Perang Dagang Sampai ke Caviar
Catatan Harian, Internasional, Terbaru

Perang Dagang Sampai ke Caviar

Oleh: Dahlan Iskan

Makanlah caviar. Sesekali. Atau sekali seumur hidup. Sekedar untuk tahu: mengapa Amerika menyasar caviar. Dalam perang dagangnya. Dengan Tiongkok. Sekarang ini.

Di Jakarta hanya ada tujuh restoran yang menawarkan caviar. Dalam menu mereka. Misalnya resto Jepang Oku. Yang di gedung The Plaza. Di  jalan Thamrin itu. Atau resto Jepang yang di Kempinski.
Harganya tidak mahal. Untuk ukuran Donald Trump: Rp 2 juta/100 gram. Atau Rp 20 juta/kg.

Itu harga caviar mentahnya.

Setelah dimasak tentu lain pula angkanya.

Kini Tiongkoklah produsen caviar terbesar di dunia.

Hampir separo caviar di planet ini datang dari satu danau: Qiandao Hu. Danau Seribu Pulau. Di propinsi Zhejiang. Empat jam jalan darat dari Shanghai.

Luar biasa.

Padahal lihatlah 10 tahun lalu. Tiongkok belum bisa memproduksinya. Sama sekali. Tiongkok belum tahu caviar. Dalam 10 tahun sudah bisa tiba-tiba. Menjadi yang terbesar. Di dunia.

Caviar adalah telur ikan. Ikan sturgeon. Yang beratnya bisa 30 kg. Yang panjangnya bisa 5 meter. Yang umurnya bisa 100 tahun. Lihatlah fotonya. Yang menyertai tulisan ini.

Ikan sturgeon di alam liar.

Dulunya Tiongkok tidak ada dalam peta. Asal caviar terbaik adalah Iran. Lalu Rusia.

Ada satu sungai di Rusia. Yang sangat khas. Yang sturgeon bisa hidup di sungai itu. Ada juga satu danau. Yang begitu besarnya. Sampai disebut laut: Laut Kaspia. Di situlah sturgeon terbaik hidup. Beranak pinak.

Tapi manusia mengejarnya. Menangkapnya. Membunuhnya. Tidak kenal ampun.

Keberadaan sturgeon terancam punah. Caviar kian mahal. Dulu pun rakyat tidak ‘mentolo’ membeli. Melihat harganya. Hanya raja dan kaisar yang mampu menjangkau. Atau elite lainnya.

Jadilah caviar makanan eksklusif. Makanan raja. Kian elite statusnya kian mahal harganya. Kian seru juga perburuannya.

PBB turun tangan. Perburuan sturgeon dilarang. Pada tahun 1992. Caviar kian lama kian langka.

Situasi itulah yang membuat akademi ilmu pengetahuan perikanan Tiongkok melakukan penelitian. Tepat 10 tahun lalu.

Berhasil. Sturgeon bisa dibiakkan. Di danau. Dengan kondisi air tertentu. Akademi itu lantas mencari partner. Swasta tertarik. Pemerintah memberi dukungan penuh. Beberapa danau diteliti. Terpilihlah danau Seribu Pulau itu.

Danau air tawar Qiandao Hu di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.

Dasar danau pun diperbaiki. Sekitar danau dibebaskan. Airnya diolah: agar cocok dengan kehidupan sturgeon. Hanya dalam sepuluh tahun. Berhasil menjadi produsen caviar terbesar di dunia. Berkat kesungguhan. Dan ilmu pengetahuan. Dan kemampuan manajemen perusahaan.

Amerika juga mencoba. Di North Carolina. Bukan di danau. Tapi di kolam buatan. Kecil-kecil. Di atas tanah. Lihat foto.

Aquaculture farm di Lenoir, North Carolina yang membudidayakan ikan Russian sturgeon.

Kini harga caviar di Amerika sedikit lebih mahal. Caviar Tiongkok dikenakan bea masuk 25 persen. Dalam perang dagang sekarang ini.

Tentu tidak masalah. Pemakan caviar tidak pernah melihat harga. Berapa pun bon yang disodorkan akan dibayar. Toh membayarnya tidak dengan uang. Mereka membayarnya dengan angka. Yang ada di struk kartu kredit mereka.

Saat pertama kali makan caviar saya justru tidak tahu: kalau itu caviar. ‘Barang’ itu ada di mangkok kecil yang disajikan. Mangkoknya hanya sedikit lebih besar dari tutup botol. Sekali disendok pun sudah habis.

Saya ‘untal’ saja makanan sesendok itu. Sekali suap. Seharga setengah juta rupiah. Habis. Rasanya gurih-gurih-asin. Agak aneh.

Saya bertanya dalam hati: makanan apa ini. Batin saya: pasti ini makanan orang Eropa.

Saat itu saya lagi di kursi first class. Dalam penerbangan Lufhansa. Dari Singapura ke Frankfurt. Itu 30-an tahun lalu.

Setahun kemudian saya naik Concorde. Dari London ke New York. Yang tiketnya mahal. Tiga kali lebih mahal dari first class. Saya ketemu barang itu di Concorde. Disajikan di mangkok kecil.

Lidah saya masih lidah Magetan. Atau Samarinda. Belum bisa merasakan di mana mahalnya caviar.

Setelah menjadi Dirut PLN saya tidak pernah naik first class lagi. Biar pun bayar sendiri. Malu. Tidak sopan. Apalagi ketika menjadi menteri. Kian jauh dari first class. Kian lupa pula barang itu.

Hanya sesekali ketemu caviar.  Di jamuan-jamuan tertentu. Tapi tetap saja tidak tahu di mana mahalnya.

Sesekali makanlah caviar. Lalu beritahu saya: di mana enaknya. (dis)

Catatan Admin:

Anda bisa mengakses Disway lebih cepat menggunakan App Android. Download dan install aplikasi DISWAY dari Playstore sekarang.

August 9, 2018

About Author

dahlan iskan


70 COMMENTS ON THIS POST To “Perang Dagang Sampai ke Caviar”

  1. Setidaknya dulu ketika masih SD saya pernah merasakan caviar “lokal”. Caviarnya anak pesisir. rasa enaknya muncul ketika bunyi krezz dan isinya seketika menyentuh lidah. Menurut saya yang waktu itu masih SD..hehe

  2. Duh..kangen dengan masa2 Bapak jadi Dirut PLN atau Menteri BUMN waktu itu. CEO Notes dan Manufacturing Hope…penuh dengan ‘petualangan’.

    Insya Allah kl MMD jadi naik RI 2,sahabat njenengan itu..semoga segala ide2 njenengan bisa menemukan ‘saluran’ nya,aamiin.

  3. Dng kesungguhan, ilmu pengetahuan dan manajemen yg baik!!!
    Sy percaya, inilah kunci kemajuan & keberhasilan.

  4. Tiongkok, negara dengan pemerintahan yang kuat dan berpikiran maju, ‘apapun’ mereka kerjakan dan berhasil.

  5. Caviar seharga 2 juta. Hanya setutup botol kecil. Itu harga yang super power pak.

    Saya cukup tau dari Pak Dahlan saja deh. Kalo untuk standar rasa, saya kira semua orang punya standar rasa yang sama. Apalagi jika hanya sekedar asin-asin gurih, hehehehehehehe…

    Atau mungkin, hal ini disebabkan karena saya belum sekaya Pak Dahlan, jadi rasa penasaran saya belum pada kondisi mendesak untuk mencoba makan caviar, huahahahahahaha…(kun)

    • Harga telur mentah Sturgeonnya saja : Rp. 2 juta/100 gram. Matengnya bisa berapa ya pak…?
      Apalagi harga ikannya…?
      Ikan yang Super Power.
      Selama ini saya mengira, ikan termahal itu hanya : Arwana saja. Ternyata masih ada yang lebih mahal lagi.
      Pak Dahlan, kira-kira selain Sturgeon, adakah jenis ikan yang harganya lebih mahal lagi…? (kun)

  6. Itulah hebatnya China, skrg ini apapun kebutuhan orang mulai bangun tdr smp balik tidur lg, hampir bs di katakan kita pasti memakai barang buatan China…tdk salah dgn Peribahasa, ” Kalo mencari Ilmu, belajarlah smp ke Negeri Tiongkok”…

  7. pak dahlan , semoga perkataan ini ada dalam diskusi debat pilpress

    saya akan terus belajar dan berguru ke tiongkok alias china, tapi bukan berarti mau ngutang hahahahahaha

  8. Tiongkok memang benar benar edaaaan… perkembangan dan penerapan iptek didukung penuh oleh pemerintah….

  9. Boro2 caviar Bah. Bagi lidah saya mah salmon itu rasanya sama aja kaya ikan tongkol atau tuna. Gak bisa bedain enaknya… Gitu we .. ikan

  10. Pagi-pagi sudah senyum2 baca ini, caviar oh caviar. Dulu waktu nonton var show korea pernah salah satu artis sana menyimpan caviar dalam kulkasnya. Lantas semua tercengang. Saya: apa hebatnya? Sambil terus menonton tanpa memperhatikan caviar. Oh jadi begitu…?

  11. Sungguh, saya baru tahu. Kalau ada makanan yang bernama caviar. Walau sudah hidup di muka bumi lebih dari 40 tahun he he he….. dan gila lagi, harganya sama dengan cincin 4 gram emas di toko emas. Bagaimana mau coba? Mungkin habis makan caviar langsung pingsan, kenapa? Karena bingung, besok anak istri makan apa, sudah habis beli caviar ha ha ha….. tapi saya akan ingat. Makanan mahal itu rasanya asin asin gurih
    Kalau asin itù garam, kalau gurih itu santan. Jadi kalau saya makan yg ada bumbu garam dan santan seperti sambal goreng tahu, nasi gurih atau nasi uduk, opor tempe tahu. Saya bayangkan rasanya seperti caviar yaitu asin asin gurih. Jadi tak terduga, hari hari sudah seperti orang konglomerat, makan seperti rasanya caviar yg perkilo 20 juta rupiah. Asìn asin gurih he he he….

  12. Tks, infonya rada lengkap soal caviar dan bahanya. Luar biasa harga dan usaha Tiongkok. Di Sumba ada gempa luar biasa, sy blm tau perkembangan Nihi Sumba. Sy ingat soal nasi instan. Sejenis mie instan, sy tau makanan itu saat di Toronto Kanada, sy pingin bikin itu agar bs di produksi. Memudahkan bila ada bencana, buat pertolongan. Disisi lain bisa buat bekal haji atau kemping. Sayang sy cari sampel gak ketemu, kayaknya cuma di Thailand dan Jepang. Kalo bapak di Amerika tentu ada. Sy kini di Loa Kulu, 50 m dekat makam mertua pak Dahlan. Nasi instan juga berfungsi agar harga padi tak jatuh sa’at panen raya. Caranya bikin spt, buat kripik nanas / apel Malang itu. Tks.

  13. Pagi-pagi sudah sarapan Caviar dari Disway.

    Satu catatan penting hari ini : Kesungguhan, Ilmu Pengetahuan, Kemampuan manajemen perusahaan dan Dukungan penuh dari Pemerintah yang membuat Berhasil. Semoga Metode ini bisa menular ke negerinya Via Vallen.

    Terima kasih Abah, tulisannya sangat meng-inspirasi.

  14. Sempat saya pending baca artikel abah buat nyari apa itu caviar. Setelah tau baru lanjut baca lagi. Makasih bah. Akhirnya saya tau apa itu caviar. hehehe

    Tulisan abah ini belum menyinggung kenapa caviar yang jadi bagian perang harga antara as dan tiongkok. Sepertinya abah lagi buru2 ya.

  15. kesungguhan. ilmu. dan dukungan…. sy catat itu …untuk kembangkan telur cecak rasa mocca. rasa coklat..sama rasa stroberry. hihihi.

  16. Woman & Wine, Cigar & Caviar empat benda ini barangkali sebagai sarana membangun karakter elit sosial…ha ha ha

  17. Telur ikan keting, belanak, putihan, mas, Bader, kakap, manyun, sembilang, enaknya sudah gak ketulungan. itu saja sudah cukup. Tak perlu sampai jutaan untuk sejumput telur ikan.

  18. Masih enak pepes telur ikan bader sama telur ikan kakap goreng sama telur ikan mujahir khas kuliner Gresik kayaknya…masih banyak di Perum GKB (Gresik Kota Baru, bukan KGB lho ya…yg mata2 dari Rusia), tiap pagi….rasanya gurih maknyuz yummy..he he he

  19. Asikkk ada app mobile nya. Thanks admin. Makasih pak Dahlan utk tulisan2nya yg selalu menginspirasi dan menambah wawasan sy. Sehat selalu pak.

  20. Caviar…., media pengejawantahan kesungguhan dalam berkolaborasi antara ilmuwan, pengusaha dan penguasa yang konsisten mewujudkan kemakmuran bangsanya…. inspiratif mbak…. tidakkah bisa diadaptasi di negerinya via vallen…???

  21. “Mangkoknya hanya sedikit lebih besar dari tutup botol. Sekali disendok pun sudah habis.” Hidanganya sesendok tapi harganya semangkok. Kalau orang udah suka uang bukanlah masalah (Buat orang-orang yang punya Uang 🙂 ) Mantap Bah

  22. Begitu hebatnya Tiongkok, boleh lah kita berguru kepada mereka.
    Ketawa pas baca “mentolo” sama “untal”.. Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,675 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: