Freeport
Catatan Harian, Manajemen, Terbaru

Freeport

Oleh Dahlan Iskan

Saya kirim ucapan selamat. Untuk Ignatius Jonan. Menteri ESDM. Juga untuk Budi Sadikin. CEO Inalum. Tentang Freeport. Yang berhasil dikuasai Indonesia 51 persen. Sejak minggu ini.

Pun sebetulnya saya akan berbuat serupa. Dari Lebanon ini. Mengirim ucapan selamat kepada Bapak Presiden, Menteri Keuangan, Menteri BUMN dan Menteri Lingkungan Hidup. Tapi saya tidak punya nomor telepon beliau-beliau itu. Hanya Jonan dan Budi Sadikin. Yang nomor HP-nya ada di HP saya.

Itu pun nomor lama. Yang saya masih memilikinya. Sejak ketika saya masih jadi atasan mereka. Semoga ucapan selamat itu masih sampai pada mereka. Dan diteruskan kepada mereka.

Tentu, baiknya, saya juga mengirimkan ucapan selamat kepada pak SBY. Yang di zaman beliau menjadikan PT Inalum dikuasai 100 BUMN. Diambil alih dari Jepang. Dalam posisi perusahaan sangat jaya. Kondisi fisiknya prima. Operasionalnya istimewa. Dan tabungan uang kontannya banyak luar biasa.

Ibarat ‘kendaraan’, Inalum sudah seperti Land Cruiser. Sanggup diajak menanjak tinggi. Sampai pegunungan Jayawijaya. Membeli Freeport di sana.

Inalum yang seperti itu sangat dipercaya. Untuk mencari dana global sekali pun. Empat miliar dolar sekalipun. Untuk membeli saham mayoritas Freeport itu.

Tentu saya juga ingin mengucapkan selamat pada MacMoran Amerika. Yang sudah 50 tahun menguasai Papua. Yang pernah keuangannya mengalami kendala. Hingga minta bantuan Rio Tinto Australia. Yang perjanjian antara dua perusahaan global itu bisa menimbulkan celah. Untuk dimasuki Indonesia.

Celah itulah.

Tidak ada yang bisa melihatnya. Selama ini. Tidak juga saya. Hanya orang seperti Jonan yang berhasil mengintipnya. Yang justru menteri ESDM yang tidak ahli tambang itu.

Lewat celah itulah negosiasi bisa mendapat jalannya. Didukung oleh kedipan-kedipan mata. Dari dua wanita kita: Menteri Keuangan Sri Mulyani. Lewat celah perpajakan. Dan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya. Lewat kerusakan alam.

Sudah sejak kapan pun. Kita ingin Freeport dikuasai bangsa. Tapi selalu tersandung batu: perjanjian yang tidak bisa dilanggar begitu saja.

Kalau pun selama ini salah: itu karena tidak ada yang bermata sejeli Jonan. Dalam melihat celah tersembunyi itu.
Mungkin saja pandangan mata itu seperti hati. Bisa memandang jauh. Kalau kondisinya bersih. Bersih mata. Bersih hati. Bersih kepentingan.

Dalam proses Freeport ini memang luar biasa. Menteri ESDM-nya, Jonan, bukan ahli tambang. Ia justru orang keuangan. CEO Inalum-nya, yang cari uang, dari teknik. Ia lulusan ITB. Budi Sadikin.

Saya pernah minta maaf pada bapak Presiden SBY. Melanggar tata kelola. Mengangkat Budi Sadikin. Menjadi Dirut Bank Mandiri. Tanpa lapor. Tanpa minta pendapat. Tanpa minta persetujuan. Pun tidak kepada menteri keuangan.
Saya tahu itu salah. Dan siap dimarahi.

Tapi saya begitu takutnya. Jabatan Dirut Bank Mandiri jadi barang dagangan. Terutama dagangan politik. Padahal ada anak muda sekali. Hebat sekali. Dari dalam Bank Mandiri pula. Budi Sadikin itu.

Maka saya SK-kan saja. Soal dimarahi itu urusan di kemudian hari. Dipecat sekali pun.
Maafkan pak SBY.
Saya melanggar.
Demi kejayaan Bank Mandiri.
Dan maafkan. Itu bukan satu-satunya.

Sebenarnya, di Freeport itu, masih ada satu kekhawatiran saya. Di bidang partisipasi lokal. Yang 10 persen. Yang kelihatannya kecil. Tapi justru bahaya. Misalnya. Begitu yang kecil itu memihak ke sana selesailah. Sananya jadi mayoritas.

Tapi Jonan-Budi adalah orang pintar. Mengatasinya dengan skema yang berjenjang.

Tentu masih akan ada kritik. Tapi saya tidak melihat yang lebih baik dari yang telah dilakukan ini.(Dahlan Iskan)

December 23, 2018

About Author

dahlan iskan


79 COMMENTS ON THIS POST To “Freeport”

  1. Salah satu kesalahan terbesar rejim ini. Mungkin. Adalah tidak menjadikan Abah sebagai apa2. Malah sempat menjadi eksperimen perkara. Yang katanya Abah sendiri. Diada-adakan kesannya.
    Tapi saya bisa sedikit memahami. Sepertinya dulu hampir saja. Masuk kabinet. Tapi mungkin kalah oleh konflik kepentingan yang luar biasa. Yang patut disesalkan. Kenapa tidak ngotot saja. Mutiara sebegini berkilaunya. Kok dibiarkan teronggok. Di tepi. Hampir tertimbun. Tapi ternyata tetap bersinar di mana pun berada. Dengan caranya sendiri. Lihat saja. Betapa banyak anak didiknya yang terus berkarya.
    Aaah. Andaikan. Mau sedikit ngotot. Seperti Abah. Memakai mata hati. Memilih yang benar-benar siap. Membakti raga dan jiwa. Demi kejayaan bangsa. Pasti hasilnya akan jauh beda saat ini. Hampir pasti sekali lagi. Seperti jaman sebelumnya. Dipasangkan siapa saja. Tetap jawara. Kayaknya. Kenapa kayaknya dan hampir. Ya karena kita semua manusia. Yang menentukan tetaplah. Yang Maha Kuasa.

    • Setuju…
      Menurut saya, Abah disingkirkan lebih karena untuk memberi jalan anak kesayangan Kanjeng Mami.
      Sangat disayangkan memang, Jika Negeri ini dikelola untuk memenuhi kepentingan pihak penguasa,
      Bukan demi kejayaan bangsa…

      Andai…

    • Abah bukan di kriminalisasi Jokowi, mnrt sy abah ini korban balas dendam keputusan2 abah dijaman lalu yang menyakiti bbrp pihak yg kebetulan saat ini berkuasa. Seinget saya abah dulu sering gonta ganti direksi BUMN kan. Pasti ada yg ga seneng, dendam. But it is just my opinion loo..
      Jokowi pasti turun tangan kalo abah kena kriminalisasi. Lagian koran abah kan banyak. Tinggal teriak aja beress

    • mungkin sang presiden tdk kuat menghadapi tekanan, seperti saat beliau memilih wapres, sehingga Abah tdk jadi masuk kabinet

    • Maaf, tapi saya lebih percaya penilaian pak Budi dan Jonan, dll termasuk konsultan penilai luar dan dalam negeri yang dipakai untuk menilai berapa pantas kita membayar..

      Dan.. Rio Tinto rela invest sampai 300T rupiah, kira-kira hasil investasi yang diharapkan akan lebih besar lagi bukan?

      • Ketika kamu bawa TV1 di tulisan Dahlan iskan yg bahas Jonan
        Disitulah aku tau
        Hatimu itu busuk hidupmu itu susah banget walupun mungkin kamu kaya

        • Waduh pake kata “busuk”…jangan disini dong, sayang loh tulisan Abah yang sedemikian disayangi siapa saja…okey

        • menurut saya, manusia tetap tidak sempurna, tapi secara global, pak DI tetap lebih banyak baiknya. beliau keras, bukan hanya ke orang luar, tapi juga ke keluarga beliau sendiri. tapi memang ada hal2 yg beliau lihat tidak bisa dikompromikan. lepas dari pada penilaian : baik – buruk, benar – salah.

    • Hahaha suporter sepak bola memang selalu merasa lebih jago dan hebat dari pemain bola, bahkan sekaliber Ronaldo dan Messi.

  2. Soal Inalum ini banyak yang belum faham. Bisa menanjak sampe Papua.
    Sudut pandang ini yg tak dimiliki mayoritas penduduk Indonesia.

  3. Alhamdulillah.Sungguh ini adalah pencapaian yg luar biasa,tapi masih saja ada yg jealous bahkan nyinyirnya minta ampun (sepertinya nggak punya rasa syukur).

  4. Kalau kata UUD semua milik negara,tapi sekarang dapat 10%,dulu Riau tdk dpt hal tsb,bagi saya yg mana yg baik sajalah,tapi kalau mau adil bekas tambang ya dipulihkan juga dong,kan aturannya begitu,jangan habis manis sepah dibuang.dulu orang orang tua berkata kalaulah minyak Riau itu hanya unt Riau kami mungkin bisa lebih kaya dari Brunai,tapi biarlah toh kita sdh memilih jadi Indonesia,tapi mengapa masih ada yg ingin pisah?,bagai mana pemerintah menghadapinya?,pemberontak loh itu,dulu kami disumatra ditumpas habis tdk ada kompromi(PRRI),sekarang bagaimana ya?,sungguh penasaran.

  5. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa negeri ini kalau dipimpin Abah DI, maaf beribu maaf abah sy lancang membayangkan. Negeri ini akan sangat disegani dan mayarakatnya sangat bahagia. Sy membayangkan mobil listrik kita menguasai dunia, negara tetangga belajar lagi ke Indonesia dst…dst
    ..dst. Karena Abah DI memimpin dgn hati.

    • Saya juga membayangkan, mmm… lebih tepatnya MEMIMPIKAN…
      Andai Negeri ini dipimpin oleh orang seperti Abah,
      Yang Memimpin dengan hati yang bersih…
      tanpa ada unsur kepentingan…
      Betapa jayanya Negeri kita ini.
      Dan Betapa diseganinya kita ini,

      Sayangnya selalu banyak kepentingan yang bermain di tingkat atas,
      Bahkan jabatan strategis pun dibuat seperti lelang barang dagangan,
      Tanpa memperhatikan kepentingan Rakyat banyak.
      Seperti Negeri ini cuma punya dia sendiri…

      Sekali lagi, Andai…

      • Ah anda berkata demikian seolah-olah memuji pak Dahlan Iskan….tp sesungguhnya hanya ingin menjatuhkan nama pak jkw…apa dipikir mudah memimpin negri ini…siapapun pemimpinnya,akan slalu babak belur jk berurusan dgn kesejahteraan rakyat Indonesia…dan pak jkw sampai saat ini mau babak belur di tengah upayanya untuk meratakan pembangunan di seluruh negri….apa dipikir mudah ketika berhadapan dgn kepentingan partai yg menginginkan jabatan dan kekuasaan sbg imbalan dari dukungan yg diberikan…. Bagi saya,tidak ada presiden yg sempurna….tp minimal sampai saat ini Pak Jokowi masih jadi presiden yg rela babak belur untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia…

  6. Jadi searching tentang Rio Tinto.. Baru tahu.. ternyata lebih kompleks dari yang dikira.

    Saya juga baru sadar kalau “saham lokal” itu bisa beralih atau cenderung ke sebelah..

    Mudah-mudahan tidak ada lagi yang mengatakan, “kita yang punya kok kenapa kita yang harus bayar (beli), bayar sampai puluhan trilyun pula…”

    • saya termasuk orang yang tidak mengerti permasalahan freeport. jadi saya termasuk orang yang bilang ngapain beli barang punya sendiri.

      • Sayapun…

        Yang saya mengerti..

        Tidak apa-apa ‘rugi’ di depan daripada rugi (dibodohi) berpuluh-puluh tahun terus-menerus.

        Gak keluar duit (buat beli) tapi kepemilikan saham sedikit, itupun saham yang sedikit itu gak pernah dibagi-bagi hasilnya. Dan ini yang terjadi berpuluh puluh tahun lalu.

        Tunggu sampai kontrak habis terus kita miliki 100 persen tambangnya? Tak sesederhana itu…

        Siap investasi ratusan trilyun hanya untuk tambang tsb? Duitnya darimana? Utang? Pakai duit negara? Gak mungkin, investasinya besar sekali. DPR mau setuju ngasih duitnya? BUMN mau keluar duit segitu?

        Mengelola tambang itu investasinya besar, jangka panjang. Itu tambangnya di atas gunung, jauh, terpencil, di Papua.

        Infrastrukturnya harus bangun sendiri lagi… Mulai lagi… Yakin celah-celah terowongan, liku-likunya, infrastrukturnya, alat-alatnya akan dengan senang hati ditinggalkan Freeport buat kita?

        Pilihannya tetap ingin ‘dibodohi’, tambangnya terlantar tdk bisa dikelola dengan pride punya 100 persen atau keluar duit puluhan T sekali, hasilnya (51 persen) kita nikmati setiap tahun terus menerus?

      • Yg kita punya itu tanah & isinya… sementara peralatan & tekonologinya tidak…

        logikanya gampang kok, om ngontrak tanah, terus om bangun rumah dan isi dengan peralatan cangih. Kalau kontrak habis, om berhak rubuhkan itu rumah & angkut pulang semua peralatan…. harga untuk bangun kembali semuanya itu jauh lebih mahal daripada om beli saham-nya..

        anggaplah kita bisa bangun lagi rumah2nya, tapi apakah peralatannya kita bisa beli ? ini bukan nambang pakai cangkul & pacul, tapi perlu peralatan canggih yg kita belum bisa buat. Apakah mereka mau jual peralatan tsb ke kita ? kalau tidak mau jual, berarti itu tambang jadi sampah, sia2….

        belum lagi soal sdm, apakah sdm yg sekarang sudah mampu untuk ambil alih.. mengelola tambang bukan seperti main game, yg kalau salah bisa reset ulang dari awal lagi.

  7. Anak anak hebat.sekelas pak Jonan dan Pak Dir Inalum..lahir dari bapak yang berani ngamuk di gerbang tol, menarik kabel menerobos hutan lindung…hanya untuk orang berani..benar..kedipan mata 2 srikandi…elok tenan…yg kebih elok yg bisa melihat permainan ini …

  8. Bangga dan selamat wajib disampaikan. Inalum bisa mencari dana USD 4 milyar untuk membeli Freeport. Lihatlah Donald Trump yang berkelahi dengan Congress dan menutup pemerintahan federal gara-gara minta uang USD 5.7 milyar untuk membangun tembok, nggak dikasih.

  9. Ada bagian tulisan yang sangat menarik, bagi saya. Mungkin bagi yang lain pula. Dilewatkan pak Dahlan. Kurang detil. Padahal itu adalah inti cerita freeport sampai 51% Indonesia. Narasi tentang celah sempit itu. Akibat Freeport minta bantuan Australia itu. Dan narasi kecerdikan dan kejelian p. Jonan dan tim yang lain itu.. saya, mungkin yang lain juga, akan sangat terinspirasi jika narasi itu diungkap.

  10. Kita panjatkan puji syukur alhamdulillah ke hadirat Allah swt atas karunianya ini. Semoga jadi berkah bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Saluut buat pak DIS yg mampu melihat talenta tersembunyi ….

  11. Terima kasih pak Dis atas opininya yg jernih… Tapi saya juga ingin bertanya tentang yg berpendapat kontrak freeport yg akan habis tahun 2021 buat apa habiskan buat beli sahamnya yoh nanti akan kita miliki secara otomatis

    • Sama.aku juga berpikir begitu.kita mulai saja dari awal meski keluar modal besar juga tapi kita miliki 100%. Santer ada opini bahwa ini semua tentang ‘uang komisi’ hehe. Kalau nunggu 2021 gak akan dapat komisi? Entahlah opini liar tersebut benar atau tidak. Kita rakyat biasa nurut pemerintah saja. Semoga hasilnya bisa mensejahterakan semua, Papua khususnya. Aamiin

    • Tidak semudah itu. Ada kontrak karya. Yang disetujui oleh soeharto. Dulu.
      Isinya tidak seperti kontrak rumah.

      Saya percaya Pak Dahlan. Bahwa, kondisi saat ini. Yang diambil ini adalah kondisi yang paling menguntungkan.

    • Tidak semudah itu ,kita berhadapan dgn raksasa dunia, Kesempatan sekarang lagi bisa dilunakkan, kalo nunggu tahun 2022 nanti banyak godaan bisa berobah. Sejarah membuktikan mereka seharusnya selesai kontrak tapi dgn lihainya bisa memperpanjang kontrak sampai 2022

    • Tidak langsung seperti itu, pada Kontrak karya tahun 1991, Ada pasal bahwa setelah 2021, Freeport berhak mengajukan perpanjangan 2×10 tahun, Dan pemerintah wajib menyetujuinya, kecuali Ada hal Hal diluar batas kewajaran. Ini firm disampaikan Pak Pak sudirman said kepada pak mahfud md, cek detik.com. yg bikin pejabat order baru

  12. Beruntungnya saya bisa mengikutimu abah DI
    Rentetatan kerja jangka panjang dan tidak Ujug-ujug bin bim salabim berpengaruh sampai kapanpun
    Saya cukup mengerti untuk bersikap ada yg tersurat dan tersirat

  13. alhamdulillah pak dahlan jenengan mboten enten kabinet saben dinten kulo saget maos tulisan njenengan menawi wonten kabinet njenengan mesti sibuk meeting kaleh ninjau ten lapangan .mugi panjenengan tansah dipun paringi bagas waras pak amin…..

    • Ligika murahan saya, sampean punya rumah/tempat usaha saja kl digusur mau dibuat jalan pemerintah juga harus ganti rugi… Apalagi perusahaane sampean diminta…

    • Pak Slamet Santoso, freeport itu perusahaan, dan bukan punya indonesia. Yg punya Indonesia itu tambangnya. Jd yg sekarang itu kita beli perusahaan freeport yg mengelola tambang itu.

      Kl nnti freeport pulang tdk diperpanjang ya semua teknologinya (termasuk teknologi rahasia tambang bawah tanah) dan alat2nya akan dibawa pulang ke USA. Indonesia mungkin blm punya teknologi tambang bawah tanah, Cina jg blm secanggih USA 🙂

    • Yg kita miliki itu cuma tanahnya doang, tapi peralatan & teknologi-nya tidak….
      kalau mereka pulang, mereka berhak angkut pulang semua peralatan, kita bisa gigit jari karena tidak dapat apa2 sama sekali…

      lebih komplitnya baca komen saya yg lain

  14. Saya juga punya ke khawatiran sama terkait yg 10% itu. Tapi setelah melihat skema yg 10%, itulah jln terbaik Pemerintah (Negara) yg dpt ditempuh… Walaupun kelihatannya rumit dan muter2..

    Bener2 proses negoisasi yg tidak gampang dan mudah.. Penuh liku, rona dan mungkin drama juga..

  15. Ada bagian penting, setidaknya bagi saya, dari tulisan ini yang pak Dahlan lupa ditulis, atau sengaja tidak ditulis. Tidak detil. Narasi celah sempit itu. Kejelian p. Jonan itu. Kemampuan Inalum itu. Ucapan selamat p. Dahlan memang bisa menunjukkan apresiasi dan simpati. Tapi narasi celah itu adalah sejarah bagi bangsa ini. Mesti dicatat. Mesti diketahui umum. Narasi yang berbeda dengan media mainstream. Yang penuh kepentingan itu. Narasi yang informatif ketimbang politis.

    Menunggu narasi itu.

  16. klu saya merasa beruntung pak DI tak ikut di kabinet atau jabatan lainnya, krn saya bisa tetap dpt ilmu dan inspirasi tiap hari..hehehe….

  17. Abah Dahlan, besok jelasin dikit dong celah yg bs diintip Pak Jonan itu apa. Jadi bs dpt info yg valid krn gak melihat itu pencitraan atw pembohongan publik dan gak dikait2kan dg politik lainnya. Terima kasih Abah.

  18. Katanya kontrak Freeport itu mau habis, kalau sudah habis kan kembali milik RI kenapa kok di beli ya dengan mengeluarkan dana sekian banyak, seperti saya ngontrak rumah jika habis waktunya bayar lagi atau hengkang .., maaf saya orang bodoh soal beli membeli dan minjam meminjam …

    • logikanya gampang kok, om ngontrak tanah, terus om bangun rumah dan isi dengan peralatan cangih. Kalau kontrak habis, om berhak rubuhkan itu rumah & angkut pulang semua peralatan…. harga untuk bangun kembali semuanya itu jauh lebih mahal daripada om beli saham-nya..

      anggaplah kita bisa bangun lagi rumah2nya, tapi apakah peralatannya kita bisa beli ? ini bukan nambang pakai cangkul & pacul, tapi perlu peralatan canggih yg kita belum bisa buat. Apakah mereka mau jual peralatan tsb ke kita ? kalau tidak mau jual, berarti itu tambang jadi sampah, sia2….

      belum lagi soal sdm, apakah sdm yg sekarang sudah mampu untuk ambil alih.. mengelola tambang bukan seperti main game, yg kalau salah bisa reset ulang dari awal lagi.

  19. SBY pada masanya sangat powerful, punya Inalum (100% sudah milik Indonesia) dan punya DI (gurunya Jonan dan Sadikin). Ibaratnya punya Land Cruiser baru dengan sopir jagoan. JKW lain cerita, dia punya Inalum dan Jonan/Sadikin (notabene murid DI). Ibaratnya punya Land Cruiser dan sopir junior. Peran DI sudah jelas dan diakui semua orang yaitu mengangkat dan memoles mutiara, tanpa perlu tampil di depan (jadi menteri). Tapi mutiara meski sudah diangkat dan dipoles, kalau gak di pake ya gak ada guna. Ah sudahlah, apapun juga, syukurlah Freeport sudah balik ke Indonesia.

  20. Pak Dahlan saya cuma rakyat biasa tapi membaca tulisan ini saya sangat terharu akhirnya bisa juga pak, walau masi ada catatan.

  21. freeport di beli oleh INALUM
    INALUM 100 milik Indo. sejak zaman Presiden SBY & BUMNnya Abah D.I.
    berkat para pendahulu yang punya “mata hati” beninglah kita sekarang dapat “membeli tanah air seisinya yg sebenarnya punya kita sendiri” ????.

  22. Pak Jonan orang keuangan. Tentunya sudah mahir membaca speedometer sehat atau tidaknya sebuah proyek. Seharusnya. Saya ingin Pak Presiden lebih banyak menunjukkan dan menyebutkan Menteri-menteri hebat yang bergerak di balik layar. Tentunya sebagai apresiasi atas kerja keras mereka juga.

  23. Saya kok yakin ya, celah yg dimaksud abah itu ya soal kewajiban pajak dan tuntutan hukum perusakan lingkungan yg dilakukan freeport. Kan masuk ranah pidana. Dst..dst.
    Yg saya pula yakini adalah peran dibalik layar wamen artjandra thahar. Yang sangat paham lika liku dunia tambang. Saya yakin peranan pak wamen ini juga sangat penting sepenting peran beliau dalam akuisisi blok rokan dan blok makaham.

  24. Mantab..yg saya bingung ,saham 51% tapi dirutnya dr freeport ya, andaikan dr holding mungkin lebih mantab ya bah…
    Btw abah, coba diulik2 sedikit tentang PT ICA yg denger2 sdh atau akan 100% milik PT antam

  25. Mineral Right sejak Ind merdeka adalah milik NKRI. Economic rightnya yg dulu “terpaksa” diserahkan ke Freeport dlm bentuk perjanjian atau kontrak karya. Ini agar mineral tsb bisa jadi duit untuk APBN. Sekarang, 51% economic right itu yg kita beli. Kalau sejak dulu bisa nambang sendiri atau menggunakan hak ekonomi dng kemampuan sendiri, tentu saja nggak pusing untuk beli seperti sekarang. Problem kita di pertambangan baik minyak maupun pertambangan umum, adalah di economic rightnya. Krn untuk mengelola hak ekonomi, perlu duit, teknologi, ilmu pengetahuan, organisasi & management yg bagus. Tidak cukup hanya kemauan politik.

  26. Selain ke SBY, tentu terima kasih juga ke Abah Dahlan. Inalum bisa dikuasai kembali saat beliau menjabat Menteri BUMN.

  27. Indonesia akan maju jika dipimpin oleh orang yg bisa mencari sosok-sosok seperti Ignasius Jonan dan Budi Sadikin dan ditempatkan pada tempat yang tepat.
    Siapa sih yang ngangkat mereka dulu?..

  28. Bapak sangat objektif n itu ciri orang cerdas,masalah Freeport itu masalah yg rumit tapi ketika semua mau tulus membangun negeri,tidal Germain dibelakang panggung n membuat perjanjian spa adanya n bukan ada apanya maka Freeport milik Indonesia,satu pesan saya jangan lupakan masyarakat adat di Tanah Papua karena dihalaman rumah mereka kita menambang uang 51 persen itu,Rumah Papua itu Rumah Kita

  29. Pak Dahlan Iskan terimakasih pencerahannya…meski sudah berusaha dicerahkan dan dikasih informasi yg objektif tetep para pemilik busuk hati ‘memelintir’ dengan gaya memuji bapak tapi menyisipkan kata2 tidak sepakat dengan pemerintah….hmmm! Tapi terus tidak berhenti menjadi orang yang lurus dan melihat secara jernih..salut ya pak🤗🤗🤗 sehat terus pak Dahlan

  30. Alhamdulillah, Disway makin populer, sampek Kodok Kodok pun mampir kesini, sesuai kemampuan nalarnya, gak yakin sih mereka paham yang tersirat dari abah, padahal udah terang benderang begini, udah terkunci mati hati mereka, Summun bukmun ngumyun fahum laa yakkilun.

  31. Abah…
    Bagaimana dengan temuan BPK dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkan freeport…
    Yang dinilai taksirannya 6x dari harga pembelian 51%..
    Apakah tetap Inalum…
    Jika Inalum yang harus ikut menanggung perbaikan kerusakan alam yang di akibatkan selama ini, Negara dan Rakyat akan dapat apa?
    # Beda beda tipis Cerdik atau Culas.

  32. Selamatnya ini serius apa ngece, masalahnya konon kontraknya hanya sampe 2021, plus yang di jadikan contoh inalum yg kembali ke indonesia 100% tanpa merogoh kocek yang dalam apalagi nyari utangan, entahlah.. nunggu kisah selanjutnya

  33. Kurang satu bpk. Presidennya tangguh. Sy jg di pemerintahan. Jadi percuma menteri & bawahannya pintar melihat peluang Kalo atasannya gak merespon. Kaya bentur tembok.

  34. Alhamdulilah…..dari hanya 9% persen selama 50 tahun menjadi 51% walaupun dengan 4 syarat…..tetapi kontrak tetap diperpanjang 2×10 hingga 2041…..ini akibat awal dari ulah “Mafia Berkeley” tahun 1967 dan diteruskan Rezim Orde Baru saat 1991 memperpanjang kontrak 2×10 tahun hingga 2021….nanti 2041 minta lagi hingga 2061 dst sampai tak bersisa…..apalagi saham 10% diberikan untuk BUMD, Pendapatan Asli Daerah Papua yang hanya 1 triliun apakah kuat? jangan-jangan nanti ada “PAPA MINTA SAHAM” jilid 2 untuk membeli yang 10%…semoga tidak ada politik kepentingan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4,826 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: