Menanti Kemampuan Menahan Diri
Catatan Harian, Internasional, Terbaru

Menanti Kemampuan Menahan Diri

Oleh: Dahlan Iskan

Kok tiba-tiba jadi panas begini? Dag-dig-dug begini? Presiden Donald Trump tiba-tiba saja bicara: lewat saja bandara Amerika Serikat. Yang mana saja. Boleh Houston. Boleh Dallas. Boleh San Diego. Boleh juga Miami.

Itu untuk menolong Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. Yang lagi kesulitan: harus transit di bandara mana. Saat Tsai Ing-wen pergi ke Paraguay. Nan jauh. Di Amerika Selatan. Yang tidak mungkin dijangkau langsung dari Taiwan.

Bulan depan Tsai Ing-wen memang perlu ke Paraguay. Ia harus ke sana. Untuk show of force. Paraguay adalah satu-satunya negara Latin yang masih mengakui Taiwan. Tsai Ing-wen harus unjuk gigi. Mumpung didukung Amerika. Habis-habisan. Tepatnya: didukung Trump. Yang lagi melancarkan perang dagang dengan Tiongkok.

Apalagi tahun ini ada empat negara lagi yang memutus hubungan dengan Taiwan. Kian sedikit saja negara yang masih mengakui Taiwan sebagai negara. Pendukung Taiwan satu persatu banting stir: hanya mengakui Tiongkok. Sebagai satu-satunya negara China. Tinggal 18 negara yang masih mengakui Taiwan.

Paraguay adalah yang terbesar. Sisanya negara-negara kecil. Negara-negara pulau. Umumnya yang di lautan Pasifik Selatan.

Terbang langsung dari Taiwan ke Paraguay terlalu jauh. Tidak ada jenis pesawat yang mampu menjangkaunya. Tidak mungkin transit di Kanada. Atau Meksiko. Atau Australia. Negara-negara itu tidak mengakui Taiwan.

Amerika sebenarnya juga hanya mengakui Tiongkok. Sejak era presiden Nixon. Hasil dari apa yang disebut diplomasi ping-pong. Sebelum kunjungan Nixon itu. Menlu Amerika, Henry Kissinger, ke Beijing. Main ping-pong di sana. Meratakan jalan untuk kunjungan Nixon yang bersejarah.

Maka move Trump kali ini bikin geger. Saya tidak bisa membayangkan. Betapa merahnya wajah Presiden Xi Jinping.

Bulan ini saja ditampar dua kali. Oleh presiden yang sama. Yang pertama tiga minggu lalu: saat dua kapal perang Amerika sengaja lewat selat Taiwan. Seperti sengaja menantang Tiongkok.

Bahkan sebenarnya bulan lalu pun Trump sudah menampar wajah Tiongkok. Saat Trump membuka kantor perwakilan di Taipei. Memang belum menamakannya kedutaan. Tapi itu sudah satu satu hook yang mengenai ulu hati.

Tiongkok sendiri tidak terlihat terpancing. Secara terbuka. Tiongkok harus pandai-pandai membawa diri. Rakyatnya sudah mulai marah. Ingin agar pemerintah Tiongkok lebih tegas. Tapi pemerintahnya harus bisa mengerem emosi rakyat itu. Agar perang tidak meletus.

Hanya saja diam-diam Tiongkok lagi latihan perang. Sejak dua hari lalu. Selama seminggu. Mulai hari itu kapal-kapal dagang tidak boleh lewat laut ini: timurnya Ningbo. Sampai ke timurnya Wenzhou. Di laut itu ada kepulauan Zhoushan. Yang sudah dirangkai dengan jembatan-jembatan antar pulau. Salah satu jembatannya sepanjang 28 km! Lebih panjang dari rencana jembatan Selat Sunda.

Latihan perang itu mencakup wilayah darat dan laut. Luasnya kira-kira sama dengan wilayah Taiwan. Wilayah itu dianggap Taiwan. Yang akan jadi pusat pertempuran. Kalau perang meletus. Seluruh kawasan itu dipakai latihan perang. Kalau hari ini Anda ke pulau Zhoushan Anda masih akan bisa melihat latihan perang itu. Kalau diperbolehkan.

Latihan perangnya pun sangat serius. Melibatkan semua angkatan. Semua persenjataan. Bahkan tembakan-tembakannya tembakan sebenarnya.
Tapi Tiongkok benar-benar harus pandai main layang-layang. Perang hanya akan membuat kemunduran. Tiongkok yang sudah begitu maju bisa mundur kembali. Dan itulah tujuan Donald Trump.

Jangan mau diadu domba. Seperti Timur Tengah itu.

Saya tahu. Bagi Tiongkok Taiwan adalah senyari bumi. Yang harus direbut sampai mati. Tapi kepala harus tetap dingin.

Biarlah sejarah akan mencatat: di tahun 2018 dulu, pernah hidup dua tokoh. Yang satu laki-laki playboy. Umur 72 tahun. Satu lagi wanita melajang. Umur 57 tahun. Dua-duanya jadi presiden. Satu di Amerika. Satunya lagi di Taiwan. Sama-sama mulut besarnya.

Sama-sama anti Tiongkok: Donald Trump dan Tsai Ing-wen.

Mereka merasa sukses: menimbulkan ketegangan dunia. Mungkin itulah puncak kepuasan batin mereka.

Hidup perdamaian!(dis)

July 21, 2018

About Author

dahlan iskan


17 COMMENTS ON THIS POST To “Menanti Kemampuan Menahan Diri”

  1. “Salah satu jembatannya sepanjang 28 km! Lebih panjang dari rencana jembatan Selat Sunda.”

    asli ngakak baca yg ini..

  2. Kl secara head to head Amerika vs Tiongkok kira2 menang mana ya? Di lihat dari kemampuan tempur armada perang nya..

  3. Politisi acap kali melakukan hal yg berbahaya layaknya bermain game. Hanya ingin menang. Game memang gampang “diseting” untuk menang. Politisi memang tak pernah merasakan kekalahan dalan bermain game itu. Kalau toh kalah, yg merasakan kekalahan adalah rakyat nya. sendiri saja.

  4. “Sadumuk batuk, senyari bumi” memang harus. Demi harga diri. Tapi jangan lupa, membangun peradaban lebih sulit dari menghancurkannya. Tiongkok, yang sabar ya 😁😁

  5. Trump dengan segala tipu daya khas amerika hanya akan kalah apabila Tiongkok berani mengirim Jacky chan atau jet li utk mengalahkan superhero-superhero fiksi mereka…

  6. Buat aja Game simulasi berdasar kekuatan perang US dan Tiongkok yang sebenarnya siapayang menang

  7. Smga aman sejatra d antara cinta segitiga mrka.
    Kasian para WNI perantau yg ratusan rb d taiwan kalo sampai kacau. Mrka harus balik dan memulai yg baru lg.

  8. Saya WNI keturunan Tionghoa. Lahir dan besar di Malang Jawa Timur. Saya sekarang tinggal di Papua. Saya pelanggan Jawa Pos dan penggemar DISway ( Pak Dahlan Iskan )
    Kakek dan nenek saya asli orang Tionghoa kelahiran Meixian Meizhou Guangzhou. Mereka berimigrasi sekitar tahun 1930 ( kakek ) dan 1940 ( nenek )
    Sekitar tahun 1960 an paman saya pulang ke Tiongkok, kuliah dan mengajar. Tetap harus kerja keras, kerja fisik sampai cedera punggung. Pindah ke Hong Kong sekitar tahun 1970 an. Pernah bekerja sebagai Konjen RI.
    Anak kami sekarang kuliah di Taiwan ( Kaoh Siung ), yang besar baru lulus dan diwisuda.
    Dalam rangka menghadiri wisuda; kami sempat mampir ke Guangzhou, Hong Kong, Taiwan ( Taipei, Tai Chung, Tainan, Kaoh Siung )
    Komentar saya atas tulisan pak Dahlan Iskan adalah sebagai berikut : Pertama. Ada kengerian dan ketakutan luar biasa ( trauma mendalam ) dari kalangan generasi tua atas Revolusi Budaya menyusul kemenangan Partai Komunis yang menguasai seluruh daratan Tiongkok. Mirip di Indonesia zaman pemberontakan PKI tahun 1965.
    Kedua. Kebebasan dalam berbagai bidang yang selama ini dinikmati warga Taiwan ( antara lain : kebebasan beragama, kebebasan pers, kebebasan dalam bidang sosial media ) yang tidak bisa dinikmati warga Tiongkok daratan.
    Tapi di sisi lain, kalau melihat Hong Kong sekarang; seharusnya tidak perlu terlalu kuatir. Karena Hong Kong tetap “bebas” walau di bawah otoritas Tiongkok.
    Ini pengamatan saya sebagai orang awam dan penggemar ebes DIS.

  9. Jangan sampai terprovokasi Amerika, kepala harus tetap dingin, kalau pecah perang cuma rakyat yang menderita, negara hancur. Penjual senjata yang menang, dalam Hal ini Amerika. Jadi buat apa mau di adu domba?

  10. udah gak sabar nunggu abah DI menulis tentang pertamina dan bandara kertajati yang sempat abah utarakan beberapa waktu yang lalu….hehehe

  11. Biarlah sejarah akan mencatat: di tahun 2018 dulu, pernah hidup dua tokoh.
    Yang satu laki-laki playboy. Umur 72 tahun. Satu lagi wanita melajang. Umur 57 tahun.
    Dua-duanya jadi presiden. Satu di Amerika. Satunya lagi di Taiwan. Sama-sama mulut besarnya.
    Hahahahahahaha…
    Saya jadi ingat petuah Pak Dahlan, begini :
    Ada 4 jenis orang. Pertama : “Mulutnya besar, tapi kerjanya nol besar”.
    Kedua : “Mulutnya besar, tapi kerjanya juga besar”.
    Ketiga : “Mulutnya kecil, tapi kerjanya juga kecil”.
    Keempat : “Mulutnya kecil, tapi kerjanya besar”.
    Kira-kira keduanya termasuk golongan yang mana ya…?
    Insha Allah orang Indonesia, “Mulutnya kecil, tapi kerjanya sangat besar”. Aamiin.
    Banyak bekerja dalam kesenyapan. Tapi tidak identik dengan maling lho ya.
    Hihihihihihihi…

    Salam “Super Power Indonesia”,
    bagi seluruh Bangsa Indonesia,
    untuk saat ini dan masa-masa mendatang.

  12. Perang dingin jaman old dan perang dagang jaman now sejatinya mmemang diperlukan supaya ada keseimbangan baik politik maupun ekonomi antara timur – barat/utara. Yg ngeri2 sedap adalah terjadinya perang terbuka. Apakah pepatah “gajah bertarung pelanduk mati ditengah” terbukti atau justru pelanduk (jepang/korea) yg akan menggatikan gajah yg sekarat itu?

  13. Yang satu laki-laki playboy. Umur 72 tahun. Satu lagi wanita melajang. Umur 57 tahun.
    Dua-duanya jadi presiden. Satu di Amerika. Satunya lagi di Taiwan. Sama-sama mulut besarnya.
    Hahaha gara2 laki-laki playboy dan wanita melajang jadi ga tentram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,193 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: