Banyak Dalih, Susah Maju
Catatan Harian, Internasional

Banyak Dalih, Susah Maju

Begitu sering saya ke Amerika. Tulisan saya pun lebih banyak tentang negeri itu. Mirip sekarang yang lebih banyak tentang Tiongkok. Bahkan hal kecil pun saya tulis.

Misalnya soal keheranan orang Amerika atas sepakbola. Waktu piala dunia dilaksanakan di sana. Mengapa di lapangan begitu luas wasitnya hanya satu. Padahal di basket yang lapangannya lebih kecil dan pemainnya hanya lima wasitnya dua. Belum lagi mengapa skor akhirnya begitu miskin. Hanya 1-2 atau bahkan 0-0. Mengapa ketika terjadi gol teriakannya begitu panjang dan seru dan ternyata hanya untuk satu gol. Bukan sebuah three point. Mengapa satu babak, katanya 45 menit tapi sampai menit ke 48 belum dinyatakan selesai.

Tentu lebih banyak lagi yang serius. Tentang kehebatan Amerika. Maksud saya: agar kita bisa meniru. Setidaknya terinspirasi. Agar Indonesia juga maju.

Ternyata respons kita tidak begitu. Reaksi kita pada umumnya justru negatif: Amerika kan sudah 200 tahun merdeka. Kita kan (waktu itu) belum 50 tahun. Mana bisa dibanding-bandingkan.

Pemerintah cenderung selalu punya dalih untuk tidak bisa membuat negara maju. Waktu itu.

Ternyata itu benar-benar hanya dalih. Terbukti saat saya sering menulis tentang kemajuan Singapura respons kita juga dalih. Padahal Singapura lebih belakangan merdeka. Juga miskin sekali. Tapi dalih selalu tersedia: Singapura kan negara kecil. Hanya satu pulau mini. Penduduknya hanya 2 juta (saat itu). Pantas saja kalau lebih maju. Membangunnya gampang. Kita tidak usah iri. Apalagi menirunya. Kalau Singapura rewel terhadap kita gampang saja. Tidak perlu perang. Cukup kita semua ramai-ramai kencing bersama di sana. Singapura sudah tenggelam.

Tahun 1990-an saya diajak teman-teman pengusaha Surabaya ke Nanjing. Ibukota Tiongkok di zaman lama. Untuk ikut kongres pengusaha Tionghoa sedunia. Sayalah satu-satunya yang berkulit coklat di lautan orang kaya sedunia itu. Belum bisa bahasa mandarin pula. Saya tidak mengerti apa pun yang dibicarakan.

Saya kaget. Tiongkok sudah sangat berbeda dengan yang pernah saya lihat. Hanya berselang empat tahun. Kemiskinan masih terlihat di mana-mana. Tapi pembangunan juga mewabah di segala area.

Gedung pencakar langit, jalan yang diperluas, kampung yang digusur terlihat tidak habisnya. Mobil sudah begitu banyak. Toko sudah penuh dengan pajangan.

Memang masih banyak wanita muda cuci rambut dengan air baskom di pinggir-pinggir jalan. Yang air samponya dibuang begitu saja di parit. Itulah salon kecantikan kelas kaki lima. Di mana-mana. Tapi salon yang beneran juga sudah mulai ada.

Kesadaran untuk tampil cantik muncul seperti tiba-tiba. Seperti juga kesadaran untuk mulai membuka usaha. Benar-benar seperti kuda yang sudah lama dikekang.

Dulu wanita hanya boleh bercelana panjang dan berbaju Mao. Kainnya satu warna: abu-abu. Rambutnya hanya boleh dikepang. Dulu, semua usaha milik negara.

Toko kelontong pun milik negara. Warung jualan bakpao pun milik negara.

Maka begitu Deng Xiaoping menggantikan Mao Zedong semua berubah. Rakyat boleh berusaha. Boleh jualan. Wanita boleh bersolek. Boleh pakai baju apa pun.

Deng Xiaping dikenal dengan dua fatwanya: 1) Menjadi kaya itu satu kemuliaan. 2) Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.

Tahun-tahun berikutnya adalah tahun sejarah: mengalahkan Indonesia, mengalahkan Italia, mengalahkan Inggris, mengalahkan Jerman dan akhirnya mengalahkan Jepang.

Tinggal Amerika yang belum. Mungkin tak lama lagi. Dulu ekonomi Tiongkok hanya sebesar satu negara bagian Amerika.

Kini ekonomi satu kota Shenzhen saja sudah lebih besar dari negara Filipina.

Selamat tinggal kemiskinan. Selamat tinggal riuhnya ting-tong bel sepeda. Selamat tinggal baskom di tepi jalan.

Sejak itu saya jatuh hati pada Tiongkok. Terutama pada semangatnya untuk maju. Pada caranya untuk maju. Dan pada perencanaan target kemajuan itu.

Inilah negeri yang miskinnya melebihi Indonesia. Yang besarnya melebihi Indonesia. Yang tahun merdekanya kurang lebih sama dengan Indonesia. Kok bisa maju.

Adakah kita masih punya dalih? Untuk ketidakmajuan kita? Akankah kita mau kencing bersama di sana?
Itulah jawaban atas pertanyaan mahasiswa S3 Universitas Pajajaran Bandung itu.

Saya harus banyak menulis tentang Tiongkok. Saya bisa 12 kali setahun ke sana. Paling tidak tiga kali setahun. Ke kota besarnya. Ke kota kecilnya. Ke pelosok-pelosok desanya.

Ke pojok seperti Xixuangbanna. Di perbatasan Myanmar. Ke Dandong di perbatasan Korea Utara. Ke Heihe di perbatasan Rusia. Ke Xinjiang yang mayoritas muslim. Ke Ningxia dan Qinghai yang bergurun dan penuh masjid.

Untuk melihat negeri itu secara keseluruhan. Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas. Dan tidak mudah berdalih. Semua itu atas biaya sendiri. Bukan dari pemerintah Amerika…eh Tiongkok.

Mungkin kita masih akan menemukan dalih lain. Misalnya: Tiongkok kan komunis.

Yaaa… sudahlah. Kalau begitu.(dis)

Ilustrasi: cover buku tulisan Dahlan Iskan  “Pelajaran dari Tiongkok”, terbit pertama tahun 2008.

April 5, 2018

About Author

dis


27 COMMENTS ON THIS POST To “Banyak Dalih, Susah Maju”

  1. Ini : karena hati bpk made and desihn in china.?. Nah ini mulai serius… pertanyaan saya : bagaimana reaksi penduduk terhadap pengusaha? Di sini kan seringnya seolah musuhan pak.

  2. Buku tentang Tiongkok ternyata sudah terbit dari tahun 2008. Dan ternyata kita belum juga belajar dari Tiongkok. Bapak…, maafkan saya.

  3. jadi pingin …enaknya jadi tiongkok. putih. langsing. energik. uang banyak. sama saya punya. patner tiongkok juga. cantik. janda anak tiga. kuliahnya luar negeri semua
    suruh nyetir perusahaan semua. cantiknya melebihi anak sma. tapi masih cantik istri saya. ngomong apa ini saya.
    wong saya wis ndak bolo pak dis.

  4. mhmhmhmhmh …
    saya jadi selalu bersemangat untuk terus belajar ke tiongkok atau kemana saja ..
    kalimat terakhir, smash keras duerrr ….
    abah ayo tulis bagaimana tiongkok memutar uangnya untuk infrastruktur untuk kemandirian tanpa ngutang

    malah kalau diliat sekarang amerika hutangnya pada china

  5. Pak dahlan, ini hanya ungkapan2 penasaran saya, karena baru sekali aja ke tiongkok;
    Maret 2011 saya ikut rombongan geely ke pabriknya di ningbo. Selama perjalanan yg melintasi sungai, yang katanta terpanjang di dunia itu, saat mampir ke rumah makan yg dekat spbu, ketemu perempuan2 cantik bersepatu laras panjang. Sepintas saya amati mereka jadi sopir trailer. Masak sih, perempuan cantik jadi sopir trailer?
    Terus sempet lihat sopir2 pria; ternyata para sopir bawaannya sama; termos air panas.
    Sampai sekarang saya masih penasaran soal perempuan2 cantik, langsing, rambut menjuntai sampai pinggang, kok jadi sopir trailer. Terus soal termos air panas, juga belum tahu jawabannya.

    Lantas saat menikmati malam di sungai pudong,shanghai, tempatnya siluman ular putih itu, dihibur tarian lampu2 dari gedung pencakar langit di seberang sungai pudong. Apa tidak boros listrik? “Tiongkok pakai listrik tenaga nuklir,” kata tour guide kami.
    Mungkinkah indonesia akan pakai listrik dari nuklir?

    Pertanyaan lain yg masih bergemuruh; ini juga bermula dari cerita tour guide kami. Tiongkok sekarang kurang care dengan penduduk miskinnya. Artinya; pembangunan maju, tapi harga sewa hunian kian mahal. Sehingga, banyak yg terdesak dan pindah ke pinggiran kota atau ke desa, biar kuat bayar sewa hunian.

    Satu lagi; benarkah cewek2 tiongkok sekarang juga ikut2an matrek. Masih kata si tour guide itu, mereka pilih2 cowok. Menentukan standar tinggi.
    Ngapunten, pak dahlan. Matur sembah nuwun

    • semua pasti ada negatif positifnya. kl hanya ngeliat negatifnya saja kapan bisa ikut majunya? ambil positifnya, negatifnya sebisa mungkin ditekan agar tidak jomplang!

  6. Benarlah hadits nabi itu ya Bah. Belajarlah ke negeri China. Dulu kala China itu memang udah maju. Kalaupun ada masa yang melarat, itu karena rezim. Sama dengan indonesia, dulu kala permah jaya dengan majapahit atau sriwojayanya. Sekarang masa melarat dan ……. , cuman sampe kapan melaratnya? Wallahu alam.

  7. Kampung yg digusur itu orangnya dikemanakan? Adakah program khusus hunian untuk orang miskin di Thiongkok sana?

  8. Luar biasa. Catatan2 bung dis tentang tiongkok selalu bikin aku ketagihan.
    Belum ada wartawan, pakar, atau sinolog yg bisa bercerita dengan bagus tentang tiongkok. Termasuk mengapa harus tiongkok? Bukan china? Bukan cina?
    Itu semua sudah saya baca di buku Pelajaran dari Tiongkok. Kamsia.

  9. Setelah sering membaca cerita pak DI, saya jadi mau curhat.
    Berdasarkan pengalaman saya bekerja dengan orang-orang China, India, Philipina. Dalam hal ini pekerja profesional di perusahaan multinasional di negara mereka masing-masing ataupun di negara asing.
    Pendapat saya sebenarnya orang China juga biasa-biasa saja, bukan yang gila kerja seperti Jepang. Kerja jam 9:00 pulang jam 17:00. Istirahat siang 1.30 – 2 jam karena setelah makan siang bisa tidur dulu.
    Kenapa china dapat cepat maju, apakah mungkin ada pengaruh karena para keturunan Tionghoa yang menyebar ke seluruh dunia sehingga mereka membuka pintu-pintu import barang- barang dari mainland (karena baranng dari China murah) ke negara dimana mereka tinggal saat ini.
    saya mengamati negara India yang juga bertumbuh baik, menurut pendapat saya karena India punya TKI yang luar biasa banyak, khususnyya di bidang teknologi.Secara rata-rata mereka sebenarnya juga tidak pintar-pintar amat, tapi karena kemampuan bahasa inggris jadi mereka lebih mudah untuk dapat pekerjaan- perkerjaan di luar negeri.
    Saya juga melihat negara Philipin, hampir sama dengan India, mereka menguasai bahasa Inggris, ditambah lagi para pekerja non profesional Philipin yang juga dapat bahasa Inggris, ini yang membuat TK philipin lebih dihargai di luar, mereka yang bukan profesional akan lebih bisa memilih pekerjaa-pekerjaan seperti pramuniaga, cleaning servis (saya menjumpai kebanyakan pramuniaga di Dubai orang Philipin).
    Sekarang kita lihat Indonesia, apa keunggulan kita supaya bisa maju pak? siapa yang harus jadi lokomotif perubahan ini, pemerintah? atau kita sendiri. Kalau masalah kerja keras saya kira orang-orang kita juga mau bekerja keras kalau lihat para TKI kita mereka pekerja keras dan orang yang “nerimo” diluar negeri, untuk para profesional kita masalah keterampilan juga tidak kalah. Kekurangan kita dari negara-negara yang saya sebut diatas adalah masalah bahasa dan kepercayaan diri. Kalau pengusaha juga tidak tahu ada peluang apa diluar negeri.

    Dengan semakin terbukanya dunia sekarang ini, kenapa pemerintah tidak mewajibkan bahasa asing diajarkan kepada anak-anak kita sejak dini, misal disekolah diwajibkan berkomunikasi 3 hari bahasa Indonesia dan 3 hari bahasa asing. tidak harus Bahasa Inggris juga, bisa bahasa Arab, Jepang, Korea dan lain-lain. Seumpama mereka cuman bisa lulus SMP, mereka sudah siap untuk jadi TKI karena sudah bisa berbahasa asing, kalau bisa sampai kuliah mereka bisa bersaing dengan para profesional di luar negeri, kalau jadi pengusaha mereka juga sudah bisa berkomunikasi dengan dunia luar.

  10. Ayo dong, kita kumpulin dalih sebanyak – banyaknya agar ketahuan sebabnya apa, darimana atau dari siapa.
    Misal :
    “Kita dijajah 350th, Tiongkok tidak pernah dijajah”
    “Ind iklim tropis, Tiongkok 4 musim sehingga di musim dingin banyak waktu untuk membaca”
    “Ind kaya raya, Tiongkok miskin sehingga harus kerja keras”
    “Ind tongkat kayu & batu jadi tanaman, tiongkok batu jadi giok”
    “Tiongkok punyi Jinping, Ind ………”

  11. mohon info, ada kah yang punya bukunya? dan bersedia membantu mengirimkan ke saya, di Belanda? atau ada yang punya PDF-nya? saya sangat ingin membacanya.
    terimakasih

    • Pak edi.
      Klo PDF nya susah Pak. Krn itu dlm Bentuk buku. Coba bapak cari di toko buku online. Insya alloh ada.

      Sy dulu beli di tokoh buku online.

      Salam
      Rukhul 08113300105.

  12. Siang Pak,

    Saya ingin komen soal tulisan ini, terutama kata2 (Mungkin kita masih akan menemukan dalih lain. Misalnya: Tiongkok kan komunis.)
    Dan memang benar, bahwa Tiongkok maju salah satunya adalah karena paham komunis.

    Saya pernah merasakan betapa lamanya pembangunan jembatan MERR (di stikom), kurang lebih 10 tahun yg lalu.
    Untuk membangun MERR itu butuh waktu yg lamaa sekali (untuk jembatan sependek itu bisa memakan waktu 1-2 tahun), padahal hanya sependek itu. pembebasan lahan menjadi salah satu alasan kenapa pembangunan nya bisa molor.

    Lebih parah lagi, katakanlah di Jakarta; bahkan lahan kosong, atau malah milik pemerintah sendiri, tidak bisa digunakan. pemukiman liar terutama. “Digusur” dengan cara halus (dipindah ke rusun) saja bisa efek nya ke HAM; padahal jelas-jelas bantaran sungai.

    Ini yg membedakan kita dengan negara komunis, dimana 100% lahan dikuasai pemerintah, dan pemerintah yg otoriter lah yg akan tutup kuping terhadap HAM, selama kepentingan yang lebih luas yang lebih diutamakan.

    Kalau mau lebih cepat maju ya itu, semua lahan milik pemerintah, dan kepemilikan tanah adalah milik pemerintah. Rakyat hanya “menyewa” saja. Niscaya pembangunan bakal terlaksana dengan cepat. Kecuali mau menunggu 2 abad seperti amerika?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,951 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: