Pilih Amerika atau Tiongkok
Catatan Harian, Internasional

Pilih Amerika atau Tiongkok

Satu dari ratusan inspirasi yang saya peroleh dari Amerika adalah: jangan lagi gunakan mesin ketik. Gunakan komputer.

Rombak. Minggu itu juga. Sepulang dari Amerika. Jadilah Jawa Pos koran pertama di Indonesia yang wartawannya tidak lagi menggunakan mesin tik.

Pada zaman yang Jawa Pos masih susah. Yang belum cukup punya uang. Yang gaji wartawannya masih di bawah UMR.

Saya paksakan. Cari komputer murahan. Saya masih ingat istilahnya: komputer jangkrik. Tidak pakai hard disk. Yang untuk save naskah harus pencet ‘control KD’. Tiga puluh enam tahun yang lalu. Hasil rakitan anak muda bernama Minto. Dari Scomtec Surabaya. Orangnya masih hidup saat ini.

Maka sejarah komputerisasi di ruang redaksi itu dimulai oleh koran daerah nan kecil di Surabaya. Oleh inspirasi Amerika. Bukan oleh koran-koran besar nan kaya dari Jakarta.

Berkat inspirasi dari Amerika itu pula puluhan inovasi saya lakukan. Sering membuat ‘yang pertama’ dalam sejarah pers Indonesia. Yang pertama terbit berwarna. Yang pertama terbit tujuh kali seminggu.

Kerja seperti orang gila. Tidak memikirkan kesejahteraan. Tidak memikirkan kesehatan. Membuat Jawa Pos menjadi raksasa. Kaya Raya. Sampai saat saya meninggalkannya. Secara total. Sekarang ini.

Waktu itu Tiongkok masih sangat miskin. Lebih miskin dari Indonesia. Cerita-cerita dari Tiongkok adalah cerita tentang kemiskinan, keruwetan, sepeda butut, kediktatoran, kekejaman komunisme dan kekumuhan kota-kotanya dan orang-orangnya dan kebiasaan meludahnya dan kejorokan wc-wcnya. Semua bersumber dari kantor berita barat.

Beberapa teman Tionghoa saya sudah sering ke sana. Membenarkan semua kisah kemiskinan itu. Dia sering terpaksa membagikan baju bekas di sana. Di kampung halaman leluhurnya. Dianggap orang Indonesia yang kaya.

Dua tahun kemudian, 1986, barulah saya ke Beijing. Untuk pertama kalinya. Memimpin tim nasional basket yunior ke kejuaraan Asia.

Baru kali itulah saya melihat Tiongkok. Dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa keadaan ‘Tiongkok benar-benar lebih miskin dari Indonesia’.

Tim basket itu tinggal di sebuah hotel bernama Mudan. Nama bunga. Di halaman hotel itu berceceran onggokan batu bara. Dan onggokan boiler tua. Untuk masak air panas. Untuk keperluan hotel.

Jalan-jalan raya Beijing terasa lebar dan lengang. Hanya sesekali ada mobil lewat. Itu pun mobil pejabat. Belum ada orang yang punya mobil di sana.

Di kanan kiri jalan yang lapang itu banyak orang bersepeda . Seperti air bah. Berjubel. Dengan suara-suara ting-tong. Bel sepeda yang ribut.

Ke mana-mana orang naik sepeda. Saya putuskan untuk juga beli sepeda. Yang murah. Yang penting ada belnya. Bisa untuk ke mana-mana di Beijing. Selama 10 hari.

Misalnya: ke pasar. Beli buah.

Di pasar itu pula saya kaget: tidak bisa beli buah. Uang yuan yang saya miliki tidak laku. Saat lembaran yang masih baru itu saya sodorkan penjual buahnya seperti takut-takut. Takut menyentuhnya. Seperti takut ketahuan oleh intel negara.

Ternyata rakyat tidak boleh memiliki uang yuan. Tidak boleh bertransaksi dengan uang yuan. Kalau ketahuan ditangkap. Ada uang tersendiri untuk rakyat Tiongkok. Bernama renminbi. Saya melihatnya dipegang banyak orang. Di pasar itu. Tidak terlalu jelas. Tidak ada yang warnanya masih baik.

Renminbi itu berpindah-pindah tangan dalam keadaan sangat lusuh. Dan kumal. Ternyata yuan yang seperti saya punya hanya untuk orang asing. Yang hanya bisa dipakai berbelanja di tempat-tempat tertentu.

Saat itulah saya tahu: ada dua mata uang yang berlaku di suatu negara.

Sehari sebelum pulang saya berpikir: saya apakankah sepeda ini. Saya putuskan: saya berikan ke anak muda yang kelihatan miskin sekali. Yang bekerja di bagian kotor di hotel itu.

Saya belum bisa bahasa mandarin sama sekali. Tidak pula tertarik untuk mempelajarinya. Bahasa aneh. Tulisan aneh. Ruwet.

Saya pilih pakai bahasa isyarat. Sambil menyodorkan sepeda kepadanya. Dia menghindar. Takut. Menolak. Takut kena urusan polisi.

Menerima sepeda dari orang asing. Atau memiliki sepeda tanpa surat-surat. Saat itu memiliki sepeda butut pun harus ada suratnya.

Akhirnya sepeda itu saya taruh di dekatnya begitu saja. Saya copot belnya. Saya bawa pulang ke Surabaya. Untuk kenangan. Dan seperti umumnya barang kenangan yang saya miliki umurnya pun tidak panjang. Hilang. Lupa. Ditaruh di mana. Atau diminta siapa.

Dengan gambaran Tiongkok seperti itu idola saya tetap: Amerika. Negeri inspirasi. Negeri mimpi. Negeri menakjubkan.

Sejak itu tiap enam bulan saya harus ke Amerika. Untuk shopping. Shopping ideas. Belanja ide. Belanja inspirasi. Dalam hati: semoga kelak anak-anak saya bisa sekolah di Amerika.

Lho, mana jawaban atas pertanyaan di Unpad itu? Tentang mengapa sering menulis tentang Tiongkok itu? Maafkanlah. Mungkin besok. Mungkin lusa. Atau di lain hari. Kapan-kapan.(dis)

 

Foto: Suasana jalanan Beijing tahun 1986, tukang cukur di dekat Baita Temple. Foto karya Zhu Xianmin.

April 4, 2018

About Author

dis


26 COMMENTS ON THIS POST To “Pilih Amerika atau Tiongkok”

  1. Akhirnya muncul juga yg saya tunggu tapi mana jawabsn dari si penanya kemaren.. Hmm kspan kapan ya Pak.. Kalo bpk inget lagi dimana bel sepeda itu… Hehehe

  2. Ayo gali terus tejtang Amrik atau Tiongkok semua asyik dibaca ?
    Bagaimana juga Yuan bergantin jadi renminmbi sekarang ini. Atau Tiongkok yang majunya menakutkan. Semua asyik ?

  3. Jikalau saat itu saya harus memilih pun tentunya Amerika. Tapi lain dulu lain sekarang. Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

    Memangnya saat itu koran-koran besar nan kaya dari jakarta itu terbit berapa hari seminggu, Bah?

  4. Luar biasa. Dari dulu saya paling suka tulisan2 mr yu tentang zhongguo. tiongkok. Itu yg paling saya tunggu.
    Paling enak. Mendalam. Seperti orang dalam aja. Yang melihat langsung kondisi tiongkok di lapangan.
    Saya juga baca tulisan2 orang indonesia tentang tiongkok. Termasuk yg keturunan tionghoa. Kalah jauuuh. Kayak baca terjemahan berita aja.
    Makanya saya beli buku pelajaran dari Tiongkok itu. Dibaca berkali2 tetap enak.

  5. Hihihi asyeem, endingnya begini lagi. Tapi ada kalimat yg bikin bingung:

    “Kerja seperti orang gila. Tidak memikirkan kesejahteraan. Tidak memikirkan kesehatan. Membuat Jawa Pos menjadi raksasa. Kaya Raya. Sampai saat saya meninggalkannya. Secara total. Sekarang ini.”

    Ini maksudnya gimana ya? Apa pak dahlan sudah tidak di Jawapos lagi? Kalimatnya seperti ‘gugatan’?
    Piye abah?

  6. Buku Mr. Yu tentang pelajaran dari Thiongkok Sy rasa sudah cukup mengambarkan tentang thiongkok.
    Sy bersyukur bisa membeli buku itu. Meskipun susah sekali mendapatkannya. Edisi terbatas.tdk semua toko buku jual.

    Semoga buku ini dicetak kembali.dg tambahan kondisi saat ini.

    Mohon di pertimbangkan kembali masukan saya Pak dahlan. Krn Banyak org yg spt ingin membaca serta memilikinya.

    salam,
    RADI

  7. Betul mas… pertanyaan awal itu sudah terjawab semua di buku PELAJARAN DARI TIONGKOK. ditulis pak dis alias mr yu ketika belum jadi pejabat.
    Saya terkesan betul dengan tulisan tentang sumur minyak tradisional itu. Etos kerja luar biasa orang tiongkok. Kebanggaan sebagai bangsa besar dengan peradaban tinggi.
    Wartawan di indonesia yg rutin membuat catatan tentang tiongkok cuma pak dis dan RLP kompas. Bedanya rlp kayak pengamat barat yg cenderung menjelek2an tiongkok, partai komunis dsb. Kurang punya apresiasi. Pak dis tidak banyak beropini tapi menulis fakta2 dengan deskripsi yg luar biasa. Itu yg tidak bisa dilakukan orang lain.

  8. Tiba2 penimbang KRL disebelah sy mau membanting gadgetnya. “Anda baik2 saja” tanyaku.
    “Pak DI, dulu, dulu Mas, waktu masih Mentri BUMN, ditanya apapun dijawab dng lugas dan memuaskan. Bahkan harapan2 kita penumpang KRL dipenuhi hanya dlm hitungan bulan”
    Sy tetap diam sambil menunggu.
    “Sekarang, pertanyaan sederhana saja, jawabannya hrs didahului 2 kali tulisan panjang”
    KRL berhenti di Pondok Randji, dan dng tetap bersungut-sungu Bapak yg penasaran tsb ngeloyor keluar dari KRL dan mengembalikan gadgetnya ke dlm saku. Mungkin Beliau sadar nggak ada untungnya membanting Gadget, hanya krn tidak sabar menunggu sebuah jawaban.

    • Untuk memperbesar rasa sabar dan tidak ‘kemrungsung’, mari baca kembali artikel sebelumnya ‘Suluk Pencuci Hati’. Sabar, sabar nunggu Jawabannya. Yang datang kapan-kapan. Bila sempat.

  9. Nunggu jawaban tsb rasanya seperti nunggu jadwal malam Minggu bagi jombloers, ..
    Kuat dilakoni, nek ra kuat ditinggal ngopi….
    hahahahaha…………..

  10. Mungkin rangkaian tulisannya sudah menjadi jawaban. Bersambung. amerika dulu. Tionghoa sekarang dan nanti.

  11. hahaha…. komputer jangkrik…kontrol kd…disket 360 kb…jadi ingat awal2 bejalar komputer dg tampilan monitor warna hijau.

  12. Kerja seperti orang gila. Tidak memikirkan kesejahteraan. Tidak memikirkan kesehatan. Membuat Jawa Pos menjadi raksasa. Kaya Raya. Sampai saat saya meninggalkannya. Secara total. Sekarang ini.

    Ini juga meninggalkan banyak pertanyaan.

  13. Jdi kata kunci.y nanti sepertinya kekaguman bapak terhadap perubahan tiongkok… dri terburuk ke terbaik ☺

  14. Rasanya mbrebes mili air mata, mbaca yang bagian ini:

    Kerja seperti orang gila. Tidak memikirkan kesejahteraan. Tidak memikirkan kesehatan. Membuat Jawa Pos menjadi raksasa. Kaya Raya. Sampai saat saya meninggalkannya. Secara total. Sekarang ini.

    Saya karyawan Jawa Pos yg mengangap abah bpk kandung saya, sudah 22 tahun ikut abah, kini kehilangan tulisan hope yg selalu mengihasi Jawa Pos sebagai penyemangat hidup yg penuh inspirasi. Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi abah dis. aamiiin Yra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,951 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: