Drama Remaja Dalam Gua
Catatan Harian, Humaniora, Terbaru

Drama Remaja Dalam Gua

Oleh: Dahlan Iskan

Ini seperti kisah-kisah petualangan remaja ala Enid Blyton. Sejumlah anak remaja masuk gua. Terjebak di dalamnya. Berhari-hari. Orang tua mereka cemas. Pahlawan tidak segera datang.

Tapi ini sungguhan. 12 remaja beneran ini sudah dua minggu terjebak dalam gua beneran. Terperangkap.

Minggu kemarin lebih 1.000 wartawan beneran berkumpul di depan gua. Sejak beberapa hari sebelumnya. Tagihan tilpon saya pasti membengkak. Kisah ini terlalu dramatik untuk dilewatkan. Saya harus menuliskannya. Dari jarak jauh. Dari Samarinda.

Drama ini bermula tanggal 23 Juni lalu. Hari Sabtu. Saat Korea Selatan melawan Mexico. Di babak penyisihan Piala Dunia Russia.

Saat itu satu tim sepakbola remaja di pedalaman Thailand giat berlatih. Kampung mereka di pegunungan. Sulit dijangkau. Di perbatasan antara Thailand dan Myanmar. Dekat kampung mereka ada gua terkenal: Tham Luang.

Panjangnya 10 km. Bercabang. Berbelok. Mulut guanya kecil. Di dalamnya melebar-menyempit. Dasar guanya naik-turun.

Pelatih 12 anak itu lagi absen. Hari itu tim diasuh asisten pelatih berumur 25 tahun: Ekapol. Nama panjangnya sulit dieja: Ekapol Chanthawong.
Sebelum sesi latihan Ekapol mengajak anak asuhnya rekreasi sambil bertualang: masuk gua. Ini penting. Untuk pembentukan kekuatan mental  pemain sepakbola.

Salah seorang remaja itu, Pheeraphat, dipesani khusus oleh orangtuanya: habis latihan agar cepat pulang. Malam itu adalah malam ulangtahunnya yang penting: sweet seventeen. Umurnya 16 tahun. Tapi dihitung 17 untuk tahun Thailand. Yang punya kalender sendiri.

Orang tua Pheeraphat sudah masak-masak. Dan beli kue ultah. Juga sudah mengundang kerabat.
Tapi sampai matahari tenggelam Pheeraphat belum pulang. Tamu mulai berdatangan. Kepanikan mulai muncul. Ditelepon tidak ada nada sambung.

Sesama orang tua saling terhubung. Sama-sama bingung. Sama-sama gagal kontak. Satu-satunya anggota tim yang bisa tersambung mengecewakan: hari itu ia tidak ikut latihan.

Pelatih utama tim sepakbola desa itu ikut panik. Tapi juga gagal mengontak asistennya. ”Sejak pagi saya sudah berpesan padanya agar hati-hati. Agar naik sepedanya di posisi paling belakang. Untuk bisa mengawasi anak asuh,” ujar sang pelatih pada para orang tua.

Sampai tengah malam tidak ada kabar. Usia anak-anak itu antara 11 sampai 16 tahun. Kepanikan kian tinggi. Hujan deras tidak henti-hentinya. Pegunungan itu kian mencekam.

Bulan Juli-Agustus adalah musim moonson. Kita, di negara tropis, hanya mengenal musim kemarau dan musim hujan. Dunia belahan utara dan selatan hanya mengenal empat musim: dingin, semi, panas, gugur.

Tapi di belahan dunia tertentu mengenal musim moonson: India, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Tiongkok bagian selatan. Yakni di wilayah antara dua musim dan empat musim.

Di musim moonson seperti ini hujan, badai, banjir dan taifun hampir terjadi setiap hari. Simaklah berita tv. Selalu ada banjir besar di negara-negara itu.

Musim moonson adalah musim yang paling tidak enak di wilayah-wilayah tersebut. Kebalikan dari kenyamanan di Sumba. Bukan saja terlalu basah. Tapi udaranya juga sangat humid. Sumuk. Kemringet. Hen men. Swety. Jangan ke Thailand dan sekitarnya di musim seperti ini. Ke Sumba saja.

Sampai sekian hari itu tidak ada yang tahu kalau anak mereka sebenarnya terjebak di dalam gua. Tidak ada yang mendengar rencana ke gua. Tidak ada yang menyangka anak mereka diajak ke gua di musim moonson.

Keesokan harinya keberadaan mereka masih gaib. Hujan masih tercurah dari langit yang hitam. Hari-hari berikutnya tetap gaib. Satu negara ikut heboh. Mistis ikut mewarnai.

Akhirnya ada yang menemukan sepeda mereka. Di mulut gua. Yang tergenang air.

Sepasang sepatu bola tergeletak di dekat sepeda di mulut goa Tham Luang (Image via AP /AP)

Hampir dipastikan 12 remaja dan satu asisten pelatih itu ada di dalam gua. Kalau begitu masihkah mereka hidup? Bagaimana cara memasuki gua yang mulutnya tertutup air? Apakah mereka punya makanan? Seberapa jauh mereka memasuki gua?

Diskusi publik pun beralih: dari di mana mereka ke bagaimana cara menolong mereka. Tiap hari berita di Thailand didominasi drama gua ini. Seperti tidak ada piala dunia di sana. Tim Prancis, tim Inggris kalah populer dengan tim sepakbola desa pegunungan ini.

Ketika drama ini menjadi berita internasional tim penyelamat dunia turun tangan. Memperkuat tim penyelamat bentukan pemerintah. Anggota tim umumnya para penyelam. Dari angkatan laut. Dan profesional.

Penyelamat dari berbagai negara tertantang. Mereka berdatangan. Menawarkan pertolongan. Terkumpul tim penyelamat dari sembilan negara: Tiongkok, Australia, Inggris, Russia, Amerika dan sebagainya. Bahkan bos besar Tesla ikut turun tangan: Elon Musk. Ia menawarkan alat pendeteksi. Bagaimana keadaan alam di dalam gua. Juga menawarkan mega baterai.

Hari silih berganti. Jalan keluar tidak segera ditemukan. Publik gemes. Orang tua mereka pada lemes.

Akhirnya didatangkan pompa raksasa. Untuk menguras air di mulut gua.

Pompa bekerja 24 jam sehari. Air yang dipompa keluar sudah mencapai 128 juta liter. Mulut gua tidak juga terbuka. Hujan moonson tidak kunjung berhenti.

Maka muncul ide melakukan pertolongan dalam bentuk lain: mengebor gunung di atas gua itu. Tujuannya: agar ada udara masuk. Siapa tahu mereka kekurangan oksigen. Yang akan membuat mereka mati lemas.

Satu tim pendahuluan mencari lokasi pengeboran. Mereka menaiki terjalnya gunung. Kendaraan mereka tergelincir. Masuk jurang. Semua mengalami cedera. Meski tidak ada yang tewas.

Pada hari kesepuluh datang pahlawan baru: dua penyelam penyelamat dari Inggris. Nama mereka: Richard Stanton dan John Volanthen. Umur 50 dan 40 tahun. Yang satu petugas pemadam kebakaran. Satunya lagi teknisi internet. Tapi keduanya kompak: lebih menyukai petualangan dan penyelamatan.

Keduanya menjauh dari wartawan. Ketika banyak yang ingin populer, keduanya tidak mau diwawancara. ”Saya ke sini untuk berbuat. Bukan untuk bicara,” katanya singkat.

Lalu menyelam.
Memasuki mulut gua.
Lenyap ke dalam kegelapan.

Berhasil! Keduanya menemukan 12 remaja itu. Dan asisten pelatih mereka.

Setim sepakbola ditemukan selamat setelah terperangkap 9 hari di dalam goa (Image via EPA)

Mereka itu terjebak di rongga ketiga di dalam gua itu. Duduk-duduk di atas tanah yang agak tinggi. Dikelilingi genangan air. Luas tanah gundukan itu hanya sekitar 10m2. Sangat sempit. Gelap. Pengap.

Mereka masih hidup. Semua. Masih tidak kelihatan lemah. Atau frustrasi. Atau panik. Padahal sembilan hari sudah. Terjebak di dalam gua. Tanpa tahu apakah akan ada jalan keluarnya.

Dua orang itu membawa makanan. Juga membawa harapan. Keberadaan mereka direkam. Masing-masing menyampaikan pesan kepada orang tua. Dalam bentuk rekaman video.

Mereka juga diminta menulis surat. Untuk masing-masing keluarga. Tapi umumnya hanya menulis pendek. Mengabarkan keadaan mereka baik-baik saja.

Sang asisten pelatih menulis agak panjang: berjanji akan terus bersama anak asuhnya, memperhatikan mereka dan yang utama meminta maaf pada semua orang tua mereka.

Semua itu dibawa ke luar gua. Kegembiraan lantas melanda seluruh negara. Hujat dan caci  berganti puja dan puji.

Tulisan tangan dari dalam gua. Baris pertama dari Chanin “Tun” Wiboonrungrueng, 11, menulis: “Ayah, ibu, jangan kuatir aku baik-baik saja. Bilang ke Yord, siap-siap bawakan ayam goreng untuk kumakan.” Baris selanjutnya Ekapol, sang pelatih, menulis: “Untuk semua orangtua, anak-anak sekarang baik-baik saja, Aku berjanji aku akan menjaga mereka sebaik mungkin. Aku juga berterima kasih atas semua support. Aku juga minta maaf ke semua orang tua.” Baris ketiga, Ekapol menulis pesan pada bibi dan neneknya untuk memasak makanan kesukaannya, jadi kalau dia keluar dia bisa memakannya. (Image source: Thai Navy Facebook)

Publik sepakat: mental anak-anak mereka kuat berkat asisten pelatih itu. Asisten itulah yang terus mengajarkan optimisme pada anak asuhnya. Mengajarkan sabar. Mengajarkan doa.

Mengajarkan tenggang rasa. Membagi makanan yang ada sehemat-hematnya. Secara merata. Agar tidak ada yang rebutan makanan. Atau yang kuat dapat makanan lebih banyak.

Makanan itu sangat terbatas. Hanya yang dibeli untuk mengulangtahuni teman mereka: Pheeraphat. Sebelum masuk gua sang asisten membeli makanan kecil untuk ulang tahun itu.

Asisten pelatih ini memang bukan pemuda biasa. Ia ditinggalkan mati ayahnya. Saat umurnya baru 10 tahun. Lalu memutuskan untuk mengabdi di jalan Tuhan: sekolah bikhu Budha. Lalu tumbuh menjadi bikhu remaja.

Tapi ibunya sakit keras. Ia harus merawat ibunya. Ia pamit meninggalkan pagoda. Untuk sembahyang yang sebenarnya: melayani ibunya. Sampai ibunya meninggal dunia.

Lalu jadi pembina remaja di kampungnya.

Publik percaya di dalam gua itu sang asisten terus menguatkan anak-anaknya.

Tim penyelamat Inggris itu justru melihat sang asistenlah yang fisiknya lemah. Diduga ia yang paling sedikit mengambil jatah makannya. Selama sembilan hari itu sang asisten lebih banyak puasa.

Fakta baru kemudian ditemukan. Cadangan oksigen ternyata sangat tipis.

Seorang mantan penyelam angkatan laut Thailand jibaku. Akan masuk ke mulut gua itu. Pemerintah mengijinkan. Atas dasar reputasi orang ini.
Nama: Saman Kunan.
Umur: 38 tahun.
Prestasi: Juara 4 kali lomba petualang. Selalu ikut kejuaraan petualangan. Peraih tropi menyeberangi sungai Kwai.

Dengan oksigen cukup Saman memasuki air di mulut gua. Membawa banyak oksigen untuk para remaja itu.

Satu hari ditunggu. Tidak ada kabar dari Saman. Ternyata Saman meninggal. Kehabisan oksigen. Drama pun bertambah seru. Satu pahlawan telah ikut jadi bintang.

Minggu kemarin ribuan orang berkumpul di depan gua. Wartawannya saja lebih seribu orang. Sudah dua hari ini tidak ada hujan. Hanya mendung menggelayut seperti tersangkut jaring superman.

Kemarin adalah hari terbaik untuk penyelamatan akhir. Kalau tidak, mendung itu akan runtuh. Musim moonson belum lewat. Air dalam gua bisa-bisa naik lagi. Mengancam daratan kecil yang dihuni para remaja itu.

”Mereka berada 1,5 km dari mulut gua,” ujar penyelam Inggris itu. ”Saya harus menyelam di air sekitar separo dari jarak itu,” tambahnya.

Akankah hari Minggu kemarin menjadi hari kemerdekaan mereka? Kita tunggu beritanya sekarang ini. Saat Anda menjadi pembaca pertama Disway.id Senin subuh ini. (dis)

July 9, 2018

About Author

dahlan iskan


79 COMMENTS ON THIS POST To “Drama Remaja Dalam Gua”

  1. Wow seperti drama yg mengaduk aduk emosi digambarkan secara detail oleh abah DI semoga mereka selamat

    • Yupe. Feelingny dapet bngt. Kita readers serasa berada d sana.at least memahami mrasakn ap yg trjdi mskipun tdk mlihat scra lngsung. Salute tuk pk dahlan iskan.🙇‍♀️👏👍👍👍👍

  2. Acuh lihat berita ini sebelum nya,di tangan njenengan kok jadi menarik gini ya…matur nuwun Bah ..

  3. Deg2kan & terharu membaca tulisannya. Di dalam Goa pelatihnya lah yg paling kurang sehat karena paling sedikit makan dan terus berpuasa 9 hari. Hebat. Inspiring sekali. Trimkasih Pak DI tulisannya detail & serasa ikut merasakan betapa hebatnya mrk tinggal di gua slma itu

  4. Dramatis. Syukur semua selamat. Pelajaran buat pelatih, asisten, ortu n pengalaman buat relawan. Solidaritas dunia.
    D Chili beberapa tahun lalu juga ada sejumlh petambang terjebak d goa. Dibuat film 33.

  5. Ditangan wartawan senior, berita ini menjadi kisah petualangan yang sangat menarik dan menegangkan. Semoga semua selamat keluar dari gua secepatnya.

  6. Betul, kita seperti membaca petualangannya Julian, Dick, George dan anjing Tim di pulau Kirin, dalam cerita yang nyata.

    • Pak DI…senang bacanya. Kalau mengikuti berita bukankah yg menyelematkan pertama kali penyelam dari Australia ya pak?
      Yg saya terharu saat sang pelatih meminta maaf kpd para orangtua dari anak anak tsb…maka para ortu menjawab bahwa mrk sdh tks Karana anak anak dijaga sang pelatih dan mereka tidak menyalahkan pelatih. Luar biasa.

  7. werbiyasahhh. seperti biasa, tulisan abah menjadi hal pertama yg saya cari ketika buka akun fesbuk, membacanya seolah ikut masuk kedalam alur cerita. lanjutkan baaaahhh, hehehe

  8. Disway adalah media yang mengumpulkan remah remah kejadian dimana bagian besarnya diambil media yangvmelibatkan banyak orang. Disway dikendalikan Bapak seorang (ada yang bantu?). Maka justru bagian kecil adalah detail yang dramatis. Sehat selalu Bapak.

  9. gak ke lokasi tapi ceritanya lebih seru ketimbang jurnalis yg liput langsung di lapangan. itulah kehebatan dis. yg tidak ada duanya di indonesia. di dunia. yg tidak ada lagi di jawa pos. sekarang.

  10. Masalahnya bagaimana mereka bisa keluar dgn menyelam sejauh 1 km, ngebor dan nguras sudah dilakukan. Membawa tabung oksigen juga sulit dan tidak efktif, sudah ada korban. Usul saya bagaimana kalau dibuatkan alat yang mampu menghubungkan oksigen dengan tabung (mis: pakai selang yg lentur) dari lokasi anak anak itu ke tabung oksigen di pusat operasi. Soal tehnisnya, disana banyak orang pinter.

  11. Pak Dahlan memang top…bikin larut dlm cerita…smoga semua selamat d mnjdkn pelajaran hdup ke depan ..

    • Luaarrr biasa alur ceritanya mengalir menerobos perasaan pembacanya, terima kasih pak Dahlan, tetap sehat…..

  12. Kalau kejadian seperti ini, yang paling seru dan di tunggu tunggu juga adalah turunnya sutradara holywood untuk mendramatisir keadaan menjadi film yang epik sebagaimana film nya 33, yang mengisahkan terjebaknya para penambang bawah tanah selama 33 hari.

  13. Pelajaran mempertahankan hidup yang luar biasa.
    12 orang anak dan 1 assisten pelatih.
    Selama 9 hari itu adalah amazing.
    Saya bisa membayangkan dan bisa merasakan.
    Sepakat. Yang bisa membuat mereka survive adalah do”a, kesabaran & optimisme.
    Semoga kesemuanya dari mereka bisa diselamatkan & dikeluarkan dari gua itu.
    Sambil menunggu kabar berita selanjutnya dari Pak Dahlan.

    Salam “Super Power Indonesia”,
    bagi seluruh Bangsa Indonesia.

  14. Tulisan yang enak dan bagus sekali untuk para pembaca disway. Ceritanya mengalir seperti aliran sungai, jauh sampai ke muara. Kalau makanan, ibarat seperti kerupat lebaran. Ngangeni gitu…. jadi kita selalu kangen tulisan abah.

  15. Matur nuwun Pak, saya membaca seolah bagian dari 1000 wartawan di TKP. Disway pancen Jos gandos 👍👍
    Menanti sambungannya dengan cemas

  16. Tiap hari sy bc perkembangan berita ini di media. Rasanya biasa saja. Tp saat abah yg nulis. Mengapa sy menangis?

  17. Kita yg masih tanggung dalam menyimak berita anak2 masuk gua di thailand, kini mendapat gambaran yang jelas, singkat, tapi lengkap dan tuntas dengan gaya penuturan yang unik tapi mengoyak emosi. Tulisan ini perlu dikeluarkan/diselamatkan dari Goa Disway ke masyarakat non digital yang merindukan tulisan “sekali baca tapi tahu semua” olahan Dis.

  18. Emang betul yang atasanku sampaikan, baca tulisan Abah betul betul seperti ikut dalam alur ceritanya, kadang ada cerita yg mengaduk aduk perasaan kadang ada cerita yang bikin orang senyum senyum seperti orang gila, tulisan Abah renyah dan mudah dipahami siapapun…

  19. Terima kasih Abah, Dahlan. semoga Abah selalu terpeluk oleh Jemari Gusti Allah.
    DI sepak bola punya Ronaldo dan Messi.
    Di perceritaan kami punya Abah Dahlan. hehehee…

  20. Superb! Ini mah kisahnya jauh lebih menarik dari petualangan laskar pelangi yang difilmkan. Pasti pd nunggu filmnya nanti saat anak2 telah selamat keluar goa. Cave Kids mungkin judulnya. Pak DI paling bisa mengocok2 emosi pembaca ikut larut seolah jd bagian dalam kejadian aslinya. Semoga sehat terus ya pak untuk berbagi cerita dan pengetahuan pd kami pembaca setia 🙂

  21. Luar biasa gaya penyampaian pak DI. hormat saya buat bapak. pengen bisa menulis kayak bapak. Tulisan bapak seperti yang sering diajarkan guru2 internet marketinh tengang copywriting, di mana membuat tulisan yang bisa mengaduk2 emosi para pembaca. teruslah menjadi inspirasi buat kami pak DI

  22. “Ternyata Thailand lebih mampu dr Indonesia dlm hal SAR” hal ini yg langsung terlintas dlm benak saya setelah membaca tulisan abah ini dan mungkin jg teman2 yg lain. Dlm hal ini Thailand mendapatkan dukungan teknis dr negara2 lain,tp kenapa dlm hal musibah KM.Sinar bangun di danau toba kita tdk mendapatkan itu? Mungkinkah ada tulisan dr abah yg bisa menentramkan hati utk pertanyaan2 tersebut? Terimakasih telah membawa kami dlm proses penyelamatan didlm gua ini dan semoga abah selalu diberi kesehatan. Amin

  23. Katanya letaknya di perbatasan Thailand-Myanmar, barat Thailand. Tapi di gambar ada tulisan Pattaya Beach, itu di timur Thailand. Yang nggambar ngaco, atau memang ada pantai Pattaya versi barat di situ, atau yang ngambil gambar ngawur? Bagaimana nih abah?

  24. Dramatis betul, sampai – sampai piala dunia kalah pamor. Semoga korban bisa selamat semuanya.

  25. Dari edisi pertama baca disway.. baru yang ini ikut comment..diceritakan dengan enak mengalir..semoga semua yang terjebak selamat..

  26. bedanya sama wartawan lain.dari beberapa media.reportase berita hanya memenuhi 5 w 1 h.tapi ditangan pak Dahlan. ada sisi lain yang diurai.hanya yang nulis dengan niat tulus aja yang bisa membuat reportase runut begini. Alhamdulillah sehat selalu Abah Dahlan.

  27. Serasa kembali ke tulisan fenomenal abah, tampomas II

    ===============
    TEMPO Edisi. 50/X/07 – 13 Februari 1981

    Perjalanan ini
    terasa sangat menyedihkan
    ………….
    Mengapa di tanahku terjadi bencana
    Mungkin
    Tuhan mulai bosan melibat tingkah kita
    Yang selalu salah dan
    Bangga dengan dosa-dosa
    ……………

    BELUM lagi seperempat jam lagu Ebiet G. Ade itu selesai dinyanyikan biduanita Ida Farida, penumpang KM Tampomas II panik. “Api!, api!,” pekik mereka. Dan asap tebal dari bagian belakang kapal milik PT Pelni itu mengurung mereka.

    Itu terjadi sekitar pukul 22.15 hari Minggu 25 Januari. Kecuali yang tinggal di restauran dan asyik mendengarkan band serta suara Ida itu, sebagian besar penumpang baru saja memasuki kamar masing-masing. Tapi segera mereka menghambur ke luar.

    Dari pengeras suara, terdengar perintah untuk menggunakan pelampung. Para penumpang di dek, hiruk-pikuk berebut alat berwarna kuning itu. Belum lagi sejam berdiri di anjungan, kaki udah tak kuat merasakan panas. Api di dek bawah rupanya sudah menyundulkan sengatnya. Para penumpang kembali berebut potongan-potongan kayu untuk alas kaki mereka.

    Siapa orang pertama yang melihat kebakaran itu masih belum diketahui. Yang jelas, dia adalah awak kapal yang malam itu bertugas di bagian mesin.

    “Saya terima laporan pertama dari dia,” ujar Hadi Wiyono, masinis III yang malam itu berada di posnya, di anjungan, sebagai perwira piket.

    Laporan itu disampaikan lewat interkom, alat penghubung dari ruangan ke ruangan. “Ada kebakaran di car deck (dek tempat mobil),” bunyi laporan tadi seperti ditirukan Hadi pada TEMPO. Hadi ganti meneruskan laporan itu ke nakoda, Kapten Abdul Rivai. Sebagai “penguasa tunggal” di kapal berbobot mati 6.139 BRT itu,
    Rivai memerintahkan agar api disemprot dengan alat pemadam kebakaran yang ada.

    “Tapi karena sudah penuh asap, saya menyemprot sekenanya saja,” ujar Sudibyo, perwira di bagian listrik. “Dan karena mata sudah tidak kuat lagi saya menyelamatkan diri. Sebenarnya belum semua isi tabung habis,” katanya lagi.

    Tampomas II toh masih terus berjalan, dengan kecepatan 15 knot atau sekitar 25 km/jam. Untuk menghindari kebakaran menjalar ke mesin, Rivai memerintahkan agar mesin dimatikan. Tapi lantaran semua penerangan ikut padam penumpang bertambah panik. “Ada beberapa orang yang langsung terjun ke laut,” ujar Kasim, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA) Ujungpandang yang baru saja menghadiri Porseni dan Wisuda sarjana STIA se-Indonesia di Jakarta dengan 80 orang anggota rombongan, termasuk istri para sarjana baru.

    “Yang terjun malam itulah yang banyak meninggal,” kata Kasim pula. Ia menyebut sebagian besar grup penari dalam rombongan STIA yang terjun malam itu tidak tertolong lagi.

    Setelah menerima laporan bahwa kebakaran tidak bisa dipadamkan, Rivai memerintahkan untuk menghidupkan mesin. “Rivai bermaksud membawa Tampomas II ke pulau terdekat,” ujar sumber TEMPO di Ditjen Perhubungan Laut, mengutip hasil pemeriksaan oleh suatu tim resmi atas ABK yang selamat. Mesin hidup, tapi cuma
    sebentar, karena terjadi ledakan di dek mobil.

    Hadi Wiyono memperkirakan sekitar 20-an awak kapal meninggal karena terkurung di dalam ruang mesin. Dari sinilah kemudian beredar kabar terjadinya konflik antara Rivai dengan markonis, perwira yang bertugas di bagian komunikasi.

    Markonis Odang Kusdinar, kabarnya sudah minta izin kepada Rivai untuk segera mengirim berita SOS ketika laporan kebakaran diterima dari perwira piket. Tapi Rivai konon memilih lebih baik tak mengirimkan sinyal SOS dulu — yang memang tak dapat dilakukan sembarangan, karena akan merepotkan kapal di seluruh dunia. Yang perlu, api dihabisi segera. Tapi upaya memadamkan api ternyata tidak berhasil. Satu-satunya jalan yang tinggal mengirimkan berita kebakaran itu ke radio pantai.

    Tapi sudah terlambat. Alat komunikasi yang ada tidak bisa digunakan lagi. Dan Odang sendiri, entah kenapa, sewaktu dicari sudah tidak ada di kapal. (lihat box).

    Rivai, sebagaimana dikatakan Hadi Wiyono, kemudian mengambil “bola api” sebagai jalan terakhir untuk memberitahukan bahwa di situ ada kapal dalam keadaan bahaya. “Bola” itu sebesar bola tennis. Kalau dilemparkan ke atas, akan meledak dan menimbulkan cahaya ultra violet yang tajam — sebagai tanda SOS. “Anehnya bola api itu tidak meledak di udara,” ujar Hadi Wiyono pasti.

    Lantaran bagian tengah kapal semakin panas, para penumpang berlomba mencapai tempat paling tinggi di anjungan atau haluan. Seorang penumpang, pemuda keturunan Arab bernama Nur Abdullah, kemudian berteriak dari haluan agar ada di antara yang di anjungan — tempat paling tinggi — mengumandangkan adzan. Maksudnya untuk meredakan angin dan gelombang, sebagaimana biasa dilakukan nelayan Bugis. “Tapi terdengar justru takbir beramai-ramai, sehingga mirip malam lebaran,” keluh Nur
    Abdullah.

    Sepanjang malam pertama itu mereka tidak bisa melihat apa-apa lagi. Kecuali gelap dan asap.

    FAJAR hari Senin telah menyingsing. Seluruh cakrawala kelihatan tcrang. Kapal KM Sangihe terus melaju dengan kecepatan 10 knot dari arah Ujungpandang ke Surabaya. Sebagaimana biasa, begitu fajar datang pertama-tama yang harus dilakukan mualim kapal adalah melihat sekeliling cakrawala dengan teropong. Dan pagi itu Mualim I Sangihe, J. Bilalu, melihat ada asap mengepul di arah barat. “Kap!”, Bilalu memanggil Agus K. Sumirat, Kapten Kapal Sangihe, “boleh juga tuh Pertamina. Dia bisa dapatkan sumur minyak baru lagi,” kata Bilalu sambil menuding asap yang
    dia lihat. Waktu menunjukkan pukul 06.15 WIB.

    Karena di seluruh cakrawala tidak ada pemandangan lain, sebentar-sebentar mata Kapten Sumirat melihat ke sana — yang kebetulan memang berada di arah yang akan dilewati.

    Satu jam kemudian Bilalu kembali meneropong asap yang sudah kian mendekat. “Kap!. Asap itu dari kapal. Bukan pengeboran minyak Pertamina,” pekik mualim itu. “Kita menuju ke sana,” sahut Kapten Sumirat.

    Pagi itu udara cukup cerah untuk ukuran Januari yang biasanya selalu berkabut tebal. Sangihe terus melaju untuk melihat kapal apa yang mengeluarkan asap itu. Tepat pukul 07.35, Bilalu bisa membaca tulisan di kapal itu meskipun belum jelas benar Tampomas II.

    Para penumpang Tampomas II juga sudah melihat kedatangan Sangihe. Hadi Wiyono segera mencari cermin di kamar penumpang untuk di-”soklehkan” ke arah Sangihe datang.

    Saat itu juga Markonis Sangihe, Abubakar, diperintahkan untuk memberitahu Radio Pantai mana saja yang bisa dihubungi. Abubakar memutar-mutar saluran radio di ruang Markonis yang berdampingan dengan ruang kemudi itu. “Tiga menit kemudian saya bisa berhubungan dengan Radio Jakarta, memberitahukan bahwa KM Tampomas II terbakar,” ujar Abubakar.

    Memang hanya itu yang bisa diberitahukan. Sangihe sendiri masih belum pasti, apakah Tampomas II perlu pertolongan darurat. Hanya Sangihe terus mendekat dan Kapten Sumirat mengumpulkan awak kapal untuk bersiap-siap melakukan pertolongan.

    Tapi begitu jarak tinggal dua kilometcr, Sumirat melihat para penumpang sudah berada di atas kapal. “Kirim SOS”, perintah Sumirat pada Abubakar, lewat lubang kecil yang menghubungkan ruang markonis dengan ruang kemudi. “Pukul 08.15 persis saya kirim SOS dengan morse,” ujar Abubakar. Dengan demikian diharapkan seluruh kapal dan stasiun pantai menangkap sinyal SOS dari Sangihe itu.

    Sangihe terus mendekat, pelan-pelan Dilihat oleh Sumirat, Tampomas sudah buang jangkar. Berarti Sangihe bisa lebih dekat lagi tanpa takut terjadi tabrakan “Saya kelilingi dulu Tampomas untuk melihat dari arah mana bisa mendekat,” ujar Sumirat. “Untuk tender (merapat) dari lambung kanan jelas tidak bisa, karena asap mengarah ke kanan. Tapi mau fender di lambung kiri juga susah, karena ada tali jangkar yang kalau tertabrak bisa putus dan berbahaya,” tambahnya.

    Ada kesulitan lain yang lebih menghambat lagi. KM Sangihe sendiri sebenarnya dalam keadaan sakit. “Kalau kapal ini normal, kami tidak akan lewat sini,” ujar Sumirat.

    Sangihe mestinya harus membawa 900 ekor sapi dari Pare-Pare ke Padang. Tapi karena mesin rusak, ia nongkrong dulu di Pare-Pare sampai 6 hari. Akhirnya bisa juga jalan — tapi Sumirat minta agar kapal itu dibawa dulu ke Surabaya untuk dinaikkan dok. “Itulah sebabnya saya tidak berani ambil jalan lurus ParePare-Surabaya, tapi menyusuri dulu pantai Sulawesi. Kalau saya ambil jalan lurus tidak akan ketemu Tampomas,” kata Sumirat.

    Itu bukan kerusakan satu-satunya. KM Sangihe sebenarnya punya 3 mesin pembangkit listrik — tapi tinggal sebuah yang masih hidup. “Akibatnya saya tidak bisa melakukan manouver (olah gerak),” ujar Sumirat. “Kalau tidak bisa melakukan olah gerak, bagaimana bisa tender, ” katanya pula.

    Sumirat, 46 tahun, sebenarnya sudah tiga kali berpengalaman melakukan tender di tengah laut. “Tapi kali ini benar-benar tidak bisa,” katanya. “Kapten Rivai, Nakoda Tampomas, adalah teman sekelas saya, di AIP. Bayangkan bagaimana perasaan saya setelah tidak berhasil merapat di kapalnya.”

    Setelah tidak mungkin melakukan tender di lambung kanan dan kiri, Sumirat memutuskan untuk “parkir” di depan Tampomas dengan harapan bisa mendekat dari arah depan. Ketika jarak tinggal 300 meter lagi, Sumirat memerintahkan buang jangkar sepanjang 6 segel (142 meter).

    Dengan demikian jarak kedua kapal itu tinggal sekitar 150 meter. Sumirat sekali lagi memerintahkan untuk melepaskan dua segel lagi, sehingga jarak keduanya tinggal sekitar 100 meter.

    Seorang ABK (Anak Buah Kapal) Sangihe mencoba melemparkan tali ke Tampomas. Tapi tak sampai. ABK yang lain kemudian mengambil pistol khusus yang dipakai untuk menembakkan tali “Tapi sungguh aneh, pistol itu mejen,” ujar Husin Hamzah, ABK Sangihe asal Gombong.

    Sementara itu dari arah Tampomas, sudah ada tali yang hanyut. Seorang ABK Sangihe kemudian melemparkan tali ke arah tali yang hanyut tadi berhasil menyangkut. Tali Tampomas itu ditarik pelan-pelan, kemudian diikatkan di KM Sangihe. Jarak antara
    kedua kapal bisa lebih diperpendek lagi. Tapi tali itu terancam putus kalau terus ditarik, sementara semakin siang gelombang semakin besar.

    Karena itu, Sumirat menghendaki ada dua tali. “Siapa yang berani membawa tali ini ke sana?” ujar Sumirat. Seorang pemuda yang menumpang Kapal Sangihe tiba-tiba maju, menyediakan dirinya. “Saya tidak tahan lagi mendengar jeritan mereka,” ujar Youce Freddy, 20 tahun, pemuda asal Manado yang akan cari kerja di Jakarta.

    Penumpang yang sudah berkumpul di haluan Tampomas kedengaran riuh sekali, memang. “Panas!, Panas! Neraka!, …. Cepat kirim air!”, teriak mereka bersahut-sahutan. Sebagian tidak sabar lagi lantas menerjunkan diri ke laut –hanyut ke arah Sangihe.

    Persiapan mengirim Youce segera dilakukan. Tali yang akan dibawa Youce diikatkan di pinggangnya, agar kalau ia terjatuh bisa ditarik kembali. Waktu itu sudah pukul 12.00 siang. Youce mulai merambat sambil bergantung di tali pertama.

    Dengan mengerahkan seluruh tenaga dan keberaniannya, pemuda itu maju pelan-pelan pada tambang. Selamat! Youce sampai di Tampomas II. Langsung ia mengikatkan tali itu. Tapi ia kaget. “Saya terkejut sekali. Begitu sampai di Tampomas saya lihat sekitar 20-an mayat berserakan di geladak,” katanya.

    Mayat itu sudah berwarna hitam. Di antaranya seorang wanita tetap dalam keadaan merangkul anaknya yang berumur sekitar 3 tahun.

    Tali yang dibawanya tadi sudah terikat di Tampomas. Tapi malang, belum selesai ditarik kencang, tali pertama sudah putus. Akibatnya Sangihe hanyut, lalu membentur Tampomas. Tali kedua pun putus. Semakin siang gelombang memang semakin besar, sehingga Sangihe terhempas menjauh dari Tampomas.

    Sementara hubungan tali tadi diusahakan, dua buah sekoci diturunkan. Sebenarnya ada empat sekoci di Sangihc. Tapi hanya satu mesin listrik yang hidup yang hanya cukup untuk menurunkan dua sekoci. Itupun yang satu putus dan hanyut.

    Satunya lagi langsung diserbu oleh penumpang yang terjun dari Tampomas. Ada 8 awak kapal Sangihe yang diturunkan dalam sekoci itu untuk membantu para korban naik ke sekoci. Setelah penuh, sekoci ditarik dan para korban dinaikkan ke Sangihe.

    Sekoci itu pun sekali lagi diluncurkan dan sebentar saja juga sudah penuh pula ada 158 orang yang akhirnya diselamatkan KM Sangihe sepanjang hari Senin itu. Semuanya dalam keadaan sehat — kecuali luka bakar di kaki mereka.

    Upaya untuk mendekat Tampomas lagi sudah tak mungkin. Gelombang semakin besar. Tali temali juga sudah habis. Sangihe kini hanya “menghadang” saja korban yang hanyut ke arah kapal itu. Di lampung kiri Sangihe memang ada tangga yang terus terpasang. Tiga orang awak kapal menggelantung di tangga itu sambil menyaut
    korban yang hanyut di dekatnya.

    Sampai Senin sore itu, belum ada kapal lain yang datang. Tapi beberapa kapal diberitakan sedang menuju tempat itu. Markonis Abubakar sepanjang hari itu tidak henti-hentinya berteriak-teriak di kamarnya. Ia melayani pertanyaanpertanyaan
    dari berbagai instansi.

    “Mestinya kami kan cukup menjawab salah satu instansi saja, lantas yang lain menanyakan ke instansi tadi,” tutur Abubakar. Suaranya sudah hampir tidak kedengaran karena 24 jam secara nonstop berteriak. “Sampai-sampai sebuah radio kami sekarang rusak” tambahnya.

    Sumirat, Kapten kapal yang berwajah seperti bintang film Koesno Soedjarwadi itu hanya menunduk sedih, ketika ditanya bagaimana pendapatnya tentang kecaman para penumpang Tampomas yang menggambarkan seolah-olah Sangihe penakut. “Apa pun pendapat orang, akan saya terima dengan lapang dada. Saya memahami perasaan mereka, yang sudah begitu dekat dengan Sangihe, tapi tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Sumirat.

    Mereka tak bisa berbuat-apa-apa — termasuk melawan haus dan panas.

    Sepanjang Senin itu, tidak ada hujan di sekitar Tampomas. Pernah sekitar pukul 15.00 ada satu dua titik air dari langit, tapi tidak sampai membasahi mereka. “Kalau ada hujan tentu mereka tertolong sekali. Ketika ada gerimis saja mereka pada menengadahkan wajahnya ke langit supaya bisa basah,” ujar seorang pelaut yang menyaksikan detik-detik itu.

    Tapi setelah lepas tengah hari, mendung dan kabut memang semakin tebal. Dan ketika senja telah tiba, Sangihe menjauh dari Tampomas sampai sekitar 1.300 meter, diikuti sumpah serapah penumpang yang masih penasaran di Tampomas. “Semata-mata lantaran khawatir, kalau terjadi benturan di waktu malam,”
    bantah Sumirat.

    Malam itu KM Ilmamui, juga milik Pelni, yang baru datang pada pukul 21.00, langsung parkir sekitar 2 km dari Tampomas. Ilmamuilah yang meneruskan pemberitahuan SOS dari Sangihe keberbagai stasiun radio pantai.

    Empat jam kemudian, pukul 01.00 dini hari, Selasa 27 Januari, datang lagi kapal tangker Istana VI. Istana juga langsung parkir di sebelah Ilmamui. Dua kapal lagi malam itu datang di Masalembo: Adhiguna Karunia dan Senata. Semuanya langsung lego jangkar, menbentuk barisan sekitar dua kilometer dari Tampomas.

    Keesokan harinya mereka bergerak maju. Istana VI, karena penuh muatan minyak, punya kelebihan sebagai penolong: memudahkan para korban naik ke kapal itu lantaran dindingnya rendah. Ada 144 orang yang diselamatkan Istana VI di samping 4 jenasah.

    Kapal yang paling banyak menyelamatkan para korban adalah KM Sengata, milik PT Porodisa Lines. Kapal khusus pengangkut kayu bulat dari Kalimantan ke Taiwan atau Jepang ini memang punya perlengkapan khusus, berupa jaring yang bisa dipasang di
    sepanjang lambung kanan dan kiri. Banyak korban yang selamat karena cepat meraih jaring itu, kemudian memanjat naik. Akhirnya tercatat 169 korban yang tertolong di sini, plus dua mayat.

    Para korban juga banyak memuji Sengata, karena keberaniannya mendekat Tampomas. Kapal ini sempat beberapa detik merapat di Tampomas dan 6 orang memanfaatkannya. “Begitu dekat saya loncat” ujar Sudibyo, 38 tahun, perwira listrik Tampomas II yang bisa mermantaatkan kesempatan emas itu.

    Sampai pukul 12.00 hari itu juga tidak ada turun hujan. Tapi kabut dan angin terus menjadi hambatan. Pukul 12.30, tiba-tiba ada ledakan di bagian belakang dan Tampomas II mulai miring. Di bagian belakang kapal ini ada 12 tabung besar berisi Elpiji yang biasa dipakai untuk dapur. Tampomas II memang satu-satunya kapal di Indonesia yang menggunakan Elpiji. “Begitu miring banyak penumpang longsor bertindihan,” ujar Youce yang terus berada di Tampomas II sampai saat terakhir. Youce kemudian berenang menuju Sengata.

    Hanya 20 menit kemudian Tampomas II tenggelam, mulai dari pantatnya. Tapi tenggelamnya haluan kapal itu tidak kelihatan dari kapal lain, karena cuaca diguyur hujan lebat sekali. Saat itu ada pertanyaan masuk ruang markonis menanyakan bagaimana posisi Tampomas. “Dijawab bagaimana, kap” tanya Abubakar.
    “Karena tidak kelihatan, saya suruh jawab saja: sedang menuju ke dasar laut,” ujar Sumirat.

    Begitu hujan reda, Tampomas II memang sudah tidak kelihatan. “Anehnya keadaan cuaca berubah jadi cerah sekali,” ujar Sumirat. Tinggal di sana sini tampak orang terhanyut — sisa-sisa sebuah perjalanan yang sangat menyedihkan.

  28. MasyaAllah terharu baca ceritanya. Alhamdulillah terselamatkan. Salut sama asisten pelatihnya. Dan bagus sekali cara bapak menuturkan ceritanya pak. Saya seperti dapat membayangkan keadaannya disana.

  29. pak dis, semoga berumur panjang.
    makanan yg tak dimasak, baik untuk kesehatan.
    sebisa mungkin makan yg tak dimasak.
    seperti jamu.
    jus sayur.
    telor mentah.
    kacang tanah mentah, jagung mentah, kurma, salak, pisang.
    semoga berbarokah.

  30. Ceritanya sangat menarik, betul
    bisa dijadikan novel, tp tidak semua sesuai dengan berita yg sesungguhnya.
    Ingin klarifikasi sedikit saja..
    dr awal misi pencarian & penyelamatan tim sepak bola ini, pompa air untuk menjaga level air di dalam gua sudah digunakan.http://mobile.abc.net.au/news/2018-07-07/thailand-cave-rescue-water-floods-volunteers-rice-farm/9951636
    Diver yang menemukan posisi mereka menemukan anak-anak ini pd tgl 2Jul malam, dan kembali kembali ke base camp dengan selamat
    Ada 2 most possible solution yg direncanakan, menyelamatkan anak-anak itu segera dengan cara diving, namun berisiko karena mereka belum terlatih. Dan rencana awal untuk menunggu hingga air surut, namun diberikan supply makanan & udara. Tetapi karena monsoon, opsi ke 2 ini tidak bs dilanjutkanhttps://www.bangkokpost.com/news/general/1496282/boys-and-coach-found-alive-in-cave

    Terakhir, mengenai khun Samarn, beliau meninggal pada tgl 6Jul,saat membawa tabung gas ke dalam gua, menyiapkan tabung gas yang akan digunakan pd saat mengeluarkan anak-anak itu dr gua. belia meninggal pada perjalanan balik ke basecamp.Thailand cave rescue: Boys ‘can walk but can’t dive yet’ http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-44747049

    hingga kemarin malam, 8 dari mereka sudah keluar dr gua dengan selamat.
    Cave rescue: Divers ready to save remaining five Thais http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-44772783

  31. Yg 2 orang itu tim pnyelamat, damkar dan IT bgaimna teknisnya mreka bsa smpai ktemu anak2. Itu yg bkin takjub.

  32. Pak Dahlan, tulisan dan kisah anak anak di Thailand ini benar benar menguras emosi. Saya mengikuti beritanya sejak mereka hilang. Membayangkan bagaimana jika terjadi dengan keluarga saya. Ikut mendoakan mereka semua, beserta tim rescue diberi keselamatan oleh Allah SWT

  33. Masya Allah, ini salah satu karya jurnalistik terbaik yang pernah saya baca. Ikut merinding dengan apa yang terjadi, sangat takut membayangkan bila kejadian itu menimpa saya dan anak saya. Semoga sang asisten pelatih dan anak-anak dalam keadaan sehat wal afiat, Aamiin…..

  34. Terimakasih tulisannya pak, lengkap, detail dan mengaduk-aduk perasaan. Sebagai orang tua saya juga terharu, kalau saya di posisi orang tua mereka mungkin sudah lemas dan pingsan. Salut untuk pelatih yang tetap bisa memotivasi anak-anak agar tetap tenang dan bertahan.

  35. Mengingatkan tulisan Abah Dahlan Iskan tentang tenggelamnya kapal Tampomas 2 tahun 1980an, hasil reportase bagai ikut dalam informasi yang disampaikan detil.

  36. Mohon izin memberi masukan, menurut saya di paragraf:
    “Satu hari ditunggu. Tidak ada kabar dari Saman. Ternyata Saman meninggal. Kehabisan oksigen. Drama pun bertambah seru. Satu pahlawan telah ikut jadi bintang.” Menurut saya penempatan kata “Seru” di dalam kalimatny tidak pas, karena seru itu biasanya lebih ke arah menyenangkan, tetapi ini kejadiannya mencekam, jadi bisa diganti menggukanan kata “Dramapun bertambah tragis” atau “mencekam”.
    Trims.

  37. Saya suka (geli) baca tulisan pak Dahlan Iskan. Secara dia suka ber ‘metatesis’. Monsoon jadi moonson 😄
    Lantas jadi ingat beberapa tahun yl, di korannya dia berkisah tentang pantai di Rio de Janeiro
    Pantai yg dari jaman dahulu kala namanya Ipanema, disebutnya Ipamena 😅 (dan gaada yg berani mengedit)😎
    Padahal sejak lebih dari setengah abad yl sudah ada lagu ‘girl from ipanema’ antonio carlos jobim 😎🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,193 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: