Belajar dari Banyuwangi
Catatan Harian, Manajemen

Belajar dari Banyuwangi

Ada satu kelompok orang miskin yang tidak mungkin dientas. Mereka janda. Atau duda. Sudah tua. Tidak punya keluarga. Rumah juga tiada.

Diberi modal pun tiada guna. Apalagi diberi penataran.

Perkiraan saya jumlahnya 5 juta. Di seluruh Indonesia.

Bagi kelompok ini, yang penting adalah jaminan bisa makan. Setidaknya dua kali sehari. Kalau sakit bisa berobat. Gratis. Punya baju meski tidak baru. Punya selimut. Atau sarung yang multi guna.

Tapi yang terpenting sebenarnya keperluan jenis ini: teman bicara. Teman ngobrol. Teman curhat.

Inilah sebenarnya tujuan panti jompo. Agar punya banyak teman sebaya. Tapi dari namanya saja sudah begitu menghina. Siapa yang mau terhina tinggal di sana.

Di Banyuwangi saya melihat contoh ideal. Saat saya ke sana. Sabtu-Minggu kemarin. Bupati Banyuwangi Azwar Anas sudah punya datanya: 2.000 sekian. Lengkap dengan nama dan alamatnya.

Anas juga punya solusi: kirim makanan dua kali sehari. Tiap kali satu rantang berisi tiga.

Dia tahu birokrasi tak akan mungkin menanganinya. Maka dia tunjuk warung-warung terdekat.

Misalnya warung bu Fatimah. Saat saya ke warung itu rantang sedang dipersiapkan. Ada warna merah dan hijau. Untuk pengiriman sore.

Untuk makan malam. Bu Fatimah punya dua ‘loper’. Yang mengantar rantang itu. Sekaligus mengambil rantang kosong.

Setiap bulan Bu Fatimah menerima pembayaran dari Pemda. Serantang Rp 18.000. Juga bertanggungjawab atas mutu makanan.

Sore itu saya kunjungi Bu Tampani. Seorang janda. Umur 80 tahun. Punya tiga anak. Tapi semua meninggal sebelum umur dua tahun.

Suaminya, seorang nelayan, juga sudah meninggal. Lebih dari 40 tahun lalu.

Tapi fisik Bu Tampani cukup baik. Pendengarnya masih ok. Ingatannya masih segar. Bicaranya masih jelas. Tidak pikun. Tidak tremor.

Dialah salah satu penerima rantang itu. Kebetulan tetangga-tetangganya masih sering mengajak dia ngobrol.

Saya yakin ada Pemda lain yang memiliki program seperti Banyuwangi. Hanya saja saya tidak tahu.

Tapi Pemda yang melakukannya seperti tidak mendapat nama. Seolah kurang berhasil dalam menangani kemiskinan.

Meski telah tertangani, tetap saja mereka masuk kelompok miskin. Mereka tidak menjadi faktor pengurang angka kemiskinan.

Mungkin ada baiknya dilakukan begini: mereka yang sudah tertangani dari kelompok ini dikeluarkan dari angka kemiskinan. Bikinkan kategori khusus.

Mereka memang tidak mungkin dientas. Dalam pengertian dibuat kaya. Yang penting kebutuhan mereka terpenuhi.

Banyuwangi memang punya ribuan terobosan. Salah satunya pembentukan ‘smart kampung’. Anas melakukan revolusi digital mulai dari kampung.

Inilah kabupaten yang majunya sangat nyata. Dulu Banyuwangi sulit maju karena jauh dari mana-mana.

Anas bangun bandara. Kini sudah ada penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi. Tiga kali sehari. Juga dari Surabaya. Tak lama lagi dari Singapura dan Kualalumpur.

Banyuwangi yang bisa berbuat begini. Ekonominya tumbuh 6,7 persen. Angka yang sulit dicapai nasional. Bupati memang juga harus pabrik ide. Dan CEO yang handal.

Bahkan hal sepele pun dia perhatikan. Misalnya omongan yang bersifat tahayul. Tapi meluas. Menjadi kepercayaan umum. Merusak mental. Maklum Banyuwangi juga dikenal sebagai ibukota santet nasional. Dulu. Tidak pernah damai. Kisruh terus. Demo terus.

Masyarakat sudah sampai tingkat percaya Banyuwangi sulit maju. Kantor bupatinya saja menghadap makam besar. Taman makam pahlawan. Di halaman makam itu ada patung pedang dan tombak. Itu yang membuat kabupaten berdarah-darah.

Tentu Anas tidak percaya yang begituan. Tapi meluasnya kepercayaan seperti itu harus dibasmi. Bukan dengan khotbah atau kecaman. Tapi tindakan.

Patung senjata itu dia bongkar. Halaman makam itu dia mundurkan. Menjadi luas. Lalu dia hutankan. Dengan pohon sawit. Rapat. Rindang. Dia buat plaza di bawahnya. Dia pasangi wifi.

Kini makam itu tidak terlihat dari luar. Yang tampak adalah hutan sawit yang rimbun dan indah. Anak-anak muda berwifi ria di naungannya.

Belum cukup. Dua kanon meriam dia pasang di depan kantor kabupaten. Meriam besar. Menghadap makam. Senjata yang lebih besar untuk menangkis pedang dan tombak yang sudah tidak ada.

Sudah tujuh tahun tidak ada demo di Banyuwangi.

Bukan karena makamnya sudah ditutup hutan sawit. Tapi Anas membuat masyarakat sibuk berkarya.

Lebih 150 festival dia buat setiap tahun. Mulai dari tari ‘gandrung seribu’ sampai lari ke gunung Ijen.

Aneh sekali kalau kawasan Toba tidak bisa bangkit seperti Banyuwangi. Bandara Silangit harus bisa jadi bandara Banyuwangi. Tapi memang. Memang. Harus ada Azwar Anas di sana.

Itu pula yang membuat saya menyarankan pada bupati Sambas, Kalbar, H Atbah Romin Suhaili LC.

Saat beliau ke rumah saya. Mencari cara membangun Sambas. Yang begitu jauh. Yang bertetangga dengan Serawak.

Bangunlah bandara. Manfaatkan nilai jual tetangga: kota Singkawang.

Bekerjasamalah dengan walikota Singkawang. Jangan bersaing. Apalagi bertengkar. Hanya demi gengsi.

Begitu banyak orang ingin ke Singkawang. Apalagi saat Cap Go Meh. Atau Imlek. Atau ceng beng. Terlalu tersiksa untuk ke Singkawang. Harus lewat Pontianak.

Banyuwangi literatur hidup untuk semua itu.(dis)

April 10, 2018

About Author

dis


25 COMMENTS ON THIS POST To “Belajar dari Banyuwangi”

  1. Mohon ijin berkomentar.

    Tulisan Pak Dahlan bisa menjadi inspirasi ke arah kemajuan. Sangat berguna, Insya Alloh. Para pemimpin dapat “menjiplak, meniru, mencontoh” ide-ide inspiratif dalam tulisan Pak Dahlan. Para orang kecil (seperti saya dan para pembaca lainnya) juga dapat mencontoh ide-ide Pak Dahlan. Monimal, ada spirit untuk berbuat baik dan berbagi kebaikan.

  2. Inspiratif …. memanusiakan manusia yg sudah manula, semoga niatan yg baik dari bupati Anas ini akan tetap berlanjut meskipun pak Anas sdh tidak menjabat lagi

  3. Bravo, Pak Dahlan. Anda memang luar biasa! Penuh dengan ide-ide hebat dan selalu mendengarkan dan melaporkan hal-hal yang menginspirasi.

  4. sejatinya berita yang muncul setiap hari seperti ini, enak dibaca membawa makna dan tidak mengada ada, karena memang kaidah jurnalistiknya digunakan,

    saya yakin jika tulisan semua koran seperti ini, minat baca masyarakat indonesia akan naik dengan sendirinya,

    apalagi jika ditambah video dan foto yang mengagumkan

    • setuju pak Saeful. daripada berita yang manas-manasi enak begini. saya jadi mengurangi lihat berita. setiap pagi selalu baca Di’s way.

  5. bAGUS SEKALI PAK di. cERITA SUKSES DARI DALAM NEGERI YANG INSPIRING SEPERTI bANYUWANGI MESTI DI”KEREK” TINGGI-TINGGI SUPAYA BISA DILIHAT SEMUA ORANG, MENYEMANGATI DAN PARA PETINGGI TIDAK LAGI BISA BERDALIH, NGELES, BER-ALIBI ATAS KEKURANGAN PENCAPAIAN DIBANDING NEGERI LAIN. dITUNGGU CERITA SUKSES YANG LAIN PAK. sIPPP

  6. Dapat rantangan, punya kartu sehat dan ada tempat bernaung dengan lokasi yng bersih, sudah tidak boleh dikatakan miskin. Dengan modelini pedagang warung juga bisa hidup, anak dan keluarga pedagang warung juga sejahtera, pengantar rtantang juga hidup, keluarga pengantar rantang juga terpengaruh. alhasil dari satu rantang senilai 18 ribu dapat mememratakan ekonomi rakyat kecil secara cepat. sangat inspiratif!

  7. Pak dahlan.. mohon bupati banyuwangi dan walikota surabaya jadi laboratorium pelayanan rakyat untuk semua walikota dan bupati seluruh indonesia, melalui jawapos grup dan jarinngan pak dahlan bisa dpromosikan supaya ,, semua walikota dan bupati bisa naik kelas..matur nuwon salam kenal Pak Dis.

  8. Pak DI selalu dapat contoh2 kecil, riil, terbukti efektif menyelesaikan masalah. Tinggal scale up ke skala nasional.

  9. Ini yg serimg pak di katakan Kaya bermanfaat…pak di bisa jalan2 kemana2 dan membagikan cerita ke kita.

  10. LUUAAARRRR BIASA! hebatt! Baru tau ada bupati yg seperti ini! Memajukan ekonomi daerah sampai 6,7 persen. Angka yg sulit dicapai nasional. Jadi terharu membacanya

  11. Inspiratif tulisannya.. Adem bacanya.. Sangat benar, manula butuh teman ngobrol, meski kadang omongannya kemana-mana.. Sehat terus, Pak DI!

  12. terimakasih pak dahlan, Indonesia perlu kader2 pemimpin seperti beliau pk Anas, Sy yakin Indonesia akan semakin maju dengan semakin banyaknya orang hebat yg menjadi pemimpin di negeri ini, dan dengan pemilu kedepan mudahan2 Indonesia bisa memperoleh pemimpin yg lebih baik lagi, serta sudah tak zaman lagi saling hujat, saling menjatuhkan untuk kepentingan politik, membuat panas telinga, tapi berkampanyelah dengan bukti nyata yaitu kerja untuk rakyat bukan hujatan2 tak beradab menjatuhkan dan tak berisi. sungguh terlihat memalukan dan justru hal-hal seperti itulah yg membuat bangsa ini semakin minder dan terbelakang. dari Banyuwangi kita belajar optimisme dan harapan untuk Indonesia

  13. Sederhana dan mengena!
    Sudah bosan dengan janji program ndakik-ndakik nan jauh di angan-angan….
    #ayosadar

  14. Saya selalu suka membaca tulisan abah. entah. selalu saja menarik. seperti yang satu ini. munculnya di banyuwangi. mungkin di daerah lain juga ada. semoga setiap daerah bisa saling membantu. semoga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,181 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: