Lambatnya Kereta Cepat
Catatan Harian, Internasional

Lambatnya Kereta Cepat

Amerika sudah lebih dulu bangun kereta cepat. Rencananya. Misalnya jurusan Las Vegas – Los Angeles ini. Rencana itu sudah matang sejak tahun 2005. Sejauh sekitar 300 km. Ingin segera mempercepat yang selama ini lambat: empat jam naik mobil. Atau 6 jam naik bus Greyhound. Seperti yang pernah saya lakukan.

Sampai hari ini rencana itu belum juga dimulai. Sudah 17 tahun. Padahal sudah begitu banyak energi dikeluarkan. Di pemerintah pusat maupun daerah.

Pemilik proyeknya pun sebenarnya sudah disetujui: Marnell Carrao Associates. Perusahaan swasta terbesar bidang kontraktor dan arsitektur. Tidak ada BUMN di Amerika. Pengalaman Marnell tak terpermanai: membangun berbagai hotel dengan total kamar 70.000. Bahkan saat itu juga sedang membangun hotel casino seluas 32 ha.

Marnell sudah siap dengan modal setor Rp 20 triliun. Tepatnya 1,4 miliar dolar. Biaya proyeknya sendiri sekitar Rp 100 triliun. Sisanya sudah sangat optimistis. Didapat dari lampu hijau: pinjaman pemerintah pusat. Dari program rehabilitasi dan pengembangan kereta api.

Siplah sudah. Proyek bisa dimulai tahun 2012. Tapi urusan-urusan tanah, amdal dan lampu hijau ternyata tidak mudah. Belum selesai. Maka diundur. Tidak kepalang tanggung: diundur dua tahun. Tapi mulai ada kepastian: proyek akan selesai tahun 2016.

Saat itu saya sudah mimpi naik kereta cepat di Amerika. Tidak mau lagi naik kereta ini: lambat sekali. Dari Denver di Colorado ke Salt Lake City selama 14 jam. Padahal dengan pesawat hanya satu jam. Hujan salju lagi berat saat itu. Penerbangan dari dan.ke Denver dibatalkan. Selama dua hari. Terpaksa naik kereta siput itu. Untunglah memandangannya luar biasa. Terutama saat kereta melintasi gugusan Rocky Mountain. Yang meliuk-liuk. Yang bersalju. Sangat wild.

Dua hari di Utah saya sambung lagi naik kereta ke Sacramento di California. Hampir 24 jam. Melewati gurun Nevada. Kalau Las Vegas berada di Nevada selatan, jalur ini di gurun Nevada utara.

Maka berita bagus kalau akan ada kereta cepat.

Ternyata diundur lagi. Dua tahun lagi. Dinyatakan baru bisa dimulai tahun 2014. Berarti kepastian selesai di tahun 2016 sangat mustahal. Mengapa?

Maret 2013 dua tokoh DPR kirim surat. Nama mereka menakutkan: Paul Ryan dan Jeff Session. Ryan kelak jadi ketua DPR. Isi surat: lampu hijau itu harus dimerahkan. Pemerintah pusat tidak menyetujui pinjaman itu. Terlalu besar. Sudah terlanjur pernah ada lampu hijau lain. Diberikan ke proyek kereta cepat jurusan San Fransisco – Los Angeles. Yang lebih dulu mengajukan. Kalau permintaan Las Vegas dipenuhi maka daerah lain tidak kebagian. Dana rehabilitasi itu akan tercurah semua ke pantai barat. Dapil Paul Ryan dari Wiscounsin. Belahan Midwest.

Las Vegas tidak menyerah. Masih ada akal. Terobosan pun dicari. Proyek ini sudah tertunda 10 tahun. Tiongkok tiba-tiba sudah menyalib di tikungan. Dalam sekejap. Punya 25.000 km kereta cepat. Sedang proyek Las Vegas ini hanya 300 km. Bahkan yang di Tiongkok sudah berupa kereta peluru.

Proyek Las Vegas itu enteng. Hanya direncanakan berkecepatan 210 km/jam. Di Tiongkok hanya disebut 动车 (dong ce). Bukan 高铁 (gao tie) yang berkecepatan 300 km/jam.

Maka Tiongkok pun dagang lampu hijau. Siap membangunnya. Termasuk memberikan pinjaman. Beres.

Beres? Belum. Tiongkok memerlukan jaminan. Dari pemerintah.

Terobosan pun ditemukan. Pemda Nevada membentuk badan khusus. Meniru California. Namanya pun mirip: Nevada High Speed Rail Road Authority. Hanya kata California diganti Nevada. Dari 41 anggota DPRD 40 setuju.

Langkah berikutnya dibentuklah joint venture: antara China Railway International USA dengan otoritas itu. Beres. Sepertinya sudah gak ada masalah lagi. Proyek pun sudah bisa dimulai. Rencananya: September 2016.

Enam bulan sebelum itu jatuhlah bom: proyek itu tidak boleh dilanjutkan. Pemerintah federal melarangnya. Alasannya: bertentangan dengan kebijakan ‘belilah Amerika’.

Kalau proyek mau dilanjutkan harus dilakukan dulu ini: membangun pabrik kereta cepat di tanah Amerika.

Selesai. Tamat. Wassalam.(dis)

Foto: Dahlan Iskan menikmati perjalanan dengan kereta api yang berhenti menjelang tiba di pegunungan Rocky Mountain.

April 28, 2018

About Author

dis


23 COMMENTS ON THIS POST To “Lambatnya Kereta Cepat”

  1. Nggak beda dengan Indonesia sih, bimbang antara kedaulatan dengan kebutuhan. Masalahnya, bimbangnya jadi kelamaan dan tidak terselesaikan.

  2. abah , sosok orang indonesia yg paling banyak melalangbuana. dan bisa manggali apa problem yg ada di daerah tersebut, ngak sekedar traveling. rugi besar pemerintah klo tidak memanfaatkan potensinya.

    • Setuju pake banget. Pak Sby memanfaatkan utk memperbaiki PLn dan berhasil, bukan hanya saat dipimpin saja tp setelah ganti pun masih sangat baik.
      Beliau berhasil meletakan sistem, bukan figur.
      Begitu juga kereta api, ujung tombaknya memang pak Jonan, tp tanpa backup 100% pak dahlan, mungkin hari ini masih melihat penumpang diatas krl dan kereta yg penuh asongan

  3. Tiongkok selalu mempunyai terobosan untk menjadi besar dan menyalip rival2nya…dengan politik ekonominya yg radikal utk menjadi suplier barang terbesar di market dunia dengan teori konektivitasnya dalam ekonmi modern,berhasil mematahkan tidak (meremukkan) teori amerika yg menempuh dengan jalan menjadi suplier mata uang terbesar dunia serta kontrol teknologi dan politik dunia, dan sampai kapanpun atau semaju apapun tiongkok tidak akan meremukkan amerika.

    china railway adalah the next boeing atau airbus…jika konektifitas uadara dikuasi mereka maka konektifitas didarat bakal dikuasai oleh china railway.

  4. Saya nunggu double track jalur selatan jawa saja ini ga jadi-jadi. Kapan ya kereta kita lewat tiap 30 menit. Perbedaan executive, bisnis dan ekonomi hanya di gerbongnya saja. Jangan bedakan keretanya, karena selama ini kereta ekonomi selalu mengalah.

  5. Alasannya bertentangan dgn kebijaksanaan”belilah Amerika”. Tiongkok tidak lama lagi akan melawan dengan kebijaksanaanya sendiri yaitu”Tipulah Amerika”. Barang barang buatan Tiongkok akan ditulis, made in USA.

  6. Sisi positifnya: amerika tegas dengan program ‘belilah produk amerika’. Di indonesia ‘ belilah produk dalam negeri’ hanya slogan…kran impor dibuka lebar…produk asing di mana2..trus kita kudu gimana?

  7. Saya pikir Amerika maju di segala bidang, termasuk teknologinya. Memangnya amerika belum bisa bangun pabrik kereta cepat ya??

  8. Wah abah naik kereta amtrak ya. saya mau naik itu belum keturutan tapi malah naik greyhound soalnya kadang lebih murah hehehe. Pak kalo ke california atau ke nevada ada rencana liat-liat pabriknya mas elon musk di Reno?

  9. kalau diperhatikan, ternyata izin di sana dengan di Indonesia sama ya, sama-sama ribet proses nya, dan nanti ujung-ujungnya proyeknya terbengkalai karena susah nya izin

  10. Saya pikir negara sebesar dan semaju Amerika, begitu mudah dalam hal pembangunan. Ternyata, mereka kesulitan juga dalam hal perijinan seperti halnya di Indonesia. Makasih pak, atas cerita dan pengalamannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,951 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: