Bermuara ke Yang Besar Juga
Catatan Harian, Inovasi, Terbaru

Bermuara ke Yang Besar Juga

Oleh: Dahlan Iskan

Muara persewaan sepeda ini akhirnya konglomerat juga.

Tapi lihatlah riwayat lahirnya: Lima mahasiswa punya hobi yang sama: bersepeda. Mereka pun membuat klub sepeda. Di Beijing. Mereka memang lagi kuliah di program bisnis di Beijing University. Yang sering mendapat gelar informal sebagai ‘Harvardnya Tiongkok’.

Ketua klub sepeda itu bernama Dai Wei. Kelahiran tahun 1991. Asal: provinsi miskin Anhui. Begitu lulus tahun 2013 Dai Wei harus ai guo: mengabdi di pedalaman. Mengajar matematika di pedesaan provinsi terpencil: Qinghai. Saya bisa membayangkan terpencilnya provinsi ini karena sudah tiga kali ke Qinghai.

Setahun di Qinghai ia ambil master di universitas yang sama. Belum lagi lulus, lima mahasiswa ini merumuskan gagasan: bisnis persewaan sepeda. Kecil-kecilan. Khusus untuk turis. Dan untuk lingkungan kampus.

Mereka pun mulai mencari dukungan dana. Sasaran pertamanya adalah: ikatan alumni program bisnis di universitas itu. Yang memang punya dana khusus: untuk mahasiwanya yang serius ingin memulai bisnis.

Dana itu cukup untuk membeli sepeda sebanyak 2.000 roda. (Di Tiongkok satuan untuk sepeda adalah ‘liang’ bukan ‘buah’).

Mereka mendirikan perusahaan: OfO. Pilihan nama itu terinspisari dari imajinasi: tiga huruf itu mirip sketsa orang naik sepeda. OfO ternyata laris. Selama setahun itu penggunanya sudah 20.000.

Tentu dana pertama tadi tidak cukup. Untuk mendukung gairah dan ambisi mereka. Dicarilah dana dari perusahaan besar. Mereka incar perusahaan yang menyukai teknologi.

Yang merespons ternyata perusahaan telepon Xiaomi. Dan satu perusahaan lagi bernama Didi (baca: Titi). Didi adalah perusahaan yang berhasil mematikan Uber di Tiongkok. Dengan cara membelinya. Dan menguburkan nama Uber di kuburan abadi.

Dari dua perusahaan itu Dai Wei mendapat dukungan dana USD 130 juta. Atau sekitar Rp 150 miliar. Begitu mudahnya cari dana. Untuk ide yang hebat. Untuk langkah kecil yang sudah nyata.

Mulailah OfO ngetop. Bisa membuka persewaan sepeda di mana-mana. Warna kuning tiba-tiba memenuhi trotoar setiap kota.

OfO pun memasuki tahap yang disebut ‘growing pain’. Sakit akibat pertumbuhan. Sakitnya pun berat. Karena pertumbuhannya terlalu cepat. Artinya: OfO perlu dana yang lebih besar.

Didi berani menyuntikkan dana lagi. Lebih besar: USD 450 juta. Hampir Rp 600 miliar. Bersama perusahaan Russia, Digital Sky Tech.

Grup Alibaba giliran tergiur. Ikut suntikkan dana USD 700 juta. Dan tahun ini Alibaba kembali menginjeksi lagi. Lebih besar lagi: USD 866 juta.

Perkembangan OfO memang menjadi luar biasa. Persewaan sepeda ini sudah beroperasi di 250 kota. Di 22 negara. Waktu di Dallas, Texas, bulan lalu saya kaget: ada OfO juga di sana. Waktu ke St Louis, Missouri, juga ketemu OfO.

Total OfO sudah memiliki sepeda sebanyak 10 juta liang.

Bermula dari ide lima mahasiswa. Hanya dalam lima tahun. Dari hobi bersepeda. Bisa memiliki perusahaan raksasa. Senilai Rp 14 triliun. Bisnisnya pun sepele: persewaan sepeda.

Memang sukses OfO menggeret banyak follower. Puluhan perusahaan lahir. Ikuti jejak OfO. Ada yang bertahan, ada yang langsung mati.

Mobike, yang sepedanya warna Manchester City, tergolong sukses juga: punya 9 juta sepeda. Beroperasi di 200 kota. Di 18 negara.

Tapi banyak juga yang mati. WukangBike hanya berumur 6 bulan. Beroperasinya di kota Chongqing: kota besar di bagian tengah Tiongkok. Yang penduduknya 50 juta. Yang umumnya lebih miskin dari wilayah Tiongkok timur.

Ditemukanlah penyebabnya: 90 persen sepedanya hilang!

Bukan berarti OfO atau Mobike tidak pernah kehilangan sepeda. Tahun lalu diadakan pencarian sepeda di sungai Mutiara. Yang melintasi kota Guangzhou. Hasilnya lumayan: 3.000 sepeda berhasil diangkat dari sungai. Rupanya tidak ada ikan yang berani memakannya.

Persewaan sepeda telah menjadi kisah sukses. Meski belum satu pun yang berhasil laba. Suksesnya masih di tahap ini: siapa yang meruginya paling besar dialah yang disebut paling sukses.

Tapi lima mahasiswa ini telah bisa mengubah kata mobil menjadi sepeda. Awalnya mereka tidak mungkin mampu membeli mobil. Cita-cita awal mereka hanyalah: bagaimana bisa menghubungkan mobil dengan mobil. Melalui sepeda. Sejauh-jauh mobil dikendara harus ada sepeda untuk jarak dekatnya.

Final persaingan sepeda sewaan nanti: tim Alibaba vs tim Tencent. Rasanya seperti itu. Kecil kemungkinan melesetnya. Dua konglomerat terbesar di Tiongkok itu sedang berada di perempat final. OfO akan dibeckingi Alibaba dan Mobike didukung Tencent.

Dunia modern kian bermuara ke yang besar-besar saja. Atau sekalian yang kecil-kecil saja. Tidak adakah tempat bagi yang sedang-sedang saja?(dis)

July 20, 2018

About Author

dahlan iskan


36 COMMENTS ON THIS POST To “Bermuara ke Yang Besar Juga”

  1. Saya masih belum mudeng alias understand dg Gaya bisnis model OfO,mobike,Gojek dll gimana ngitung value perusahaan kalau masih rugi? Mohon Abah berkenan menulisnya, agar Saya yg awam ini jadi mudeng. Maturnuwun Abah

    • GoJek dan lain lain itu ambil untung dari data bro, namanya big data, machine learning, yg dia jual adalah data yg sudah dia analisa sebelumnya, untuk perusahaan perusahaan besar contoh restoran inisial M, dia dapat data di Jakarta Selatan apa sih yg paling laris dari penjualan di gofood nah dia genjot lagi bikin iklan sesuai data itu bro

  2. Jadi teringat nasihat guru saya sewaktu hari pertama masuk sma. Kalau mau terkenal jadilah anak yang paling pintar, kalau tidak bisa ya sekalian jadi anak paling bodoh. Jika jadi anak yang sedang2 saja tidak akan dikenang oleh siapapun
    Heheheh….

  3. Sosialisme hanya bisa tiba berkendaraan sepeda

    – Jose Antonio Viera Gallo, negarawan Chile. Dikutip dalam bukunya Ivan Illich, Energy and Equity (1974). Tapi kini sosialisme tiba dengan menunggangi kapitalisme ?

  4. Maaf saya tidak paham dengan kalimat, yang ditulis Abah yaitu, yang paling rugi besar dialah yang paling sukses.
    Akal saya berpikir, kenapa bisnis rugi kok menjadi paling sukses? Lalu siapa yg tombok kerugiaannya? Apakah punya uang berlimpah ruah, sehingga merasa bangga dan sukses untuk nanggung rugi, yang penting terkenal diseantero dunia?
    Atau mungkin mereka berpikir, untuk menambah gengsi dan prestise, diperlukan pengorbanan. Kerugian bisnis usahanya hanyalah sebuah pengorbanan.
    Mungkin ini yang namanya, bisnis edan edanan. Siapa mau menyusul?

    • memang sistem star up sejauh ini seperti yang abah jelaskan. Yang siao rugi besar dalam hal keuangan yang paling sukses. Suksesnya Karena bisa bertahan, walaupun bertahannya dengan cara bakar duit terus untuk menghidupi perusahaan bersangkutan. Setelah para pesaing pada ndak kuat dan mati, akhirnya perusahaan yang banyak bakar duit yang menang dan jadi dilirik buat pasar atau di open publik sahamnya. gitu kak

  5. sekedar share

    ketika saya bertanya kepada alumnus havard, apa kunci sukses yang idiajarkan di havard?
    jawabannya sederhana, …
    jadilah orang berfikiran global yang ingin memberikan manfaat kepada seluruh dunia sekecil apapun ….
    jangan hanya berfikiran untuk skup desa, kecamatan, tapi harus seluruh dunia …
    jika masih berfikiran skupnya terbatas maka anda bukan orang yang memegang falsafah havard

    contoh ..
    ketika smartphone semua menggunakan daya 5 volt, maka anda harus berfikir bagaimana smatrphone bisa berjalan dengan daya 3 volt saja
    itu sudah cost down seluruh dunia, 40% seluruh dunia cost down maka apaa yang akan terjadi …
    setelah punya ide itu , kejarlah sampai dapat mimpi itu .. walau keringat darah sekalipun
    kelak kamu akan mendapatakn manfaat besarnya

    sepertinya falsafah havard aharus ditularkan ke semua generasi di indonesia
    terutama generasi maha …

    saya menunggu persewaan ofo di cikarang

  6. Abah DIS…
    Kalau pulang ke Magetan, mohon sempatkanlah mampir di mbedengan Genilangit Poncol…
    Wahana wisata baru kekinian yang udaranya masih kisaran 15 derajat

  7. Sangat menginspirasi,
    Pagi saya belum lengkap kalau belum membaca tulisan abah…
    Sehat selalu ya abah Dis

  8. Terima kasih Pak Dahlan, atas inspirasi bisnis, yang bapak sharingkan pagi ini.
    Setelah mengalami 5 kali bangkrut, dan yang saat ini dijalani, sedang lesu.
    Membaca Disway pagi ini, seakan mendapatkan energi dan inspirasi bisnis baru.
    Dan Alhamdulillah karakter “gila” saya juga masih bertahan, hehehehehe…

    Tidak beda jauh dengan kalangan artis. Di negara Via Vallen.
    Artis yang ngetop itu, yang ngguanteng/cuantik atau juelek sekalian.
    Huahahahahahaha…

    Salam “Super Power Indonesia”,
    bagi seluruh Bangsa Indonesia,
    untuk saat ini dan masa-masa mendatang.

  9. Saya merenungi kalimat ini: Rupanya tidak ada ikan yang berani memakannya. Manusia oh manusia, kita harus banyak belajar dari ikan. Mereka hanya makan yang cukup untuk isi perut mereka, tidak “RAKUS” seperti kita:MANUSIA

  10. entah kenapa kalimat terakhir membuat saya tertegun kemudian hampir mengeluarkan air mata. Terimakasih Pak Dis, suka sekali dengan gaya anda bercerita dalam tulisan

  11. Wah, Ofo yang di Korea ini tempat kerjanya Jang Hansol (youtuber korea yang bisa bhs jawa medok)… Kantornya modern banget

  12. Hahahaha “Hasilnya lumayan: 3.000 sepeda berhasil diangkat dari sungai. Rupanya tidak ada ikan yang berani memakannya.” kalau di indonesia langsung di kiloin bah.

  13. Terima kasih bah sudah bahas tentang bisnis. memang yang saya perhatikan juga seperti itu bah. kalo besar usahanya udah yang bsaar juga investornya dan pastinya berkaitan dengan usaha itu juga ai investor yang bersangkutan. kalo kecil ya berarti ndak kuat ya tutup. dan memang betul usaha starup jaman now siapa yang rugi besar dia yang untung. Alias siap bakar duit unlimited. Semoga buat saya Tokoandalan bisa menemukan celah selain dari yang udah umum di dunia cara perkembangan starup nya.

  14. ini konversi ke rupiah nya kaga salah ya?
    USD 100K = Rp.1,4 M
    USD 1 millions = R.p 14 M
    USD 10 Millions = R.p 144 M
    USD 100 millions = Rp. 1,4 Trilions
    USD 1 Billions = Rp. 14 Trilions
    jadi total OFO itu perusahaan bernilai USD 2,1 billions = Rp. 28-30 Trilions

  15. Izin koreksi, bah. Klo us$130jt kalo dikonversi bukan Rp150 miliar, tp Rp1,5triliun. Us$450jt dikonversi bukan Rp600 miliar, tp Rp6 triliun. Dan seterusnya. Hanya kurang 0 aja satu, hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,164 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: