Live Streaming dari Mas Joko
Catatan Harian, Jurnalistik, Terbaru, Uncategorized

Live Streaming dari Mas Joko

Oleh: Dahlan Iskan

Saya bingung. Dua hari putus hubungan. Saya telpon tidak diangkat. Saya WA tidak dibalas.

Saya mulai khawatir: sakitkah ia? Di manakah ia?

Yang saya cari itu Joko Intarto. Yang mengatur tulisan-tulisan saya. Agar bisa muncul di disway.id. Tepat waktu.

Mas Jokolah yang membuat saya membangun disway. Yakni saat ia tahu. Kok tulisan saya tidak pernah muncul lagi di koran. Ia pun tahu. Saya tidak bekerja di koran itu lagi.

“Saya ini pengagum tulisan pak Boss. Ayolah nulis terus,” katanya suatu saat. Ia selalu memanggil saya ‘pak boss’. “Saya bikinkan korannya. Di dunia maya. Gak perlu kertas. Gak perlu mesin cetak,” katanya.

Saya tahu maksudnya: bikin blog. Saya ragu. Selama ini toh sudah banyak blog yang menggunakan nama Dahlan Iskan. Atau Iskan Dahlan. Atau dahlan_iskan. Atau iskan_dahlan. Atau bentuk lain yang mengkombinasikannya dua kata itu.

Saya bilang ke mas Joko: saya tidak mau bikin blog. Biarlah blog yang menggunakan nama saya itu tetap dikira blog saya.

Saya tidak keberatan. Bahkan berterima kasih. Toh isinya baik: meng-up-load tulisan-tulisan saya. Atau tulisan tentang saya.

Tapi mas Joko mendesak terus. Saya menyerah. Saya tahu orang Grobogan Jateng ini tulus. Selalu tulus. Sejak muda dulu.

Saya ingat ini: saat saya masih memimpin koran itu. Kantornya masih di desa: Karah Agung Surabaya. Untuk mengirim koran ke luar kota pun harus dipikul. Ke jalan yang belum jadi.

Waktu itu saya lagi ingin bikin koran di Palu. Di kota yang amat kecil. Kala itu. Saya tidak tahu siapa yang bisa memimpin koran di Palu.

Kebetulan hari itu ada rapat umum karyawan koran Surabaya itu. Biasa. Lesehan di lantai. Saya mulai tidak kenal beberapa karyawan. Yang sudah mulai banyak. Apalagi karyawan yang baru. Yang masih muda-muda belia.

Di akhir acara saya umumkan: rencana bikin koran di Palu. Saya ceritakan betapa kecilnya kota Palu. Betapa sepinya. Betapa jauhnya.

Saya tidak ingin menugaskan seseorang ke sana. Tidak tega. Khawatir menerima tugas itu dengan setengah hati. Mana ada yang mau ditugaskan ke daerah seperti itu? Tanpa janji kesejahteraan yang terjamin?

“Saya ingin tahu. Adakah di antara kalian yang mau ke Palu? Memimpin koran di sana?, β€œ kata saya. Dengan setengah hati. Dengan pesimisme yang tinggi.

Tantangan itu saya ucapkan sambil setengah bercanda. Tidak berharap sedikit pun akan ada yang unjuk tangan.

Ternyata ada sebuah tangan terangkat ke atas. Dari kerumunan di belakang sana. Anak muda sekali. Anak baru. Atau agak baru.
Saya kaget.

“Siapa yang angkat tangan itu,” tanya saya.

Semua tertawa. Tidak jelas apa maksudnya.

“Saya pak. Joko Intarto. Wartawan baru. Saya mau ditugaskan ke Palu,” katanya lantang.

Hah? Wartawan baru?

Ganti saya yang kelabakan. Akankah koran itu akan dipimpin seorang wartawan baru? Yang umurnya belum 25 tahun? Yang baru lulus Undip Semarang? Yang masih bujang? Menjabat redaktur pun belum pernah?

Saya putuskan detik itu juga: jadi!

Rasanya mas Jokolah pimpinan termuda dalam sejarah koran di Indonesia.

Mas Joko profil anak muda yang ringan kaki. Apa saja dikerjakan. Tanpa perhitungan untung rugi. Bagi dirinya.

Sejak ia berhenti dari koran itu saya hanya sesekali bertemu. Saya tahu: mas Joko mengerjakan bisnis jasa. Terkait internet.

Ia punya kapasitas menangani tulisan-tulisan saya. Ia mampu mendesain blog khusus untuk saya.

Tapi, apa nama blognya?

Saya sih terserah saja.

Mas Joko mengajukan sejumlah nama. Termasuk “Disway”. Diambil dari judul salah satu buku. Yang berbicara tentang saya.

Saya berusaha menghubungi penulis buku itu. Untuk minta restu menggunakan nama disway.

Begitulah. Tidak terasa umur disway sudah beberapa bulan. Tidak pernah bolong. Tiap hari saya menulis untuk disway.

Kadang saya tilpon mas Joko. Minta deadline mundur beberapa menit. Menunggu peristiwa baru di luar negeri. Yang lagi hangat.

Kadang saya tilpon ia: ada tulisan yang salah. Dikoreksi pembaca. Agar dibetulkan.

Tapi minggu lalu saya kehilangan kontak. Saya bingung: sakitkah mas Joko?

Ke mana ia? Tapi email saya kok tetap masuk ke emailnya? Dan tulisan saya kok tetap bisa muncul di disway?

Baru Rabu lalu saya lega: mas Joko baik-baik saja. Saat ‘hilang’ itu ternyata ia lagi sibuk urusan 212. Ia ngurus persiapan live streaming dari Monas. Agar acara itu bisa diikuti publik. Karena banyak tv yang no signal.

Dua hari dua malam mas Joko tidak tidur. Bagaimana bisa membuat live streaming itu on. Tanpa memungut bayaran. Sedikit pun. Saya terharu membaca tulisannya. Tentang suka duka menyiapkan live streaming itu. Seperti yang saya baca di facebook. Yang juga banyak dishare di grup-grup WA.

Nah, saya sudah menulis 212 kan? (dahlan iskan)

December 6, 2018

About Author

dahlan iskan


58 COMMENTS ON THIS POST To “Live Streaming dari Mas Joko”

  1. Benar pak mentri,anda sudah menulis 212,walaupun dari sudut pandang yg sangat menarik( mendekati Wiro ),pantas beberapa hari yg lalu disway muncul lebih awal,ternyata otomatis toh,hebat,terima kasih pak mentri,terima kasih pak Joko,yg tentu sdh bukan joko lagi tentunya.

  2. …Pak Dahlan ini spt rawuh, jabat tangan, kondur… Tapi mampir ke dapur ikut kerja di dapur..tooop memang perlu menonjolkan siapa yg kerja di belakang…sukses pak Dahlan dan nuwun kerja kerasnya pak Djoko selama ini…

    • Tapi dilihat dari akhir kalimat kan kesannya hanya untuk memenuhi permintaan pembaca saja…dan sudut penulisannya pun ambil yg aman (hehe aku ini ngomong apa sih, padahal entah pak Andi maksudnya apa)

  3. Hahahahahahaha…
    Abah DIS benar…
    Sudah nulis 212..
    Saya juga bisa mengikuti jejak Abah…,
    Menulis 212, tapi hanya dalam bentuk angka saja.

  4. Media massa sebagai salah satu pilar demokrasi, sudah mengambrukkan dirinya sendiri.
    Yang gerombolan sebelah, miring kekanan.
    Yang satu itu, miring kekiri.
    Sama-sama ndak jejeg.

    Semoga Pak DI tetep jejeg, menjaga kewarasan kita bersama.

    Miring-miring dikit, bolehlah

  5. Syukur alhamdulillah ternyata dibelakang disway itu seorang hebat dan ikhlas, joko intarto. Yang juga dibelakang live streaming reuni 212. Salut sama om Joko. Bos sama anak buah pekerja ikhlas. Semoga abah dan om Joko diberkahi sisa umurnya dan keluarganya.amin

  6. Saya menyebutnya pakde JTO
    Saya banyak tahu tentang pak DI dari tulisan pakde JTO melalui fb dulu phto profinya sedang duduk dikursi, saya kira pakde JTO itu orangnya berbadan tinggi tegap tapi ternyata setelah saya bertemu di kantornya di bilangan tebet timur beberapa thn lalu pakde JTO tidak tinggi dan tidak tegap cuma berbadan sedang dan tidak ganteng ternyata hati dan ketulusanya yg dominan ganteng.
    Semoga sehat selalu pakde JTO dan Abah DI kami selalu butuh petuahmu

  7. Mas Joko Intarto dan Pak Dahlan Iskan memang sahabat lama. Saat Mas Joko masih baru2nya jadi wartawan koran JP, pernah Pak Dis kasih memo ke bendahara untuk membantu Mas Joko agar bisa kredit motor. Tapi ternyata, walaupun Pak Dis ini big bos di JP, urusan uang ia tidak bisa mempengaruhi. Karena, ternyata bendahara menolak memo nya. Dikarenakan Mas Joko masih wartawan baru di JP. Dan belum boleh kredit motor. Makanya heran aja saat Pak Dis dituduh korupsi. Sedangkan di perusahaannya sendiri saja, memo nya kagak laku.

  8. Luar biasa Mas Joko, wartawan tulen, ngadeg jejeg, memberitakan realita di depan mata dgn cara yg luar biasa, mental nya Mas Joko ini perlu di ‘cloning’ ke wartawan lainnya yg lagi ‘tdk’ peduli dgn realita.

  9. Wah cerita pak joko intarto dulu ternyata keren juga ya … yg cerita ttg setup streaming live reuni 212 jg keren … dan Abah selalu bisa menghidupkan cerita … selalu bisa menginspirasi .. terimakasiiiiih πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

  10. hhhh, sekarang redakturnya jadi headline, selaman om Jto ..
    212 yang dapat panggung om Jto, tahun depan sepertinya 212 harus lebih prepare yang benar2 kalo bisa dari sekarang narik kabel ke tengah2 monas hahahahaha
    atau nyari anggota disway yang bekerja di satelite biar bisa nembak

  11. Pagi2 sudah menginspirasi…
    Meski melirik sedikit..
    Namun biasanya yg sedikit itu bikin penasaran.πŸ˜πŸ€—
    Terimakaish Abah..πŸ™

  12. Sejak pak Dahlan tidak di koran itu, saya malas baca koran itu. Dulu, tiap hari harus baca itu koran. Minimal halaman depan pojok kanan bawah.
    Sekarang, beberapa tahun terakhir ini hidup saya kok tambah damai tanpa baca koran itu. Tepatnya setelah koran itu ‘selingkuh’ dgn penguasa.
    Tugas jurnalis itu menulis apa adanya. Bukan menyembunyikan yg ada. Atau memoles Gareng supaya seperti Arjuna.

  13. Semoga kita melihat ketulusan Mas Joko dengan jernih tanpa terpapar posisi kita sudah condong kemana menyikapi 212. Contoh keulatan, keberaniaan dan kesungguhan beliau mestinya bisa menginspirasi siapapun..

  14. Rupanya bapak ini yg kisahnya banyak beredar di gruo WA dan medsos, ttg seseorang yg menyediakan akses internet utk Reuni 212. Terimakasih, pak, smga Allah membalas sedekah dan ketulusan berlipat ganda. Utk pak DI jg.

  15. “Nah, saya sudah menulis 212 kan ? ”
    Iya sih, nulis 212, tapi cuma angkanya, cuma kulitnya saja, bukan isinya.
    Hmmm… seperti hanya untuk Tolak sumpah saja.
    Abah DI curang ih…

  16. Aduh Abah, heheheheheh, Abah juga 212 (Pendekar di jagad raya wartawan), jazakumulloh ahsanal jazaa, untuk KangMas Joko Internasional, yang telah menyiapkan live streaming yang bagus dan memuaskan dalam acara aksi damai 212 di Monas, semoga tambah disayang Alloh dan dibanggakan oleh Rosululloh.

  17. Aduh Abah, heheheheheh, jadi terharu dan campur aduk rasanya.
    Abah juga 212 (Pendekar di jagad raya wartawan).
    Jazakumulloh ahsanal jazaa, untuk KangMas Joko Internasional, yang telah menyiapkan live streaming yang bagus dan memuaskan dalam acara aksi damai 212 di Monas, semoga tambah disayang Alloh dan dibanggakan oleh Rosululloh.

  18. “tetap harus jejeg”, tetapi jejeg di jalan yang benar, berfihak kepada yang benar. kalau jejeg itu di artikan “ditengah” ada kezholiman diam, ada kebaikan diam, maka hidup itu tak ada artinya bagi saudara yang lain. sedangkan nabi mangatakan “sebaik2 kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. jazakallah om JTO semoga tambah berkah dengan wasilah 212.

  19. Abah, uagn digital skrg tambah marak dan makin cepat geraknya lho dipicu sama pergerakan massive para unicorn2, pake gopay/ovo/etc bisa bayar mcD, kfc, byk resto2, bayar bills….ditunggu updatenya abah…:-)

  20. Huhuhu.. bukan no signal, tp no nyali, kalau ada yang coba coba menyiarkan pasti langsung di tabok genderuwo, berani?..

  21. Saya selalu membaca blog ini mulai hari kedua bloh ini ada. Blog ini adalah blog yang selalu saya buka setiap bangun tidur, karena updatenya paling pagi dan tidak pernah bolong. Terima kasih pak Joko dan Pak Dahlan.

  22. Assalamualaikum, wr, wb.
    Terima Kasih Banyak kepada Mas Joko Intarto yg punya andil besar atas berdirinya blog in, semoga Berkah dan Rahmat Allah selalu menaungi Beliau dan Abah…
    oh Ia Mimin, itu kok linknya g bisa di buka, padahal penasaran banget…
    trima kasih

  23. Mas Joko, terimakasih berjuta juta kasih atas jerih payahnya menghadirkan streaming 212. Semoga berkah Allah selalu untuk njenengan.

  24. 212 pertama di disway.. πŸ˜‚πŸ˜‚

    Sudah inisiatif “searching” di kolom pencarian, tapi belum ada tulisan yang ditemukan..
    Akhirnya ya abah… πŸ™‚

  25. Masih setia membaca. Juga setia menunggu tulisan2 sensitif tentang Indonesia ygg agak nyrempet2 bahaya dari abah….. mudah2an faktor U tdk membuat abah jd penakut😁😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,212 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: