Catatan Harian, Internasional

Perang Dagang Siapa Menang

Perang dagang saat ini kian seru: Amerika Serikat vs Tiongkok. Siapa yang akan menang?

Para ahli memperkirakan dua-duanya akan kalah. Presiden Trump memang sering mengatakan: akan menang dengan mudah. Namun gertakan pertamanya ternyata dilawan.

Jam itu juga. Dengan bobot yang sama. Trump meluncurkan rudal kedua. Tiongkok bahkan membalasnya lebih telak. Lebih ke jantung Amerika: kedelai dan pesawat terbang. Lebih cepat pula.

Balasan RRT itu seperti sudah lama disiapkan.

Trump memulai perang dengan dua alasan. Pertama: neraca perdagangan AS dengan RRT selalu defisit. Angkanya selalu besar. Tahun lalu USD 250 miliar.

Kedua: RRT mencuri teknologi AS. Lewat aturan: setiap perusahaan teknologi AS harus berpartner dengan pengusaha lokal. Kalau mau investasi di RRT.

Lama-lama partner lokal itu menguasai teknologinya. Lalu membuat perusahaan sendiri. Menjadi pesaing Amerika.

Dari sudut pandang AS, dua alasan itu sangat masuk akal. Cara paling mudah untuk mengurangi defisit: kurangi invasi barang RRT. Lewat kenaikan bea masuk.

Inilah cara ampuh. Sekaligus kuno. Tidak perlu berpikir cerdas. Tidak perlu kerja keras. Cukup gunakan kekuasaan: bikin aturan.

Bagi penganut aliran cowboy cara seperti itu dianggap ampuh. Tembak saja. Urusan belakangan. Itulah juga sudut pandang nasionalisme sempit. Nasionalisme sumbu pendek.

Sebaliknya dari sudut pandang Tiongkok juga ada nasionalismenya sendiri: kami ini negara miskin. Tapi ingin maju. Tidak mau selamanya miskin. Amerika kan sudah kaya nan raya. Tidak akan jatuh miskin.

Kami kan tidak mau seperti negara itu (namanya saya rahasiakan). Yang selama 50 tahun belum juga mandiri.

Belum bisa menguasai teknologi pembakaran bensin untuk mobil. Sehingga sudah 50 tahun pun pasar mobil negara itu masih dikuasai merk asing.

Bahkan ketika negara itu ingin langsung meloncat ke mobil listrik juga susah.

Bahwa neraca perdagangan AS defisit itu bukan salah kami. Kami ini bekerja keras. Berpikir keras. Agar ekspor kami meningkat.

Kenapa bukan pengusaha AS yang disuruh kerja lebih keras? Agar bisa menaikkan ekspor ke Tiongkok? Agar neraca perdagangan lebih berimbang?

Jadi, dari sudut nasionalisme, dua-duanya benar.

Tapi kalau semua negara mengutamakan nasionalisme masing-masing tidak akan ada kemajuan. Dunia kian mundur.

Dengan menaikkan bea masuk berarti memberikan perlindungan. Kepada industri dalam negeri.

Padahal hukum dasar perlindungan itu jelas: membuat lambat dewasa. Tidak efisien. Meningkatkan perilaku malas.

Itulah perdebatan tentang sudut pandang. Tidak henti-hentinya. Kadang proteksionisme menang. Kadang pasar bebas menang.

Sebenarnya, dengan Amerika meningkatkan ekspor bukan hanya difisitnya yang berkurang. Ekonomi juga membesar.

Tapi menjadi cowboy memang terasa lebih gagah.(dis)

April 9, 2018

About Author

dis


30 COMMENTS ON THIS POST To “Perang Dagang Siapa Menang”

  1. Sehat selalu pak, dan ndak kena kartu karena sliding tacle bapak. Meskipun ndak kena kaki, pas di bolanya. Klo lawan jengkel bapak diadukan ke wasit karena bapak suka menyeliding…. wah… bisa runyam….

  2. Eh eh jangan salah. Ahli tentang China banyak di AS. Mereka pastinya sudah menghitung ini. Ibaratkan saja seperti main catur. Ada yang gayanya seperti Gary KAsparov, suka menyerang dan membuat gaya kejutan. Ada yang seperti Karpov, penuh perhitungan. Sudah sejak lama, AS risau dengan kondisi tidak imbang ini. Beberapa presiden sebelumnya tidak ada yang berani. Mumpung ada presiden sableng. Kapan lagi.

    • https://www.youtube.com/watch?v=EvXROXiIpvQ
      Video ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti bahwa bukannya AS tidak mempelajari dan cemas dengan langkah-langkah China. Ini yang muncul ke publik. Yang tidak muncul pasti jauh lebih banyak. Kita boleh risau. Tapi sedikit saja. Saatnya pelanduk harus bertindak. Tidak mati di tengah-tengah pertarungan gajah. Saya membaca bahwa yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini sudah berusaha melangkah ke sana. Tapi sayangnya memang banyak sekali gangguan. Ditambah PR mereka yang cukup buruk untuk meng-counter pemberitaan-pemberitaan negatif yang ada. Disamping arus bawah yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan. Terutama yang muncul di sosial media. Tapi jangan kira juga kalau sosial media tidak dikendalikan dua belah (atau bahkan tiga belah pihak) juga. Arus atas sama parahnya. Counter-counter pemerintah kurang cantik. Polanya defensif dan pemarah. Kurang menerapkan jurus dewa mabuk atau jurus kaypang. Saya juga membaca sepertinya Indonesia berusaha bermain di tengah-tengah. Merangkul China, namun tetap mesra dengan AS. Menarik sekali.

  3. negara itu adalah…… “ing….eng…ing….eng”.
    saya ndak berani mentafsirkan nama negara itu Mr. yu!!!
    biar temen2 “ngeramesi” sendiri,

    Sehat terus pak DIS.

    • Geregetan, bikin sendiri gagal uji emisi. ya sudah, beli saja dari luar & lolos uji emisi hahaha ………

  4. putus asa. selemah lemahnya iman.
    …sy guru. mobil listrik ribetnya bukan main birokrasinya. ..
    .. sy ajak anak anak buat mobil tenaga air. micro hidro.sukses. tanpa birokrasi. kemarin sudah jalan. empat anak saya kasih galon aqua. minum.terus dorong. minum lagi. dorong lagi. jalan.sy yg nyetir. senyum senyum. itulah gledekan bhs latinnyA gerobak.
    pak di gagbolo. gag mau jaeab traktiran sy ke jsvanine

    • Aha … untuk yg ini kita harus bangga. Moga2 peminat pesawat terbang made in Ind terus meningkat sehingga bisa terus ekspor dan nambah devisa.
      Era TETUKO harus diakhiri!
      BTW :
      TETUKO : sing teko ra tuku – tuku, sing tuku ra teko teko.

  5. “Kami kan tidak mau seperti negara itu (namanya saya rahasiakan). Yang selama 50 tahun belum juga mandiri….”
    hehehe….aku tahu…aku tahu….:-)

  6. Ya ampuuuuun…
    Saat baca “tidak seperti negara itu”
    Rasanya hidung saya yg setengah pesek ini kayak d tonyo biar lebih ke dalam lagi

  7. Faktor lain yng jadi penyebab trade war adalah keberanian Trump menurunkan pajak korporasi yg mengakibatkan negara adidaya itu kehilangan opemasukan 1,5 trilion dolar. utk menambalnya harus menaikan cukai barang impor. nah di sini perang dimulai. Bila Trump gagal akan berpengaruh bagi subsidi utk rakyat kecil dan tentunya pada popularitasTrump sendiri

  8. Kok saya melihat perilaku kedua pemimpin negara besar ini kekanak-kananakan ya?

    Ngomong-ngomong tentang Amerika dan Tiongkok, jadi ingat kata-kata Jack Ma di depan pengusaha Amerika, di acara yang dimoderatori oleh presiden AS Bill Clinton. Kata Jack Ma kurang lebih begini, “Kalian orang Amerika tidak perlu khawatir dengan Tiongkok, tidak perlu takut dengan Tiongkok. Tiongkok akan butuh banyak produk dari kalian. Tapi, orang tiongkok memang pekerja keras sih, orang Tiongkok pintar menyimpan uang, di saat kalian orang Amerika suka membelanjakan uang untuk hari esokmu atau uang orang lain.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,951 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: