Pemilu Big Data Dalam Humor
Catatan Harian, Trend

Pemilu Big Data Dalam Humor

Saya kebanjiran pertanyaan soal tulisan big data dan algoritma. (Disway edisi 2 April 2018). Khususnya bagaimana menggunakannya.

Termasuk dari tokoh seperti Yusril Ihza Mahendra. Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Yang nyaris tidak bisa ikut Pemilu. Kalah dengan partai baru. Tanpa dana. Tanpa tokoh nasional.

Tentu tidak mudah bagi saya untuk menjawabnya. Apalagi kalau sudah soal algoritma.

Saat lagi cari cara untuk menjawabnya, teman Amerika saya mengirim WA. Saya pikir itu lelucon biasa.

Ternyata …. ups! Itu bisa saya kutip untuk menjawab pertanyaan pembaca.

Itulah sebagian praktik penggunaan big data. Tentu dalam bentuk humor. Saya kutipkan saja lelucon itu. Untuk Anda.

Tentu setelah saya tukangi sendiri agar sesuai dengan kondisi lokal kita.

– Hallo…ini Gojex?

+ Bukan… ini Gofoog.

– Oh maaf salah sambung.

+ Anda tidak salah sambung. Gojex dan Gofoog itu satu grup. Data kami bisa saling tukar.

– Kalau begitu bisa belikan pecel Madiun di warung bu Wenny?

+ Menurut data kami dalam seminggu ini Anda sudah empat kali beli pecel.

– Apa salahnya? Itu kan hak saya. Itu kegemaran saya.

+ Tapi menurut catatan kami asam urat Anda lagi naik. Perlu mengurangi makan sayur kacang panjang.

– Saya tidak punya asam urat. Ngawur saja. Saya ini rajin olahraga.

+ Menurut catatan kami Anda sudah enam bulan tidak olahraga. Kamera yang dipasang di sekitar rumah Anda tidak menunjukkan Anda pernah keluar rumah dengan sepatu olahraga.

– Trus sebaiknya saya pesan makanan apa?

+ Ini lagi ada promo buntil daun pepaya. Harganya cuma Rp 10.000. Pas dengan saldo uang Anda di bank.

– Hah? Anda tahu saldo uang saya di bank? Ini sudah keterlaluan. Melanggar privacy. Melanggar hak-hak asasi manusia.

+ Data kami menunjukkan kartu kredit Anda baru saja ditolak. Saat Anda belanja lipstik Channel. Saldonya tidak cukup.

– (Dalam hati) Upsssss…. jangan-jangan istri saya juga tahu…cilaka!

+ Bagaimana? kok diam? Jadi pesan buntil atau tidak?

– Ya… sudah..saya pesan buntil daun pepaya. Satu. Tapi soal lipstik tadi jangan sampai bocor ya….

+ Dikirim ke mana? Soalnya menurut data kami rumah Anda lagi disegel bank.

– (Dalam hati: Huhhh…. ini sudah benar-benar telanjang. Kurang ajar. Tapi apa boleh buat) … Hemmm…. kirim ke alamat ini (sambil mendektekan alamat baru).

+ Menurut data kami alamat itu kantor sementara partai Gorengan. Yang baru sekali ini lolos ferifikasi KPU.

– Iya… saya lagi jadi tim sukses untuk Pilkada di partai itu.

+ Tapi menurut data kami penduduk sekitar kantor Anda bukan pendukung calon dari partai Anda. Selamat menikmati buntil daun pepaya…. Selamat bekerja keras.(dis)

April 7, 2018

About Author

dis


26 COMMENTS ON THIS POST To “Pemilu Big Data Dalam Humor”

    • Nik dan kk tidak lah bahaya karena kita daftar ke operator, karena tanpa nik dan kk pun kita sudah lama terdeteksi bahkan rumah kita pun google tau. Dan sekarang bebas di akses seluruh dunia.

  1. Luar biasa. Pak Dahlan dapat menjelaskan contoh aplikasi big data dengan sederhana. Bahasa sederhana. Mudah dipahami. Tidak menggurui. Ada nuansa humor.

    Sejauh yang saya ketahui (meski sangat sedikit), modal big data adalah informasi yang lengkap. Selengkap-lengkapnya. Dari berbagai sumber. Bisa dari internet, intel, tetangga, obrolan warung kopi, dan sumber-sumber lainnya. Info tersebut diatur, dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

    Penggunaan big data mirip dengan konstruksi model matematika. Bisa dijadikan materi perkuliahan. Dua atau tiga sks.

    Tak lupa, terima kasih untuk tulisan Pak Dahlan. Merci alias terima kasih, Pak Dahlan.

  2. Humornya bikin mikir, ditinggal mikir lali ketawa., begitu ingat bahwa seharusnya tertawa sudah terlanjur pusing. Lebih baik tertawa daripada terlambat ha ha ha

  3. Pada dasarnya, dengan segala macam data tentang target pemilih, mulai dari secara demografis, kemudian perilaku, hobi, kata-kata yang mereka pernah tuliskan atau ucapkan, tempat2 yang pernah mereka kunjungi, termasuk frekuensinya, disusunlah sebuah projection, prediction, atau forecasting tentang kecenderungan politis mereka. Lalu disusunlah strategi kampanye yang tepat. Apakah menyasar padangan liberal atau konservatif mereka, sesuai dengan isu2 yang sekiranya mereka sukai. Misal, dari segala data yang tersedia, bisa ditebak kalau si A pro kebijakan imigrasi yang ketat. Kemudian,dengan data-data akun media sosial mereka, dibombardirlah mereka dengan info-info tentang si kandidat yang menyerukan pengetatan aturan imigrasi, sekaligus dibuat kampanye serangan terhadap kandidat lawan yang punya pandangan yang lebih liberal terhadap itu. Pokoknya dengan data-data besar seperti, strategi kampanye dibuat dg isu2 yang disenangi calon pemilih. Kalau perlu, dibuat berita-berita yang membuat si pemilih untuk lebih mantap lagi memilih. Kira-kira seperti ini kali ya? Hehehe….Maaf, ini hanya khayalan terbatas saya saja.

  4. pak Dis harus di duetkan dengan cak lontong kalau seperti ini, biar semua pembacan dan penikmat ngikutin anjuran cak lontong ..MIKIr! he..he..he..

  5. jadi ingat film Minoritiy Report nya Tom Cruise. Di mana niat saja bikin kejahatan sudah bisa ditangkap. Untung Tuhan kita ngga begitu ya… Nonton lagi ah..

  6. sumber data dari ‘big data analisis’ bisa berasal dari berita dari news portal, atau bahkan unggahan kita di sosmed.
    selanjutnya, raw data tersebut dianalisis menggunakan aplikasi pengolah dan pemilah big data.

    salah satu contoh penggunaan analisis big data yang saya ketahui adalah berikut ini:
    1. analisis data twitter menggunakan social network analysis: http://master-fit.uii.ac.id/2018/03/04/the-war-on-mca/
    2. analisis data situs berita menggunakan aplikasi CrowdTangle: https://tirto.id/benarkah-menteri-susi-sediakan-20-bus-untuk-aksi-411-atau-212-cHia

  7. kebetulan. Semalam, saya dihubungi seseorang melalui ponsel. mengaku dari produsen susu formula. menanyakan kabar istri dan anak kami yang lahir beberapa bulan lalu. Apakah menggunakan asi atau susu formula? Kalau Furmula merk apa? Dari cara bicaranya memurut saya seperti sales marketing. Cuma saya tidak habis fikir,sebelumnya tidak sembarangan memberikan data pribadi. kecuali waktu mendaftar di RS. hanya itu. Apakah ini bagian dari Big Data???

  8. Masalah big data, lebih tepat masalah pemasok datanya, yaitu medsos atau online transaction termasuk fintek adalah privacy vs security.
    Kasus Cambrigde Analytical misalnya, apakah masuk cyber crime atau tidak, apakah melanggar prinsip2 demokrasi atau tidak.

    Yg pasti, masalah privacy vs security, kadang dibumbui National Security telah memakan korban terbunuhnya salah satu Directur CIA. (BTW : frase terakhir ini hoax krn cerita ini dari Film Bourne edisi terakhir yg dibintangi Alecia Vikander yg cantik & keren itu).

  9. Hehehehehe parah dah telanjang smw data2 kita, BPJS nanti mengirim data status kesehatan kita lgi, data bank membeberkan kredit yg tak kunjung lunas.

    Awas data KUA bocor, peran rumah tangga mengawali peran dunia 3.

    Kl pak. DIs gimana komentarnya dgn dokter Terawan?? Apakah akan berakhir seperti pak. BJ. Habibi hrs minggat dr Indonesia u berkarya.

  10. wow… baru segitu kita udah merasa ditelanjangi Y! padahal nanti di akhirat tidak ada satupun yang luput! astagfirullah

  11. Hahaha … Beli pecel dapat buntil. Tapi ini hampir mirip dgn cerita dari jepang, ada orang mau beli sesuatu akhirnya gak jadi karena si komputer penjual terlalu canggih hingga tahu detail ttg pembeli ….

  12. Ketawa ngakak sampai lupa mikir, begitu tertawa selesai, baru sadar klo saya juga lagi telanjang, atau lebih tepatnya, ditelanjangi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,167 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: