Catatan Harian, Komentar Ft Komentar

Akal Sehat dan Nasionalisme

>> Jadi Fikri, FB 1 Juni 2018:

Apa yang menghalangi Indonesia bisa melakukan ini? (Soal peternakan kolektif).

KOMENTAR DISWAY:

Singkat:
Hanya satu: kemauan.

Panjang dikit:
Sudah ada beberapa inisiatif menuju ke situ. Misalnya yang dilakukan di Boyolali dan Klaten (uhuk uhuk saya kehilangan nomir tilponnya, judul tulisan saya dulu rasanya: hotel sapi). Atau yang dirintis mas Dalu di Surabaya, Disway dua bulan lalu).

Kita doakan mereka tekun dan sukses.

Saya cenderung dilakukan oleh swasta madani seperti itu. Ini menyangkut kepercayaan dan sustainability. Jangan oleh pemerintah. Yang birokratis. Badan Zakat bisa memilih penyelenggara peternakan seperti itu yang serius dan teruji. Bantuan ternak untuk orang miskin juga bisa berwujud dengan cara itu: orang miskinnya sekalian jadi tenaga kerjanya.

Perlu pengusaha ulet dan mandiri. Bukan yang coba-coba dan iseng. Juga jangan yang motivasinya politik. Ternak itu benda hidup. Tidak mudah mengelolanya.

>>>> Arif Purnomosidi; May 31, 2018:

Membayangkan makan makanan Arab yang berlebihan dan terkena aorta dissection…. Apakah ada gangguan aktifitas terkait dengan itu?

KOMENTAR DISWAY:

Saya lebih hati- hati sekarang. Malam itu, sambil meraih kambing, otak saya menegur: jangan emosi. Lalu makan sekedarnya. Dan lagi sudah terlalu malam. Sebenarnya saya juga harus disiplin: sudah harus tidur jam 11 malam. Tapi sesekali rasanya ok. Itu hambatan utama saya untuk selalu ikut tarawih berjamaah di Amerika. Rata-rata baru selesai jam 23.30.

Saya membawa alat pengukur tekanan darah. Setiap hari test sendiri. Setelah makan kambing itu pagi-pagi saya test. Alhamdulillah: 122/63. Itu juga karena saya lebih disiplin minum obat. Belum pernah tekanan darah saya sebagus itu. Sebelum minum obat dulu, sebelum terkena aorta dissection, tekanan darah saya sekitar 155/95.

Bukan hanya kambing. Saya juga mengurangi drastis daging sapi. Padahal itu kesukaan saya dulu. Yang juga ketat saya lakukan adalah: hampir tidak minum apa pun kecuali air putih hangat atau tidak dingin. Hampir berhenti total minum coca cola atau apa pun yang ada dalam botol/kaleng. Di Amerika ini sesekali saya minum jus jeruk atau apel. Saya tahu: makanan dan minuman di Amerika dikontrol keras kualitas isinya.

Kalau lagi nyetir jarak jauh kadang saya paksakan berhenti di rest area. Setidaknya tiap sekitar 2 jam: sekalian pipis.

>>>> Wawan, May 30, 2018;

Yang membuat saya iri adalah nasionalisme mereka. Mahathir bersatu dengan Anwar Ibrahim (yg sebelumnya musuhan). Clare R Brown sang jurnalis berani membuat berita. Seluruh etnis bisa bersatu melawan Najib R.
Apa yg mendasarinya? Padahal kemerdekaan mereka tidak seperti Indonesia yang berdarah-darah. Tidak pula ada Pancasila dan sebagainya.

KOMENTAR DISWAY:

Ada yang bisa jawab? Please. Rasanya setiap bangsa punya nasionalisme masing-masing. Dengan cara masing-masing. Di Amerika nasionalisme dan patriotismenya juga luar biasa. Dengan cara mereka: menjadikan bendera sebagai alas duduk-duduk tidak dikecam sebagai tidak nasionalis. Juga tidak dihukum.

Di Tiongkok nasionalismenya juga luar biasa. Saya bayangkan: seandainya Amerika tetap melarang ekspor chip ke Tiongkok. Dan Tiongkok gagal menciptakannya. Lalu ditemukan cara bikin hp tanpa chip. Lalu rakyat diminta ganti hp semua: rasanya akan dilakukan. IPhone tidak seberapa laku, Samsung keok. Huawei nomor satu. Oppo nomor 2. Xiaomi nomor 3.

Nasionalisme kita juga tinggi. Lihatlah setiap ada bencana: solidaritas kita tinggi. Saya berkesimpulan: tingginya nasionalisme terkait dengan kemajuan sebuah negara. Nasionalisme dimulai dari kebanggaan. Bukan lewat paksaan. Atau seruan.

>>>> Umar Faridz El Hamdy, May 30, 2018:

Awal 1MDB bukan perusahaan negeri Selangor Pak, tapi negeri Terengganu.

KOMENTAR DISWAY:

Anda betul. Trims. Meski saya beberapa ke Terengganu, tapi ternyata lebih sering ke Selangor. Hahaha… terbawa.

>>>> Amir acha, May 30, 2018:

Berapa hari menyiapkan tulisan yang dept reporting seperti ini? Saya berpikir pasti berhari-hari, dengan latar tokoh dan adegan yang ada, bisa berbulan waktu nulisnya.

KOMENTAR DISWAY:

Nulisnya sih 2 jam selesai. Tapi Anda betul mengumpulkan bahannya berbulan-bulan. Bahkan tahun. Meski pun tidak sengaja untuk mengumpulkan.
Yang intensif sejak tiga bulan lalu. Saat saya dua kali ke Malaysia. Kepergian saya bukan untuk itu. Tapi kan dapat bahan-bahan sekitar itu.
Dua tahun lalu saya juga keliling ke enam negara bagian. Berarti tuntas sudah: sudah ke semua negara bagian di Malaysia.
Tanpa semua itu tidak mungkin bisa menulis kisah tersebut. Meski pun saya banyak juga membaca dari begitu banyak media dan bahan bahan cerita.
Tapi sebaiknya jangan sering-sering menulis panjang seperti itu: bisa balik jadi wartawan lagi…

June 3, 2018

About Author

dahlan iskan


19 COMMENTS ON THIS POST To “Akal Sehat dan Nasionalisme”

  1. yg terakhir itu yg penting.
    anehnya, wartawan2 muda jaman now suka copy paste. berita2nya banyak yg sama. koran2 memuat yg sudah terbit di online. termasuk kolomnya bung dis di disway ini. ya jelas aja koran cetak gak bisa bertahan lama.

  2. ‘Sdh semua neg bag malaysia dikunjungi’….. jadi kalo propinsi di ind ada yg blm dikunjungi saya protes lho…..😊

  3. Memang berita itu haruslah yang mengundang rasa penasaran orang. Harus ada yang baru yang tidak didapat dari sumber-sumber online yang terlalu sering di-repost. Haruslah yang bisa membangkitkan emosi. Mirip-mirip novel tapi tidak menimbulkan orang untuk lelah membacanya. Dan seperti tipikal tulisan Abah. Ujungnya sering kali menggelitik. Membuat orang tersenyum, entah manis atau malah kecut. Bangga. Terharu. Gembira. Yang bisa membangkitkan emosi.

  4. Bantu jawab utk Mr. M dan Pak A,

    Ada yg bilang musuh nya musuh adalah teman. Selama kepentingan bersama lebih besar daripada kepentingan pribadi, kenapa tidak?

  5. Hmmm kalimat terakhirnya mengingatkan saya akan salah satu cita-cita waktu kecil yakni jadi wartawan. Setiap disuruh guru mengarang di sekolah saya menulis juga panjaaaang sekali. Ada bakat kali ya hahaha

  6. Menurut Stanley Benn, penulis Theory of Freedom, menyebutkan paling tidak ada 5 definisi yg dikaitkan dng perkataan “Nasionalisme”
    (1) Semangat ketaatan kepada suatu bangsa (semacam patriotisme)
    (2) Dlm aplikasinya kepada politik, “nasionalisme” menunjuk kepada kecondongan untuk mengutamakan kepentingan bangsa sendiri, khususnya jika kepentingan bangsa sendiri itu berlawanan dng kepentingan bangsa lain
    (3) Sikap yg melihat amat pentingnya penonjolan ciri khusus suatu bangsa, dan karena itu
    (4) Doktrin yg memandang perlunya kebudayaan bangsa dipertahankan
    (5) Nasionalisme adalah teori politik, atau teori antropologi, yg menekankan bahwa umat manusia, secara alami, terbagi bagi menjadi berbagai bangsa, dan bahwa ada kriteria yg jelas untuk mengenali suatu bangsa beserta para anggota bangsa.

    Nasionalisme, tumbuh menguat di awal abad 20, bahkan berkembang menjadi ideologi (“isme”) ketika muncul kesadaran untuk lepas dari kolonialisme. Kita tahu, sangat berhasil, khususnya di negara asia, afrika dan amerika selatan.
    Saat ini, nasionalisme tentu menghadapi tantangan yg berbeda. Untuk mempertahankannya, jelas suatu bangsa perlu suatu prestasi, dan prestasi ekonomilah yg saya kira akan penjadi penopang utama “nasionalisme” suatu bangsa. Seperti disebut Pak DI, nasionalisme perlu apa yg kita sebut “kemajuan suatu bangsa”, dan ukuran umum kemajuan suatu bangsa adalah prestasi ekonominya.

  7. Negerinya Via Valen lg bingung dgn nasionalismenya sendiri…. bahkan kekalahan Liverpool pun bs jd dasar “solidaritas” (katanya) untuk demo. wkkwkwkw tak adakah sesuatu yg lbh penting untuk dikerjakan demi Negara,setidaknya demi kebaikan diri sendiri aja dan bermanfaat bagi sekitar…
    # YNWA

  8. Orang pintar. minum tolak angin.
    tidak selalu kita kalah. Saat kompetesi mesin teknolagi penghalau badai. tingkat internasional.. indonesia juaranya. mesin USA kawus. dari jepang kawus.Cina semburat onderdilnya. Indonesia diwakili cewek. dari solo. menor dikit. stw. pakai jarik. Saat badai datang. pinggulnya diegal egolkan. bismillah. wes sewes sewes. bablas angine. badai kencang langsung balik kucing. sambil teriak saya indonesia. saya bangga. sambil mesam mesem. hidup pak dahlan. pak dahlan hidup. hidup. ….sedang pesen bebek…di javanine. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3,193 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: