Insya Allah Aku Lilo, Madrid
Catatan Harian, Humaniora

Insya Allah Aku Lilo, Madrid

Saya lemes saat nulis ini. Bahkan sudah lemes sejak menit ke 30-an final Piala Champions itu. Lemes. Kesel. Kasihan. Pasrah. Akhirnya…. tawakkal billah…. barang siapa marah di bulan puasa akan terhapus airmata putihnya.

Saya tidak menangis. Biar pun Liverpool kalah. Tidak sampai seperti Via Vallen. Yang menangis sampai air mata putihnya keluar.

Kata ‘air mata putih’ ini menjadi terjemahan yang begitu tidak pasnya untuk ‘nganti metu eluh getih putih’. Tidak pas. Tidak puitis. Tidak menyentuh kalbu. Tidak relevan. Tidak mendalam…. pokoknya tidak Via Vallen sama sekali.

Maaf…kok jadi panjang banget membahas lirik lagunya Via Vallen. Padahal dia (she) bukan penggemar klub Liverpool. Tapi memang lebih asyik membahas Via Vallen dari pada mengulas final Piala Champions itu.

Terutama setelah menit ke 30-an itu. Setelah penyerang utama Liverpool dipapah keluar lapangan. Tidak bisa main lain. Tangannya cedera. Bahunya ngilu. Setelah ‘dipithing’ pemain Real Madrid entah siapa itu.

Saya begitu malas membaca tulisan namanya di bagian belakang kaus putihnya itu. Saya ingat namanya. Tapi akan melupakannya. Ia memang berhak ‘memithing’ Salah. Tapi bahwa kemudian menjatuhkannya itu membuat Ramos akan hilang dari ingatan saya. Dipithingnya masih ok, dijatuhkannya masih biasa. Tapi posisi tangan Salah saat tertindih badan Ramos yang besar itu melengkung. Ngilu di hati. Saat melihat layar televisi.

Pokoknya saya tidak mau menulis nama Ramos lagi. (Kata ‘dipithing’ itu sengaja saya pilih untuk menyibukkan Google translate. Maafkan Google ya… ini kan bulan puasa. Apakah mas Google juga puasa?)

Tapi saya harus tawakkal. Ini bulan puasa. Begitulah memang tugas pemain belakang seperti Ramos: mematikan penyerang. Mohamad Salah tahu prinsip itu. Jadi salahnya Salah sendiri.

Seandainya wasit memberi Ramos kartu kuning pun tidak menyembuhkan tangan dan bahunya. Itulah sebabnya Salah menangis. Menyesal sekali. Tidak bisa bikin sejarah: memenangi Piala Champions untuk Liverpool… yang begitu lama dirindukan. Oleh saya.

Salah benar-benar menangis. Mungkin sampai ‘metu eluh getih putihe’. Begitu mengharukan. Seisi stadion Kiev menangis. Menurut perasaan saya. Yang sudah gelap mata.

Tapi yo wis rapopo. Insyaallah aku iso lilo…. Saya menangis karena Salah menangis. Tapi tangis itu saya simpan di dalam kalbu.

Seandainya saya nangis sungguhan pun tidak ada gunanya. Tidak ada yang melihat. Tidak seru adegan menangis tanpa dilihat orang.

Inilah ayatnya: barang siapa menangis tanpa dilihat orang tangisnya langsung berhenti sejak sebelum menangis.

Untuk apa saya menangis. Saya memang nonton final itu di tempat keramaian. Di sebuah sport bar yang besar. Mewah. Gemerlap. Tapi saya sendirian.

Tidak ada pengunjung bar. Jam tayang final itu nanggung. Untuk Wilayah Tengah Amerika: pukul 13.45. Matahari menyengat. Yang makan siang sudah selesai. Yang mau minum-minum belum datang.

Memang, saat saya masuk masih terlihat ini: beberapa meja penuh orang makan. Tapi sudah di tahap membayar. Ada 16 TV di sekeliling bar itu. Ada yang layar kecil. Ada yang layar besar. Ada pula yang besar sekali.

Saya tengok satu persatu: tidak satu pun yang menayangkan sepakbola. Yang terlihat hanya tayangan base ball, balap mobil, basket, tinju.

Saya tengak-tengok bengong. ‘’Anda yang menelepon tadi?,” tanya pelayan bar.

Rupanya dia melihat saya lagi mencari-cari layar. Atau karena melihat sosok Asia saya yang tidak biasa datang ke bar itu.

Semula saya memang ingin nonton di loby hotel saja. Ini kan bulan puasa. Tapi sepi sekali. Saya tanya Google alamat-alamat sport bar.

Saya pilih salah satunya. Saya hubungi: apakah akan menyiarkan final Champions? Saya pun diinterogasi: olahraga apa itu, di mana, di channel apa, jam berapa. Saya diminta menunggu. Masih dicoba dicari.

Jawabnya: bisa diadakan. Dia tahu: saya adalah orang yang menelepon tadi. ”Mau lihat di layar yang mana?,” tanyanya. ”Terserah,” jawab saya. ”Lho jangan terserah. Anda akan merasa nyaman duduk di mana?,” katanya.

Bagi saya duduk di mana pun nyaman. Toh saya hanya akan pesan makanan untuk dibungkus. Akhirnya saya memilih layar yang sedang. Toh hanya sendirian.

Dia lantas mengarahkan layar basket itu ke stadion Kiev. Layar lain dia ubah ke basket. Saya sendirian menatap layar: lho kok komentatornya berbahasa Spanyol. Kok running teksnya berbahasa Spanyol.

Oh… iya… ini kan di kota yang 95 persen penduduknya keturunan Spanyol.

Yo wis… rapopo. Insyaallah aku lilo.

Tapi perasaan saya mulai tidak enak. Ini pertanda-pertanda. Sungguh sebuah pertanda-pertanda. Mengarah ke Real Madrid. Kalau pun banyak orang di situ pasti semuanya juga memihak Madrid.

Saya tiba-tiba bersyukur: nonton sendirian. Saya bisa klaim: seluruh pengunjung bar itu memihak Liverpool. Daripada di tengah lautan Madridista.

Kadang di balik musibah itu memang ada udangnya. Tapi saya menangkap pertanda-pertanda itu. Lalu… terjadilah apa yang harus terjadi. Insyaallah aku lilo.(dis)

May 28, 2018

About Author

dahlan iskan


32 COMMENTS ON THIS POST To “Insya Allah Aku Lilo, Madrid”

  1. Sama, Bah. Saya tapi nontonnya di apartemen. Siang-siang. Sama teman. Lewat streaming online. Dapatnya yang bahasa Italia. Tapi lumayan, kualitas gambarnya HD. Saat Salah jatuh (atau dijatuhkan), wah, bisa kalah nih Liverpool. Pas jeda, saya tinggal ke kamar mandi. Cek hape. Yaaah. Ternyata benar. Mau apa dikata. 3-1.

  2. sabar ya abah, saya juga sedih Salah cedera. Semoga Salah masih bisa main di piala dunia. Semoga (Ramos), ah saya juga bakalan lupa nama itu. mendapat balasan yg setimpal ?

  3. Tak ku salahkan Salah, yang ku salahkan, kenapa semua tanggung jawab itu dibebankan ke pundak Salah. Ketika Salah tak mampu, Sirna lah mimpi itu. Dan akhirnya, Salah juga yang salah. Untungnya, aku tak menyalahkan Salah. Karena aku 3-1 (ketawa sambil nutup mulut membelakangi pak Dahlan) hehehe

  4. Sedihnya dobel dobel ya Bah. Mana di bar. Mana sendirian. Mana siang2. Mana gak jajan. Eh harus lihat Salah ngegedebut jatuh. Eh harus lihat 1-3 … Wah.

  5. Salah nya cedera, kipernya blunder nasib nian. Minimal Mobil sudah dapat hadiah al Fatichah dari saya. Semoga belumnya memeberikan trophy champion bukan berarti tidak memeberikan trophy untuk Egypt. Minimal untuk para pejuang Mesir untuk kehidupan yang lebih baik. Aamin.

  6. Salah nya cedera, kipernya blunder nasib nian. Minimal Mo sudah dapat hadiah al Fatichah dari saya. Semoga belumnya memeberikan trophy champion bukan berarti tidak memeberikan trophy untuk Egypt. Minimal untuk para pejuang Mesir untuk kehidupan yang lebih baik. Aamin.

  7. Maaf bah.. saya tdk baca lengkap edisi2 sebelumnya..
    Abah sering bilang “pertanda pertanda”, itu nyindir apa ya, suer saya nanya, saya yakin ada kaitannya tp sy blm tahu..
    Kalo ga dikasih tahupun InsyaAllah aku juga Lilo

  8. Kasusnya agak mirip semifinal piala thomas malam sabtu. Saya ingin nobar di 5 kafe. Ternyata semuanya nonton persebaya vs madura united.
    Saya akhirnya nonton thomas cup sendirian. Di hp.
    Kesimpulan: bulutangkis sudah habis. Di indonesia.

  9. —Tidak seru adegan menangis tanpa dilihat orang— Kebiasaan di sini. Kumpulkan orang sebanyak-banyaknya. Pandu agar mereka menangis bersama. He he

  10. saya bukan pecinta bola dan gak tahu siapa tremos eiit Ramos dink dan Salah, cuma karena wall FB rame banget bahas dua orang itu sampai berita berkilo kilo ktp ilegal yg kececer di negerinya via vallen hampir tenggelem, saya penasaran buka youtube cari rekaman pertandingannya Bah, wahh pantesan pada marah sama Ramos lha cara ngejegal Salah sedemikian jahatnya udah mlintir nyruduk nimpain lagi badan Salah, sampai ada yg bilang Liverpool vs madrid sama dengan SS vs Ganjar mboh Bah gak mudeng saya…tapi saya gak Lilo liat Abah kudu nangis getih putih..

  11. Hihihi ketiwi baca artikel ini. Gak mau sebut si termos akhirnya disebut juga berulang kali haha nempel di ingatan. Suamiku juga ngenes pas tidur pake jersey hitam Liverpool itu sudah pertanda pertanda akan berkabung menurutku.dia bangun jam 3 kurang nyalain tv !ga lama kembali ke kamar nelungkup dikasur sambil bicara hampir tidak terdengar “gak enak banget golnya” lalu hening ..lalu terdengar orang rame bersorak “Goooooll!” Ternyata dari rumah tetangga dibelakang lagi nobar (sepertinya mereka juga Liverpulian karea setiap Madrid gol rumah itu senyap). Suami loncat dari tempat tidur menuju TV dengan girang. Namun gak lama udah gol lagi akhirnya jadi 3-1. Sahur kemarin makannya ga berselera meski pake rendang hahhahaah 😀

  12. dah puluhan tahun dukung manutd (“sahabatnya lfc” hehe) dan madrid, tapi kemaren saya milih dukung liverpool, mengharap spy lfc juara krn sy salut dgn transformasi pemain2 yg tadinya biasa2 menjadi luarr biasa dgn investasi yg relatif kecil….
    komen sy cuma satu, itulah bedanya antara yg pengalaman juara dgn yg gak pengalaman…..si tremos tahu persis “apa yang harus dilakukan” dgn cara yg “super halus”, sampai gak dikasih kartu kemuning (coba wasitnya dari BEM UI hehe kiddin”) , sampai pemain2 lfc juga gak ada yg protes2…..cara halus spt itu hanya bisa dilakukan antara yg pengalaman terhadap pemain yg “gak pengalaman”…senada sama abah, salahnya Salah memposisikan dirinya salah jadinya salah seterusnya….
    jadi males deh nontonnya…..nonton lagi dah 3-1…hiks tambah malas…
    sabar yek Abah! kan udah biasa LFC gak juara apa2…

    • tulisan benernya begini :
      “sabar yek Abah! kan udah biasa LFC gak juara apa2…”
      eh kok kata -nya hilang ya?

      • lho ternyata kata “kaburrr”-nya (dalam kurung) hilang lagi….???
        tulisan benernya gini
        “sabar yek Abah! kan udah biasa LFC gak juara apa2…-kaburrrr-…

        ah jadi gak seru

  13. Setuju, semenjak Salah keluar Madrid makin leluasa nyerang, timpang jadinya.
    Ayo, Bah beli saham Liverpool! Hehe

  14. Terlalu banyak pertanda-pertanda. Pertanda apakah ini? Menunggu tulisan khusus tentang pertanda-pertanda.

  15. Terlalu banyak pertanda-pertanda. Pertanda apakah ini? Menunggu tulisan khusus tentang ‘pertanda-pertanda’.

  16. Salah… opo kowe ngerti… jerite abahku… mengharap engkau kembali….

    Salah….nganti menange liverpool..abahku ra biso turu….

  17. Maaf abah, saya tidak akan share ke efbe saya untuk disway edisi ini, terlalu ngilu, nangis getih putih…..

  18. Tulisan abah ini paling ngenes dibanding tulisan abah yg laine. Bahkan saat abah berusaha minta sesendok gas buat pln di papua pun tidak sengenes ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,675 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: