Pulang Kampung
Catatan Harian, Terbaru

Pulang Kampung

Oleh: Dahlan Iskan

Saya pulang kampung Kamis lalu. Mampir. Ke dukuh Kebondalem. Desa Tegalarum. 16 km dari Magetan.

Tidak ada rumah kami lagi di situ. Rumah ayah sudah dibongkar pembelinya: untuk dibangun rumah sungguhan.

Tapi masih banyak keluarga: sepupu-sepupu. Atau anak-anak cucu mereka.

Saya tidak ke rumah salah satunya. Agar tidak menimbulkan kecemburuan. Saya langsung ke masjid. Begitulah kebiasaan saya. Setiap pulang kampung. Kebetulan pas adzan dhuhur.

Semua keluarga kumpul di masjid. Lalu duduk-duduk mengerumun di terasnya. Ngobrol apa saja.

Di teras masjid itulah dulu saya tidur. Kalau malam. Bertahun-tahun. Bersama beberapa remaja lainnya. Di lantai. Tanpa tikar. Tanpa alas. Berselimut sarung. Berbantal pemukul bedug.

Satu persatu keluarga saya bergabung di teras ini. Tapi kedatangan Yu Marmi menarik perhatian saya. ”Le, aku wis waras,” kata sepupu saya yang berumur 72 tahun itu. Yang selalu memanggil saya ‘Le’. Yang mengaku sudah sembuh dari sakitnya itu: gondong, gula darah dan tekanan darah tinggi.

Saat saya menjabat menteri pun Yu Mi memanggil saya ‘Le’. Singkatan dari ‘tole’ –panggilan bagi anak lelaki di desa.

Maka topik obrolan kami pun tentang sembuhnya Yu Mi. ‘Yu’ adalah singkatan ‘mbakyu’. Artinya: kak, atau kakak. Dia memang anak dari kakak ibu saya. ‘Mi’ adalah singkatan dari namanya: Sumarmi.

Begitu senang Yu Mi. merasa sembuh dari sakitnya. Bisa berjalan cepat. Tidak thimik-thimik lagi.

Yu Mi bercerita dengan antusiasnya. Tentang: terapi Choyang. Ala Korea. Yang dilakukannya tiap hari. Di kota Madiun. Di antar oleh putrinya. Sejak 3 bulan lalu.

Saya heran. Kok sekarang ini enak saja ke Madiun setiap hari. Karena sudah ada sepeda motor. Dulu, kalau saya mau ke Madiun sudah dirancang dulu setahun sebelumnya. Itu sebuah mimpi besar. Seminggu sebelumnya pun sudah heboh: Akan ke Madiun. Ke kota. Yang kalau malam ada lampunya.

Dua hari sebelumnya sudah kumpul-kumpul bahan makanan. Yang bisa dimasak: ubi, pisang, uwi. Untuk direbus. Sebagai bekal ke kota.

Di hari yang diimpikan itu, jam habis asar berangkat. Rame-rame. Beberapa orang. Jalan kaki ke Madiun. Tanpa sepatu. Tanpa sandal. Berjam-jam. Menyusuri jalan-jalan tanah yang berlumpur. Kadang terjatuh ke lumpur itu.

Kini sepupu-sepupu saya tiap hari bisa ke Madiun. Dengan motornya. Di atas aspal. Hanya 15 menit ternyata.

Sepupu lain pun ramai nimbrung. Dengan topik yang sama. Terapi Choyang. Memujinya. Membenarkannya. Sahut menyahut.

Mereka semua sangat menguasai topik ini. Semua berusaha menarik perhatian saya. Ternyata ada 28 orang. Dari kampung saya saja. Yang tertarik ikut terapi Choyang. Dengan penyakit yang berbeda-beda.

Mungkin karena saya terlihat berminat pada topik itu. Lalu ada yang lari pulang: ambil brosur. Menyerahkannya ke saya. Judulnya ‘terapi gratis Choyang’.

Ada lagi yang juga lari pulang: mengambil sebagian peralatan terapi. Agar saya mencobanya. Tapi istri saya tidak rela: dia yang ingin lebih dulu mencobanya.

Mereka pun bercerita: tiap hari ribuan orang ikut terapi Choyang. Di jalan raya Agus Salim Madiun.

”Ya sudah…. saya akan ke sana… melihat apa yang dilakukan di sana,” kata saya.

Pembicaraan topik itu diakhiri dengan kedatangan durian. Satu karung. Yang dibawa teman-teman ‘Radar Madiun’. Rupanya hanya durian yang bisa menyetop topik hit hari itu.

Sambil makan durian mereka berkisah tentang topik lain: sekolah di desa kami. Dulu ada dua SD negeri di Tegalarum. Yang satu sudah tutup. Kekurangan murid. Satunya lagi mungkin juga segera tutup. Kelas satunya tinggal 6 orang. Kelas di atasnya ada yang tinggal 5 orang. Kelas yang terbanyak tinggal 7 siswa.

Saya hampir tidak percaya. Bisa saja pembicaraan mereka berlebihan. Masak begitu drastisnya. Maka saya minta nomor HP kepala sekolah. Saya hubungi ia.

Ternyata benar begitu.

Mengapa?

”Guru kami tua-tua semua,” ujar Pak KS. ”Fasilitas di sekolah kami juga sangat minim,” tambahnya.

Sudah lama Pak KS minta apa yang seharusnya ada. Tapi tidak pernah diberi. Alasannya: muridnya hanya sedikit.

Intinya: sejak sekolah tidak boleh memungut walimurid apa pun terjadilah itu.

Tapi….

Sebenarnya ada penyebab lain: ada madrasah ibtidaiyah baru di desa kami. Yang full day school. Yang enam hari seminggu. Yang gurunya muda-muda. Yang mutunya lebih unggul. Plus pendidikan agama.

Pendirinya adalah anak muda: Tjipto. Dulu saya minder bergaul dengannya. Ia anak orang terkaya di desa kami. Yang belakangan paling rajin ke masjid.

Bahkan menyekolahkan anaknya itu ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Kami semua kaget.
Kami yang miskin itu, yang dulunya hanya bangga karena lebih rajin ke masjid, kian minder dengan keluarga pak Hardjo itu.

Setamat dari Gontor, sang anak mendirikan madrasah ibtidaiyah itu. Lalu tsanawiyah (SMP). Dan kini merintis Aliyah (SMA).

Tidak lama kemudian sang pendiri meninggal dunia. meninggal muda. Kini madrasah dipimpin adiknya.

Saya sempatkan mampir ke madrasah itu. Saya ingat: waktu kecil dulu sering jadi buruh di perusahaan bapaknya. Kerja melipat kertas. Saat liburan sekolah.

Saya juga ingat janji saya: mampir ke pusat terapi Choyang. Di kota Madiun. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya.

Benar sekali. Di pinggir jalan utama kota Madiun itu mobil berjajar. Saya pun memasuki bangunan yang dulunya toko.

Udara dalam ruangan ini panas. Pengab. Tidak ada AC. Tidak ada jendela. Hanya ada kipas angin.

Manusia berjubel. Ratusan. Ada yang lagi terapi: satu sesi 38 orang sekaligus. Lainnya sedang duduk di bangku-bangku panjang: menunggu giliran.

Terapi itu berlangsung setengah jam. Pasien tidur telentang di atas alat: mirip tempat tidur lipat. (Lihat foto di Instagram DahlanIskan19).

Alas tempat tidur itu dihangatkan dengan listrik. Di dalam alasnya ditanam batu-batu: delapan jenis batu. Yang bereaksi akibat panas listrik. Ada pula benda yang bergerak: seperti memijat. Ke seluruh punggung.

Saat saya tiba, grup yang lagi terapi sudah hampir 30 menit. Hampir tiba giliran grup berikutnya: 38 orang lagi. Yang lagi menunggu itu. Yang sedang dibariskan. Mengikuti gerak senam yang dicontohkan dari atas panggung. Senam gembira. Sambil nyanyi-nyanyi. Sambil teriak-teriak.
Selesai senam itulah mereka menuju ‘tempat tidur’ terapi. Merebahkan diri. Diam. Diterapi secara otomatis.

”Satu hari bisa sampai 25 sesi,” ujar Ayu Purwaningrum, petugas di situ.

Sudah dua tahun terapi Choyang berlangSung di situ. Tidak dipungut bayaran sama sekali. Juga tidak menerima sumbangan. Tapi kalau ada yang mau terapi di rumah boleh membeli alatnya: Rp 36 juta.

Saya tidak tahu: apakah ini lembaga sosial. Atau bisnis. Saya tidak berhasil menemui Mr Kim. Yang lagi di Jakarta.

Saya juga tidak bisa menguji: apakah terapi ini manjur. Atau hanya karena sugesti.

Tapi orang-orang kampung saya gembira. Gratisnya itu.(dahlan iskan)

November 17, 2018

About Author

dahlan iskan


28 COMMENTS ON THIS POST To “Pulang Kampung”

  1. Gratisnya membuat gembira satu soal,tapi 36 jt nya tentu persoalan lain lagi,karena tampaknya tidak akan di tanggung bpjs,kembali orang miskin dilarang sakit ( beli alat terapi ),dan semoga alatnya benar benar berfungsi sebagai alat terapi,bukan sugesti,trims.

  2. Sudah menjamur kemana2, cm masih belum jelas apakah ini lembaga bisnis atau sosial, ada ijinnya atau tidak, soalnya sering2 pindah dan hanya sewa ruko….

  3. Ingat di kampung jalan kaki..
    Kayaknya di depan pasar Segiri Samarinda juga ini. Kakaku rutin ikut dan gratis. Juga beli alatnya tapi ukuran rada kecil, yang besar ya di sana.
    Soal panas di ruangan memang kondisi panas mudah keluar keringat. Semua tabib yg kutau, sarankan agar gak perlu ruang ber AC, minum es. Bikin darah beku dan sulit berkeringat.

  4. Khas wartawan menulis. Cerita pulang kampung jadi sangat menarik.
    – Rumah dibongkar
    – Tidur di masjid berbantal kayu beduk
    – Sepupu ikut terapi
    – Jalan kaki ke Madiun
    – SD minim siswa
    – Tamatan Gontor bikin madrasah
    – Senam gembira
    – GRATIS alias nggak bayar 🙂

  5. Rumah budhe saya juga di Magetan, Bah. Dekat terminal Maospati. Saya berharap bgt suatu saat bisa bertemu Abah dan ngobrol :)) Pulang Kampung memang selalu jd momen indah

  6. Dulu masih kecil perjuangan banget mbah mau ke madiun naik speda ke kambingan trus naik kol turun bung cino lanjut naik angkot bah,sekarang beda tinggal gas 10menit nyampe kota Madiun bah btw rumah saya d desa kerik bah..
    Tiap berangkat antar ibu kpasar jam 3 pagi dipinggiran emper toko jl Agus Salim udah berjibun orang antri buat ikutan terapi di atas matras penghangat dan lanjut di pijet ama buletan2 yang berjalan di atas ranjang itu Bah

  7. Harga yang bersaing masih jadi acuan untuk memilih ya? Murah itu lebih baik dari mahal. Gratis itu lebih baik dari murah. Apalagi sudah gratis, manjur lagi

  8. Kalo urusan gratis semua sehat. Kapan 2 nulis lagi bah. Hal yg gratis2. Apa ajjja.
    Soalnya apa apa sekarang harus bayar. Kalo ditulis, dikampanyekan kan akan jadi viral. Gratis… Gratis. Alhamdulillah sdh mulai banyak masjid, yg gratiskan makan siang. Habis jumatan.
    Jadi abah bisa tuliskan seri gratis. Kalo bisa dari mancanegara juga

  9. Ini tulisan yang paling senang saya baca. “Pulang Kampung”. Masa kecil di kampung. Tak terlupakan. Penuh kenangan. Sesuatu yg tidak bisa kembali lagi…

  10. Enak ya, bagi yang punya kampung.
    Lahir di kampung. Kemudian merantau ke kota. Mencari nafkah & menetap di kota.
    Sekali waktu bisa pulang kampung.
    Mungkin saat Lebaran, hari besar lainnya, atau kapanpun mau, bisa.

    Mungkin bagi yang lahir di Jakarta, mau pulang kampung ke mana…?
    Orang-orang kampung, pada merantau ke Jakarta.
    Mosok orang Jakarta merantaunya ke kampung…?
    Kayaknya orang Jakarta perlu merantau juga nih.
    Tapi merantaunya ke Singapura, Hong Kong, Sydney, Perth, London, Luxemberg, Washington DC, atau ke kota besar lainnya, di dunia.
    Jadi sekali waktu, bisa juga pulang kampung.
    Pulang kampung ke Jakarta.
    Walaupun Jakarta itu tergolong kota metropolitan. Hehehe…

  11. Terapi sejenis ini sudah ada di Kota saya Pasuruan bah sejak beberapa tahun lalu, waktu itu tante saya ikut. Harus antri dan berangkat subuh walau dari rumah sekitar 15 menit tempatnya karena rumah tante ditengah kota. Harga alatnya masih ditawarkan sekitar 18jt an. Memang membawa berkah bagi orang-orang yang terbatas berobat secara medis, terbukti seperti asma tante saya berkurang. Namun sayang kalau tak salah sekarang terapi ini sudah tutup.

  12. judulnya bisa dirubah “pulang kampung kilat langsung di share ke umat” biar menarik dikit “umat manusia” di protoli tanpa merubah misi.
    sepertinya Abah sudah komunikasi dan direncanakan sebelumnya karena musim duren tidak setiap waktu ada., kok tidak di share sewaktu kumpul di teras mesjid, sehingga crita bisa tambah apakah masjid sudah berubah, dibanding dulu waktu Abah di kampung, apakah jemaah nya tambah, dan keadaan mesjid itu sendiri, apakah sebagai bantal itu pemukul bedug atau dumpal; alat untuk meninggikan Al Quran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,212 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: