trump. Padahal Cohnlah konseptor pajak rendah itu.

Maunya Cohn bahkan bukan turun jadi 21 persen melainkan 16 persen.

Dicoba juga loby lewat Tillerson, menteri luar negeri. Ternyata Tillerson dipecat.

Begitu sering pergantian pejabat tinggi di sekitar Trump. Bahkan di lingkungan pejabat Gedung Putih kini saling mengedarkan taruhan: siapa yang dipecat Trump berikutnya.

Orang tidak tahu lagi siapa sebenarnya mata dan telinga Trump.

Begitu ruwetnya Gedung Putih.

Dalam hati kecil saya kini pun berkata: berapa lama lagi Trump akan dipecat!(dis)

Untuk membaca silakan mendaftar. GRATIS
DISWAY TERBARU
Tahi Napoleon
Oleh : Dahlan Iskan

Dua hari terakhir bahasan hot-nya adalah Irjen Pol Napoleon Bonaparte.

21 Sep 2021
Permen Atap
Oleh : Dahlan Iskan

MASA depan itu berjalan tertatih-tatih: listrik tenaga surya.

20 Sep 2021
PHP Milley
Oleh : Dahlan Iskan

MUNGKIN ini PHP lagi. Atau bukan. Sang wanita sudah ditahan tiga tahun –Desember nanti.

19 Sep 2021
Disway Terbaru Lainnya
HARIAN DISWAY
Dana Abadi Pesantren
Oleh : Tomy C. Gutomo

PERPRES Dana Abadi Pesantren baru saja ditandatangani Persiden Jokowi. Euforia pun terjadi di mana-mana.

21 Sep 2021
Pacman Bisa Jadi Presiden
Oleh : Retna Christa

Manny Pacquiao mantap mencalonkan diri sebagai presiden Filipina dalam pilpres tahun depan. Apa yang mendasari optimismenya?

20 Sep 2021
Pekerja Migran Jalani Karantina Dobel
Oleh : Tomy C. Gutomo

Pekerja Migran Tidak Bisa Pulang Lewat Bandara Juanda

19 Sep 2021
Harian Disway Lainnya
HAPPY WEDNESDAY
Ini Long Covid Saya
Oleh : Azrul Ananda

Ternyata, kita memang tidak boleh terlalu gembira dalam segala hal. Sekarang, lebih dari dua bulan kemudian, saya masih merasakan efek lanjutannya. Yang kondang dengan sebutan "long covid."

14 Sep 2021
Tom Brady Manusia Sempurna?
Oleh : Azrul Ananda

Di sinilah kekaguman utama saya pada seorang Brady. Ketika mendekati usia 40, dan setelah melewati usia 40, dia semakin disiplin menjaga dirinya. Bagaimana cara berlatih, bagaimana cara makan, bagaimana menata kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, Brady seperti menjadi seorang biarawan.

10 Sep 2021
Langit Oranye New York
Oleh : Azrul Ananda

Pagi itu, 12 September 2001, saya terbang ke Amerika Serikat. Untuk kembali mengunjungi teman-teman di Sacramento.

06 Sep 2021
Happy Wednesday Lainnya

HARIAN DISWAY
MAIN MEDIA
VIDEO
Redaksi About Us Pedoman Media Siber Berlangganan