Merelakan Ditinggal Anak, Cucu, Menantu
Setengah Bionic

Merelakan Ditinggal Anak, Cucu, Menantu

Lolos dari Lubang Maut Aortic Dissection (2)

Saya sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit tapi sudah turun. Dari skala 9 (saat menuju rumah sakit) ke skala 6 (antara 1-10). Dengan rasa sakit skala 6 saya tidak mengeluh. Sudah jauh lebih ringan dibanding skala 9.

Sambil berbaring lemas, saya ingat. Sekarang sudah pukul 15:00. Saatnya berangkat ke Makkah. Dengan bus besar. Sejauh 450 km. Lima jam perjalanan.

Saya timbang-timbang kondisi badan saya. Berangkat? Kuat? Tidak? Kesimpulan: tidak kuat.

Memang bus besar itu hanya akan diisi 12 orang keluarga kami saja tapi badan ini lemas rasanya. Kepala juga masih berat. Akibat morphin dan suntik obat tidur.

Saya minta agar istri mengumpulkan keluarga. Di kamar saya. Saya putuskan: saya, istri dan anak wedok saya, Isna Fitriana tetap di Madinah. Sambil menunggu perkembangan kesehatan saya.

Selfi dengan latar belakang istri, anak, menantu, enam cucu di depan masjid Kubah, Madinah, sebelum ke kebun kurma.

Selebihnya harus berangkat ke Makkah. Terutama Azrul yang belum pernah ke Makkah. Tidak boleh gagal. Ivo, istri Azrul, memang sudah dua kali ke Makkah tapi kali ini harus mendampingi suaminya.

Tatang, suami Isna, yang juga sudah beberapa kali ke Makkah menjadi bapak asuh untuk enam cucu. Sekaligus menjadi tour guide umroh mereka. Saat ini bus besar mestinya sudah siap. Besok pagi, kalau keadaan membaik kami bertiga menyusul ke Makkah.

Mereka pun bergegas menyiapkan diri. Terutama perlengkapan ihram untuk enam cucu. Pasti tidak mudah mengatur mereka. Tidak bisa cepat.

Bus besar tidak boleh ngebut. Mereka baru tiba di Makkah tengah malam. Langsung ibadah umroh. Saya melihatnya dari kiriman foto dan video yang diperlihatkan istri saya. Saya hanya bilang ya ya ya.

Sakit saya masih datang pergi. Pergi datang.

Melihat kondisi saya yang tidak membaik, Isna mengajukan usul. Malam ini ada penerbangan langsung dari Madinah ke Jakarta. Bisa beli tiket baru. Tiba di Jakarta bisa masuk RS di Jakarta atau ke Surabaya dan langsung ngamar di rumah sakit Surabaya. Isna siap untuk tidak ke Makkah. Kalau ya berarti dua jam lagi harus ke bandara.

Saya coba bangun semangat. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Tidak bisa. Turun dari tempat tidur pun masih sulit.

“Tidak mungkin kalau malam ini,” jawab saya. “Tidak kuat.”

Isna kembali utak-atik handphone.

“Besok malam ada?” tanya saya.

“Ada juga,” jawab Isna.

“Beli. Untuk abah dan ibu,” kata saya. “Anda nyusul ke Makkah.”

Isna kelihatan ragu. Mungkinkah saya berdua bisa pulang dengan kondisi seperti ini?

Berulang-ulang saya yakinkan bahwa saya akan bisa sampai Surabaya dengan selamat. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Kenyataannya saat itu saya belum bisa duduk. Masih sesak.

Isna mencoba ngotot untuk ikut pulang. Tapi saya tolak. Tiga anak kecilnya lagi di Makkah. Sedang saya, seberapa sakit pun, adalah ‘’anak besar’’.

Malam itu Isna mencari kontak. Siapa tahu ada kenalan yang besok malam juga pulang dari Madinah ke Jakarta. Tidak berhasil.

Tapi Isna menemukan kontak lain: rombongan dokter dari Surabaya yang lagi berada di Madinah. Mereka adalah Prof Teddy Ontoseno, dr Raditya Bagus Parama Bambie, dr Dian Arumdini, dr Azwin Mengindra Putera Lubis.

Besan mereka juga tergabung dalam rombongan umroh itu: Prof Rowena G. Hoesin,
dr Rozalina Loebis SpM, dr Amir Hasan Loebis dan dr Irfani Prajna Paramita.

Mereka bergegas menengok saya. Dengan peralatan dokter seadanya yang mereka bawa. Malam itu saya lebih tenang. Dikelilingi banyak dokter. Aman.

Saya pun minta Isna menyusul suami dan anak-anaknya ke Makkah.

Dengan istri di depan masjid Kubah, Madinah.

Rupanya Isna juga mengabarkan sakit saya itu ke Robert Lai. Teman baik saya di Singapura. Robertlah yang paling tahu riwayat kesehatan saya. Robertlah yang paling gelisah saat saya sakit. Maka Robert memaksa Isna untuk menerbangkan saya ke Singapura.

Robertlah yang merawat saya hampir dua tahun saat saya sakit kanker hati dulu. Robertlah yang menjadi polisi atas kesehatan saya. Dia tinggalkan kesibukannya sebagai lawyer perusahaan internasional. Hanya untuk menjaga selama saya menjalani transplantasi hati.

Dialah yang mengurus semuanya: rumah sakit, dokter, mencari hati baru dan seterusnya. Kini dia memaksa saya untuk langsung ke Singapura.

Tentu saya tidak mau. Tidak mungkin. Toh ini, seperti kata dokter di Madinah, hanya soal pencernaan yang harus ditunggu agar kembali normal.

Malam itu, saat Isna berangkat ke Makkah, saya sabar menunggu pencernaan saya kembali normal. Saya masih begitu percaya pada keterangan dokter bahwa ini hanya soal menunggu normalnya pencernaan.

Saya tidak mengira ada bencana besar yang tidak diketahui dokter. (dis/bersambung)

February 10, 2018

About Author

dis


17 COMMENTS ON THIS POST To “Merelakan Ditinggal Anak, Cucu, Menantu”

  1. Untuk ketiga kali, Tuhan rela DIS menyelamatkan dirinya. pasti tuhan punya tujuan, dan sy berdoa tujuan tersebut adalah agar DIS tetap menulis.
    sejak kolom terakhir 2 Oktober 2017, wa & sms temen temen pada ribut. apa dis pensiun sebagai journalist? padahal, di hari pertama setelah siuman dari operasi “ganti hati” yg beliau cemaskan adalah ‘apakah saya masih bisa menulis seperti sebelumnya?’
    awal februari, dari seorang teman saya mendapat kabar bahwa tgl 9 feb jam 09.00 website resmi dis akan launching. sy menimpali, ‘Yes, the legendary journalist returns!!!’
    Cepet sehat & fit. Amin

  2. SUBHANALLAH….
    TERIMA KASIH ATAS TULISAN ABAH DIS KALI INI.
    TIDAK SEMUA ORANG MAMPU MENGHADAPI SITUASIONAL SEPERTI APA YG ABAH SAMPAIKAN.
    SEMOGA SEHAT WALAFIAT BAH..!!!

  3. Selalu ada pertolongan di setiap keyakinan, di sisa-sisa tenaga dan semangat, harus tetap bertahan menjadi kuat. Semoga selalu diberikan kesehatan seperti sedia kala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,988 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: