Beda Bersih Karena Baru Dibersihkan
Catatan Harian, Internasional, Terbaru

Beda Bersih Karena Baru Dibersihkan

Oleh: Dahlan Iskan

Saya kira hanya saya. Ternyata orang-orang asing juga berpikiran sama: Kota Pyongyang ini bersih sekali.

Saya bertanya ke beberapa turis dari Beijing. ”Saya juga tidak menyangka Pingrang sebersih ini,” ujar turis itu.

Ia seorang pengusaha konstruksi. Umur 60an tahun. Juga untuk pertama kali ke Korea Utara. Dengan rombongan 8 orang.

Kami ngobrol asyik dalam bahasa Mandarin. Saat makan pagi bersama. ”Anggota rombongan kami juga kaget. Kota ini bersih sekali,” kata istrinya.

Dalam bahasa Mandarin, Pyongyang disebut Pingrang (平壤). Tanah yang datar. ”Satu puntung rokok pun tak terlihat,” tambahnya.

Mereka sudah tiga hari di Pyongyang. Terheran-heran. Jauh dari yang mereka duga.
”Lebih bersih dari Singapura,” ujar turis Singapura itu. Agak berlebihan.

”Ini kota terbersih yang pernah saya kunjungi,” ujar turis Belanda. Yang rombongannya 20 orang. Semua naik kereta. Dari Beijing. Satu malam suntuk. Tepatnya 20 jam.

Turis Belanda ini senang sekali saya ajak berbincang. Setelah lebih dulu saya puji. ”Belanda sekarang hebat. Mengalahkan Jerman 3-0,” kata saya.

Mereka langsung bersorak. ”Sekarang kami calon juara dunia,” ujarnya.

Saya sendiri sudah dua hari di Pyongyang. Dari rencana lima hari. Juga terheran-heran.

Di Jakarta memang banyak lokasi indah. Makmur. Dan bersih. Seperti di SCBD. Tapi tidak jauh dari situ sudah terlihat kampung miskin. Kumuh. Kotor. Apalagi di bagian lain Jakarta. Banyak yang sangat parah. Miskinnya. Dan kumuhnya.

Di Beijing, Shanghai, Guangzhou juga begitu. Kemakmurannya campur dengan kemiskinannya. Kebersihannya rukun dengan kejorokannya. Keindahannya bergandengan dengan kekumuhannya.

Tidak di Pyongyang.

Memang tidak ada mall mewah. Tidak ada kompleks yang megah. Tidak ada hotel wah. Tapi juga tidak ada kaki lima. Tidak ada sampah.

Bahkan tidak banyak tong sampah. Di pinggir jalan sekali pun. Yang di negara kita sering terlihat tongnya pun sudah begitu jeleknya. Sudah menjadi sampah itu sendiri.

Kualitas jalan, kualitas berm, kualitas trotoar dan kualitas tamannya memang bukan yang kualitas tinggi. Sedang-sedang saja. Tapi bersihnya itu lho!

Saya bisa membedakan bersih dadakan, bersih belum lama dan bersih kultural.

Saya mengambil kesimpulan: bersihnya kota Pyongyang bukan bersih mendadak. Bukan bersih ‘belum lama dibersihkan’. Bersihnya karena akar kebersihan sudah begitu dalam.

Dan sungai-sungainya itu.
Bersih luar biasa.
Pinggirnya.
Tengahnya.
Hulunya.
Hilirnya.

Banyak kota bersih. Tapi hanya di jalan-jalan utamanya. Banyak kota indah. Hanya bagian tertentunya.

Pyongyang  bersih di seantero wilayahnya.

Bandingkan dengan kota-kota modern di Tiongkok. Atau kota-kota di Indonesia. Yang dapat Adipura sekali pun. Pyongyang di atas semua itu.

Tentu juga jangan dibandingkan dengan kota seperti Perth, Australia Barat. Yang begitu komplitnya: indah, bersih, megah, makmur menjadi satu.

Pyongyang masih jauh dari kelas itu.

Perkampungan di Pyongyang  berupa apartemen tinggi. Tidak ada lagi kampung lama. Atau kampung kumuh. Bukan apartemen mewah, memang. Tapi juga bukan kelas rumah susun yang kita kenal.

Bangunan luarnya, umumnya,  terlihat seperti kelas hotel bintang tiga.

Tidak terlihat tempelan-tempelan AC di luarnya. Tidak terlihat ada tiang jemuran. Kesannya rapi. Meski tidak mewah.

Di jalan-jalan juga tidak ada sepeda motor. Hanya ada mobil. Tidak terlihat mobil tua. Atau gerobak. Atau truk peyot. Memang terlihat banyak juga sepeda. Tapi dikayuhnya di trotoar. Sehingga pemandangan di jalan raya tidak terasa ruwet.

Mobil-mobil umumnya buatan Tiongkok: VW, Audi, Ford, Buick, BYD, Yiji, dan lainnya. Kira-kira 70 persen buatan Tiongkok. Sisanya mobil Jepang. Atau mobil Korut hasil asembling mobil Tiongkok. Ada empat merk yang diasembling dengan nama lokal: Pyonghwa, Naenara, Huipharam, dan  Samchonri.

Anda ingat baik-baik merk itu. Siapa tahu kelak akan ikut menyerbu Indonesia. Terlihat juga sedan Mercy hitam. Sesekali. Mungkin juga buatan Tiongkok.

Tidak terlihat sama sekali mobil Korea Selatan: Hyundai, Kia atau Daewoo.

Permusuhannya dengan saudaranya di selatan sampai ke merk mobil. Rupanya.

Di Pyongyang jalan raya sudah sangat ramai dengan mobil. Tapi belum sampai ke tingkat macet. Saya belum pernah lihat satu titik pun yang macet.

Ramainya lalu-lintas ini juga tidak saya sangka. Kok sudah ramai begini. Waktu pertama ke Beijing dulu (awal 1980-an), hampir tidak terlihat mobil di jalan raya. Yang lebar-lebar itu.

Hanya sesekali ada mobil lewat. Jalan raya dipenuhi oleh sepeda. Atau gerobak. Yang ditarik sepeda.

”Sekarang ini memang sudah tiga kali lebih ramai. Dibanding lima tahun lalu,” ujar teman Pyongyang saya.

Kalau boleh usul, jangan tambah mobil lagi. Atau maksimum tambahnya 10 persen saja. Jangan ulangi kasus Jakarta, Bangkok, Beijing, Mumbai. Yang macetnya bikin pusing itu.

Sekarang ini ideal sekali. Ramai tapi tidak macet.

Tapi mana mungkin. Tampaknya sulit sekali mencegah pertambahan mobil. Di negara komunis sekali pun. (Dahlan Iskan)

October 23, 2018

About Author

dis


28 COMMENTS ON THIS POST To “Beda Bersih Karena Baru Dibersihkan”

  1. Tulisan Abah tentang negeri komunis ini membuka mata kita tentang penting tabayyun, pentingnya melihat secara objektif.

    Negara Komunis (meskipun istiliah ini di negeri kita seakan selalu jadi bahan dagangan politik) menunjukkan usaha memberikan yang terbaik untuk warganya

    daripada kapitalis 😂

  2. bah …
    saya sudah nangkep clue nya ..
    buat pebisnis dan investor seperti abah, ini adalah tempat idaman untuk berinvestasi buat masa depan,
    sebelum kran dibuka alangkah baiknya kita masuk duluan ke sana,
    banyak yang bisa diambil
    1. agen perjalanan tour
    2. investor terselubung ( dengan mendekati orang lokal yang punya tempat straegis)
    3. agen restoran
    4. agen trader

    nah abah posisi yang mana?
    ayo jawab bah …

  3. Wah ini .. mungkin konsep setiap orang bertanggungjawab pada sampah masing” .. alias mulai dari diri sendiri .. dilaksanakan ya … , atau ada *aturan keras dan memaksa* ya Abah? .. 😄

  4. Dan sungai2 itu bersih luar biasa… Menurut faham “fengshui” yg sy ketahui, suatu negara kl sungainya bersih berarti korupsinya sdh tidak ada atau jauh berkurang.

  5. Abah..
    Apa karena serba gratis ya..
    jadi rakyatnya bertanggung jawab dengan fasilitas dari negara..
    Mungkin di negerinya Via palent, smua kebutuhan rakyatnya harus di gratiskan dulu biar bisa bersih seperti Korut..

    • rasanya bukan karena gratisnya… tetapi entahlah..
      lha wong kursi taman yg disediakan gratis untuk dipakai…. eh malah sering terlihat jebol dan jadi rusak
      toilet umum juga begitu… yg gratis.. tidak ada penjaganya… seringnya malah jadi hancur dan tidak dibersihkan sama pemakainya..

  6. Kebersihan itu diperoleh karena penduduknya sangat disiplin. Ini bersih kultural karena dulu sebagai negara komunis penerapan hukumnya sangat keras dan tegas. Jadi sekrang penduduk dan pemerintahannya menikmati hasil penegakan hukum. Sdh jadi budaya, tak membawa sampah keluar ke jalan atau ke taman.
    Tak ada jurang antara kaya dan miskin, karena itu filosofi komunis. Orng miskin bisa menikmati apartemen, tak perlu lagi membangun gubuk reyot di pinggir kali. Tapi itulah pilihan rakyat dan rezim di sana. Ada plus minusnya. Yg membedakan kita dgn Korea Utara, kita bebas memaki-makin presiden kita. Di korut, presiden itu setengah dewa. Menghina presiden sama seperti kita menghina agama. Itu penistaan yng bisa membuat anda hilang seketika.

  7. ternyata dari gambaran diatas, apakah taat sama pimpinan dunia, hasilnya lebih cepat dan baik (secara umum) dari pada taat kepada sang empunya jagad dunia semesta alam, bukankah seharusnya yang taat sampai diakhirat akan menghasilkan buah kebersihan hati dan tindakan dunia lebih sempurna, kalau begitu dimana salahnya ya Abah, Ada baiknya untuk mempercepat kemajuan di Indonesia harus dilakukan dengan arahan yang tepat, mohon Abah memberi arahan, bukankah generasi milinial sekarang sudah lebih banyak dari pada beberapa dasa warsa yang lalu, bila ada sang pengarah, jujur dan bermodal Insya Allah ketertinggalan yang kita alami bisa dikejar, saya kira saat kini dan waktu ini waktu yang tepat untuk buktikan bagi para pengarah untuk memperlihatkan cita cita dan tindakan, apakah sekedar omongan/mimpi atau disertai tindakan nyata untuk mengejar ketertinggalan yang ada baik dari yang sedang memimpin atau pendukungnya atau tidak sedang memimpin atau pendukungnya

  8. Abah….sekedar usul, bagaimana kalo Jawa Post group mengkoordinir kita ke Korut??? Saya daftar ikut bersama isteri saya yg agak mirip Via Valen..

  9. Baru kali ini. Saya bisa membaca tulisan tentang korut. Negara yg sangat tertutup.kita mengira peñduduknya menderita,miskin,kumuh,kelaparan. Tapi juga biasa biasa saja penduduknya. Seperti penduduk di negara lain. Jadi kaget, korut ternyata bersih. Sungainya juga bersih. Harga makanannya juga murah meriah.

  10. kira2 hasil dari budaya disiplin sejak dini yang diterapkan…..mungkin meniru budaya disiplinnya Jepang, sehingga hasilnya sudah bisa terlihat saat ini….luar biasa, atau biasa di luar? 🤭

  11. Kebersihan separo dari iman, negri via valen pastilah lebih banyak mengenal untaian kata ini, tapi pengamalannya jutru korut yg dominan, apa yg salah ya Abah?

  12. Bersih itu indah…..
    Bersih sebagian dari iman….
    Hehehe….. Gak islam tapi soal kebersihan termasuk faham….

  13. abah, kapan2 cerita dong pendapatan Korut dari mana saja kok bisa hampir semuanya gratis untuk warganya, padahal diembargo kanan-kiri

    matur nuwun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,941 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: