04 February 2019
Andrian
Oleh : Dahlan Iskan

Saya sudah terlanjur meninggalkan Tainan. Sudah di dalam kereta. Menuju kota Kaoshiung. Kota paling Selatan di Taiwan.

Tapi Adrian sempat menjawab WA saya. Ia belum libur. Meski temannya sudah pada siap-siap merayakan tahun baru Imlek.

Saya bangga dengan anak Pak Lahuri ini. Pensiunan guru SD di Lumajang ini. Tepatnya di Sukodono. Sebuah desa di selatan Lumajang, Jatim.

Nama lengkap anak ini: Andrian Muzakki Firmansyah. Sebenarnya Andrian sudah lulus kuliah. Tahun lalu. Dari Tainan Shoufu University (台灣首付大學). Ia sarjana desain komputer.

Tapi Andrian belum mau pulang. Ingin mencari penghasilan dulu. Untuk bekal hidupnya di masa depan. Juga karena tidak tahu: kalau pulang akan kerja apa. Di mana. "Ilmu saya ini sepertinya belum banyak diterapkan di Indonesia," katanya.

Di kota Tainan, Andrian bekerja di perusahaan software. Membuat desain program. Saya sebenarnya ingin ketemu bosnya. Tapi saya hanya satu malam di Tainan. Hanya sempat makan mie yang warungnya berumur 100 tahun itu. Yang dapurnya pernah tidak mati api selama 30 tahun terus menerus itu.

Andrian amat sibuk. Di rumahnya. Ya. Di rumahnya. Ia memang tidak perlu ngantor. Semuanya ia kerjakan di rumah yang disediakan perusahaan itu. Dengan seorang teman asli Taiwan.
"Saya baru keluar kalau ada klien perusahaan yang memanggil," kata Andrian. Atau kalau mau salat Jumat di masjid kampus.

Rumah itu tiga kamar. Satu untuknya. Satunya lagi untuk temannya. Sedang kamar ketiga untuk tempat barang.

Resminya sudah enam bulan Andrian bekerja di perusahaan itu. Pun sejak sebelum lulus ia sudah diminta kerja. Begitulah mahasiswa yang baik di sana.

Ia juga jarang pulang ke Indonesia. Andrian baru pulang kalau Lebaran. Harus. Ia anak tunggal. Tapi bapak-ibunya rela anaknya bekerja di luar negeri. Hanya saja ibunya terus bertanya: kapan kawin?

Umur Andrian kini 29 tahun. Belum punya pacar. Masih pilih-pilih. Belum ada yang cocok.
Yang pasti ia tidak akan pacaran dengan gadis Taiwan. Ia tidak mau berpasangan dengan wanita yang kulturnya sangat berbeda.

Harus gadis Lumajangkah? "Tidak harus," katanya. "Asal Indonesia," tambahnya.

Karena itu Andrian juga belum tahu. Masa depannya akan di mana. Di Surabayakah? Tempatnya pernah kuliah di Stikom dan perhotelan dulu? Atau di Jakarta? “Bagi saya di mana saja. Tergantung jodoh saya nanti," katanya. "Yang jelas tidak di Taiwan."

Andrian mulai mengenal komputer sejak SMAN 2 Lumajang. Laboratorium sekolahnya menyediakan komputer. Di situlah ia mengenal program WS, internet dan chatting. Ia berani chatting dengan orang luar negeri. Dalam bahasa Inggris.

Setamat SMA Andrian kuliah di Stikom Surabaya. Ikut-ikutan teman, katanya. Tapi ia tidak krasan. Kemampuan komputernya sudah di atas mata kuliah.

Semester 4 Andrian men-DO-kan diri. Ingin jadi enterpreneur. Yang lagi 'in' di kalangan mahasiswa saat itu. Tapi, katanya, ternyata sulit.

Ia pindah jalur. Kuliah di perhotelan. Lalu kerja di hotel. Pernah di Shangrila Surabaya. Sebentar.

Di hotel itulah Andrian kenal banyak orang. Termasuk tamu-tamu Tionghoa. Ia mulai tertarik belajar bahasa Mandarin. Ia cari tempat kursus yang intensif. Tapi murah.

Ditemukanlah ITCC. Dua tahun Andrian kursus Mandarin di yayasan yang saya pimpin itu. Lalu mendapat bea siswa ke Taiwan.

Kenapa tidak ke Tiongkok? “Tawaran yang di Tiongkok jurusan pendidikan. Saya ingin memperdalam komputer," katanya.

Selama di Taiwan Andrian sudah menghasilkan 15 program. Atas penugasan perusahaan. Bersama temannya itu.

Semua program yang ia buat dalam bahasa Mandarin. Berarti kemampuan Mandarinnya hebat. "Tidak juga lah," katanya merendah. "Bahasa program kan tidak banyak," tambahnya.

Ternyata saya juga hanya satu malam di Kaoshiung. Besoknya naik kereta lagi. Ke Hualien. Ke pusatnya agama Budha Tzu Chi. Yang keretanya bukan jenis yang cepat. Belum ada kereta cepat di jalur Kaoshiung-Hualien. Lokomotifnya masih pakai diesel. Tidak ada wifi di dalamnya. Tidak ada colokan untuk charger HP.

Kalah dengan bus. Yang selalu menyediakan wifi berkecepatan tinggi. Misalnya saat saya naik bus dari Taipei ke Taichung. Lalu, keesokan harinya, naik bus lagi. Dari Taichung ke Tainan. Wifinya sangat menggoda. Saking cepatnya.

Saya sempat berharap di kereta pun demikian. Dari Tainan ke Kaoshiung saya naik kereta express. Ternyata tidak ada wifi. Maka saat dari Kaoshiung ke Hualien saya tidak berharap lagi. Jadi tidak kecewa.

Harapan itu muncul lagi saat saya naik kereta cepat. Dari Hualien ke Taipei kemarin. Siapa tahu di kereta cepat sudah lebih modern. Ternyata sama saja.

Tapi baik juga tidak ada wifi. Sesekali puasa HP. Setidaknya selama lima jam.(dahlan iskan)

Tag :
ITCC Taipei
Untuk membaca silakan mendaftar. GRATIS
DISWAY TERBARU
Hadiah Natal
Oleh : Dahlan Iskan

”Rumah Anda berapa jauh dari SMA Oxford yang menghebohkan itu?” tanya saya kepada seorang warga Indonesia di Michigan, Amerika Serikat.

05 Dec 2021
Muktamar "Jin"
Oleh : Dahlan Iskan

DARI luar kelihatan tenang-tenang saja. Di dalamnya terasa sangat bergemuruh: kapan Muktamar ke-34 NU.

04 Dec 2021
Kembali Aborsi
Oleh : Dahlan Iskan

Dia ingin menggugurkan kandungannyi itu. Dua anak terdahulu sudah cukup. Tapi, UU setempat melarang aborsi.

03 Dec 2021
HARIAN DISWAY
Letusan Semeru Renggut 13 Jiwa
Oleh : Doan Widhiandono

JUMLAH korban erupsi Semeru meningkat menjadi 13 orang pada Minggu (5/12) siang. Warga dan tim penyelamat pun masih berupaya mencari para korban di tengah desa-desa yang masih berselimut abu vulkanis.

05 Dec 2021
Di Balik Keputusan Kim Seon-ho Membintangi Film Sad Tropics
Oleh : Retna Christa

Keputusan Kim Seon-ho membintangi Sad Tropics diambil hanya beberapa hari setelah skandal fitnah sang mantan meledak. Apa yang terjadi?

05 Dec 2021
Venom: Let There Be Carnage yang Minim Pembantaian
Oleh : Retna Christa

Kalau tidak mau bikin film superhero yang serius, sekalian saja dibikin kocak. Jangan setengah-setengah. Jalur itulah yang dipilih Tom Hardy dan Columbia Pictures ketika menulis cerita Venom: Let There Be Carnage.

05 Dec 2021
HAPPY WEDNESDAY
Simon Mottram Sang Filsuf Jersey
Oleh : Azrul Ananda

Salah satu yang paling saya kagumi adalah Simon Mottram, founder merek apparel sepeda Rapha yang akhir November ini mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO. Saya merasa beruntung bisa mengenalnya.

27 Nov 2021
Harapan Telaga Sarangan
Oleh : Azrul Ananda

Tahun ini, sudah tiga kali saya ke Telaga Sarangan. Sekali bersama keluarga, dua kali bersama teman-teman bersepeda.

23 Nov 2021
Taylor Swift Menang Telak
Oleh : Azrul Ananda

Ini adalah business decision. Ini industri. Ini bisnis. Taylor Swift di usia 30-an kini bisa menceritakan, dan mengenang, lebih luas tentang kehidupannya di usia remaja hingga 20-an. Sambil terus meraup penghasilan.

16 Nov 2021

HARIAN DISWAY
MAIN MEDIA
VIDEO
Redaksi About Us Pedoman Media Siber Berlangganan