Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung
Setengah Bionic

Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung

Lolos dari Lubang Maut Aortic Dissection (1)

Saya jatuh sakit lagi. Serius. Sangat serius. Akhir Desember lalu. Saat menjalani Umroh bersama keluarga. Pembuluh darah utama saya koyak. Koyakannya panjang sekali.

Pembuluh utama yang disebut aorta itu diameternya 4 cm. Yang tugasnya mengalirkan dengan deras darah yang baru keluar dari jantung. Yang akan membawa darah ke seluruh badan: ke otak, ke lengan, ke organ-organ di sekitar perut dan ke seluruh bagian bawah badan.

Akibatnya, pasok darah ke perut, liver, ginjal, pankreas, dan kearah dua kaki saya terganggu berat. Bagian-bagian itu sakit semua. Hanya saja otak saya tidak terganggu. Saya masih bisa mikir. Apa yang harus saya lakukan. Semula saya tidak tahu kalau aorta saya koyak. Tahunya dada sakit, punggung sakit, tidak bisa bernafas, perut terasa penuh sesak, tidak bisa kentut dan tidak bisa pup.

Karena dada dan punggung sakit, saya mengira lagi kena serangan jantung. Sakitnya bukan main. Menyiksa. Nafas tersengal. Dada nyeri. Punggung sakit. Perut sesek. Tidak bisa kentut. Tidak bisa pup.

Saat siksaan itu terjadi saya lagi tiduran di kamar hotel saya di Madinah, Arab Saudi. Lagi menunggu azan dzuhur yang masih lama. Tiba-tiba saja tidak bisa bernafas. Saya terpaksa bangun dan berdiri.

Agar bisa bernafas. Itu pun harus dalam posisi wajah menengadah dan mulut terbuka. Dada nyeri. Punggung sakit. Perut sesak.

Saya kian berkesimpulan saya kena serangan jantung. Saya pun memberitahu istri bahwa saya kena serangan jantung. Sambil memukul-mukul dada yang nyeri. Dan wajah terus dalam posisi menengadah. Agar bisa bernafas meski sangat berat.

Istri memberitahu anak-menantu di kamar lain. Secepat kilat seluruh keluarga sudah berkumpul di kamar saya. Panik. Saya tidak bisa bicara. Hanya terus nerocos yang kurang jelas bahwa saya kena serangan jantung. Cepat bawa ke dokter. Atau rumah sakit terdekat.

Istri saya terus menyiramkan sisa minyak kayu putih ke dada dan punggung saya. Azrul Ananda, anak saya, memapah saya menulusuri lorong menuju lift. Isna Fitriana, anak wedok saya, sibuk dengan handphonenya mencari hubungan dokter dan rumah sakit. Tatang, suami Isna, lari ke bawah mencari taksi. Ivo, istri Azrul menenangkan enam cucu yang ikut kumpul dan melongo semua.

Sepanjang dipapah di lorong menuju lift saya terus berusaha mengatakan bahwa saya kena serangan jantung. Sambil memukul-mukul dada. Maksud saya agar saya mendapat prioritas lift.

Di sepanjang loby saya juga terus berusaha teriak bahwa saya kena serangan jantung. Siapa tahu ada dokter di kerumunan orang di loby itu.

Ke luar hotel, melewati parkir, taksi sudah siap. Sedan. Cukup tiga orang: Azrul, Tatang dan saya. Saya terus bicara keras sebisa saya. Bahwa saya kena serangan jantung. Suara saya memang tidak jelas karena posisi saya harus terus menengadah dan mulut terus membuka.

Tapi sopir taksi cukup baham kata-kata “I got heart attack” yang terus saya ucapkan secara darurat. Saya rasakan sang sopir lagi zig-zag. Menerobos lalu-lintas kota Madinah yang ramai. Bahkan saya lirik taksi ini memotong jalan. Melanggar aturan. Demi cepat mencapai rumah sakit. Dalam hati saya memuji keberanian sopir melanggar aturan itu.
Azrul memapah saya menuju UGD. Tatang membereskan taksi. Sepanjang dipapah menuju ruang UGD nafas saya masih tersengal. Hanya bisa bernafas dalam posisi wajah menengadah. Dan mulut membuka. Tapi, meski suara kurang jelas, saya terus mengucapkan kata-kata bahwa saya lagi kena serangan jantung. Agar perawat dan dokter di situ ambil perhatian serius.

Benar saja. Perawat bergegas membawakan kursi roda. Mendorong saya menuju ruang perawatan. Membaringkan saya di tempat tidur pemeriksaan. Tapi begitu berbaring saya terjunggit bangun. Saya tidak bisa bernafas dalam posisi berebah. Dokter langsung membuat tempat tidur itu dalam posisi tegak separo. Agar saya bisa diperiksa dalam posisi setengah duduk. Sambil nafas terus tersengal, wajah menengadah dan mulut terbuka.

Madinah lagi musim dingin. Udara kering. Bibir kering. Tenggorokan yang terus membuka ikut kering. Saya minta Azrul, yang terus memijiti punggung saya yang nyeri, untuk meneteskan air ke tenggorokan saya yang terus membuka. Setiap lima menit. Saya masih bisa berfikir tenggorokan itu bisa luka. Dan menimbulkan persoalan tersendiri.

Azrul Ananda terus memijiti punggung bapaknya selama di RS Madinah

Saya menengok wajah dokter. Arab. Terlihat dari wajah, brewok dan pakaian gamisnya. “Saya kena serangan jantung,” kata saya padanya. Beberapa kali. Sambil memukul dada yang sakit. Punggung saya juga sakit dan perut saya terasa penuh sesak.

“Dari mana kamu tahu kena serangan jantung,” tanya dokter.

“Sepupu saya meninggal minggu lalu. Dengan gejala yang sama,” jawab saya tersengal.

Seminggu terakhir ini keluarga saya dari Magetan memang terus menceritakan drama meninggalnya KH Ridlo Tafsir, kyai kami di Takeran, Magetan. Akibat serangan jantung. Saya begitu terpengaruh kisah-kisah itu. Tapi setidaknya, dengan mengatakan kena serangan jantung, dokter segera ambil tindakan.

Saya lihat ada dua tempat tidur pemeriksaan di ruang itu. Beberapa pasien diperiksa di kursi roda. Atau di kursi. Ada perawat berkebangsaan Filipina yang bisa berbahasa Indonesia.

Dialah yang memarahi saya agar tidak terus berteriak kesakitan.
Saya tidak memperdulikannya. Dia tidak tahu tersiksanya badan saya.

—–o—–

Dokter Madinah ini bergegas menyiapkan alat-alat pemeriksaan jantung. Di kanan kiri tempat tidur saya. Perekaman jantung dimulai. Stetoskop dipindah-pindah: dari dada kiri, dada kanan, bagian-bagian di perut dan punggung.

“Jantung Anda prima. Baik sekali,” ujar dokter setelah membaca print out rekaman jantung. “Anda ini tidak apa-apa. Anda boleh kembali ke hotel,” ujar dokter tersebut.

Kata-kata dokter itu diucapkan dengan nada tertentu. Seperti menyalahkan saya. Memojokkan saya. Sok tahu kena serangan jantung. Bikin ruangan bising. Bikin semua perawat sibuk.

Meski dipojokkan begitu saya lega. Jantung saya ternyata dalam kondisi prima. Menjadi pasti sakit saya ini…..bukan serangan jantung. Berarti tidak akan mati mendadak. Tapi sakit apa?

Dahlan Iskan saat pertama ditangani dokter dan perawat di RS Madinah.

Saya tidak mau meninggalkan rumah sakit. Nafas saya masih sesak. Masih tersengal. Posisi badan pun masih serba salah. Serba sakit. Dada masih nyeri. Punggung masih sakit. Perut masih terasa sangat penuh. Saya menolak pergi dari RS. Tapi saya tidak panik lagi. Sudah lebih tenang. Sudah ada penegasan saya tidak kena serangan jantung. Tidak akan segera menyusul Kyai Ridlo Tafsir, sepupu saya itu. Tapi saya ini sakit apa?

Saya pun menceritakan asal usul apa yang terjadi sebelum sakit ini. Dokter mau mendengarkan. Lalu memeriksa lebih teliti perut saya. Rupanya dia melihat perut saya memang bergejolak. Akibat makanan-makanan yang dengan rakus saya lahap sepanjang pagi itu.

Dokter tidak lagi memaksa saya meninggalkan rumah sakit. Saya benar-benar tidak kuat menahan sesak nafas, nyeri dada, sakit punggung dan perut yang sesek. Sebagai gantinya dokter minta suster untuk menyuntik saya morphin. Dua kali suntikan. Untuk menghilangkan semua rasa sakit itu.

Saya pasrah saja.

Azrul menawari saya apakah ingin minum minuman hangat. Misalnya coklat panas. Untuk selingan agar tidak terus meneguk air putih. Saya mengangguk. Tatang, menantu saya lari mencari coklat panas.

Setelah coklat segelas kecil saya teguk habis dokter bertanya: minum apa itu? “Coklat,” kata Azrul. Dokter pun marah.

Saya tidak boleh makan atau minum apa pun kecuali air putih. Pencernaan saya harus diistirahatkan setelah tadi padi terlalu banyak macam-macam isi.

Dua kali suntikan morphin itu ternyata tidak mempan. Sakit-sakit itu tidak terasa berkurang. Saya terus berbising. Tidak tahan. Akhirnya dokter memberi isyarat kepada perawat. Sambil menggerakkan tangan, sambil mengedipkan mata. Isyarat untuk memberikan suntikan rahasia. Saya bisa menduga isyarat rahasia itu: disuntik obat tidur.

Benar saja, perawat mengambil alat suntik. Tanpa memberitahu obat apakah itu. Langsung menyuntikannya. Saya tahu. Itu obat tidur.

Saya pasrah.

Hanya saja obat tidur itu juga tidak bisa membuat saya tidur. Rasa sakitnya melebihi kekuatan obat tidurnya. Tapi saya tidak punya kekuatan untuk bising lagi. Saya lemas. Sakitnya tetap, tapi lemas.

Setengah jam kemudian dokter memutuskan saya harus meninggalkan rumah sakit. Sudah lima jam saya mendominasi gawat darurat. Saya tidak punya kekuatan lagi.

Menyerah.

Dokter menegaskan bahwa saya harus sabar. Menunggu pencernaan saya memproses secara alami segala makanan berat yang saya lahap. Nanti akan normal kembali. Tunggu saja. Pulanglah ke hotel. Begitu kata dokter.

Saya pun meninggalkan rumah sakit Madinah. Entah apa nama rumah sakit itu. Badan masih sakit. Lemas. Saya dipapah Azrul dan Tatang.

Sempoyongan.

Tiba di loby hotel perut saya bergejolak. Mungkin akibat zig-zag di dalam taksi. Tapi berhasil naik lift.

Tiba di lorong menuju kamar, tiba-tiba saya muntah. Luar biasa banyak. Di atas karpet yang empuk dan tebal. Seisi perut seperti tumpah semua.

Muntah itu membuat saya merasa lega. Perut tidak lagi sesek. Saya bisa lebih mudah bernafas. Tidak harus lagi selalu dalam posisi menengadah. Istri memandikan saya dengan sisa minyak kayu putih. Isna memberi saya minum air hangat.

Habis muntah saya kian lemas. Tapi saya bisa berbaring. Bisa bernafas dalam posisi berbaring. Maka saya tergolek di tempat tidur. Dada masih nyeri sekali. Punggung masih sakit sekali. Hanya perut tidak lagi sesek.

Sampai di sini fokus sakit saya masih di seputar pencernaan. Tidak ada kecurigaan ke yang lain. Apalagi ke saluran darah utama yang robek. Saya terus terngiang kata-kata dokter: nanti akan sembuh sendiri. Berilah waktu pada pencernaan untuk bekerja secara alami.(dis/bersambung)

February 9, 2018

About Author

dis


32 COMMENTS ON THIS POST To “Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung”

  1. seperti biasanya klo baca tulisan abah, kya abis bungee jumping trus naik halilintar….seru2 lemes gitu heeehe 🙂 #sukses utk pak jto n mas zaini

  2. pak Dis, sy pengagum tulisan Bapak, teringat kisah ganti hati yg sdh sy baca beberapa kali,
    kita seperti dibawa merasakan kondisi bapak sesungguhnya .
    cepat sembuh dan panjang umur, amin!

    • di home, klik menu garis 3 horizontal (paling kanan), akan muncul side area. scroll ke bawah ada kolom subscribe. Makasih

  3. haaa.. mana tahan nunggu sambungan tulisannya.. kapan keluar lagi?

    Semoga pak DIS sabar dan ikhlas menjalani semua penyakit yang dialaminya, inshaAllah menjadi penggugur dosa-dosanya..
    apa bisa minta maaf kepada keluarga, teman, handai taulan, kolega, vendor, supplier, dll siapa pun yang pernah berada dan berinteraksi dalam kehidupan pak dis.. mungkin ada kesalahan-kesalahan yang belum termaafkan mereka.. juga mohon ampun kepada Allah terus menerus.. apa mungkin masih ada dosa RIBA yang dilakukan?..

  4. Semoga pak Dis diberikan kesabaran dan Allah memberikan kesembuhan allah angkat segala penyakit yang ada dalam tubuh pak dis dan rasa sakit pak dis menjadi penggugur/pengurang dosa-dosa bapak, aamiin

  5. saya mendoakan abah dis di beri panjang umur serta barokah. sumber inspirasi semua orang jangan di ambil dulu ya rabb… alfatihah…

  6. Seketika sedih, perjuangan abah luar biasa, selama ini sempat bertanya tanya knp abah tdk aktif di twitter ternyata abah sakit, krn saya tidak menggunakan sosmed kecuali twitter dan hanya mengetahui perkembangan berita dri sini.. abah sehat selalu semoga Abah selalu diberi kesehatan

  7. Kisah Bapak yang luar biasa sangat bermanfaat bagi yang lain. Tetap semangat, terus jaga kesehatan dan pola hidup yang lebih baik. Get Well Soon. Semoga lekas pulih kesembuhan, selalu terberkati dan panjang umur untuk terus memberi manfaat dan berkat kebaikan pada semua. Sadhu”‘… Amin. Terima kasih pak.

  8. Kata Internet Bukan Jantung Tapi Lambung

    Tak terhingga bahagianya ketika rencana liburan keluarga saya akhir tahun dibatalkan Abah karena Abah ingin kami semua berangkat umroh.
    Kami sampai di Madinah sore hari, lanjut beribadah di masjid Nabawi bersama seluruh keluarga hingga malam hari.
    Indahnya luar biasa.
    Dini harinya Abah yang paling bersemangat pukul 02:30 sudah mengetuk semua kamar kami untuk beribadah ke masjid.
    Sekembalinya dari masjid kami sarapan di hotel. Acara selanjutnya hari itu city tour. Kami benyanyi, bergurau, bahkan bercerita sepanjang perjalanan bersama seluruh anak dan cucu. Kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak sambil menunggu waktu dzuhur tiba.
    Belum juga sempat berganti baju, kamar saya yg terletak berseberangan diketok dengan kerasnya. “In…Abah In… Abah In…” teriak ibu saya.
    Berlarilah saya ke kamar Abah. Di sana, Abah sudah dalam posisi berdiri memegang dada dan tampak sulit bernafas. Sembari kesakitan, Abah terus berteriak. “Jantung! Ini jantung! Abah kena serangan jantung!”
    Berusaha tidak panik, saya coba menenangkan Abah dengan bertanya sakitnya dimana? Abah terus memukul dadanya dan memukul punggung atas saya mengisyaratkan sakitnya sampai ke punggung.
    Saya angkat telpon meminta dokter, ambulans, dan kursi roda kepada hotel. Tak segera ada respon. Saya panggil kakak dan suami agar segera membawa Abah turun ke lobby walau harus dibopong.
    Saya harus tetap di hotel karena ada ibu yang juga perlu ditenangkan dan anak anak yang sama bingungnya.
    Setelah itu kami yang di hotel hanya bisa menunggu kabar dari kakak dan suami saya yang ke rumah sakit. Sambil menunggu saya terus browsing mengenai serangan jantung dan keluhan perut. Tidak saya temukan gejala serangan jantung yang sakitnya menembus sampai punggung.
    Yg saya temukan malah GERD yaitu asam lambung yang naik hingga kerongkongan. Gejalanya disebutkan seperti serangan jantung. Tapi sakitnya tembus sampai belakang.
    Oh apa ini yg dialami Abah? Saya terus bertanya tanya. Saya juga menghubungi Dokter di Surabaya sambil berkonsultasi lewat telepon. Sambil menunggu.

    Isna Fitriana Iskan

  9. Sepertinya rmh sakit sana kurang care ya pak . Masih mendingan rmh sakit di indonesia dong. Minimal pasti dirawat inap apabila pasien masih sakit.
    Semoga pak dahlan cepat sembuh ya..

    • iya ya, kok sakit separah itu penanganan-nya spt hanya nangani sakit flu, sya pernah sakit yg hanya diare tp khawatir dehidrasi aja oleh RS diperiksa lengkap, test darah lengkap, USG, ct scan dsb, sampai sya mikir dlm hati, sya ini hanya perlu infus krn diare gegara salah makan…. lhah ini pecah pembuluh darah kok ngga ketahuan ya, pdhal kan RS Madinah yg melayani jemaah umroh dr seluruh dunia.. untung takdir Abah msh tertolong, bonus hidup ketiga ini Abah, setelah bonus hidup kedua wkt tranplans lever.

  10. saya termasuk pengagum tulisan bapak….saya yakin tulisan bapak banyak membantu orang2 untuk lebih mengerti kesehatannya.
    terimakasih pak….semangat terus…berguna bagi bangsa n negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,988 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: