Ketika Beijing Berubah Menjadi Begging
Catatan Harian, Internasional, Terbaru

Ketika Beijing Berubah Menjadi Begging

Oleh: Dahlan Iskan

Di judul berita itu tertulis ‘Begging’. Artinya ‘mengemis’.

Padahal si penulis bermaksud menulis kata ‘Beijing’. Ibu kota Tiongkok.

Kesalahan itu menjadi sangat  sensitif. Ketika dilihat media mana yang menulis. Dan ada kejadian apa saat itu.

Yang menulis adalah media Pakistan. Tepat saat Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, lagi berkunjung ke Beijing.

Pimred televisi pemerintah Pakistan itu langsung diberhentikan. Lantaran memberi kesan pimpinan negaranya lagi ke Begging untuk mengemis.

Imran Khan pada dasarnya memang lagi minta bantuan. Tapi kata ‘begging’ adalah penghinaan.

Imran, mantan kapten juara dunia kriket itu, memang lagi di simpang tiga: harus memilih ke arah mana. Agar ekonomi negaranya tidak bankrut: ke  Saudi Arabia, ke IMF atau ke Tiongkok.

Imran ternyata ke Saudi dulu: dapat janji USD 6 miliar. Lalu ke IMF. Minta USD 12 miliar. Tapi IMF masih minta banyak syarat.

Dan minggu lalu Imran ke Tiongkok. Berhari-hari. Selama lima hari!

Praktis semua air liur yang pernah Imran ludahkan sudah dijilat kembali.

Imran begitu benci IMF. Yang dianggap menyengsarakan rakyat Pakistan. Kini menyerah ke IMF.

Imran awalnya juga tidak suka  Saudi. Yang memberi perlindungan kepada lawan politiknya: Nawaz Sharif. Kini Imran minta bantuan Saudi.

Ia juga begitu anti China.
Lantaran pemerintah sebelumnya sangat pro-Tiongkok. Bahkan sudah tergantung pada proyek-proyek besar One Belt One Roadnya Xi Jinping.

Tapi saat ke Beijing minggu lalu Imran kelihatan sangat asyik. Menikmati kunjungannya itu. Ke Beijing dan Shanghai. Bertemu Perdana Menteri Li Kejiang dan Presiden Xi Jinping.

Setidaknya 15 kontrak baru dibuat. Bahkan hubungan Pakistan-Tiongkok lebih baik lagi. Sudah dianggap sangat khusus: teman segala musim.
Dengan demikian: yang sudah pasti barulah komitmen Tiongkok. Yang sudah berjanji akan membantu apa pun kesulitan Pakistan.

Maka begitu tiba kembali di negaranya Imran memanggil sidang kabinet. Menjelaskan secara khusus hasil kunjungannya ke Beijing. Yang ia anggap sebagai kunjungan paling berhasil.

Apakah permintaannya ke IMF tetap dilanjutkan?

Pembicaraan masih terus berlangsung. Tapi Pakistan sudah menegaskan: tidak mau menjual BUMN strategis. Seperti yang diminta IMF.

Rakyat juga sudah mulai mengecam Imran: saat Imran nyerah ke IMF itu. Yang ditafsirkan harga-harga akan segera naik. Karena IMF pasti minta subsidi dicabut.

Perubahan juga terjadi di Srilanka. Pemerintah yang anti Tiongkok sudah digulingkan.

Partai kecil yang berkoalisi dengan Wicremeshinghe  memisahkan diri. Pindah haluan ke kelompok oposisi: menjadi mayoritas baru. Memecat perdana menteri Wecremeshinghe. Yang pro-Amerika.

Ini berarti dua negara di Asia selatan sudah menjadi sahabat Tiongkok kembali.
Lalu yang ini….

Tim besar dari Argentina minggu lalu juga lagi di Beijing: minta bantuan penyelamatan ekonomi. Yang dilanda inflasi 40 persen.

Argentina minta jaminan USD 6 miliar dolar. Agar ekonominya selamat.
Xi Jinping sendiri akan ke Buenos Aires. Untuk menghadiri KTT G-20. Presiden Donald Trump juga akan hadir. Inshaallah. Bertemu Xi Jinping. Untuk pertama kalinya. Setelah  terjadi perang dagang sejak Juli lalu.

Mungkin suasana kebatinan Trump masih gundah. Di dalam negerinya lagi kalah Pemilu. Di Argentina harus nonton kemenangan Tiongkok.

Satu persatu negara Amerika Latin menjadi pro-Beijing. Meninggalkan dukungannya ke Taiwan. Seperti yang baru saja dilakukan El Salvador. Yang bikin Amerika sewot.

Kesimpulannya: ekonomi akhirnya mendekte politik.

Di mana pun.

Kapan pun. (Dahlan Iskan)

November 16, 2018

About Author

dahlan iskan


27 COMMENTS ON THIS POST To “Ketika Beijing Berubah Menjadi Begging”

  1. Tampaknya menjilat ludah sendiri bukan suatu yg memalukan,sampai kering lagi,politik memang luar biasa,atau orang orangnya yg kebetulan biasa biasa saja,entahlah,semoga indonesia bisa lebih baik,aamiin.

  2. Bah…… one belt one road nya tiongkok niku maksude nopo nggeh bah..
    Kapan hari saya lihat di tv hi indo…peran tiongkok dalam pembangunan infrastruktur di banyak negara….juga ulasan njenengan diatas…apa itu realisasi one belt one road …

  3. Utang utang dan mengajukan utang lagi…
    Menutupi APBN dengan berhutang..
    Sehatkah system perekonomian negara yang selalu mengandalkan Uang Utang..
    Kapan utang lunas????

    • Presiden Erdogan yang anti imf dan hutang juga selamat dengan bantuan (hutang) dari quait..
      tanpa bunga atau bunga rendah “tanpa riba” (mungkin)

  4. dulu ada yang bilang sedih kalau dengar yang namanya hutang, tapi setelah jadi presiden semangat ngutangnya luar biasa, tapi kejadiannya di sono jauuuh.. di planet lain, planetnya gondoruwo

  5. wah… ternyata semua mengarah ke cina ya bah…
    gimana politisi sekarang yang gembor2 anti cina… apakah tipenya bakal seperti imran khan…?
    supaya menang… menghalalkan segala cara… dan setelah menang ketahuan aslinya..

    saya sih milih yang pasti dan jelas aja dulu…

  6. Jika syarat dari IMF itu seperti yang disebutkan di atas, berarti itu juga menjadi indikasi bahwa negeri Via Vallen terjerat oleh IMF juga…
    hehehe

  7. dari komentar”dar-ulala” disebutkan “planetnya gendurwo” dalam kontaknya disway pagi ini, andaikata dimaksudkan adalah negaranya”saya” bisa diartikan “pemerintahan yang sekarang”, yang telah berutang. Apakah Abah atau melalui wadah apa bisa dibantu memberikan ulasan dari masing masing pemerintahan/”regim” di negara “kita” ini berapa sih jumlah hutang yang telah diperbuat oleh masing masing pemerintahan beserta problematiknya dan penggunaannya di jaman itu, sehingga generasi sekarang bisa tahu dan menganalisa atau terbayang baik dan buruknya berhutang; juga gambaran yang agak lengkap” bukannya uang beredar itu dicetak” oleh pemerintah dan nilai uangnya dengan biaya pencetakannya tentunya jauh lebih kecil, kok masih juga pemerintah kekurangan, juga ada pajak dan sebagainya penerimaan negara/pemerintah, terima kasih masih sebelumnya Abah beserta crewnya

    • Perlu diketahui bahwa pemerintah tidak berhak mencetak dan mengedarkan uang sedangkan BI tidak bisa menambah jumlah uang yang beredar seenaknya, harus sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
      Hutang pemerintah pada masa Habibie dan Gus Dur melonjak drastis karena waktu itu negara kita hampir bangkrut (terpaksa), jumlah utang pemerintah dari waktu ke waktu sbb:
      – Soeharto, 551,4 T (57,7 % PDB)
      – Habibie, 938,8T (85,4%)
      – Gus Dur, 1.232,8 (88,7%)
      – Mega, 1.298 (56,5%)
      – SBY 2009/periode I, 1.590,7 (28,3%)
      – SBY periode II, 2.608,8 (24,7%)
      – Jokowi (sampai September 2018), 4.416 (30,31% PDB)

  8. Di malaysia, Tun Dr mahatir Pun juga sudah tidak anti tiongkok,
    mungkin sebentar lagi pro tiongkok..
    padahal ketika pemilu sangat mengkritisi kebijakan pro tiongkok..
    yang sekarang masih pemilu anti tiongkok
    entah lah nanti, mungkin juga akan begging ke tiongkok…

  9. Lidah memang tak bertulang. Selamat buat pak SBY. Yg bisa lepas dari IMF.
    Walau sekarang ‘begging’ lagi ke IMF. Xii…. Xiii…..

  10. Kesimpulannya : ekonomi akhirnya mendikte politik.

    Di mana pun.

    Kapan pun. (Dahlan Iskan)

    Pagi ini mendapatkan lagi, kalimat petuah dari Bapak.
    Sambil menikmati : nasi panas, ikan cue’ dan sambal terasi. Sarapan dengan tangan. Maknyuss…

  11. Nanti yang di negeri Via Valen. Yang anti china, anti aseng, anti impor. Pun juga akan menjilat ludahnya sendiri kalau jadi. Kalau jadi. Hihihi

  12. Bah. klo dilihat dari tulisan” abah, sepertinya abah pro china. Gimana dg negara yg berhutang ke china seperti Zimbabwe, Nigeri, dll yg gak bisa lunasin lalu negara mreka dikuasai china? Kena jebakan batman?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,212 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: